Mungkin Kita Lupa.
Beragam cara dilakukan ‘tuk menggapai tujuan..
Menyemangati diri…
Juga mewaspadai musuh..
Diantaranya kaum kafir..
A. Mereka Terpecah.
Allah Ta’ala menjelaskan keadaan kaum kafir,
“Kalian mengira mereka itu bersatu, padahal hati mereka berpecah-belah” (QS al-Hasyr: 14)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
اِفْتَرَقَ الْيَهُوْدُ عَلَى إِحْدَى أَوْ ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً، وَتَفَرَّقَتِ النَّصَارَى عَلَى إِحْدَى أَوْ ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً
“Kaum Yahudi terpecah-belah menjadi 71atau 72 golongan.
Dan kaum Nasrani terpecah-belah menjadi 71 atau 72 golongan,
(Shahih, HR Abu Dawud: 4596, At-Tirmidzi: 2778, Ibnu Majah: 3991; ash-Shahihah: 203 Al-Albani)
Sesungguhnya kaum kafir pun terpecah-belah..
Mungkin kita lupa…
B. Hanya Atas Kehendak Allah.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
وَاعْلَمْ أَنَّ الْأُمَّةَ لَوْ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَنْفَعُوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ لَكَ وَلَوْ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُّوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ عَلَيْكَ
“Ketahuilah, seandainya seluruh umat bersatu padu untuk memberi manfaat kepadamu, maka tidaklah akan mampu memberi manfaat itu melainkan sebatas yang Allah tetapkan bagimu.
Dan seandainya mereka bersatu padu guna menimpakan mudharat atas dirimu, maka tidaklah akan bisa kecuali yang telah ditetapkan Allah atasmu…”
(Shahih at-Tirmidzi: 2516)
Bilapun seluruh jin dan manusia berkumpul untuk memberi manfaat maupun menimpakan madharat, tidaklah akan terjadi kecuali atas kehendak Allah
Mungkin kita lupa…
Perkuatlah aqidah, ilmu, dan dakwah..!!
Jangan takut-takuti kami dengan makar kaum kafir.
Allah Ta’ala berfirman,
وَمَكَرُوا مَكْرَاللهِ وَ اللهُ خَيْرُ المَاكِرِينَ
“Mereka membuat makar (tipu daya) dan Allah juga membuat makar. Dan Allah adalah sebaik-baik pembuat makar” (QS Ali Imran: 54)
Mungkin kita lupa…
@sahabatilmu
٭ ♌ ♧ ٭ ♌ ♧ ٭ ♌ ♧ ٭ ♌ ♧ ٭
Tampilkan postingan dengan label @sahabatilmu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label @sahabatilmu. Tampilkan semua postingan
Jumat, 02 Mei 2014
Rabu, 30 April 2014
Pilah-Pilih Kawan
Pilah-Pilih Kawan
Boleh saja, mengenal banyak orang.
Tetapi selektiflah dalam berkawan...
Alih-alih ingin menasihati...
Malah kita terwarnai...
A. Pengaruh.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:
المرء على دين خليله فلينظر أحدكم من يخالل
“Seseorang itu mengikuti agama kawan dekatnya. Maka hendaklah kalian melihat siapakah yang menjadi kawan dekatnya...”
(Shahih, HR. Abu Daud, at-Tirmidzi; Silsilah Ash-Shahihah: 927 al-Albani)
Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu berkata,
"Nilailah seseorang dengan siapa ia berkawan. Karena seorang muslim akan mengikuti muslim lainnya. Dan seorang fajir (pendosa) akan mengikuti fajir lainnya..." (Syarhus Sunnah al-Baghawi: 13/70)
Air tidak akan bercampur dengan minyak...
B. Kawan Dekat Itu Cermin Kita.
Dikatakan dalam sya'ir:
Janganlah bertanya siapa dia, tetapi tanyakan siapa kawannya...
Sebab seseorang akan meniru kawannya...
*/ Himbauan untuk yang belum menikah:
Untuk urusan berkawan saja kita disuruh memilah dan memilih, apalagi perihal pasangan hidup...
Tetapi jangan terlalu lama dan berbelit menyeleksinya ya.. ˆ⌣ˆ
@sahabatilmu
٭ ♌ ♧ ٭ ♌ ♧ ٭ ♌ ♧ ٭ ♌ ♧ ٭
Boleh saja, mengenal banyak orang.
Tetapi selektiflah dalam berkawan...
Alih-alih ingin menasihati...
Malah kita terwarnai...
A. Pengaruh.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:
المرء على دين خليله فلينظر أحدكم من يخالل
“Seseorang itu mengikuti agama kawan dekatnya. Maka hendaklah kalian melihat siapakah yang menjadi kawan dekatnya...”
(Shahih, HR. Abu Daud, at-Tirmidzi; Silsilah Ash-Shahihah: 927 al-Albani)
Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu berkata,
"Nilailah seseorang dengan siapa ia berkawan. Karena seorang muslim akan mengikuti muslim lainnya. Dan seorang fajir (pendosa) akan mengikuti fajir lainnya..." (Syarhus Sunnah al-Baghawi: 13/70)
Air tidak akan bercampur dengan minyak...
B. Kawan Dekat Itu Cermin Kita.
Dikatakan dalam sya'ir:
Janganlah bertanya siapa dia, tetapi tanyakan siapa kawannya...
Sebab seseorang akan meniru kawannya...
*/ Himbauan untuk yang belum menikah:
Untuk urusan berkawan saja kita disuruh memilah dan memilih, apalagi perihal pasangan hidup...
Tetapi jangan terlalu lama dan berbelit menyeleksinya ya.. ˆ⌣ˆ
@sahabatilmu
٭ ♌ ♧ ٭ ♌ ♧ ٭ ♌ ♧ ٭ ♌ ♧ ٭
Rabu, 16 April 2014
Rumah Tangga Seimbang
Rumah Tangga Seimbang
Tatkala menuntut hak namun jangan lupa menunaikan kewajiban.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,
وَلَهُنَّ مِثْلُ الَّذِي عَلَيْهِنَّ بِالْمَعْرُوفِ “Para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf” (QS Al-Baqarah: 228)
A. Semua Punya Hak.
Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda,
أَلاَ إِنَّ لَكُمْ عَلَى نِسَائِكُمْ حَقًّا وَلِنِسَائِكُمْ عَلَيْكُمْ حَقَّا “Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kalian memiliki hak atas isteri-isteri kalian dan isteri-isteri kalian pun memiliki hak atas kalian…” (Hasan, HR at-Tirmidzi: 1173, Shahih Ibnu Majah: 1501)
B. Hak Istri Atas Suami.
Seringkali yang disampaikan adalah kewajiban istri.
Namun janganlah lupa bahwa seorang wanita memiliki hak yang patut dipenuhi suami.
Ketika Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam ditanya perihal hak isteri atas suami, beliau menjawab,
أَنْ تُطْعِمَهَا إِذَا طَعِمْتَ، وَتَكْسُوهَا إِذَا اكْتَسَيْتَ، وَلاَ تَضْرِبِ الوَجْهَ، وَلاَ تُقَبِّحْ، وَلاَ تَهْجُرْ إِلاَّ فِي الْبَيْتِ. “Engkau memberinya makan jika engkau makan, engkau memberinya pakaian tatkala engkau berpakaian.
Janganlah kalian memukul wajah dan menjelekannya (menghina) serta jangan pula memisahkannya kecuali tetap berada di dalam rumah kita…” (Shahih, HR Abu Dawud: 2128,Shahih Sunan Ibnu Majah: 1500)
Setiap kita akan dimintai pertanggungjawaban atas kewajiban yang belum ditunaikan.
Agar rumah tangga seimbang, pikiran tenang.
@sahabatilmu
┈┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈┈
Tatkala menuntut hak namun jangan lupa menunaikan kewajiban.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,
وَلَهُنَّ مِثْلُ الَّذِي عَلَيْهِنَّ بِالْمَعْرُوفِ “Para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf” (QS Al-Baqarah: 228)
A. Semua Punya Hak.
Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda,
أَلاَ إِنَّ لَكُمْ عَلَى نِسَائِكُمْ حَقًّا وَلِنِسَائِكُمْ عَلَيْكُمْ حَقَّا “Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kalian memiliki hak atas isteri-isteri kalian dan isteri-isteri kalian pun memiliki hak atas kalian…” (Hasan, HR at-Tirmidzi: 1173, Shahih Ibnu Majah: 1501)
B. Hak Istri Atas Suami.
Seringkali yang disampaikan adalah kewajiban istri.
Namun janganlah lupa bahwa seorang wanita memiliki hak yang patut dipenuhi suami.
Ketika Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam ditanya perihal hak isteri atas suami, beliau menjawab,
أَنْ تُطْعِمَهَا إِذَا طَعِمْتَ، وَتَكْسُوهَا إِذَا اكْتَسَيْتَ، وَلاَ تَضْرِبِ الوَجْهَ، وَلاَ تُقَبِّحْ، وَلاَ تَهْجُرْ إِلاَّ فِي الْبَيْتِ. “Engkau memberinya makan jika engkau makan, engkau memberinya pakaian tatkala engkau berpakaian.
Janganlah kalian memukul wajah dan menjelekannya (menghina) serta jangan pula memisahkannya kecuali tetap berada di dalam rumah kita…” (Shahih, HR Abu Dawud: 2128,Shahih Sunan Ibnu Majah: 1500)
Setiap kita akan dimintai pertanggungjawaban atas kewajiban yang belum ditunaikan.
Agar rumah tangga seimbang, pikiran tenang.
@sahabatilmu
┈┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈┈
Al-Qur'an Dan Ilmu Pengetahuan
Al-Qur'an Dan Ilmu Pengetahuan.
Ada ayat kauniyyah (alam semesta) ada pula ayat qauliyyah (al-Qur'an)
Namun bukan berarti Al-Qur'an dapat ditafsirkan semena-mena dengan teori sains maupun gejala serta kejadian alam.
Sebab Al-Qur'an kebenarannya mutlak, sedangkan ilmu pengetahuan hari ini berkata demikian esok tahun bisa berubah pernyataan.
Lihatlah tatkala ada berita manusia mendarat di bulan (lepas dari benar tidaknya)
Serta merta sebagian orang berusaha mencocokan dengan firman Allah ta’ala,
يَا مَعْشَرَ الْجِنِّ وَالْإِنسِ إِنِ اسْتَطَعْتُمْ أَن تَنفُذُوا مِنْ أَقْطَارِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ فَانفُذُوا لَا تَنفُذُونَ إِلَّا بِسُلْطَانٍ
"Wahai kelompok jin dan manusia, apabila kalian mampu menembus penjuru langit dan bumi maka tembuslah, kalian tidak akan bisa menembusnya kecuali dengan sulthan” (QS Ar-Rahman: 33)
Padahal tidak demikian tafsirnya.
Sungguh kasihan...
Bila saja manusia mau membaca ayat sebelum dan sesudahnya. Ditambah tafsir para ulama tentang ayat-ayat Al-Qur'an.
Yang terbaru...
Letusan Gunung Kelud dipadukan dengan penomoran ayat-ayat Al-Qur'an.
Sungguh pemaksaan kehendak.
Yang lebih menakjubkan...
Setelah terjadi penemuan..
Sudah berlangsung kejadian...
Barulah dicari-cari ayat yang sepadan dan mendukung.
Mengapa tidak mencari dan mengolah petunjuk sebelum semuanya ditemukan...?!
Syaikh Al-'Utsaimin rahimahullah menyatakan,
"Menafsirkan al-Qur’an dengan beragam teori sains ilmu pengetahuan sangat berbahaya.
Sebab apabila datang teori lain yang bertentangan dengan teori sebelumnya yang kita gunakan dalam menafsirkan Al-Qur'an, maka berakibat Al-Qur’an dipandang tidak benar oleh musuh-musuh Islam..."
(Kitabul 'Ilmi secara bebas)
Bukanlah termasuk memuliakan Al-Qur'an ketika memaksa menafsirkan dengan ilmu pengetahuan...
Maka tiada jalan dalam memahami Al-Qur'an melainkan dengan bimbingan para ulama'
Wallahu a'lam...
@sahabatilmu
⌣̊┈»̶·̵̭̌✽����✽·̵̭̌«̶┈⌣̊
Ada ayat kauniyyah (alam semesta) ada pula ayat qauliyyah (al-Qur'an)
Namun bukan berarti Al-Qur'an dapat ditafsirkan semena-mena dengan teori sains maupun gejala serta kejadian alam.
Sebab Al-Qur'an kebenarannya mutlak, sedangkan ilmu pengetahuan hari ini berkata demikian esok tahun bisa berubah pernyataan.
Lihatlah tatkala ada berita manusia mendarat di bulan (lepas dari benar tidaknya)
Serta merta sebagian orang berusaha mencocokan dengan firman Allah ta’ala,
يَا مَعْشَرَ الْجِنِّ وَالْإِنسِ إِنِ اسْتَطَعْتُمْ أَن تَنفُذُوا مِنْ أَقْطَارِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ فَانفُذُوا لَا تَنفُذُونَ إِلَّا بِسُلْطَانٍ
"Wahai kelompok jin dan manusia, apabila kalian mampu menembus penjuru langit dan bumi maka tembuslah, kalian tidak akan bisa menembusnya kecuali dengan sulthan” (QS Ar-Rahman: 33)
Padahal tidak demikian tafsirnya.
Sungguh kasihan...
Bila saja manusia mau membaca ayat sebelum dan sesudahnya. Ditambah tafsir para ulama tentang ayat-ayat Al-Qur'an.
Yang terbaru...
Letusan Gunung Kelud dipadukan dengan penomoran ayat-ayat Al-Qur'an.
Sungguh pemaksaan kehendak.
Yang lebih menakjubkan...
Setelah terjadi penemuan..
Sudah berlangsung kejadian...
Barulah dicari-cari ayat yang sepadan dan mendukung.
Mengapa tidak mencari dan mengolah petunjuk sebelum semuanya ditemukan...?!
Syaikh Al-'Utsaimin rahimahullah menyatakan,
"Menafsirkan al-Qur’an dengan beragam teori sains ilmu pengetahuan sangat berbahaya.
Sebab apabila datang teori lain yang bertentangan dengan teori sebelumnya yang kita gunakan dalam menafsirkan Al-Qur'an, maka berakibat Al-Qur’an dipandang tidak benar oleh musuh-musuh Islam..."
(Kitabul 'Ilmi secara bebas)
Bukanlah termasuk memuliakan Al-Qur'an ketika memaksa menafsirkan dengan ilmu pengetahuan...
Maka tiada jalan dalam memahami Al-Qur'an melainkan dengan bimbingan para ulama'
Wallahu a'lam...
@sahabatilmu
⌣̊┈»̶·̵̭̌✽����✽·̵̭̌«̶┈⌣̊
Minggu, 16 Februari 2014
Cinta; Siapa Dan Karena Apa...?
Cinta; Siapa Dan Karena Apa...?
Cinta hak semua orang. Namun perhatikan siapa dan sebab apa kita mencinta.
A. Manisnya Iman.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ
Ada tiga sifat barang siapa memilikinya niscaya ia akan mendapatkan manisnya iman.
أَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لَا يُحِبُّهُ إِلَّا لِلَّهِ وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ
1. Menjadikan Allah dan RasulNya lebih ia cintai dari selain keduanya.
2. Mencintai seseorang hanya karena Allah semata.
3. Benci kembali kepada kekafiran (setelah Allah selamatkan) sebagaimana ia benci (enggan) dilemparkan ke dalam api..."
(HR al-Bukhari: 16, Muslim: 43)
Dua diantaranya berkait cinta.
B. Bersama Yang Dicinta.
Perhatikan siapa yang kita cintai.
Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu berkata,
“Kami (para sahabat) tidak pernah merasakan kegembiraan melebihi rasa gembira tatkala mendengar sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,
أَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ
“Engkau (di akhirat kelak) bersama orang yang kau cintai...”
فَأَنَا أُحِبُّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبَا بَكْرٍ وَعُمَرَ وَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ مَعَهُمْ بِحُبِّي إِيَّاهُمْ وَإِنْ لَمْ أَعْمَلْ بِمِثْلِ أَعْمَالِهِمْ
Maka aku mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, Abu Bakr dan Umar radhiyallahu 'anhuma.
Dan aku berharap kelak dikumpulkan bersama mereka (di surga) disebabkan kecintaanku kepada mereka, walau aku belum mengerjakan amalan seperti amalan mereka..."
(HR al-Bukhari: 3485, Muslim: 2639)
Kita tidak mencintai orang kafir, fasik, dan pendosa sebab kita 'tak ingin dikumpulkan bersama mereka di neraka.
Dan kita mencintai ilmu dan ahli ilmu, walau belum mampu mendalami lautan ilmu...
Senantiasa berharap barakah ilmu yang akan menjaga dunia dan akhirat kita serta berkumpul bersama di Surga...
@sahabatilmu
✽.•°•.☆.•°•✽.•°•☆.•°•✽
Cinta hak semua orang. Namun perhatikan siapa dan sebab apa kita mencinta.
A. Manisnya Iman.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ
Ada tiga sifat barang siapa memilikinya niscaya ia akan mendapatkan manisnya iman.
أَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لَا يُحِبُّهُ إِلَّا لِلَّهِ وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ
1. Menjadikan Allah dan RasulNya lebih ia cintai dari selain keduanya.
2. Mencintai seseorang hanya karena Allah semata.
3. Benci kembali kepada kekafiran (setelah Allah selamatkan) sebagaimana ia benci (enggan) dilemparkan ke dalam api..."
(HR al-Bukhari: 16, Muslim: 43)
Dua diantaranya berkait cinta.
B. Bersama Yang Dicinta.
Perhatikan siapa yang kita cintai.
Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu berkata,
“Kami (para sahabat) tidak pernah merasakan kegembiraan melebihi rasa gembira tatkala mendengar sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,
أَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ
“Engkau (di akhirat kelak) bersama orang yang kau cintai...”
فَأَنَا أُحِبُّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبَا بَكْرٍ وَعُمَرَ وَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ مَعَهُمْ بِحُبِّي إِيَّاهُمْ وَإِنْ لَمْ أَعْمَلْ بِمِثْلِ أَعْمَالِهِمْ
Maka aku mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, Abu Bakr dan Umar radhiyallahu 'anhuma.
Dan aku berharap kelak dikumpulkan bersama mereka (di surga) disebabkan kecintaanku kepada mereka, walau aku belum mengerjakan amalan seperti amalan mereka..."
(HR al-Bukhari: 3485, Muslim: 2639)
Kita tidak mencintai orang kafir, fasik, dan pendosa sebab kita 'tak ingin dikumpulkan bersama mereka di neraka.
Dan kita mencintai ilmu dan ahli ilmu, walau belum mampu mendalami lautan ilmu...
Senantiasa berharap barakah ilmu yang akan menjaga dunia dan akhirat kita serta berkumpul bersama di Surga...
@sahabatilmu
✽.•°•.☆.•°•✽.•°•☆.•°•✽
Pantas Saja...
Pantas Saja...
Tatkala Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
أَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ
“Engkau (di akhirat kelak) bersama orang yang kau cintai...”
Maka para sahabat sangat bergembira dengan kegembiraan tak terkira.
Hingga perawi hadits Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu berkata,
فَأَنَا أُحِبُّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبَا بَكْرٍ وَعُمَرَ وَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ مَعَهُمْ بِحُبِّي إِيَّاهُمْ وَإِنْ لَمْ أَعْمَلْ بِمِثْلِ أَعْمَالِهِمْ
Maka aku mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, Abu Bakr dan Umar radhiyallahu 'anhuma.
Dan aku berharap kelak dikumpulkan bersama mereka (di surga) disebabkan kecintaanku kepada mereka, walau aku belum mengerjakan amalan seperti amalan mereka..."
(HR al-Bukhari: 3485, Muslim: 2639)
Anas berharap dapat dikumpulkan dengan Rasulullah dan kedua sahabat beliau mulia. Tentu kita juga.
Dimana..? Tentu di surga.
Sebab Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah menjamin dalam sabdanya,
“Abu Bakar di surga, ‘Umar di surga, ‘Utsman di surga, ‘Ali di surga, Thalhah di surga, az-Zubair di surga, Sa’d di surga, Sa’id di surga, Abdurrahman bin ‘Auf di surga, Abu Ubaidah bin Al Jarrah di surga...” (Shahih, HR at-Tirmidzi)
Oleh karena itu apabila ada kelompok yang mencela para sahabat, terutama kedua sahabat Abu Bakar dan ‘Umar radhiyallahu 'anhuma.
Bahkan mereka sangat benci dan tidak ingin berkumpul bersama para sahabat, maka jelas arahnya.
Abu Bakar dan ‘Umar serta beberapa sahabat lainnya di jamin pasti masuk surga.
Berarti mereka harus berada di sebaliknya, yaitu neraka.
Pantas saja...
@sahabatilmu
✽.•°•.☆.•°•✽.•°•☆.•°•✽
Tatkala Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
أَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ
“Engkau (di akhirat kelak) bersama orang yang kau cintai...”
Maka para sahabat sangat bergembira dengan kegembiraan tak terkira.
Hingga perawi hadits Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu berkata,
فَأَنَا أُحِبُّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبَا بَكْرٍ وَعُمَرَ وَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ مَعَهُمْ بِحُبِّي إِيَّاهُمْ وَإِنْ لَمْ أَعْمَلْ بِمِثْلِ أَعْمَالِهِمْ
Maka aku mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, Abu Bakr dan Umar radhiyallahu 'anhuma.
Dan aku berharap kelak dikumpulkan bersama mereka (di surga) disebabkan kecintaanku kepada mereka, walau aku belum mengerjakan amalan seperti amalan mereka..."
(HR al-Bukhari: 3485, Muslim: 2639)
Anas berharap dapat dikumpulkan dengan Rasulullah dan kedua sahabat beliau mulia. Tentu kita juga.
Dimana..? Tentu di surga.
Sebab Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah menjamin dalam sabdanya,
“Abu Bakar di surga, ‘Umar di surga, ‘Utsman di surga, ‘Ali di surga, Thalhah di surga, az-Zubair di surga, Sa’d di surga, Sa’id di surga, Abdurrahman bin ‘Auf di surga, Abu Ubaidah bin Al Jarrah di surga...” (Shahih, HR at-Tirmidzi)
Oleh karena itu apabila ada kelompok yang mencela para sahabat, terutama kedua sahabat Abu Bakar dan ‘Umar radhiyallahu 'anhuma.
Bahkan mereka sangat benci dan tidak ingin berkumpul bersama para sahabat, maka jelas arahnya.
Abu Bakar dan ‘Umar serta beberapa sahabat lainnya di jamin pasti masuk surga.
Berarti mereka harus berada di sebaliknya, yaitu neraka.
Pantas saja...
@sahabatilmu
✽.•°•.☆.•°•✽.•°•☆.•°•✽
Berkacalah Saat Musibah
Berkacalah Saat Musibah
Air mengalir, banjir. Tanah bergerak, longsor. Gunung meletus, debu pun terendus, bertebangan hingga ratusan kilometer.
Jangan menyalahkan siapa-siapa. Bisa jadi setiap orang memiliki “andil” atasnya.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)” (QS. Ar-Ruum: 41) “Abul ‘Aliyah berkata, “Barangsiapa yang berbuat maksiat di muka bumi, maka ia telah melakukan kerusakan di muka bumi”
Karena kebaikan bumi dan langit lantaran ketaatan… (Tafsir Ibnu Katsir: 3/572)
Lebih lanjut Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Diantara hukuman perbuatan dosa ialah hilangnya berbagai nikmat dan datangnya beragam siksa cobaan.
Tidaklah hilang suatu nikmat dari seorang hamba melainkan karena sebab dosa.
Dan tidaklah turun siksa ujian melainkan karena dosa…” (Ad-Da’u Wal Dawa’: 49)
Saatnya introspeksi diri dan tidak perlu menyalahkan orang lain.
Apapun musibah yang menimpa.
@sahabatilmu
✽.•°•.☆.•°•✽.•°•☆.•°•✽
Air mengalir, banjir. Tanah bergerak, longsor. Gunung meletus, debu pun terendus, bertebangan hingga ratusan kilometer.
Jangan menyalahkan siapa-siapa. Bisa jadi setiap orang memiliki “andil” atasnya.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)” (QS. Ar-Ruum: 41) “Abul ‘Aliyah berkata, “Barangsiapa yang berbuat maksiat di muka bumi, maka ia telah melakukan kerusakan di muka bumi”
Karena kebaikan bumi dan langit lantaran ketaatan… (Tafsir Ibnu Katsir: 3/572)
Lebih lanjut Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Diantara hukuman perbuatan dosa ialah hilangnya berbagai nikmat dan datangnya beragam siksa cobaan.
Tidaklah hilang suatu nikmat dari seorang hamba melainkan karena sebab dosa.
Dan tidaklah turun siksa ujian melainkan karena dosa…” (Ad-Da’u Wal Dawa’: 49)
Saatnya introspeksi diri dan tidak perlu menyalahkan orang lain.
Apapun musibah yang menimpa.
@sahabatilmu
✽.•°•.☆.•°•✽.•°•☆.•°•✽
Sssstt, Jangan Bilang-Bilang… Bahagia boleh saja
Sssstt, Jangan Bilang-Bilang… Bahagia boleh saja
Bergembira tidaklah mengapa… Tetapi urusan pribadi suami istri jangan dicerita.
Asma’ bintu Yazid radhyiallahu ‘anhuma menceritakan, “Suatu ketika ia bersama Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam dan para sahabat dari kalangan lelaki dan wanita sedang duduk-duduk.
Beliau shallallahu’alaihi wasallam bertanya, “Adakah seorang suami menceritakan apa yang ia lakukan bersama isterinya (berhubungan intim) atau adakah seorang istri menceritakan apa yang ia lakukan dengan suaminya…?” Maka semuanya terdiam tiada yang menjawab.
Aku (Asma’) menjawab, “Demi Allah, Wahai Rasulullah. “Sesungguhnya mereka (para istri) benar-benar menceritakan, demikian juga mereka (para suami)” Nabi shallallahu’alaihi wasallam pun mengingatkan,
فَلاَ تَفْعَلُوا، فَإِنَّمَا ذَلِكَ مِثْلُ الشَّيْطَانِ لَقِيَ شَيْطَانَةً فِي طَرِيْقٍ فَغَشِيَهَا وَالنَّاسُ يَنْظُرُوْنَ “Janganlah kalian lakukan…! Karena sesungguhnya yang demikian itu seperti setan jenis lelaki bertemu dengan setan perempuan, kemudian ia menggaulinya sementara manusia menyaksikan…” (Shahih, HR. Ahmad: 6/456, Adabuz Zifaaf: 63 Al-Albani)
Tatkala menutupi hal itu dari pandangan manusia, bahkan anak kita. Mengapa pula disampaikan kepada teman dan tetangga…? Dan umumnya terjadi di perkumpulan sia-sia.
Berdiam diri di rumah memang memberi ketenangan dan menyelamatkan jiwa.
Terutama musibah terkait lisan…
@sahabatilmu
┈┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈┈
Bergembira tidaklah mengapa… Tetapi urusan pribadi suami istri jangan dicerita.
Asma’ bintu Yazid radhyiallahu ‘anhuma menceritakan, “Suatu ketika ia bersama Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam dan para sahabat dari kalangan lelaki dan wanita sedang duduk-duduk.
Beliau shallallahu’alaihi wasallam bertanya, “Adakah seorang suami menceritakan apa yang ia lakukan bersama isterinya (berhubungan intim) atau adakah seorang istri menceritakan apa yang ia lakukan dengan suaminya…?” Maka semuanya terdiam tiada yang menjawab.
Aku (Asma’) menjawab, “Demi Allah, Wahai Rasulullah. “Sesungguhnya mereka (para istri) benar-benar menceritakan, demikian juga mereka (para suami)” Nabi shallallahu’alaihi wasallam pun mengingatkan,
فَلاَ تَفْعَلُوا، فَإِنَّمَا ذَلِكَ مِثْلُ الشَّيْطَانِ لَقِيَ شَيْطَانَةً فِي طَرِيْقٍ فَغَشِيَهَا وَالنَّاسُ يَنْظُرُوْنَ “Janganlah kalian lakukan…! Karena sesungguhnya yang demikian itu seperti setan jenis lelaki bertemu dengan setan perempuan, kemudian ia menggaulinya sementara manusia menyaksikan…” (Shahih, HR. Ahmad: 6/456, Adabuz Zifaaf: 63 Al-Albani)
Tatkala menutupi hal itu dari pandangan manusia, bahkan anak kita. Mengapa pula disampaikan kepada teman dan tetangga…? Dan umumnya terjadi di perkumpulan sia-sia.
Berdiam diri di rumah memang memberi ketenangan dan menyelamatkan jiwa.
Terutama musibah terkait lisan…
@sahabatilmu
┈┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈┈
Pacaran Itu Boleh Kog, Asal...
Pacaran Itu Boleh Kog, Asal...
Bila ingin mengenal, haruskah melalui pacaran...?
Berapa lama...?
Jangan sampai...
Pacaran seumur gedung, tapi pernikahan seumur jagung...
Ada banyak "peluang" zina dari berpacaran.
A. Semua Punya Bagian.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
“Setiap anak Adam telah mendapatkan bagian zina yang tidak akan bisa dihindari,
فَالْعَيْنَانِ زِيْنَا هُمَا النَّظَرُ، وَاْلأُذُنَانِ زِيْنَا هُمَا الاسْتِمَاعُ، وَاللِّسَانُ زِيْنَاهُ الْكَلاَمُ، وَالْيَدُ زِيْنِاهَا الْبَطْشُ، وَالرِّجْلُ زِيْنَاهَا الْخُطَا، وَالْقَلْبُ يَهْوِى وَيَتَمَنَّى، وَيُصَدِّقُ ذَلِكَ الْفَرْجُ وَيُكَذِّ بُهُ
Zina pada mata adalah melihat..
Zina pada telinga adalah mendengar..
Zina lidah adalah berucap kata...
Zina tangan adalah meraba..
Zina kaki adalah melangkah...
Hati berangan-angan..
Dan kemaluanlah yang membenarkan atau mendustakan semuanya...”
(HR Bukhari: 6612, Muslim: 2657)
Walau tak bersua...
Meski hanya lewat hp saja...
Setidaknya zina hati telah mengusik diri...
B. Kepala Ditusuk Jarum Besi.
Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam bersabda,
لَأنْ يُطعَنَ في رأسِ أحدِكم بمِخيَطٍ من حديدٍ خيرٌ لهُ مِنْ أن يَمَسَّ امرأةً لا تَحِلُّ لهُ
"Sungguh... Ditusuknya kepala seseorang kalian dengan jarum dari besi lebih baik baginya dibandingkan menyentuh seorang wanita yang tidak halal baginya..." (HR. Ath-Thabrani Mu'jamul Al-Kabir, Shahihul Jami' al-Albani: 4921)
Pernah tertusuk duri atau terinjak pecahan kaca...? Sakit rasanya.
Bisakah membayangkan kepala tertusuk paku..? Betapa pedihnya.
Menyentuh lawan jenis yang bukan mahram lebih berat lagi dari itu.
Dengan berpacaran, tentu 'tak kuasa menahan diri dari menyentuh lawan jenis...
Ternyata berat juga bahaya berpacaran...
Jadi...
Pacaran itu boleh saja, asal setelah menikah.
Aman khan...?!
@sahabatilmu
⌣̊┈»̶·̵̭̌✽����✽·̵̭̌«̶┈⌣̊
Bila ingin mengenal, haruskah melalui pacaran...?
Berapa lama...?
Jangan sampai...
Pacaran seumur gedung, tapi pernikahan seumur jagung...
Ada banyak "peluang" zina dari berpacaran.
A. Semua Punya Bagian.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
“Setiap anak Adam telah mendapatkan bagian zina yang tidak akan bisa dihindari,
فَالْعَيْنَانِ زِيْنَا هُمَا النَّظَرُ، وَاْلأُذُنَانِ زِيْنَا هُمَا الاسْتِمَاعُ، وَاللِّسَانُ زِيْنَاهُ الْكَلاَمُ، وَالْيَدُ زِيْنِاهَا الْبَطْشُ، وَالرِّجْلُ زِيْنَاهَا الْخُطَا، وَالْقَلْبُ يَهْوِى وَيَتَمَنَّى، وَيُصَدِّقُ ذَلِكَ الْفَرْجُ وَيُكَذِّ بُهُ
Zina pada mata adalah melihat..
Zina pada telinga adalah mendengar..
Zina lidah adalah berucap kata...
Zina tangan adalah meraba..
Zina kaki adalah melangkah...
Hati berangan-angan..
Dan kemaluanlah yang membenarkan atau mendustakan semuanya...”
(HR Bukhari: 6612, Muslim: 2657)
Walau tak bersua...
Meski hanya lewat hp saja...
Setidaknya zina hati telah mengusik diri...
B. Kepala Ditusuk Jarum Besi.
Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam bersabda,
لَأنْ يُطعَنَ في رأسِ أحدِكم بمِخيَطٍ من حديدٍ خيرٌ لهُ مِنْ أن يَمَسَّ امرأةً لا تَحِلُّ لهُ
"Sungguh... Ditusuknya kepala seseorang kalian dengan jarum dari besi lebih baik baginya dibandingkan menyentuh seorang wanita yang tidak halal baginya..." (HR. Ath-Thabrani Mu'jamul Al-Kabir, Shahihul Jami' al-Albani: 4921)
Pernah tertusuk duri atau terinjak pecahan kaca...? Sakit rasanya.
Bisakah membayangkan kepala tertusuk paku..? Betapa pedihnya.
Menyentuh lawan jenis yang bukan mahram lebih berat lagi dari itu.
Dengan berpacaran, tentu 'tak kuasa menahan diri dari menyentuh lawan jenis...
Ternyata berat juga bahaya berpacaran...
Jadi...
Pacaran itu boleh saja, asal setelah menikah.
Aman khan...?!
@sahabatilmu
⌣̊┈»̶·̵̭̌✽����✽·̵̭̌«̶┈⌣̊
Doa Ampunan Dalam Kegelapan
Doa Ampunan Dalam Kegelapan.
Di kala mendapat ujian, terkadang lupa bahwa itu merupakan buah kesalahan diri sendiri.
Sebagaimana firman Allah ta’ala,
وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ
“Dan apa saja musibah yang menimpa kalian, semuanya disebabkan ulah tangan (maksiat) kalian. Dan Allah telah memberi ampunan untuk banyak dosa” (QS. Asy-Syura: 30)
Jadikanlah Nabiyullah Yunus ‘alaihissalam sebagai panutan, tatkala ia berada dalam 3 kegelapan: kedalaman lautan, pada gelapnya malam, di dalam perut ikan.
Nabi Yunus berdoa memohon ampunan Allah ‘Azza Wa Jalla,
فَنَادَى فِي الظُّلُمَاتِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ
“Dia menyeru dalam kegelapan, dengan mengucapkan:
لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ
“Tiada Tuhan yang berhak disembah selain Engkau, Maha Suci Engkau. Sesungguhnya aku termasuk orang yang dzhalim” (QS. Al-Anbiya: 87)
Yunus ‘alaihissalam mengakui kesalahan yang ia lakukan sebagai wujud doa agar terselamatkan.
Bukan menyalahkan orang lain berbalut seribu dalih…
Bagaimana dengan kita..?!
@sahabatilmu
┈┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈┈
Di kala mendapat ujian, terkadang lupa bahwa itu merupakan buah kesalahan diri sendiri.
Sebagaimana firman Allah ta’ala,
وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ
“Dan apa saja musibah yang menimpa kalian, semuanya disebabkan ulah tangan (maksiat) kalian. Dan Allah telah memberi ampunan untuk banyak dosa” (QS. Asy-Syura: 30)
Jadikanlah Nabiyullah Yunus ‘alaihissalam sebagai panutan, tatkala ia berada dalam 3 kegelapan: kedalaman lautan, pada gelapnya malam, di dalam perut ikan.
Nabi Yunus berdoa memohon ampunan Allah ‘Azza Wa Jalla,
فَنَادَى فِي الظُّلُمَاتِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ
“Dia menyeru dalam kegelapan, dengan mengucapkan:
لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ
“Tiada Tuhan yang berhak disembah selain Engkau, Maha Suci Engkau. Sesungguhnya aku termasuk orang yang dzhalim” (QS. Al-Anbiya: 87)
Yunus ‘alaihissalam mengakui kesalahan yang ia lakukan sebagai wujud doa agar terselamatkan.
Bukan menyalahkan orang lain berbalut seribu dalih…
Bagaimana dengan kita..?!
@sahabatilmu
┈┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈┈
Menjaga Diri Saat Suami Pergi.
Menjaga Diri Saat Suami Pergi.
Termasuk ketenangan bagi suami, di kala ia pergi mencari rizki, istri di rumah menjaga diri.
Bekerja tenang, hati tentram.
A. Perbendaharaan Terbaik.
Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda,
أَلاَ أُخْبِرَكَ بِخَيْرِ مَا يَكْنِزُ الْمَرْءُ، اَلْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ، إِذَا نَظَرَ إِلَيْهَا سَرَّتْهَ وَإِذَا أَمَرَهَا أَطَاعَتْهَ وَإِذَا غَابَ عَنْهَا حَفِظَتْهَ
“Maukah aku kabarkan kepadamu sebaik-baik perbendaharaan seorang lelaki, yaitu istri shalihah yang bila dipandang menyenangkan, saat diperintah mentaati, ketika suami pergi sang istri menjaga diri…” (Shahih, HR. Abu Dawud:1417)
B. Masuk Surga Dari Pintu Mana Saja.
Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam,
إِذَا صَلَّتِ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا، وَصَامَتْ شَهْرَهَا، وَحَفِظَتْ فَرْجَهَا، وَأَطَاعَتْ زَوْجَهَا، قِيْلَ لَهَا: ادْخُلِي الْجَنَّةَ مِنْ أَيِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شِئْتِ
“Apabila seorang wanita shalat lima waktu, puasa di bulan Ramadhan, menjaga kemaluan dan taat kepada suami, maka dikatakan kepadanya:
“Masuklah engkau ke surga dari pintu mana pun yang engkau suka…”
(Shahih, HR. Ahmad:1/191, Shahihul Jami’:660 Al-Albani)
Mengasuh anak, menjaga harta, dan memelihara kehormatan merupakan kebahagiaan wanita shalihah.
@sahabatilmu
┈┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈┈
Termasuk ketenangan bagi suami, di kala ia pergi mencari rizki, istri di rumah menjaga diri.
Bekerja tenang, hati tentram.
A. Perbendaharaan Terbaik.
Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda,
أَلاَ أُخْبِرَكَ بِخَيْرِ مَا يَكْنِزُ الْمَرْءُ، اَلْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ، إِذَا نَظَرَ إِلَيْهَا سَرَّتْهَ وَإِذَا أَمَرَهَا أَطَاعَتْهَ وَإِذَا غَابَ عَنْهَا حَفِظَتْهَ
“Maukah aku kabarkan kepadamu sebaik-baik perbendaharaan seorang lelaki, yaitu istri shalihah yang bila dipandang menyenangkan, saat diperintah mentaati, ketika suami pergi sang istri menjaga diri…” (Shahih, HR. Abu Dawud:1417)
B. Masuk Surga Dari Pintu Mana Saja.
Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam,
إِذَا صَلَّتِ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا، وَصَامَتْ شَهْرَهَا، وَحَفِظَتْ فَرْجَهَا، وَأَطَاعَتْ زَوْجَهَا، قِيْلَ لَهَا: ادْخُلِي الْجَنَّةَ مِنْ أَيِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شِئْتِ
“Apabila seorang wanita shalat lima waktu, puasa di bulan Ramadhan, menjaga kemaluan dan taat kepada suami, maka dikatakan kepadanya:
“Masuklah engkau ke surga dari pintu mana pun yang engkau suka…”
(Shahih, HR. Ahmad:1/191, Shahihul Jami’:660 Al-Albani)
Mengasuh anak, menjaga harta, dan memelihara kehormatan merupakan kebahagiaan wanita shalihah.
@sahabatilmu
┈┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈┈
Minggu, 09 Februari 2014
Buang Dengki Sebelum Tidur
Buang Dengki Sebelum Tidur.
Diantara surat yang dianjurkan dibaca sebelum tidur adalah surat al-Falaq.
Di ayat terakhir berbunyi:
وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ
“Dan dari kejahatan orang yang dengki apabila ia dengki” (QS Al-Falaq: 5)
Syaikh Al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan,
“Hasad (dengki) adalah benci kepada orang lain karena mendapat nikmat Allah.
Bisa berupa harta, kedudukan, ilmu, dan lainnya. Keadaan ini menyesakkan dada si pendengki…”
Kita pun harus menghilangkan seluruh iri dengki yang sempat timbul di hari ini.
‘tak ada gunanya mendengki, sebab seluruh rizki sudah diatur dan dibagi.
Mari tidur dalam keadaan dada lapang, pikiran tenang.
Jangan ajak dengki mengusik tidur indah kita…
@sahabatilmu
┈┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈┈
Diantara surat yang dianjurkan dibaca sebelum tidur adalah surat al-Falaq.
Di ayat terakhir berbunyi:
وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ
“Dan dari kejahatan orang yang dengki apabila ia dengki” (QS Al-Falaq: 5)
Syaikh Al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan,
“Hasad (dengki) adalah benci kepada orang lain karena mendapat nikmat Allah.
Bisa berupa harta, kedudukan, ilmu, dan lainnya. Keadaan ini menyesakkan dada si pendengki…”
Kita pun harus menghilangkan seluruh iri dengki yang sempat timbul di hari ini.
‘tak ada gunanya mendengki, sebab seluruh rizki sudah diatur dan dibagi.
Mari tidur dalam keadaan dada lapang, pikiran tenang.
Jangan ajak dengki mengusik tidur indah kita…
@sahabatilmu
┈┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈┈
Rabu, 29 Januari 2014
Cari Hati.
Cari Hati.
Ibnul Qayyim rahimahullahu ta'ala berkata,
Carilah hatimu di tiga tempat:
1. Saat mendengarkan Al-Qur'an
2. Ketika di majelis dzikir (ilmu)
3. Sewaktu bersendiri (bermunajat kepada Allah)
Apabila tidak engkau dapati hatimu di tempat-tempat ini, maka mohonlah kepada Allah agar menganugerahkan "hati"
Sebab sesungguhnya (saat itu) engkau tidak lagi memiliki "hati" (Al-Fawaa'id: 479)
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,
يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ. إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ
“(Yaitu) di hari harta dan anak-anak tiada lagi berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih” (QS. Asy Syu’ara: 88)
@sahabatilmu
✽.•°•.☆.•°•✽.•°•☆.•°•✽
Ibnul Qayyim rahimahullahu ta'ala berkata,
Carilah hatimu di tiga tempat:
1. Saat mendengarkan Al-Qur'an
2. Ketika di majelis dzikir (ilmu)
3. Sewaktu bersendiri (bermunajat kepada Allah)
Apabila tidak engkau dapati hatimu di tempat-tempat ini, maka mohonlah kepada Allah agar menganugerahkan "hati"
Sebab sesungguhnya (saat itu) engkau tidak lagi memiliki "hati" (Al-Fawaa'id: 479)
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,
يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ. إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ
“(Yaitu) di hari harta dan anak-anak tiada lagi berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih” (QS. Asy Syu’ara: 88)
@sahabatilmu
✽.•°•.☆.•°•✽.•°•☆.•°•✽
Senin, 27 Januari 2014
Minta Dihalalkan
Minta Dihalalkan.
Saat bertaubat dari perbuatan dosa dan maksiat, ada 3 syarat yang dibutuhkan:
1. Berhenti dari perbuatan itu
2. Menyesali.
3. Bertekad kuat untuk tidak mengulangi.
Adapun bila berkaitan dengan hak sesama manusia, ada 1 syarat tambahan, yaitu:
mengembalikan (bila harta) atau meminta maaf (bila ucapan) atau apapun yang sejenis dengan penghalalan dari perbuatannya itu.
Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,
مَنْ كَانَتْ لَهُ مَظْلَمَةٌ لِأَخِيهِ مِنْ عِرْضِهِ أَوْ شَيْءٍ فَلْيَتَحَلَّلْهُ مِنْهُ الْيَوْمَ قَبْلَ أَنْ لَا يَكُونَ دِينَارٌ وَلَا دِرْهَمٌ
"Barangsiapa pernah berbuat dzhalim terhadap saudaranya dalam urusan kehormatan atau lainnya, hendaklah ia meminta penghalalan darinya di hari itu juga.
Sebelum datang hari tiada lagi (bermanfaat) dinar dan dirham.
إِنْ كَانَ لَهُ عَمَلٌ صَالِحٌ أُخِذَ مِنْهُ بِقَدْرِ مَظْلَمَتِهِ وَإِنْ لَمْ تَكُنْ لَهُ حَسَنَاتٌ أُخِذَ مِنْ سَيِّئَاتِ صَاحِبِهِ فَحُمِلَ عَلَيْهِ
Jika ia memiliki amal shalih, maka akan diambil setara kedzhaliman (yang dilakukan)
Apabila ia tidak (lagi) memiliki kebaikan, maka akan diambil dosa saudara (yang didzhalimi) kemudian ditimpakan kepadanya..." (HR. al-Bukhari: 2269)
Demikian orang yang merugi sesungguhnya...
Bersegeralah meminta penghalalan dari seluruh orang yang pernah kita dzhalimi.
Sebelum saat dimana tidak lagi bermanfaat harta dan perniagaan.
@sahabatilmu
♈̷̴⌣♈̷̴⌣♈̷̴⌣♈̷̴⌣♈̷̴⌣♈̷̴⌣♈̷̴⌣♈̷
Saat bertaubat dari perbuatan dosa dan maksiat, ada 3 syarat yang dibutuhkan:
1. Berhenti dari perbuatan itu
2. Menyesali.
3. Bertekad kuat untuk tidak mengulangi.
Adapun bila berkaitan dengan hak sesama manusia, ada 1 syarat tambahan, yaitu:
mengembalikan (bila harta) atau meminta maaf (bila ucapan) atau apapun yang sejenis dengan penghalalan dari perbuatannya itu.
Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,
مَنْ كَانَتْ لَهُ مَظْلَمَةٌ لِأَخِيهِ مِنْ عِرْضِهِ أَوْ شَيْءٍ فَلْيَتَحَلَّلْهُ مِنْهُ الْيَوْمَ قَبْلَ أَنْ لَا يَكُونَ دِينَارٌ وَلَا دِرْهَمٌ
"Barangsiapa pernah berbuat dzhalim terhadap saudaranya dalam urusan kehormatan atau lainnya, hendaklah ia meminta penghalalan darinya di hari itu juga.
Sebelum datang hari tiada lagi (bermanfaat) dinar dan dirham.
إِنْ كَانَ لَهُ عَمَلٌ صَالِحٌ أُخِذَ مِنْهُ بِقَدْرِ مَظْلَمَتِهِ وَإِنْ لَمْ تَكُنْ لَهُ حَسَنَاتٌ أُخِذَ مِنْ سَيِّئَاتِ صَاحِبِهِ فَحُمِلَ عَلَيْهِ
Jika ia memiliki amal shalih, maka akan diambil setara kedzhaliman (yang dilakukan)
Apabila ia tidak (lagi) memiliki kebaikan, maka akan diambil dosa saudara (yang didzhalimi) kemudian ditimpakan kepadanya..." (HR. al-Bukhari: 2269)
Demikian orang yang merugi sesungguhnya...
Bersegeralah meminta penghalalan dari seluruh orang yang pernah kita dzhalimi.
Sebelum saat dimana tidak lagi bermanfaat harta dan perniagaan.
@sahabatilmu
♈̷̴⌣♈̷̴⌣♈̷̴⌣♈̷̴⌣♈̷̴⌣♈̷̴⌣♈̷̴⌣♈̷
Sayyidul (Penghulu) Istighfar

Diantara ragam dzikir pagi petang adalah Sayyidul Istighfar.
Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam,
سَيِّدُ الاِسْتِغْفَارِ أَنْ تَقُولَ
Penghulu Istighfar adalah engkau mengucapkan,
اللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّي لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ، خَلَقْتَنِي وَأَنَا عَبْدُكَ، وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ، أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ، أَبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ، وَأَبُوءُ لَكَ بِذَنْبِي، فَاغْفِرْ لِي، فَإِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلاَّ أَنْتَ
"Ya Allah, Engkaulah Rabbku, Tiada tuhan (yang berhak disembah) kecuali Engkau.
Engkaulah yang menciptakanku dan aku adalah hambaMu.
Aku berada di atas perjanjianMu semampuku.
Aku berlindung kepadaMu dari keburukan apa yang telah aku perbuat.
Aku kembali kepadaMu dengan kenikmatan yang Engkau limpahkan untukku.
Aku kembali kepadaMu dengan dosaku, maka berikanlah ampunan kepadaku.
Karena tidak ada yang mengampuni dosa-dosa kecuali Engkau"
قَالَ: وَمَنْ قَالَهَا مِنَ النَّهَارِ مُوقِنًا بِهَا فَمَاتَ مِنْ يَوْمِهِ قَبْلَ أَنْ يُمْسِيَ فَهُوَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ،
Barangsiapa yang mengucapkannya pada (awal) siang dengan meyakininya, lalu mati pada hari itu sebelum masuk waktu petang, maka dia termasuk ahli surga
وَمَنْ قَالَهَا مِنَ اللَّيْلِ وَهُوَ مُوقِنٌ بِهَا فَمَاتَ قَبْلَ أَنْ يُصْبِحَ فَهُوَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ
Dan barangsiapa yang mengucapkannya pada (awal) malam dengan meyakininya, lalu mati sebelum masuk waktu pagi, maka dia termasuk ahli surga...”
(Shahih, HR Bukhari: 5947, 5964, Tirmidzi: 3393, Nasa'i: 5522, Ahmad: 4/122, 124)
Penjelasan hadits:
Arti (أبوء): "aku kembali"
maksudnya adalah aku mengakui.
Ibnu Hajar rahimahullah berkata,
"Ketika doa ini menggabungkan seluruh makna-makna taubat, maka digunakanlah padanya nama “Sayyidul Istighfaar - Penghulu Istighfar..." (Fathul Baari: 11/99)
@sahabatilmu
♠̣̣̇̇♠̣̣̇̇♠̣̣̇̇♠̣̣̇̇♠̣̣̇̇♠̣̣̇̇♠̣̣̇̇♠̣̣̇̇♠̣̣̇̇♠̣̣̇̇♠̣̣̇̇♠̣̣̇̇♠̣̣̇̇♠̣̣̇̇♠̣̣̇̇♠̣̣̇̇♠̣̣̇̇♠̣̣̇̇♠̣̣̇̇♠̣̣̇̇
Sabtu, 25 Januari 2014
Seratus Kedustaan Dibalik Satu Kebenaran
Seratus Kedustaan Dibalik Satu Kebenaran.
Saat melihat “tingkah polah” dan tebakan dukun, orang awam akan berkata,
“Yang dikatakan paranormal (baca: pura-pura normal) benar kog…!”
Apa iya…??
Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam menjelaskan bagaimana cara dukun mendapat silsilah berita dari setan.
“Apabila Allah memutuskan suatu perkara di langit, tertunduklah segenap malaikat disebabkan ketundukan terhadap firman Allah.
Bagaikan gemerincing rantai besi bergesekan di atas batu.
Tatkala tersadar, beberapa malaikat berkata,
”Apa yang telah difirmankan Rabb kalian…?
Malaikat lain menjawab,
“Kebenaran, dan Dia Maha Tinggi lagi Maha Besar…”
فَيَسْمَعُهَا مُسْتَرِقُ السَّمْعَ
Lalu berita tersebut dicuri oleh para pencuri pendengaran (setan)…
….(hingga akhirnya)
وَرُبَّمَا أَلْقَاهَا قَبْلَ أَنْ يُدْرِكَهُ فَيَكْذِبُ مَعَهَا مِائَةَ كِذْبَةٍ
“Terkadang setan menyisipkan seratus kedustaan di balik satu berita benar yang berhasil dicurinya”
Sehingga orang-orang pun berkata:
أَلَيْسَ قَدْ قَالَ لَنَا يَوْمَ كَذَا وَكَذا كَذَا وَكَذَا….؟
Bukankah dukun itu telah mengatakan kepada kami begini dan begitu (dengan benar)…?
فَيُصَدَّقُ بِتِلْكَ الْكَلِمَةِ الَّتِي سُمِعَ مِنَ السَّمَاءِ
Maka perkataan dukun pun akhirnya dipercayai orang, berbekal satu kalimat yang didengarnya dari langit…” (HR. Al-Bukhari: 4522)
Demikianlah seratus kedustaan sang dukun menjadi laris manis dipercaya orang dengan sebab satu kali ucapan saja yang benar. (Al-Qaulus Sadid Syarh Kitab Tauhid: 71)
Namun mengapa seratus tebakan salah dan seribu ucapan dusta dukun ‘tak pernah diungkit dan dipermasalahkan…?!
@sahabatilmu
--⌣̊⌣̊⌣̊✽̈⌣̊✽̈⌣̊✽̈⌣̊⌣̊⌣̊--
Saat melihat “tingkah polah” dan tebakan dukun, orang awam akan berkata,
“Yang dikatakan paranormal (baca: pura-pura normal) benar kog…!”
Apa iya…??
Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam menjelaskan bagaimana cara dukun mendapat silsilah berita dari setan.
“Apabila Allah memutuskan suatu perkara di langit, tertunduklah segenap malaikat disebabkan ketundukan terhadap firman Allah.
Bagaikan gemerincing rantai besi bergesekan di atas batu.
Tatkala tersadar, beberapa malaikat berkata,
”Apa yang telah difirmankan Rabb kalian…?
Malaikat lain menjawab,
“Kebenaran, dan Dia Maha Tinggi lagi Maha Besar…”
فَيَسْمَعُهَا مُسْتَرِقُ السَّمْعَ
Lalu berita tersebut dicuri oleh para pencuri pendengaran (setan)…
….(hingga akhirnya)
وَرُبَّمَا أَلْقَاهَا قَبْلَ أَنْ يُدْرِكَهُ فَيَكْذِبُ مَعَهَا مِائَةَ كِذْبَةٍ
“Terkadang setan menyisipkan seratus kedustaan di balik satu berita benar yang berhasil dicurinya”
Sehingga orang-orang pun berkata:
أَلَيْسَ قَدْ قَالَ لَنَا يَوْمَ كَذَا وَكَذا كَذَا وَكَذَا….؟
Bukankah dukun itu telah mengatakan kepada kami begini dan begitu (dengan benar)…?
فَيُصَدَّقُ بِتِلْكَ الْكَلِمَةِ الَّتِي سُمِعَ مِنَ السَّمَاءِ
Maka perkataan dukun pun akhirnya dipercayai orang, berbekal satu kalimat yang didengarnya dari langit…” (HR. Al-Bukhari: 4522)
Demikianlah seratus kedustaan sang dukun menjadi laris manis dipercaya orang dengan sebab satu kali ucapan saja yang benar. (Al-Qaulus Sadid Syarh Kitab Tauhid: 71)
Namun mengapa seratus tebakan salah dan seribu ucapan dusta dukun ‘tak pernah diungkit dan dipermasalahkan…?!
@sahabatilmu
--⌣̊⌣̊⌣̊✽̈⌣̊✽̈⌣̊✽̈⌣̊⌣̊⌣̊--
Cinta Allah Cinta Rasul
Cinta Allah Cinta Rasul.
Semua orang bisa bilang cinta.
Tetapi, seperti apakah bukti kecintaan kita kepada Allah dan Rasul-Nya…?
A. Lebih Dari Selainnya.
Nabi shallallahu’alaihi wasallam bersabda,
ثَلاَثٌ مَنْ كُنَّ فِيْهِ وَجَدَ حَلاَوَةَ اِلإِيْمَانِ : أَنْ يَكُوْنَ اللهُ وَ رَسُوْلُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا
“Tiga perkara yang apabila seseorang memilikinya, niscaya akan merasakan manisnya iman, (diantaranya) kecintaannya kepada Allah dan RasulNya melebihi rasa cinta kepada selain keduanya…” (HR. al-Bukhari, Muslim)
B. Bukan Harta, Keluarga, dan Apa Saja.
Bahkan disebutkan secara khusus beberapa perihal yang hati manusia condong.
Allah ‘Azza Wa Jalla berfirman,
قُلْ إِنْ كَانَ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّى يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ وَاللَّهُ لا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ
“Katakanlah: “Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, keluargamu, harta kekayaan yang kalian usahakan, perniagaan yang kalian khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kalian sukai, adalah lebih engkau cintai dari Allah dan RasulNya dan dari berjihad di jalanNya.
Maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusanNya”
Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik” (QS. At-Taubah: 24)
Maka sungguh mengherankan…
Ada yang mengaku mencintai Allah namun enggan berinfak dan berzakat…
Katanya mencintai Rasulullah tetapi shalat subuh saja tak kuat…
Pengakuan tanpa bukti, tiada guna tak bermanfaat.
Sebagaimana ungkapkan suatu syair:
“Engkau bermaksiat kepada ilahi, namun engkau mengaku cinta kepada-Nya”
“Ini kemustahilan yang diada-adakan”
“Jika saja dakwaan cintamu jujur, niscaya engkau akan mentaati-Nya”
“Sesungguhnya seorang pecinta terhadap yang dicintai, akan taat”
@sahabatilmu
♧°˚˚˚°♧♧°˚˚˚°♧♧°˚˚˚°♧♧°˚˚˚°♧
Semua orang bisa bilang cinta.
Tetapi, seperti apakah bukti kecintaan kita kepada Allah dan Rasul-Nya…?
A. Lebih Dari Selainnya.
Nabi shallallahu’alaihi wasallam bersabda,
ثَلاَثٌ مَنْ كُنَّ فِيْهِ وَجَدَ حَلاَوَةَ اِلإِيْمَانِ : أَنْ يَكُوْنَ اللهُ وَ رَسُوْلُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا
“Tiga perkara yang apabila seseorang memilikinya, niscaya akan merasakan manisnya iman, (diantaranya) kecintaannya kepada Allah dan RasulNya melebihi rasa cinta kepada selain keduanya…” (HR. al-Bukhari, Muslim)
B. Bukan Harta, Keluarga, dan Apa Saja.
Bahkan disebutkan secara khusus beberapa perihal yang hati manusia condong.
Allah ‘Azza Wa Jalla berfirman,
قُلْ إِنْ كَانَ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّى يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ وَاللَّهُ لا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ
“Katakanlah: “Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, keluargamu, harta kekayaan yang kalian usahakan, perniagaan yang kalian khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kalian sukai, adalah lebih engkau cintai dari Allah dan RasulNya dan dari berjihad di jalanNya.
Maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusanNya”
Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik” (QS. At-Taubah: 24)
Maka sungguh mengherankan…
Ada yang mengaku mencintai Allah namun enggan berinfak dan berzakat…
Katanya mencintai Rasulullah tetapi shalat subuh saja tak kuat…
Pengakuan tanpa bukti, tiada guna tak bermanfaat.
Sebagaimana ungkapkan suatu syair:
“Engkau bermaksiat kepada ilahi, namun engkau mengaku cinta kepada-Nya”
“Ini kemustahilan yang diada-adakan”
“Jika saja dakwaan cintamu jujur, niscaya engkau akan mentaati-Nya”
“Sesungguhnya seorang pecinta terhadap yang dicintai, akan taat”
@sahabatilmu
♧°˚˚˚°♧♧°˚˚˚°♧♧°˚˚˚°♧♧°˚˚˚°♧
Cinta Rasul, Buktikan…!!
Cinta Rasul, Buktikan…!!
Setiap Muslim mengaku mencintai Allah dan Rasul-Nya. Namun cinta bukanlah pengakuan semata, butuh pembuktian.
A. Diikuti.
Allah Ta’ala berfirman,
ﻗﻞ ﺇﻥ ﻛﻨﺘﻢ ﺗﺤﺒﻮﻥ ﺍﻟﻠﻪ ﻓﺎﺗﺒﻌﻮﻧﻲ ﻳﺤﺒﺒﻜﻢ ﺍﻟﻠﻪ ﻭﻳﻐﻔﺮ ﻟﻜﻢ ﺫﻧﻮﺑﻜﻢ، ﻭﺍﻟﻠﻪ ﻏﻔﻮﺭ ﺭﺣﻴﻢ
“Katakanlah: Jika kalian (benar-benar) mencintai Allah, maka ikutilah aku.
Niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.
Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS Ali ‘Imran:31)
“Ayat yang mulia ini merupakan hakim (pemutus perkara) bagi setiap orang yang mengaku mencintai Allah, namun tidak mengikuti jalan (sunnah) Rasulullah, maka dia adalah orang yang berdusta dalam pengakuannya…” (Tafsir Ibnu Katsir: 1/477)
B. Lebih Dari Diri Sendiri.
Suatu hari Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu berkata kepada Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam,
“Wahai Rasulullah, sungguh engkau lebih aku cintai dari segala sesuatu kecuali dari diriku sendiri…”
Rasulullah pun menjawab, “Tidak, Demi Allah, hingga aku lebih engkau cintai daripada dirimu sendiri..”
Maka Umar berkata, “Demi Allah, sekarang engkau lebih aku cintai daripada diriku sendiri…!” (HR. al-Bukhari: 6632)
Mengaku cinta Rasul..?!
Yuks laksanakan sunnah-sunnahnya…
Masih banyak sunnah yang belum kita laksanakan. Tanpa perlu mengerjakan perkara ibadah yang tidak pernah Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam contohkan…
@sahabatilmu
-------๑๑•°♥°•๑๑-------
Setiap Muslim mengaku mencintai Allah dan Rasul-Nya. Namun cinta bukanlah pengakuan semata, butuh pembuktian.
A. Diikuti.
Allah Ta’ala berfirman,
ﻗﻞ ﺇﻥ ﻛﻨﺘﻢ ﺗﺤﺒﻮﻥ ﺍﻟﻠﻪ ﻓﺎﺗﺒﻌﻮﻧﻲ ﻳﺤﺒﺒﻜﻢ ﺍﻟﻠﻪ ﻭﻳﻐﻔﺮ ﻟﻜﻢ ﺫﻧﻮﺑﻜﻢ، ﻭﺍﻟﻠﻪ ﻏﻔﻮﺭ ﺭﺣﻴﻢ
“Katakanlah: Jika kalian (benar-benar) mencintai Allah, maka ikutilah aku.
Niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.
Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS Ali ‘Imran:31)
“Ayat yang mulia ini merupakan hakim (pemutus perkara) bagi setiap orang yang mengaku mencintai Allah, namun tidak mengikuti jalan (sunnah) Rasulullah, maka dia adalah orang yang berdusta dalam pengakuannya…” (Tafsir Ibnu Katsir: 1/477)
B. Lebih Dari Diri Sendiri.
Suatu hari Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu berkata kepada Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam,
“Wahai Rasulullah, sungguh engkau lebih aku cintai dari segala sesuatu kecuali dari diriku sendiri…”
Rasulullah pun menjawab, “Tidak, Demi Allah, hingga aku lebih engkau cintai daripada dirimu sendiri..”
Maka Umar berkata, “Demi Allah, sekarang engkau lebih aku cintai daripada diriku sendiri…!” (HR. al-Bukhari: 6632)
Mengaku cinta Rasul..?!
Yuks laksanakan sunnah-sunnahnya…
Masih banyak sunnah yang belum kita laksanakan. Tanpa perlu mengerjakan perkara ibadah yang tidak pernah Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam contohkan…
@sahabatilmu
-------๑๑•°♥°•๑๑-------
Hujan Deras, Berdoalah
Hujan Deras, Berdoalah.
Saat kekeringan dan berharap hujan, ada doanya…
Ketika hujan turun, ada juga doanya…
Bahkan ketika hujan semakin deras dan dikhawatirkan terjadi musibah, terdapat doa yang dianjurkan…
Suatu ketika Nabi shallallahu’alaihi wasallam pernah meminta kepada Allah untuk diturunkan hujan.
Tatkala hujan turun sedemikian derasnya, beliau kembali berdoa memohon kepada Allah.
اللَّهُمّ حَوَالَيْنَا وَلَا عَلَيْنَا,اللَّهُمَّ عَلَى الْآكَامِ وَالْجِبَالِ وَالظِّرَابِ وَبُطُونِ الْأَوْدِيَةِ وَمَنَابِتِ الشَّجَرِ
“Allahumma haawalaina wa laa ’alaina. Allahumma ’alal aakami wal jibaali, wadzh zhiraabi, wa buthunil audiyati, wa manaabitisy syajari”
“Ya Allah, turunkanlah hujan di sekitar kami, bukan untuk merusak kami”
Ya Allah, turunkanlah hujan di dataran tinggi, gunung-gunung, bukit-bukit, perut lembah dan tempat tumbuhnya pepohonan…” (HR Bukhari: 1/224, Muslim: 2/614)
Saat hujan deras dan dikhawatirkan terjadi musibah. Bukan menyalahkan, tidak jua mengumpat.
Berdoalah…
Namun bila dataran tinggi, gunung-gunung, bukit-bukit, perut lembah dan tempat tumbuhnya pepohonan telah ditebangi dan dirusak manusia.
Maka saatnya kita introspeksi diri…
@sahabatilmu
-------๑๑•°♥°•๑๑-------
Saat kekeringan dan berharap hujan, ada doanya…
Ketika hujan turun, ada juga doanya…
Bahkan ketika hujan semakin deras dan dikhawatirkan terjadi musibah, terdapat doa yang dianjurkan…
Suatu ketika Nabi shallallahu’alaihi wasallam pernah meminta kepada Allah untuk diturunkan hujan.
Tatkala hujan turun sedemikian derasnya, beliau kembali berdoa memohon kepada Allah.
اللَّهُمّ حَوَالَيْنَا وَلَا عَلَيْنَا,اللَّهُمَّ عَلَى الْآكَامِ وَالْجِبَالِ وَالظِّرَابِ وَبُطُونِ الْأَوْدِيَةِ وَمَنَابِتِ الشَّجَرِ
“Allahumma haawalaina wa laa ’alaina. Allahumma ’alal aakami wal jibaali, wadzh zhiraabi, wa buthunil audiyati, wa manaabitisy syajari”
“Ya Allah, turunkanlah hujan di sekitar kami, bukan untuk merusak kami”
Ya Allah, turunkanlah hujan di dataran tinggi, gunung-gunung, bukit-bukit, perut lembah dan tempat tumbuhnya pepohonan…” (HR Bukhari: 1/224, Muslim: 2/614)
Saat hujan deras dan dikhawatirkan terjadi musibah. Bukan menyalahkan, tidak jua mengumpat.
Berdoalah…
Namun bila dataran tinggi, gunung-gunung, bukit-bukit, perut lembah dan tempat tumbuhnya pepohonan telah ditebangi dan dirusak manusia.
Maka saatnya kita introspeksi diri…
@sahabatilmu
-------๑๑•°♥°•๑๑-------
Hujan Yang Menjadi Bencana
Hujan Yang Menjadi Bencana.
Turunnya hujan membawa barakah dan manfaat bagi manusia, hewan dan tumbuhan.
Namun terkadang turunnya hujan menjadi siksa dan bencana disebabkan ulah manusia.
A. Ditenggelamkan.
Allah Ta’ala berfirman,
فكلاً أخذنا بذنبه فمنهم من أرسلنا عليه حاصباً ومنهم من أخذته الصيحة ومنهم من خسفنا به الأرض ومنهم من أغرقنا
“Maka masing-masing (mereka itu) Kami siksa disebabkan dosanya.
Maka di antara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil dan di antara mereka ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur, dan di antara mereka ada yang Kami benamkan ke dalam bumi.
Dan di antara mereka ada yang Kami tenggelamkan” (QS. Al-Ankabut: 40)
B. Banjir Besar.
Demikian pula Allah ‘Azza Wa Jalla berfirman,
فأعرضوا فأرسلنا عليهم سيل العرم
“Tetapi mereka berpaling, maka Kami datangkan kepada mereka banjir yang besar” (QS. Saba’: 16)
Sebagaimana juga banjir yang telah meluluh lantakan kaum Nuh disebabkan kedurhakaan mereka.
C. Sebab Kemaksiatan.
Sebagaimana firman Allah Ta’ala,
وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ
“Dan musibah apapun yang menimpa kalian, maka disebabkan oleh perbuatan tangan kalian sendiri” (QS. Asy-Syura: 30)
Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,
“Diantara hukuman dosa, ia akan menghilangkan berbagai nikmat dan mendatangkan siksaan.
Karenanya, tidaklah hilang suatu nikmat dari seorang hamba melainkan disebabkan dosa.
Dan tidaklah turun suatu siksa selain dikarenakan dosa…”
(ad-Da’u Wad Dawa’: 49)
Maka segeralah berhenti dari kemaksiatan dan perbuatan dosa.
Agar nikmat Allah tidak berubah menjadi petaka.
@sahabatilmu
*•☆°• •°☆•**•☆°• •°☆•**•☆*•☆°• •°☆•
Turunnya hujan membawa barakah dan manfaat bagi manusia, hewan dan tumbuhan.
Namun terkadang turunnya hujan menjadi siksa dan bencana disebabkan ulah manusia.
A. Ditenggelamkan.
Allah Ta’ala berfirman,
فكلاً أخذنا بذنبه فمنهم من أرسلنا عليه حاصباً ومنهم من أخذته الصيحة ومنهم من خسفنا به الأرض ومنهم من أغرقنا
“Maka masing-masing (mereka itu) Kami siksa disebabkan dosanya.
Maka di antara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil dan di antara mereka ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur, dan di antara mereka ada yang Kami benamkan ke dalam bumi.
Dan di antara mereka ada yang Kami tenggelamkan” (QS. Al-Ankabut: 40)
B. Banjir Besar.
Demikian pula Allah ‘Azza Wa Jalla berfirman,
فأعرضوا فأرسلنا عليهم سيل العرم
“Tetapi mereka berpaling, maka Kami datangkan kepada mereka banjir yang besar” (QS. Saba’: 16)
Sebagaimana juga banjir yang telah meluluh lantakan kaum Nuh disebabkan kedurhakaan mereka.
C. Sebab Kemaksiatan.
Sebagaimana firman Allah Ta’ala,
وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ
“Dan musibah apapun yang menimpa kalian, maka disebabkan oleh perbuatan tangan kalian sendiri” (QS. Asy-Syura: 30)
Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,
“Diantara hukuman dosa, ia akan menghilangkan berbagai nikmat dan mendatangkan siksaan.
Karenanya, tidaklah hilang suatu nikmat dari seorang hamba melainkan disebabkan dosa.
Dan tidaklah turun suatu siksa selain dikarenakan dosa…”
(ad-Da’u Wad Dawa’: 49)
Maka segeralah berhenti dari kemaksiatan dan perbuatan dosa.
Agar nikmat Allah tidak berubah menjadi petaka.
@sahabatilmu
*•☆°• •°☆•**•☆°• •°☆•**•☆*•☆°• •°☆•
Langganan:
Postingan (Atom)















