Tampilkan postingan dengan label أُسْتَاذُ Abu Asma Kholid Syamhudi Al Bantani. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label أُسْتَاذُ Abu Asma Kholid Syamhudi Al Bantani. Tampilkan semua postingan

Jumat, 12 Juni 2015

Renungan Romadhan

 Renungan Romadhan

Romadhon hampir tiba, tak terasa waktu berjalan dan berlalu hampir setahun dari romadhan yang lalu. Bulan yang selalu ditunggu-tunggu karena kemulian dan keutamaannya. Bagaimana tidak?

Bulan ini adalah bulan pengampunan dan rahmat serta dimudahkan beramal sholih padanya. Lihat saja sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam :
إِذَا دَخَلَ شَهْرُ رَمَضَانَ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ السَّمَاءِ – وَفِيْ رِوَايَةٍ : أَبْوَابُ الْجَنَّةِ- وَفِيْ رِوَايَةٍ: أَبْوَابُ الرَّحْمَةِ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ جَهَنَّمَ وَسُلْسِلَتْ الشَّيَاطِينُ
Apabila masuk bulan Romadhon maka dibukalah pintu langit –dalam satu riwayat dikatakan: pintu syurga dan dalam riwayat lainnya: pintu-pintu rahmat.- ditutup pintu-pintu jahannam dan para syaitan dibelenggu. (HR al-Bukhori).

Jadikanlah bulan ini sebagai awal menuju kebaikan dimasa mendatang dan titik tolak perubahan dari yang ada menuju yang lebih baik dan sempurna.

Seandainya setiap orang merenungi dirinya dan memperhatikan kehidupan dan kondisinya, tentulah ia mendapatkan dirinya memiliki banyak pikiran dan sifat-sifat individu serta prilaku tertentu.
Pertanyaan yang wajib disampaikan kepada diri kita adalah:
Apakah kita ridho dengan keadaan kita sekarang ini ataukah tidak?
Apakah ia menganggap telah mencapai keadaan yang lebih baik dan sempurna atau malahan dalam keadaan lemah dan jauh dari kesempurnaan?

Apakah semua fikiran, sifat dan prilaku yang telah kita lakukan adalah sesuatu yang tidak bisa berubah dan sudah menjadi qudratnya ataukah kita sebagai manusia memiliki usaha dan ikhtiyar dalam merubahnya?

Semua ini membutuhkan muhaasabah (introspeksi diri) dari setiap kita. Inilah yang dianjurkan dalam syariat islam seperti diungkapkan kholifah Umar bin al-Khath-thab dalam pernyataan beliau: Muhasabahlah terhadap dirimu sebelum kamu dihisab dan timbang-timbanglah sebelum kamu ditimbang.


Argo lawu, 12 juni 2015

✏ Ditulis oleh Ustadz Kholid Syamhudi, Lc حفظه الله تعالى

¤¤(*)¤¤

Jumat, 09 Mei 2014

Siapa Saja Yang Didoakan Oleh Malaikat ?

Siapa Saja Yang Didoakan Oleh Malaikat ?
Ditulis oleh: أُسْتَاذُ Abu Asma Kholid Syamhudi Al Bantani, Lc - حفظه الله




1. Orang yang TIDUR dalam keadaan berSUCI.

Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda, “Barangsiapa yang tidur dalam keadaan suci, maka malaikat akan bersamanya di dalam pakaiannya. Dia tidak akan bangun hingga malaikat berdoa “Ya Allah, ampunilah hambamu si fulan karena tidur dalam keadaan suci.”
(Imam Ibnu Hibban meriwayatkan dari Abdullah bin Umar rodhiAlloohu anhuma, hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhib wat Tarhib I/37)

2. Orang yang sedang duduk MENUNGGU WAKTU SHOLAT.

Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda, “Tidaklah salah seorang diantara kalian yang duduk menunggu shalat, selama ia berada dalam keadaan suci, kecuali para malaikat akan mendoakannya ‘Ya Allah, ampunilah ia. Ya Allah sayangilah ia.”
(Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah rodhiAlloohu anhu, Shahih Muslim no. 469)

3. Orang – orang yang berada di SHAF barisan DEPAN di dalam shalat berjamaah.

Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda, “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada (orang – orang) yang berada pada shaf – shaf terdepan.”
(Imam Abu Dawud (dan Ibnu Khuzaimah) dari Barra’ bin ‘Azib rodhiAlloohu anhu, hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud I/130)

4. Orang – orang yang MENYAMBUNG SHAF pada sholat berjamaah (tidak membiarkan sebuah kekosongan di dalam shaf).

Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda, “Sesungguhnya Allah dan para malaikat selalu bershalawat kepada orang – orang yang menyambung shaf – shaf.”
(Para Imam yaitu Ahmad, Ibnu Majah, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban dan Al Hakim meriwayatkan dari Aisyah rodhiAlloohu anha, hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhib wat Tarhib I/272)

5. Para malaikat mengucapkan ‘AMIN’ ketika seorang Imam selesai membaca Al Fatihah.

Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda, “Jika seorang Imam membaca ‘ghairil maghdhuubi ‘alaihim waladh dhaalinn’, maka ucapkanlah oleh kalian ‘aamiin’, karena barangsiapa ucapannya itu bertepatan dengan ucapan malaikat, maka ia akan diampuni dosanya yang masa lalu.”
(Imam Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah rodhiAlloohu anhu, Shahih Bukhari no. 782)

6. Orang yang duduk di tempat shalatnya setelah melakukan shalat.

Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda, “Para malaikat akan selalu bershalawat kepada salah satu diantara kalian selama ia ada di dalam tempat shalat dimana ia melakukan shalat, selama ia belum batal wudhunya, (para malaikat) berkata, ‘Ya Allah ampunilah dan sayangilah ia.”
(Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairah, Al Musnad no. 8106, Syaikh Ahmad Syakir menshahihkan hadits ini)

7. Orang – orang yang melakukan shalat SHUBUH dan ‘ASHAR secara BERJAMA’AH.

Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda, “Para malaikat berkumpul pada saat shalat shubuh lalu para malaikat ( yang menyertai hamba) pada malam hari (yang sudah bertugas malam hari hingga shubuh) naik (ke langit), dan malaikat pada siang hari tetap tinggal. Kemudian mereka berkumpul lagi pada waktu shalat ‘ashar dan malaikat yang ditugaskan pada siang hari (hingga shalat ‘ashar) naik (ke langit) sedangkan malaikat yang bertugas pada malam hari tetap tinggal, lalu Allah bertanya kepada mereka, ‘Bagaimana kalian meninggalkan hambaku?’, mereka menjawab, ‘Kami datang sedangkan mereka sedang melakukan shalat dan kami tinggalkan mereka sedangkan mereka sedang melakukan shalat, maka ampunilah mereka pada hari kiamat.”
(Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairah rodhiAlloohu anhu, Al Musnad no. 9140, hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Ahmad Syakir)

8. Orang yang menDO’A-KAN saudaranya tanpa sepengetahuan orang yang didoakan.

Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda, “Doa seorang muslim untuk saudaranya yang dilakukan tanpa sepengetahuan orang yang didoakannya adalah doa yang akan dikabulkan. Pada kepalanya ada seorang malaikat yang menjadi wakil baginya, setiap kali dia berdoa untuk saudaranya dengan sebuah kebaikan, maka malaikat tersebut berkata ‘aamiin dan engkaupun mendapatkan apa yang ia dapatkan.”
(Diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Ummud Darda’ rodhiAlloohu anha, Shahih Muslim no. 2733)

9. Orang – orang yang berINFAK.

Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda, “Tidak satu hari pun dimana pagi harinya seorang hamba ada padanya kecuali 2 malaikat turun kepadanya, salah satu diantara keduanya berkata, ‘Ya Allah, berikanlah ganti bagi orang yang berinfak’. Dan lainnya berkata, ‘Ya Allah, hancurkanlah harta orang yang pelit.”
(Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah rodhiAlloohu anhu, Shahih Bukhari no. 1442 dan Shahih Muslim no. 1010)

10. Orang yang sedang makan SAHUR.

Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda, “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada orang – orang yang sedang makan sahur.”
(Imam Ibnu Hibban dan Imam Ath Thabrani, meriwayaatkan dari Abdullah bin Umar rodhiAlloohu anhu, hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhiib wat Tarhiib I/519)

11. Orang yang sedang MENJENGUK orang SAKIT.

Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda, “Tidaklah seorang mukmin menjenguk saudaranya kecuali Allah akan mengutus 70.000 malaikat untuknya yang akan bershalawat kepadanya di waktu siang kapan saja hingga sore dan di waktu malam kapan saja hingga shubuh.”
(Imam Ahmad meriwayatkan dari ‘Ali bin Abi Thalib rodhiAlloohu anhu, Al Musnad no. 754, Syaikh Ahmad Syakir berkomentar, “Sanadnya shahih”)

12. Seseorang yang sedang MENGAJARKAN KEBAIKAN kepada orang lain.

Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda, “Keutamaan seorang alim atas seorang ahli ibadah bagaikan keutamaanku atas seorang yang paling rendah diantara kalian. Sesungguhnya penghuni langit dan bumi, bahkan semut yang di dalam lubangnya dan bahkan ikan, semuanya bershalawat kepada orang yang mengajarkan kebaikan kepada orang lain.”
(Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dari Abu Umamah Al Bahily ra., dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Kitab Shahih At Tirmidzi II/343).



♥♥♡♡♡♥♥♡♡♡♥♥♡♡♡♥♥♡♡♡♥♥

Rabu, 07 Mei 2014

10 Cara Mendapatkan Qana’ah

10 Cara Mendapatkan Qana’ah
Ditulis oleh: أُسْتَاذُ Abu Asma Kholid Syamhudi, Lc - حفظه الله



Memang qana’ah sesuatu yang sangat berat untuk dilakukan, kecuali bagi siapa yang diberikan taufik dan petunjuk serta dijaga oleh Allah dari keburukan jiwa, kebakhilan dan ketamakannya. Karena manusia diciptakan dalam keadan memiliki rasa cinta terhadap kepemilikan harta.

Banyak sekali hasil dan manfaat memiliki sifat qanaah ini. Nah untuk mendapatkannya perlu adanya beberapa kiat yang dengan izin Allah akan membawa kita padanya. Di antaranya yaitu:

1. Memperkuat Keimanan kepada Allah subhanahu wata’ala.

Juga membiasakan hati untuk menerima apa adanya dan merasa cukup terhadap pemberian Allah subhanahu wata’ala, karena hakikat kaya itu ada di dalam hati. Barangsiapa yang kaya hati maka dia mendapatkan nikmat kebahagiaan dan kerelaan meskipun dia tidak mendapatkan makan di hari itu.

Sebaliknya siapa yang hatinya fakir maka meskipun dia memilki dunia seisinya kecuali hanya satu dirham saja, maka dia memandang bahwa kekayaannya masih kurang sedirham, dan dia masih terus merasa miskin sebelum mendapatkan dirham itu.

2. Yaqin bahwa Rizki Telah Tertulis

Seorang muslim yakin bahwa rizkinya sudah tertulis sejak dirinya berada di dalam kandungan ibunya. Sebagaimana di dalam hadits dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, disebutkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di antaranya, “Kemudian Allah mengutus kepadanya (janin) seorang malaikat lalu diperintahkan menulis empat kalimat (ketetapan), maka ditulislah rizkinya, ajalnya, amalnya, celaka dan bahagianya.” (HR. al-Bukhari, Muslim dan Ahmad)

Seorang hamba hanya diperintah kan untuk berusaha dan bekerja dengan keyakinan bahwa Allah subhanahu wata’ala yang memberinya rizki dan bahwa rizkinya telah tertulis.

3. Memikirkan Ayat-ayat al-Qur’an yang Agung

Terutama sekali ayat-ayat yang berkenaan dengan masalah rizki dan bekerja (usaha). ‘Amir bin Abdi Qais pernah berkata, “Empat ayat di dalam Kitabullah apabila aku membacanya di sore hari maka aku tidak peduli atas apa yang terjadi padaku di sore itu, dan apabila aku membacanya di pagi hari maka aku tidak peduli dengan apa aku akan berpagi-pagi, (yaitu):
“Apa saja yang Allah anugerahkan kepada manusia berupa rahmat,maka tidak ada seorang pun yang dapat menahannya; dan apa saja yang ditahan oleh Allah maka tidak ada seorangpun yang sanggup untuk melepaskannya sesudah itu. Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Fathiir:2)

“Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tak ada yang dapat menolak kurnia-Nya. Dia memberikan kebaikan itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya.” (QS.Yunus:107)

“Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezkinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).” (QS. Huud:6)

“Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan.” (QS. ath-Thalaq:7)

4. Ketahui Hikmah Perbedaan Rizki

Di antara hikmah Allah menentukan perbedaan rizki dan tingkatan seorang hamba dengan yang lainnya adalah supaya terjadi dinamika kehidupan manusia di muka bumi, saling tukar manfaat, tumbuh aktivitas perekonomian, serta agar antara satu dengan yang lainnya saling memberi kan pelayanan dan jasa.

Allah berfirman,
“Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Rabbmu? Kami telah menentu kan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan Kami telah meninggikan sebagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebahagian mereka dapat mempergunakan sebahagian yang lain. Dan rahmat Rabbmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.” (QS. az-Zukhruf:32)

5. Banyak Memohon Qana’ah kepada Allah

Rasulullah adalah manusia yang paling qana’ah, ridha dengan apa yang ada dan paling banyak zuhudnya. Beliau juga seorang yang paling kuat iman dan keyakinannya, namun demikian beliau masih meminta kepada Allah agar diberikan qana’ah, beliau bedoa,
“Ya Allah berikan aku sikap qana’ah terhadap apa yang Engkau rizkikan kepadaku, berkahilah pemberian itu dan gantilah segala yang luput (hilang) dariku dengan yang lebih baik.” (HR al-Hakim, beliau menshahihkannya, dan disetujui oleh adz-Dzahabi).

Dan karena saking qana’ahnya, beliau tidak meminta kepada Allah subhanahu wata’ala kecuali sekedar cukup untuk kehidupan saja, dan meminta disedikitkan dalam dunia (harta) sebagaimana sabda beliau, “Ya Allah jadikan rizki keluarga Muhammad hanyalah kebutuhan pokok saja.” (HR. Al-Bukhari, Muslim dan at-Tirmidzi)

6. Menyadari bahwa Rizki Tidak Diukur dengan Kepandaian

Kita harus menyadari bahwa rizki seseorang itu tidak tergantung kepada kecerdasan akal semata, kepada banyaknya aktivitas, keluasan ilmu, meskipun dalam sebagiannya itu merupakan sebab rizki, namun bukan ukuran secara pasti.

Kesadaran tentang hal ini akan menjadikan seseorang bersikap qana’ah, terutama ketika melihat orang yang lebih bodoh, pendidikannya lebih rendah dan tidak berpengalaman mendapatkan rizki lebih banyak daripada dirinya, sehingga tidak memunculkan sikap dengki dan iri.

7. Melihat ke Bawah dalam Hal Dunia

Dalam urusan dunia hendaklah kita melihat kepada orang yang lebih rendah, jangan melihat kepada yang lebih tinggi, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,
“Lihatlah kepada orang yang lebih rendah dari kamu dan janganlah melihat kepada orang yang lebih tinggi darimu. Yang demikian lebih layak agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah.” (HR.al-Bukhari dan Muslim).

Jika saat ini anda sedang sakit maka yakinlah bahwa selain anda masih ada lagi lebih parah sakitnya. Jika anda merasa fakir maka tentu di sana masih ada orang lain yang lebih fakir lagi, dan seterusnya. Jika anda melihat ada orang lain yang mendapatkan harta dan kedudukannya lebih dari anda, padahal dia tidak lebih pintar dan tidak lebih berilmu dibanding anda, maka mengapa anda tidak ingat bahwa anda telah mendapatkan sesuatu yang tidak dia dapatkan?

8. Membaca Kehidupan Salaf

Maksudnya melihat bagaimana keadaan mereka dalam menyikapi dunia, bagaimana kezuhudan mereka, qana’ah mereka terhadap yang mereka peroleh meskipun hanya sedikit. Di antara mereka ada yang memperolah harta yang melimpah, namun mereka justru memberikannya kepada yang lain dan yang lebih membutuhkan.

9. Menyadari Beratnya Tanggung Jawab Harta

Harta akan mengakibatkan keburukan dan bencana bagi pemilik nya jika dia tidak mendapatkan nya dengan cara yang baik serta tidak membelanjakannya dalam hal yang baik pula.

Ketika seorang hamba ditanya tantang umur, badan, dan ilmunya maka hanya ditanya dengan satu pertanyaan yakni untuk apa, namun tentang harta maka dia dihisab dua kali, yakni dari mana memperoleh dan ke mana membelanjakannya. Hal ini menunjukkan beratnya hisab orang yang diberi amanat harta yang banyak sehingga dia harus dihisab lebih lama dibanding orang yang lebih sedikit hartanya.

10. Melihat Realita bahwa Orang Fakir dan Orang Kaya Tidak Jauh Berbeda

Karena seorang yang kaya tidak mungkin memanfaatkan seluruh kekayaannya dalam satu waktu sekaligus. Kita perhatikan orang yang paling kaya di dunia ini, dia tidak makan kecuali sebanyak yang dimakan orang fakir, bahkan mungkin lebih banyak yang dimakan orang fakir. Tidak mungkin dia makan lima puluh piring sekaligus, meskipun dia mampu untuk membeli dengan hartanya. Andaikan dia memiliki seratus potong baju maka dia hanya memakai sepotong saja, sama dengan yang dipakai orang fakir, dan harta selebihnya yang tidak dia manfaatkan maka itu relatif (nisbi).

Sungguh indah apa yang diucapkan Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu, “Para pemilik harta makan dan kami juga makan, mereka minum dan kami juga minum, mereka berpakaian kami juga berpakaian, mereka naik kendaraan dan kami pun naik kendaraan. Mereka memiliki kelebihan harta yang mereka lihat dan dilihat juga oleh selain mereka, lalu mereka menemui hisab atas harta itu sedang kita terbebas darinya.”

Sumber: “Al-Qana’ah, mafhumuha, manafi’uha, ath-thariq ilaiha,” hal 24-30, Ibrahim bin Muhammad al-Haqiil.


♥♥♡♡♡♥♥♡♡♡♥♥♡♡♡♥♥♡♡♡♥♥

Minggu, 16 Februari 2014

Sekejap saja

Sekejap saja
Ditulis oleh: أُسْتَاذُ Abu Asma Kholid Syamhudi Al Bantani, Lc - حفظه الله


Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

يُؤْتَى بِأَنْعَمِ أَهْلِ الدُّنْيَا مِنْ أَهْلِ النَّارِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَيُصْبَغُ فِي النَّارِ صَبْغَةً ثُمَّ يُقَالُ يَا ابْنَ آدَمَ هَلْ رَأَيْتَ خَيْرًا قَطُّ هَلْ مَرَّ بِكَ نَعِيمٌ قَطُّ فَيَقُولُ لَا وَاللَّهِ يَا رَبِّ وَيُؤْتَى بِأَشَدِّ النَّاسِ بُؤْسًا فِي الدُّنْيَا مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ فَيُصْبَغُ صَبْغَةً فِي الْجَنَّةِ فَيُقَالُ لَهُ يَا ابْنَ آدَمَ هَلْ رَأَيْتَ بُؤْسًا قَطُّ هَلْ مَرَّ بِكَ شِدَّةٌ قَطُّ فَيَقُولُ لَا وَاللَّهِ يَا رَبِّ مَا مَرَّ بِي بُؤْسٌ قَطُّ وَلَا رَأَيْتُ شِدَّةً قَطُّ

“Pada hari kiamat kelak akan didatangkan penduduk dunia yang paling banyak mendapatkan kenikmatan ketika di dunia, namun dia termasuk penghuni neraka, lalu dia dimasukkan sebentar di dalam neraka, kemudian dia ditanya, “Hai anak Adam, pernahkah engkau melihat kebaikan? Pernahkah engkau mendapatkan kenikmatan?” Maka dia menjawab, “Tidak, demi Allah, wahai Rabbku”.

Dan akan didatangkan seorang yang paling sengsara di dunia, namun dia termasuk penghuni surga, lalu dia dimasukkan sebentar ke dalam surga, kemudian dia ditanya, “Hai anak Adam, pernahkah engkau melihat kesengsaraan? Pernahkah engkau menderita kesusahan?” Maka dia menjawab, “Tidak, demi Allah, wahai Rabbku. Aku tidak pernah mendapatkan kesengsaraan sama sekali, dan aku tidak pernah melihat kesusahan sama sekali.”. [HR. Muslim dari Anas bin Malik radhiyaLlaahu'anhu]


 ♥♥♡♡♡♥♥♡♡♡♥♥♡♡♡♥♥♡♡♡♥♥

Sabtu, 25 Januari 2014

Prinsip-Prinsip Dasar Ruqyah

Prinsip-Prinsip Dasar Ruqyah.

Ditulis oleh: أُسْتَاذُ Abu Asma Kholid Syamhudi, Lc - حفظه الله





    Apa manfaat banyak harta jika senantiasa dalam kondisi sakit lahir maupun batin?
    Sempurnanya kebaikan agama seseorang terletak pada sempurnanya kesehatan badannya, dan kebutuhan kita terhadap kesehatan badan lebih besar daripada kebutuhan kita terhadap makanan dan minuman.
    Maksiat menyebabkan kebinasaan dan mempercepat anggota badan menuju kematian, sedangkan ketaatan mencegah bala’, penyakit, dan kematian yang buruk.

Mencari kesehatan merupakan tuntutan syar’i dan kehidupan. Diriwayatkan At-Tirmidzi dengan sanad shahih dari Amr bin Malik, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنْ أَصْبَحَ مُعَافًى فِي بَدَنِهِ آمِنًا فِي سِرْبِهِ عِنْدَهُ قُوتُ يَوْمِهِ فَكَأَنَّمَا حَيَزَتْ لَهُ الدُّنْيَا بِحَذَافِيْرِهَا

“Barangsiapa pada pagi hari sehat badannya, aman jiwanya, memiliki makanan pokok pada hari itu, seakan telah terkumpul padanya segala (kenikmatan) dunia.”  (HR. at-tirmidzi dan dihasankan al-Albani dalam Shahih at-Targhib wa at-Tarhib  no. 833).

Hal tersebut karena sempurnanya kebaikan agama terletak pada sempurnanya kesehatan badan. Barangsiapa badannya sehat maka akan benar ibadahnya. Ia melaksanakan ketaatan kepada Rabbnya dalam kondisi sempurna sesuai perintah Allah Ta;ala dalam kitab-Nya dan yang melalui lisan Rasul-Nya. Dalam hadits shahih dinyatakan:

الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ، خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ، وَفِي كُلٍّ خَيْرٌ

“Mu’min yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mu’min yamg lemah, dan pada masing-masing ada kebaikan”.

Apa manfaat banyak harta jika badannya senantiasa dalam kondisi sakit lahir maupun batin? Apakah orang sakit dapat menikmati tidur atau merasakan lezatnya berbagai makanan dan minuman padahal sudah rusak lidah dan alat perasanya?

Oleh karena itu Nabi Dawud ‘alaihissalam berkata: “Kesehatan adalah kekuatan tersembunyi, (sakit) kesedihan sesaat saja bisa menyebabkan kelemahan setahun”. Ada yang mengatakan: ‘Kesehatan adalah nikmat yang dilupakan’. Sebagaimana perkataan sebagian salaf, “Berapa banyak nikmat Allah pada setiap tetesan keringat orang”. Dahulu mereka mengatakan alangkah indahnya apa yang mereka ucapkan: “Kesehatan adalah mahkota (yang disematkan) pada kepala orang-orang yang sehat, tidak mengetahuinya kecuali orang-orang yang sakit.”.

Kesehatan termasuk permulaan nikmat di antara nikmat-nikmat Allah Ta’ala yang akan ditanya tentangnya seorang hamba pada hari kiamat, dikatakan kepadanya: “Bukankah Aku telah menyehatkan badanmu dan Aku segarkan dengan air yang dingin?”.

Wajib bagi seorang hamba -yang telah dianugerahi kesehatan- untuk menggunakannya dalam ketaatan kepada Allah Ta’ala dan menggunakan kesehatannya dalam ibadah dan jihad di jalan-Nya serta tidak memforsirnya untuk kemaksiatan dan dosa. Barangsiapa yang dijaga Allah anggota badannya dan diberi kenikmatan pendengaran, penglihatan dan kekuatan dalam jangka waktu lama maka sungguh ia telah diberi kenikmatan yang besar. Hal ini ditunjukan oleh Perkataan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

اِحْفَظِ اللهَ يَحْفَظْكَ

“Jagalah Allah niscaya Allah akan menjagamu”.

Kemaksiatan menyebabkan kebinasaan, mempercepat anggota badan menuju kematiaan karena digunakan tidak sesuai dengan tujuan diciptakannya yaitu untuk bersyukur dan menetapi syariat yang padanya terdapat kelanggengan dan keselamatan anggota badan. Sedangkan ketaatan mencegah bala’, penyakit dan kematian yang buruk. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

دَاوَوْا مَرْضَاكُمْ بِالصَّدَقَةِ

“Obatilah orang yang sakit di antara kalian dengan shadaqah”.  (HR Abu asy-Syaikh dalam ats-Tsawaab dan dihasankan al-Albani dalam Shahil al-Jaami’ no. 3385). Dalam hadits lain:

صَنَائِعُ الْمَعْرُوْفِ تَقِيْ مَصَارِعَ السُّوْءِ

“Budi pekerti luhur menolak (dari mendatangi) tempat-tempat yang buruk”. (HR al-Hakim dalam al Mustadrak dan dishahihkan al-Albani dalam Silsilah Shahihah no 3795)

Memohon kesehatan (al-‘Afiyat) dari Allah Ta’ala merupakan do’a yang lengkap yang hendaknya seorang mu’min bersemangat berdoa memohonkannya. Dari Al-Abbas bin Abdil Muththalib, ia berkata:

يَا رَسُولَ اللهِ عَلِّمْنِي شَيْئًا أَسْأَلُهُ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ، قَالَ: سَلِ اللَّهَ العَافِيَةَ، فَمَكَثْتُ أَيَّامًا ثُمَّ جِئْتُ فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ عَلِّمْنِي شَيْئًا أَسْأَلُهُ اللَّهَ، فَقَالَ لِي: يَا عَبَّاسُ يَا عَمَّ رَسُولِ اللهِ، سَلِ اللَّهَ العَافِيَةَ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ.

Aku berkata, Wahai Rasulullah, ajari aku sesuatu yang aku akan memintanya kepada Allah. Beliau bersabda, ‘Mintalah kepada Allah kesehatan”. Kemudian aku menanti beberapa hari, kemudian aku mendatanginya dan berkata, Wahai Rasulullah, ajari aku sesuatau yang aku akan memintanya kepada Allah. Rasulullah bersabda kepadaku:”Wahai Abbas, paman Rasulullah. Mintalah kepada Allah kesehatan  di dunia dan akhirat”    (HR Ahmad dan at-Tirmidzi dan dishahihkan al-Albani dalam shahih sunan at-tirmidzi no. 3514).

Kesehatan di dunia membantu terwujudnya kesempurnaan kebaikan agama (seseorang). Karena kesempurnaan kebaikan agama (seseorang) adalah sehatnya badan dan selamatnya agama. Dengan keduanya seorang hamba akan memperoleh keberhasilan dan akan diberikan padanya dunia dan akhiratnya sekaligus.

Tidak selayaknya seorang hamba meminta dirinya ditimpa sakit dan siksa. Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu belau berkata:

أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، عَادَ رَجُلًا مِنَ الْمُسْلِمِينَ قَدْ خَفَتَ فَصَارَ مِثْلَ الْفَرْخِ، فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «هَلْ كُنْتَ تَدْعُو بِشَيْءٍ أَوْ تَسْأَلُهُ إِيَّاهُ؟» قَالَ: نَعَمْ، كُنْتُ أَقُولُ: اللَّهُمَّ مَا كُنْتَ مُعَاقِبِي بِهِ فِي الْآخِرَةِ، فَعَجِّلْهُ لِي فِي الدُّنْيَا، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: " سُبْحَانَ اللهِ لَا تُطِيقُهُ – أَوْ لَا تَسْتَطِيعُهُ – أَفَلَا قُلْتَ: اللهُمَّ آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ "

Sesungguhnya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam menjenguk seseorang yang bersusah payah sekuat tenaga sehingga seperti orang yang kepayahan. Maka Rasulullah bertanya kepadanya:”Engkau berdo’a apa? Bukankah engkau memohon kesehatan? Laki-laki itu berkata: Dulu aku berdo’a, Ya Allah, apa yang engkau akan menyiksa aku dengannya maka segerakanlah siksa itu bagiku di dunia. Nabi bersabda:”Maha suci Allah, sungguh engkau tidak akan kuat menerimanya-atau tidak mampu menerimanya-Mengapa engkau tidak mengatakan, Ya Allah berilah kami kebaikan di dunia, kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka. (HR Muslim).

Dari Mu’adz bin Rufa’ah, ia berkata, Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu naik mimbar kemudian menangis. Kemudian berkata: Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam naik mimbar  pada tahun pertama lalu beliau menangis, kemudian bersabda, “Mintalah kepada Allah ampunan dan kesehatan. Sungguh seseorang tidak diberi lebih baik setelah kayakinan (keimanan) daripada keselamatan.”

Jika kita telah mendapat keselamatan maka wajib bagi kita untuk menjaganya sebagai bentuk ketaatan kepada Allah Ta’ala dan pendekatkan diri kepada-Nya, karena kebutuhan kita terhadapnya lebih besar dari kebutuhan kita terhadap makanan dan minuman. Dari sinilah datang syari’at Allah Ta’ala memerintahkan kita agar sederhana dalam makan, minum, dan jima’, dan menjaga dari menyiksa diri, menjaga kesehatan, dan mengambil sebab yang Allah Ta’ala menjadikannya sebagai sarana kesembuhan, mencari obat dan kesembuhan dengan menyandarkan diri kepada Allah Ta’ala dan berkeyakinan bahwa Dialah satu-satunya penyembuh.

Sesungguhnya keikhlasan menjalankan agama hanya untuk Allah ‘Azza wa Jalla semata dan bertawakkal kepada-Nya merupakan sebab terbesar untuk menolak penguasaan ruh-ruh rendah lagi kotor dan menolak penyakit mematikan. Kita dapat meringkas manhaj Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam menjaga keselamatan dan mengusahakan agar senantiasa dalam kondisi sehat  jasmaniah dan ruhaniyah secara materi maupun maknawi sebagai berikut:

    Ikhlas menjalankan agama hanya untuk Allah ‘Azza wa Jalla merupakan sebab penjagaan hamba dari tipu daya setan  dan fitnah kehidupan dunia. Dan benteng bagi hamba dari penguasaan setan manusia maupun setan jin.
    Sabar menghadapi cobaan. Kelapangan datang setelah kesempitan dan kemudahan datang setelah kesulitan. Allah Ta’ala berfirman :

فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا (5) إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا (6)

Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. (QS Alam Nasyrah : 5-6)

Tidak mungkin satu kesulitan mengalahkan dua kemudahan.

    Mengharap pahala dari ujian Allah Ta’ala dapat membantu untuk bersabar atasnya.
    Apa yang di sisi Allah Ta’ala tidak akan diraih kecuali dengan taat kepada-Nya. Barangsiapa menjaga perintah-perintah Allah Ta’ala,  niscaya Allah menjaga badannya dan keselamatannya di dunia dan akhirat.
    Hendaknya seorang hamba melakukan amalan yang membuat Allah ‘Azza wa Jalla mengenalnya di kala hidup lapang sebelum ditimpa kesempitan. Barangsiapa yang beramal ketaatan di kala hidup lapang maka Allah akan mengingatnya ketika ia dalam kesempitan. Allah Ta’ala berfirman:

فَلَوْلَا أَنَّهُ كَانَ مِنَ الْمُسَبِّحِينَ (143) لَلَبِثَ فِي بَطْنِهِ إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ (144)

Maka kalau sekiranya dia tidak termasuk orang-orang yang banyak mengingat Allah, niscaya ia akan tetap tinggal di perut ikan itu sampai hari berbangkit. {QS. Ash-Shaaffat: 143-144}

    Berbuat baik kepada makhluk, shadaqah kepada orang-orang faqir dan miskin termasuk sebab menolak bala’.
    Hendaknya orang yang sakit menyerahkan urusannya kepada Allah ‘Azza wa Jalla dan mengambil sebab kesembuhan untuk mengobati sakitnya sebelum mengadukannya kepada manusia.
    Ruqyah dibacakan kepada yang sakit dan ia tidak minta agar dirinya diruqyah sebagai bentuk tawakkal kepada Allah Ta’ala dan penyandaran diri kepada-Nya berdasarkan hadits Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma dalam mensifati tujuh puluh ribu orang yang masuk surga tanpa hisab dan adzab:

هُمُ الَّذِينَ لاَ يَسْتَرْقُوْنَ وَلا يَكْتَوُوْنَ وَلاَ يَتَطَيَّرُونَ وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ

“Mereka tidak minta diruqyah, tidak tathayyur (menganggap sial dengan adanya hewan tertentu), tidak minta dikay (ditempel lukanya dengan besi panas), dan merekapun bertawakkal hanya kepada Rabb mereka.”

    Hendaknya bagi orang sakit menggantungkan hatinya kepada Allah Ta’ala, pasrah kepada-Nya ketika kesulitan, tidak kepada seorangpun selain-Nya. Allah berfirman :

أَمَّنْ يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ

Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan {QS. An-Naml: 62}

    Satu dirham untuk pencegahan lebih baik daripada sejuta dirham untuk pengobatan. Maka harus ada usaha pencegahan dan sikap waspada secara materi maupun maknawi dari setiap yang menyakiti badan maupun ruh.
    Keampuhan senjata tergantung pemakainya. Kekuatan senjata saja tidak cukup jika pemakainya seorang yang lumpuh atau lemah. Demikianlah ruqyah syar’iyah menjadi mujarab dan memberi pengaruh jika keluar dari hati dan lisan yang jujur beriman dengannya (ayat-ayat ruqyah), yang senantiasa melaksanakan perintah-perintah Allah Ta’ala yang terdapat dalam kitab-Nya dan yang melalui lisan rasul-Nya.
    Keseluruhan Al-Qur’an merupakan obat. Tetapi apa yang telah tetap dalilnya secara khusus bahwa pada ayat-ayat (tertentu) dari Al-Qur’an merupakan obat lebih diutamakan dari selainnya meskipun seluruh (ayat-ayat) Al-Qur’an adalah obat. Tidak mengapa (ruqyah) dengan do’a-do’a dan dzikir-dzikir yang tidak mengandung penyimpangan, larangan, atau syirik. Berdasarkan hadits: “Tunjukkan ruqyah kalian kepadaku! Tidak mengapa ruqyah selama tidak berupa syirik”.
    Tidak diperbolehkan meminta bantuan jin untuk mengeluarkan jin (lain) dan menghilangkan sihir -sekalipun jin yang dimintai bantuan adalah jin muslim- karena hal demikian belum pernah dilakukan Rasulullah shallallahu ‘alahi wasallam dan bukan perbuatan kaum salaf. Hal itu merupakan pembuka pintu kesyirikan yang besar dan para setan telah menjerat kebanyakan para peruqyah dan menggelincirkan mereka (pada hal ini). Menutup pintu ini lebih utama dan mencukupkan dengan ruqyah syar’iyah saja karena padanya ada keselamatan dan keberhasilan. Allah berfirman,

وَأَنَّهُ كَانَ رِجَالٌ مِنَ الْإِنْسِ يَعُوذُونَ بِرِجَالٍ مِنَ الْجِنِّ فَزَادُوهُمْ رَهَقًا

Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan. {QS. Al-Jin : 6}.

Yaitu jin menambah kesewenang-wenangan, kesombongan dan pengusaan atas manusia. Seorang yang mentauhidkan Allah ‘Azza wa Jalla tidak meminta pertolongan kecuali kepada Allah saja sebagaimana tidak menyembah kecuali hanya kepada Allah. Dia beribadah kepada Allah Ta’ala tujuh belas kali (dalam sehari) pada shalat shalat wajib dengan membaca firman Allah Ta’ala :

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

 Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan. {QS. Al-Fatihah: 5}

Ibnu Qoyyim berkata, “Sesungguhnya kebaikan hati itu hendaknya ia mengenal tuhannya, perbuatan-perbuatan-Nya, dan ajaran-ajaran-Nya. Memperuntukkan seluruh tenaga pikiran untuk mendapat ridha dan cinta-Nya, menjauhi larangan-larangan dan kemurkaan-Nya. Sekali-kali tidak ada kesehatan dan kehidupan hati kecuali dengan hal tersebut. Tidak ada jalan untuk memperolehnya kecuali dengan melewati jalan para Rasul, tidak benar prasangka bahwa kesehatan hati bisa didapat tanpa mengikuti mereka, maka salah orang yang menyangka demikian.”

Semoga Allah Ta’ala menjaga kita dan seluruh kaum muslimin dari segala penyakit dan melimpahkan kepada kita keselamatan di dunia dan akhirat.

(Sumber : Makalah Ushul ar-Ruqyah wa Dhawabithuha asy-Syar’iyah yang dimuat di Majalah Ummati, Kuwait edisi 53 bulan Shafar 1430 atau Februari 2009 halaman 18-19).


♥♥♡♡♡♥♥♡♡♡♥♥♡♡♡♥♥♡♡♡♥♥

Jumat, 10 Januari 2014

Kisah Ummul Mukminin Ummu Salamah

Kisah Ummul Mukminin Ummu Salamah
Ditulis oleh: أُسْتَاذُ Abu Asma Kholid Syamhudi, Lc - حفظه الله




Diantara kisah yang memberikan pengorbanan dan kesabaran kaum muslimin ketika berhijrah adalah kisah hijrah Abu Salamah radhiallahu ‘anhu dan Ummu Salamah radhiallahu ‘anha , dimana Abu Salamah dihalangi berhijrah dengan ditahan anak dan istrinya. Mereka menahan anak dan istrinya untuk mencegah hijrah beliau ke kota Madinah. Namun, hal itu sama sekali tidak menghalanginyauntuk berhijrah menyelamatkan agamanya yang lebih berharga dari segala sesuatu.



Ummul-Mu`minin Ummu Salamah[1] radhiallahu ‘anha sendiri yang mengisahkan hal ini, ‘Ketika Abu Salamah berniat hijrah ke Madinah, ia radhiallahu ‘anha mempersiapkan untanya untukku. Dia membawaku dan anakku, Salamah bin Abi Salamah di atas unta itu.  Kemudian membawaku keluar dengan menuntun untanya. Ketika keluarga istri beliau orang-orang Bani al-Mughirah[2] bin ‘Abdillah bin Amr bin Makhzum melihatnya, serta merta mereka menghadangnya seraya berseru, ‘Masalah dirimu, itu urusanmu, tetapi bagaimana dengan wanita kami ini? Dengan alasan apa kami membiarkan engkau membawanya (keluar dari negeri kami)?’

Ummu Salamah  radhiallahu ‘anha mengisahkan, ‘Lalu mereka merebut tali kekang unta dari tangan Abu Salamah radhiallahu ‘anhu dan merebutku darinya. Seketika itu juga, Bani ‘Abdil-Asad, keluarga dekat Abu Salamah marah. Mereka berkata, ‘Demi Allah, kami tidak akan membiarkan anak kami ini (maksudnya Salamah) bersama Ummu Salamah, karena kalian telah merebut Ummu Salamah dari tangan keluarga kami ini (maksudnya Abu Salamah)’. Akhirnya mereka pun memperebutkan anakku Salamah. Sampai akhirnya, Bani al-Mughirah menyerah. Bani ‘Abdil-Asad pergi membawa anakku. Sedangkan aku ditahan oleh Bani al- Mughirah. Akhirnya, Abu Salamah pun berangkat ke Madinah seorang diri.’



Ummu Salamah berkata, ‘Aku terpisah dengan suami dan anakku.’

Sejak itulah Ummu Salamah sangat merasa sedih. Setelah terpisah dari sang anak dan sang suami yang sudah berangkat hijrah, Ummu Salamah pergi pagi dan duduk di al-Abthah. Disana ia menumpahkan kesedihannya, menangis sampai sore hari. Ini dilakukan setiap hari. Hingga setelah satu tahun berlalu, ada salah seorang anak pamannya yang merasa iba kepadanya, lalu ia pun berkata kepada Bani al-Mughirah, ‘Tidakkah kalian melepaskan wanita malang ini? Kalian telah memisahkannya dengan anak dan suaminya. ‘



Mendengar penuturan ini, lalu Bani al-Mughirah mengatakan kepada Ummu Salamah, ‘Jika engkau mau, susullah suamimu?’



Ummu Salamah radhiallahu ‘anha mengisahkan, ‘Dan saat itu, Bani al-Asad mengembalikan anakku. Aku kemudian mempersiapkan unta. Aku berangkat menuju Madinah seorang diri. [3] Tidak ada seorangpun yang menemaniku kecuali anakku. ‘



Ketika sampai di daerah at-Tan’im, Ummu Salamah berjumpa dengan ‘Utsman bin Thalhah bin Abu Thalhah dari bani Abdudaar. Ia berkata kepada Ummu Salamah, ‘Hendak pergi kemana wahai putri Abu Umayyah?’ Lalu Ummu Salamah menjawab, ‘Aku ingin menyusul suamiku di Madinah.’ Iapun balik bertanya, ‘ Apakah tidak ada seorangpun yang mengantarmu?’ Maka beliau menjawab, ‘Demi Allah tidak ada kecuali Allah dan anakku ini.’



Akhirnya ia bersedia mengantarkan Ummu Salamah sampai di Madinah. Maka berangkatlah ‘Utsman bin Thalhah dengan memegang tali kendali unta menemani Ummu Salamah ke Madinah . Ummu Salamah radhiallahu ‘anha menyatakan, ‘Demi Allah Tidak pernah aku berjalan bersama seorang lelaki Arab sama sekali yang aku lihat lebih memuliakan aku darinya. Waktu itu bila sampai disatu tempat untuk istirahat, maka ia menjauh dariku hingga aku turun dari untaku. Kemudian barulah ia menyingkirkan untaku dan mengikatnya di pohon, kemudian ia menjauh ke aarah satu pohon dan tidur dibawahnya. Apabila telah sampai waktu keberangkatan maka ia bangkit menuju untaku dan menuntunya kepadaku dan ia menjauh sambil bekrata: Naiklah!  Apabila kau telah naik dan sudah berada diatas unta, maka ia datang mengambil tali kendalinya dan menuntunnya hingga turun istirahat disatu tempat. Ia melakukan hal demikian terus menerus hingga sampai kota Madinah. Saat ‘Utsman melihat perkampungan Bani ‘Amr bin ‘Aud di Quba’,  Dia berkata, ‘Suamimu berada di kampung ini. Masuklah dengan barakah dari Allah!” Kemudian ‘Utsman bin Thalhah pun kembali ke Makkah.[4] Akhirnya Ummu Salamah radhiallahu ‘anha bisa berkumpul lagi dengan Abu Salamah.



Lihatlah kesulitan yang dihadapi mereka dalam memperjuangkan dan menyelamatkan agamanya. Sudahkah kita berbuat demikian??



Wabilahit taufiq.




[1] Dia adalah Hindun binti Abi Umayyah bin al-Mughirah bin ‘Abdullah bin ‘Umar bin Makhzum. Dia berhijrah ke Habasyah lalu ke Madinah. Ketika suaminya, Abu Salamah bin ‘Abdil-Asad sudah meninggal, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menikahinya. (Lihat al-Ishabah, Ibnu Hajar, 8/150).

Al-Waqidi menyebutkan, beliau  wafat pada usia 84 tahun. Lihat as-Siratun-Nabawiyatush-Shahihah, 1/202.

[2] Mereka merupakan keluarga dekat Ummu Salamah.

[3] Jarak antara Makkah-Madinah sekitar 500 km.

[4] Sirah Ibni Hisyam, 1/469-470, dari riwayat Ibnu Ishaq dengan sanad yang bisa diterima.



♥♥♡♡♡♥♥♡♡♡♥♥♡♡♡♥♥♡♡♡♥♥

Sabtu, 04 Januari 2014

Hati Yang Sejuk

Hati Yang Sejuk

Semoga hati kita sekalian selalu disinari kesejukan dan keselamatan.

Bismillah,
Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:“Tidaklah seseorang ditimpa suatu kegundahan maupun kesedihan lalu dia berdo’a:

اللَّهُمَّ إِنِّيْ عَبْدُكَ ابْنُ عَبْدِكَ ابْنُ أَمَتِكَ نَاصِيَتِيْ بِيَدِكَ مَاضٍ فِيَّ حُكْمُكَ عَدْلٌ فِيَّ قَضَاؤُكَ أَسْأَلُكَ بِكُلِّ اسْمٍ هُوَ لَكَ سَمَّيْتَ بِهِ نَفْسَكَ أَوْ عَلَّمْتَهُ أَحَدًا مِنْ خَلْقِكَ أَوْ أَنْزَلْتَهُ فِيْ كِتَابِكَ أَوْ اسْتَأْثَرْتَ بِهِ فِيْ عِلْمِ الْغَيْبِ عِنْدَكَ أَنْ تَجْعَلَ الْقُرْآنَ رَبِيْعَ قَلْبِيْ وَنُوْرَ صَدْرِيْ وَجَلاَءَ حُزْنِيْ وَذَهَابَ هَمِّيْ

“Ya Allah, sesungguhnya saya adalah hamba-Mu, putra hamba laki-laki-Mu, putra hamba perempuan-Mu, ubun-ubunku ada di Tangan-Mu, telah berlalu padaku hukum-Mu, adil ketentuan-Mu untukku. Saya meminta kepada-Mu dengan seluruh Nama yang Engkau miliki, yang Engkau menamakannya untuk Diri-Mu atau yang Engkau ajarkan kepada seseorang dari makhluk-Mu atau yang Engkau turunkan dalam kitab-Mu atau yang Engkau simpan dalam ilmu ghaib yang ada di sisi-Mu. Jadikanlah Al-Qur`an sebagai musim semi (penyejuk) hatiku dan cahaya dadaku, pengusir kesedihanku serta penghilang kegundahanku.”Maka akan Allah hilangkan kegundahan dan kesedihannya dan akan diganti dengan diberikan jalan keluar dan kegembiraan.” Tiba-tiba ada yang bertanya: “Ya Rasulullah, tidakkah kami ajarkan do’a ini (kepada orang lain)”? Maka Rasulullah menjawab: “Ya, selayaknya bagi siapa saja yang mendengarnya agar mengajarkannya (kepada yang lain).”
(HR. Ahmad no.3712 dari ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani)


Ditulis oleh: أُسْتَاذُ Abu Asma Kholid Syamhudi, Lc - حفظه الله


♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥

Sabtu, 28 Desember 2013

Ucapan Selamat Natal dalam Tinjauan.

Ucapan Selamat Natal dalam Tinjauan.

Berikut penulis rangkum dari kajian bedah buku " Amar Ma'ruf Nahi Munkar Menurut Ahlussunnah Wal Jama'ah" bersama Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas di Masjid Shirathal Mustaqim Jasa Marga Tangerang Rabu, 25 Desember 2013 dalam sesi tanya jawab, Abu Abdillah Kiren.

Berikut petikannya,

Ustadz bagaimana hukumnya mengucapkan Selamat Natal untuk kaum Nasrani ?

Jawab :
Dari seluruh tafsir tidak ada yang memperbolehkan ucapkan natal.

Hanya orang bodoh yg melakukan itu, sebagaimana orang syiah yang dekat dengan Nasrani dan Yahudi.

Isa 'alaihissalam lahir saat musim kurma atau saat musim panas, di Arab sendiri musim panas terjadi pada bulan Agustus. Musim ini berlangsung umum setiap tahunnya dan ketika musim semi maka tidak ada salju.

Maka akan timbul pertanyaan baru dari mana asal 25 Desember sebagai hari kelahiran Isa Ibnu Maryam ?

Bani Israil kemudian menyangka bahwa Nabi Isa Alaihissalam adalah Tuhan. Namun, Nabi Isa Alaihissalam membantah mengakui dirinya adalah Tuhan. Ia menegaskan bahwa dirinya hanyalah utusan Allah Subhanallahu wata'ala. Sedangkan yang wajib disembah hanya Allah saja.

Nabi Isa Alaihissalam tunduk kepada Allah. Penolakan Nabi Isa ini diabadikan dalam Al Qur'an Al-Maidah: 116.

Atas semua anggapan orang-orang Nasrani ini maka Syariat dan akal tidak pernah bisa menerima.

وَالَّذينَ لا يَشهَدونَ الزّورَ وَإِذا مَرّوا بِاللَّغوِ مَرّوا كِرامًا

Dan mereka (yang diridhoi Allah itu ialah orang-orang) yang tidak menghadiri tempat-tempat melakukan perkara-perkara yang dilarang, dan apabila mereka bertemu dengan sesuatu yang sia-sia, mereka melaluinya dengan cara membersihkan diri daripadanya. Al Furqon:72

Makna الزّورَ adalah kebohongan atau musik-musik lagu atau perayaan orang-orang kafir.

Masih mau ucapkan selamat natal ?



Ditulis oleh: أُسْتَاذُ Abu Asma Kholid Syamhudi, Lc - حفظه الله


♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥

Jumat, 27 Desember 2013

Antara Maslahat dan Mafsadat


» Antara Maslahat dan Mafsadat
• Untaian Nasehat.
Rabu 25 Desember 2013.
Apabila berkumpul antara maslahat dan mafsadat atau berkumpul antara kebaikan dan kejahatan, maka wajib menguatkan yang terkuat darinya. permasalahan ini sangatlah penting khususnya dalam amar ma'ruf nahi munkar.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah mengatakan,
"Apabila amar ma'ruf nahi munkar itu mencakup hal yangmendatangkan kemaslahatan dan menolak kemudharatan, maka harus dilihat penentangnya. Jika menyebabkan hilangnya kemaslahatan atau (mendatangkan) mafsadat yang lebih besar, maka hal itu tidak dibolehkan bahkan menjadi haram, apabila mafsadatnya lebih besar daripada maslahatnya. Dan standart maslahat dan mafsadat ialah syari-at islam"
(Al-Amru bil Ma'ruuf wan Nahya 'anil Munkar hal 47, Majmuu' Fataawaa XXVIII/129 )
Disadur bebas oleh Abu Abdillah dari bedah Buku Amar Ma'ruf Nahi Munkar Menurut Ahlussunnah wal Jamaah, Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas.
Rabu 25 Desember 2013, Masjid Siratal Mustaqim Jasa Marga Tangerang,
Segala apa yang diperintahkan Allah adalah kemaslahatan dan Allah memuji kebaikan dan orang-orang yang melakukan perbaikan dan mencintai orang-orang yang beriman dan melakukan kebajikan.
( Kaidah Amar Ma'ruf Nahi Munkar Bab 6 / 217. Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas
(Al-Amru bil Ma'ruuf wan Nahya 'anil Munkar hal 47, Majmuu' Fataawaa XXVIII/129 )
Disadur bebas oleh Abu Abdillah dari bedah Buku Amar Ma'ruf Nahi Munkar Menurut Ahlussunnah wal Jamaah, Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas.
Rabu 25 Desember 2013, Masjid Siratal Mustaqim Jasa Marga Tangerang,Segala apa yang diperintahkan Allah adalah kemaslahatan dan Allah memuji kebaikan dan orang-orang yang melakukan perbaikan dan mencintai orang-orang yang beriman dan melakukan kebajikan.( Kaidah Amar Ma'ruf Nahi Munkar Bab 6 / 217. Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas)
Broadcast dari: أُسْتَاذُ Abu Asma Kholid Syamhudi, Lc - حفظه الله


♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥

Safar Ketika Jum'at

Safar Ketika Jum'at



Tanya:
Assalamualaikum Ust.
Saya seorang karyawan di sebuah perusahaan telekomunikasi, pekerjaan saya sering menuntut saya untuk sering pergi ke luar kota, pertanyaannya:
1. Bagaimana jika pada saat safar terjadi pada hari jumat dan saya tidak mendapati masjid pada saat perjalanan, apakah gugur kewajiban sholat jumat saya ataukah saya harus mengerjakan sholat jumat bersama tim saya (cttn: 1 tim ada 3 orang).
2. saya seorang yang sering keluar madzi bagaimana jika keluar madzi ketika sholat jumat, apakah saya mengganti sholat 2 rekaat, atau menggantinya dengan sholat dzuhur.
atas jawabannya saya ucapkan terimakasih
wasssalamualaikum warrahmatulloh




Jawaban  oleh: أُسْتَاذُ Abu Asma Kholid Syamhudi Al Bantani, Lc - حفظه الله

Wa'alaikumussalam
Adapun Sholat jum'at diwajibkan pada orang yang diwajibkan sholat berjamaah dalam kondisi berada dikota atau perkampungan yang ada masjidnya.

Syeikh Abdurahman as-Sa'di menyatakan," Semua yang diwajibkan sholat berjamaah diwajibkan sholat jum'at apabila tinggal menetap di satu daerah. Diantara syaratnya adalah dikerjakan pada waktunya dan di daerah (perkampungan) serta didahulukan dengan dua khutbah." (Manhaj as-Salikin).



Dengan demikian orang yang safar seperti keadaan yang saudara sampaikan tidak diwajibkan sholat jum'at karena masuk dalam keringanan yang diberikan syari'at.



Oleh karena itu, imam Ibnu Qudaamah menyatakan: "Sesungguhnya Rasululloh dahulu bepergian dan tidak sholat jum'at dalam safarnya. Beliau dulu dalam haji wada' mendapatkan hari Arafah adalah hari jum'at, lalu beliau sholat zhuhur dan Ashar dengan di jama' (dikumpulkan dalam satu waktu) dan tidak sholat jum'at."(al-Mughni).



Namun bila Musafir kemudian menghadiri sholat jum'at maka sholatnya sah dan tidak usah sholat zhuhur lagi.

Sedangkan masalah madzi maka madzi hukumnya najis dan tidak wajib mandi cukup dengan mengulangi wudhu'nya dan membasahi pakaian yang terkena madzi. Apabila kemudian terjadi ketika sholat dan masih mendapatkan satu rakaat maka cukup baginya untuk menyempurnakan dengan menambah satu rakaat lagi. Hal ini didasarkan pada sabda Rasululloh –Shallallahu 'alaihi wa salam-:


"Siapa yang mendapatkan satu rakaat dari sholat maka ia telah mendapatkan sholat". (Muttafaqun 'Alaihi)

Kemudian hal ini dijelaskan secara khusus berlaku juga untuk sholat jum'at dalam sabda beliau –Shallallahu 'alaihi wa Sallam- :

"Siapa yang mendapatkan satu rakaat dari sholat jum'at atau selainnya maka telah mendapatkan sholat(HR an-Nasaa'i).

Bagi yang tidak mendpatkan sholat jum'at maka ia melakukan sholat zhuhur empat rakaat.

Demikianlah jawaban kami mudah-mudahan bermanfaat.


♥♥♡♡♡♥♥♡♡♡♥♥♡♡♡♥♥♡♡♡♥♥

Senin, 23 Desember 2013

Ketika Busana Muslimah Dicampakkan

Ketika Busana Muslimah Dicampakkan



Dewasa ini muncul busana muslimah dengan beragam corak dan mode. Bahkan terpajang di outlet-outlet penjualan yang biasanya dipenuhi baju-baju pengumbar aurat. Namun, kebanyakan busana-busana muslimah tersebut masih mempertontonkan lekuk tubuh, sempit, lagi ketat. Demikian pula aneka jilbab gaul dengan desain seperti topi yang hanya menutupi rambut belaka.

Di sisi lain, busana muslimah hanya dipakai dalam acara-acara tertentu atau kegiatan keagamaan. Misalnya hanya ketika shalat, seorang wanita muslimah berusaha menutupi tubuhnya dari atas sampai bawah sehingga rambut dan kaki tidak terlihat. Namun, begitu salam telah diucapkan, maka keadaannya akan kembali seperti semula.

Mereka keluar rumah dengan mengenakan baju yang mereka sangka telah berdasarkan aturan Islam, akan tetapi kenyataannya tidak memenuhi syarat untuk menutupi aurat. Sehingga masuklah mereka ke dalam kategori “berbusana tetapi telanjang”. Seolah-olah menutup aurat hanya wajib ketika shalat semata atau sekedar kulit tidak terlihat lagi oleh mata lelaki lain. Wa ilallâhil musytaka (kepada Allâh Ta'âla lah tempat pengaduan).

إِذَا الْـمَرْأُ لَـمْ يَلْبِسْ لِبَاسًا مِنَ التُّقَى
تَقَلَّبَ عُرْيَانًا وَإِنْ كَانَ كَاسِيًا
وَ خَيْرُ لِبَاسِ الْـمَرْءِ طَاعَةُ رَبِّهِ
وَ لاَ خَيْرَ فِـيْمَنْ كَانَ عَاصِيًا


Apabila seseorang tidak mengenakan baju ketakwaan,
ia menjelma menjadi manusia telanjang kendati tubuhnya tertutupi.
Sebaik-baik pakaian adalah ketaatan kepada Rabbnya,
tiada kebaikan bagi orang yg bermaksiat

RAHMAT ISLAM BAGI KAUM WANITA

Kandungan ajaran Islam, secara khusus sangat memuliakan derajat kaum wanita setelah pada zaman jahiliyah berada dalam level yang sangat rendah dan hak-haknya terinjak-injak. Islam menetapkan aturan-aturan bagi dua jenis manusia, lelaki dan wanita sesuai dengan kodratnya. Islam juga menyamakan kedudukan lelaki dan wanita dalam persoalan-persoalan tertentu, dengan berkaca pada hikmah Allâh Ta’ala.

Aspek-aspek perbedaan antara keduanya pun diakomodasi dengan sebaik-baiknya, sehingga tidak ada yang merasa dirugikan. Konsistensi kaum muslimah dalam menjalankan syariat Allâh, adab-adab Islam dan moralitasnya, itulah metode paling utama dan sarana terpenting bagi pemberdayaan kaum wanita dalam pembangunan umat dan kemajuan peradaban. Hal ini telah dibuktikan oleh sejarah, sehingga semestinya memperoleh dukungan dan penghargaan dari seluruh umat Islam.

SLOGAN-SLOGAN MENYESATKAN BAGI KAUM MUSLIMAH

Para musuh Islam sangat berkepentingan terhadap penyelewengan kaum muslimah. Pasalnya, mereka mengetahui benar posisi strategis seorang wanita muslimah dalam pembinaan dan pembentukan generasi Islam yang kuat.

Melalui corong-corong (media massa) yang ada di negeri-negeri muslim, para musuh Islam itu melontarkan slogan-slogan yang bombastis, dalam rangka mengenyahkan kaum muslimah dari kesucian, benteng kehormatan dan peran penting pembinaan umat.

Dengan mengatas namakan tahrîrulmar‘ah (kebebasan bagi kaum Hawa), arraghbah filistifâdah min thâqatil mar‘ah (pemberdayaan kaum wanita), inshâfulmar‘ah (keadilan bagi kaum wanita/emansipasi) dan slogan-slogan yang berdalih modernisasi, para musuh Islam dan antek-anteknya mencoba memperdaya kaum muslimah.

Slogan-slogan dan propaganda-propaganda ini diarahkan kepada satu tujuan. Yakni menyeret kaum wanita Islam keluar dari manhaj syar’i, dan menyodorkannya kepada ancaman eksploitasi aurat, kenistaan, kehinaan dan fitnah. Sebagian dari kalangan muslimah ada yang bertekuk lutut menghadapi propaganda yang tampaknya baik, yakni untuk mengentaskannya dari “penderitaan”. Demikian yang dipersepsikan oleh kaum propagandis, baik dari kalangan sekularis maupun liberalis.

Orang-orang semacam ini, yang menjauhi syariat Allâh terancam dengan kehidupan yang sempit lagi menyesakkan.

Allâh Ta'âla berfirman:

Dan barangsiapa yang berpaling dari peringatan-Ku,
maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit,
dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.
(Qs Thâhâ/20:124)

TRAGEDI PELUCUTAN DAN PEMBAKARAN BUSANA MUSLIMAH

Gerakan “pembebasan” wanita sering unjuk gigi menggalang dukungan untuk menjauhkan kaum muslimah dari jati dirinya yang terhormat. Mereka melakukan demonstrasi dan menolak aturan yang menjaga kehormatan wanita. Hal itu bukan baru muncul belakangan ini, tetapi benih-benihnya sudah ada sejak tahun 1919 M.

Pada waktu itu muncul demonstrasi kaum muslimah di Mesir tanggal 12 Maret 1919 di bawah komando Huda Sya’rawi untuk bersama-sama melepaskan hijab (pakaian muslimah yang sempurna). Ia adalah wanita Arab pertama yang melepaskan hijab. Selanjutnya, ia diikuti oleh istri Sa’ad Zaghlul. Wanita ini bersama wanita-wanita yang sudah terperdaya melepaskan hijab dan menginjak-injaknya. Dan kisah ini berakhir dengan pembakaran baju-baju yang menjadi identitas kaum muslimah tersebut.

Kebebasan yang mereka tuju, sebenarnya malah menjerumuskan mereka dalam kenistaan. Pasalnya, tindakan tersebut merupakan awal tercampaknya kehormatan dan keutamaan mereka.

PERLAKUAN ISLAM DAN MUSUH ISLAM TERHADAP MUSLIMAH

Allâh Ta'âla menciptakan wanita sebagai sumber ketenangan bagi lelaki dan menjadikannya sebagai tempat penyemaian benih. Seorang wanita juga bertanggung-jawab atas rumah suaminya. Allâh Ta'âla mentakdirkannya untuk mengandung dan bertugas mendidik anak-anak. Lantaran sedemikian besar dan berat tanggung jawab tersebut, maka Allâh Ta'âla memberikan tanggung jawab kepada kaum lelaki untuk memimpin dan membimbing wanita.

Sementara itu, kaum kuffar Jahiliyyah sangat membenci keberadaan wanita di tengah mereka. Bahkan ketika seorang anak perempuan lahir, tindakan yang mereka ambil, ialah membunuh dengan cara sadis atau menguburkannya hidup-hidup. Atau membiarkannya dalam keadaan nista. Pada masa itu, wanita pun tidak mempunyai hak waris, pendapatnya tidak pernah diperhatikan. Adapun seorang lelaki, ia boleh menikahi wanita manapun yang diinginkannya. Dia pun bebas untuk menyatukan banyak wanita di pelukannya, dan bahkan bebas untuk berbuat tidak adil kepada istri-istrinya.

Kemudian Islam datang untuk menyelamatkan kaum wanita dari kezhaliman masa Jahiliyah dan memberinya hak waris. Lelaki hanya boleh menikahi sampai empat wanita saja, dengan syarat sanggup berbuat adil kepada istri-istrinya. Jika tidak mampu, maka hanya boleh menikahi satu wanita saja.

Pandangan kaum kuffar zaman ini terhadap wanita sama saja dengan masa lampau. Mereka ingin agar kaum wanita menangani pekerjaan-pekerjaan kaum lelaki yang di luar kodratnya, supaya kaum wanita terlepas dari kemuliaan, kehormatannya, dan tampil menarik di hadapan para lelaki. Hingga dapat dimanfaatkan dengan harga murah dan mudah selama masih mempunyai daya tarik. Sebaliknya, jika sudah surut pesonanya, maka ia pun dipinggirkan.

BERBUSANA MUSLIMAH HUKUMNYA WAJIB
Persoalan hijab (busana muslimah yang sempurna) tidak membutuhkan ijtihad seorang ulama. Sebab dasar perintahnya sangat jelas terdapat dalam Al-Qur‘ân. Allâh Ta'âla berfirman :
Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu,
anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang mukmin
agar hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.
Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal,
karena itu mereka tidak diganggu.
Dan Allâh adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
(Qs al-Ahzâb/33:59)


Ibnu Katsir rahimahullâh berkata:
"Allâh berfirman untuk memerintahkan Rasul-Nya supaya menitahkan kaum muslimah mukminah secara khusus kepada istri-istri dan putri-putri beliau untuk mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Supaya dapat dibedakan dengan wanita-wanita jahiliyyah dan ciri khas budak-budak wanita. Yang
dimaksud dengan jilbab, yaitu kain yang berada di atas khimâr (penutup kepala)."
Syaikh as-Sa’di rahimahullâh mengatakan:
"Inilah ayat yang disebut sebagai ayat hijaab. Allâh memerintahkan Nabi-Nya supaya meminta kaum wanita (muslimah) secara umum, dan Allâh memulainya dengan penyebutan istri-istri dan putri-putri beliau. Karena mereka merupakan pihak yang paling dituntut (untuk melaksanakannya) dibandingkan wanita lainnya. Orang yang akan memerintahkan orang (wanita) lain, seyogyanya mengawalinya dari keluarganya sebelum orang lain.
Allâh Ta'âla berfirman:'Hai orang-orang yang beriman,
peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka…'
(Qs at-Tahrîm/66:6)
Artinya, di sini mereka diminta untuk menutupi wajah-wajah, leher-leher dan dada-dada mereka. Kemudian Allâh memberitahukan hikmah yang terkandung di balik aturan ini. Yakni "Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu". Ini menunjukkan, munculnya gangguan itu terjadi ketika kaum wanita tidak mengenakan hijab.

KAUM WANITA MESTI BELAJAR AGAMA

Usaha perlawanan terhadap gerakan-gerakan yang membahayakan keutuhan umat wajib ditempuh, terutama oleh kaum wanita itu sendiri. Faktor terpenting yang telah menyeret wanita sehingga mengikuti budaya-budaya yang tidak bermoral, ialah karena unsur jahâlah (ketidaktahuan) terhadap agamanya.

Kebaikan yang sebenarnya bagi kaum wanita, ialah munculnya motivasi dari diri mereka untuk mempelajari hukum-hukum agama, serta kewajiban-kewajiban yang wajib mereka pikul, supaya diri mereka suci dan terjaga dari moral rendah ataupun sumber-sumber kenistaan.

Rasûlullâh shallallâhu 'alaihi wa sallam bersabda:


مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِـيْ الدِّيْنِ


"Barang siapa dikehendaki kebaikan oleh Allâh padanya,
niscaya Dia akan mencerdaskannya dalam masalah agama."
(HR al-Bukhari dan Muslim)

Secara historis, konsistensi kaum muslimah dengan aturan-aturan Allâh Ta'âla dan nilai-nilai Islam dan moralitasnya merupakan jalan terbaik, dan sarana paling penting untuk memberdayakan kaum wanita dalam pembentukan keluarga, perbaikan dan pengokohan peradaban umat manusia.

KEWAJIBAN ORANG TUA DAN ULAMA
Adanya fenomena negatif yang telah menghinggapi dan menyelimuti kaum wanita (remaja maupun dewasa), maka menjadi kewajiban orang-orang yang memegang kendali perwalian (wilayah) untuk memperhatikan mereka dengan sebaik-baiknya. Memberinya pendidikan dan pembinaan, serta membentengi mereka dari segala pengaruh yang merusak.


Terutama pada masa belakangan ini yang sarat dengan gelombang fitnah dan godaan yang menyergap dari segala penjuru. Para wali itulah yang memikul tanggung jawab yang besar ketika anak perempuan, istri maupun wanita-wanita yang menjadi tanggung jawabnya melakukan tindak penyelewengan.
Secara khusus, kebanyakan saluran informasi (media massa) yang beraneka-ragam bentuknya merupakan bagian dari panah beracun yang dibidikkan para musuh Islam untuk mengobrak-abrik para pembina generasi Islam dan pencetak ksatria masa depan (kaum muslimah). Setidaknya, para musuh Islam telah berhasil merealisasikan tujuannya saat para wali kaum muslimah kurang semangat dalam memikul tanggung jawab dan menyia-nyiakan amanah yang luar biasa besarnya itu, kecuali orang-orang yang dirahmati oleh Allâh.

Allâh Ta'âla berfirman:
"Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita…."
(Qs an-Nisâ‘/4:34)


إِنَّ الرِّ جَالَ النَّاظِرِيْنَ إِلَـى النِّسَاءِ
مِثْلُ السِبَاعِ تَطُوْفُ بِاللَّحْمَانِ
إِنْ لَـمْ تَصُنْ تِلْكَ اللُّحُوْمَ أُسُوْدُهَا
أُكِلَتْ بِلاَ عِوَضٍ وَ لاَ أَثْـمَانِ


Sungguh, para lelaki yang melihat kaum wanita,
bak serigala-serigala yang mengitari setumpuk daging.
Jika singa-singa tidak menjaga daging-daging itu,
niscaya akan disantap tanpa timbalbalik maupun harga
Melihat adanya sejumlah orang yang mengadopsi dan mempropagandakan pemikiran liberalisme di tengah masyarakat muslim, dan lantaran muatan negatifnya dalam bentuk penentangan kepada Allâh dan Rasul-Nya.


 Ditulis oleh: أُسْتَاذُ Abu Asma Kholid Syamhudi, Lc - حفظه الله


♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥

Sabtu, 21 Desember 2013

RAHMAT ISLAM BAGI KAUM WANITA

RAHMAT ISLAM BAGI KAUM WANITA



Kandungan ajaran Islam, secara khusus sangat memuliakan derajat kaum wanita setelah pada zaman jahiliyah berada dalam level yang sangat rendah dan hak-haknya terinjak-injak. Islam menetapkan aturan-aturan bagi dua jenis manusia, lelaki dan wanita sesuai dengan kodratnya. Islam juga menyamakan kedudukan lelaki dan wanita dalam persoalan-persoalan tertentu, dengan berkaca pada hikmah Allâh Ta’ala.

Aspek-aspek perbedaan antara keduanya pun diakomodasi dengan sebaik-baiknya, sehingga tidak ada yang merasa dirugikan. Konsistensi kaum muslimah dalam menjalankan syariat Allâh, adab-adab Islam dan moralitasnya, itulah metode paling utama dan sarana terpenting bagi pemberdayaan kaum wanita dalam pembangunan umat dan kemajuan peradaban. Hal ini telah dibuktikan oleh sejarah, sehingga semestinya memperoleh dukungan dan penghargaan dari seluruh umat Islam.

إِذَا الْـمَرْأُ لَـمْ يَلْبِسْ لِبَاسًا مِنَ التُّقَى
تَقَلَّبَ عُرْيَانًا وَإِنْ كَانَ كَاسِيًا
وَ خَيْرُ لِبَاسِ الْـمَرْءِ طَاعَةُ رَبِّهِ
وَ لاَ خَيْرَ فِـيْمَنْ كَانَ عَاصِيًا

Apabila seseorang tidak mengenakan baju ketakwaan, ia menjelma menjadi manusia telanjang kendati tubuhnya tertutupi.

Sebaik-baik pakaian adalah ketaatan kepada Rabbnya,tiada kebaikan bagi orang yg bermaksiat

 


Ditulis oleh: أُسْتَاذُ Abu Asma Kholid Syamhudi Al Bantani, Lc - حفظه الله


♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥

Jumat, 06 Desember 2013

Kapan dikatakan Sabar?

Kapan dikatakan Sabar? |

• Hikmah Fajar

Seorang dikatakan telah sabar menerima musibah apabila telah melakukan hal-hal berikut,

1. Tidak ada dihatinya perasaan buruk sangka kepada Allah dan takdirnya.

2. Amalannya tidak melakukan perbuatan yang dilarang Allah.

3. Lisannya tidak mencela Allah, takdirnya atau masa, bahkan lisannya mengucapkan, ‘Inna Lillahi Wa Inna Ilaihi Raji’un’ sebagaimana dalam ayat diatas.

Akan lebih baik lagi bila ditambah dengan doa yang diajarkan Rasululah kepada kita dalam hadits Ummu Salamah,

سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَا مِنْ مُسْلِمٍ تُصِيبُهُ مُصِيبَةٌ فَيَقُولُ مَا أَمَرَهُ اللَّهُ إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ اللَّهُمَّ أْجُرْنِي فِي مُصِيبَتِي وَأَخْلِفْ لِي خَيْرًا مِنْهَا إِلَّا أَخْلَفَ اللَّهُ لَهُ خَيْرًا مِنْهَا

“Aku telah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda, “Tidak ada seorang muslim yang tertimpa musibah lalu menyatakan apa yang Allah perintahkan, ‘Innaa lillahi Wa Inna Ilaihi Raji’un Allahumma’ Jurni fi mushibatie wa Akhlif li Khairan minha.’ Kecuali Allah gantikan baginya yang lebih baik.” (HR. Muslim).

Mudah-mudahan kita dapat mendapatkan tingkatan tertinggi dari tingkatan sabar dan paling tidak kita masih ditetapkan sebagai orang yang sabar.

Selamat berlatih sabar.

Ditulis oleh: أُسْتَاذُ Abu Asma Kholid Syamhudi Al Bantani, Lc - حفظه الله


♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥

Senin, 02 Desember 2013

Senang Dinasehati

Senang Dinasehati.

☑ Untaian Nasehat
Orang ikhlas adalah yang senang dinasehati Orang yang mengharapkan wajah Allah tidak takut dikritik kesalahannya dalam berkata dan tidak khawatir ditunjukkan kebatilan perkataannya, bahkan ia menyintai kebenaran darimanapun datangnya dan menerima petunjuk (huda) dari orang yang memberinya petunjuk.

Kekerasan dalam kebenaran dan nasehat lebih ia cintai dari bermanis muka atas perkataan buruk. Temanmu adalah yang meluruskanmu secara jujur bukan yang selalu membenarkanmu.

(Al-Awaashim wal Qawaashim, karya ibnul Wazir 1/223).

Oleh: أُسْتَاذُ Abu Asma Kholid Syamhudi Al Bantani, Lc - حفظه الله
--------------------------------
Kekerasan dalam kebenaran dan nasehat lebih ia cintai dari bermanis muka atas perkataan buruk.

T̲e̲m̲a̲n̲m̲u̲ ̲a̲d̲a̲l̲a̲h̲ ̲y̲a̲n̲g̲ ̲m̲e̲l̲u̲r̲u̲s̲k̲a̲n̲m̲u̲ ̲s̲e̲c̲a̲r̲a̲ ̲j̲u̲j̲u̲r̲ ̲b̲u̲k̲a̲n̲ ̲y̲a̲n̲g̲ ̲s̲e̲l̲a̲l̲u̲ ̲m̲e̲m̲b̲e̲n̲a̲r̲k̲a̲n̲m̲u̲.̲

☑ Semoga Allah jadikan diri kita pribadi yang suka dinasehati.


⌣̊┈̥-̶̯͡♈̷̴✽̶┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈⌣̊┈̥-̶̯͡.

Mau Anak Shalih ?

Mau Anak Shalih ? |

» Untaian Nasehat

Anak shalih yang senantiasa beribadah kepada Allah dan menunaikan hak-hak yang diwajibkan atasnya adalah salah satu karunia agung dari Allah. Demikianlah Allah jelaskan dalam beberapa ayat al-Qur`an, seperti dalam firmanNya:

وَاللهُ جَعَلَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَاجًا وَجَعَلَ لَكُم مِّنْ أَزْوَاجِكُمْ بَنِينَ وَحَفَدَةً وَرَزَقَكُم مِّنَ الطَّيِّبَاتِ أَفَبِالْبَاطِلِ يُؤْمِنُونَ وَبِنِعْمَتِ اللهِ هُمْ يَكْفُرُونَ

Allah menjadikan bagi kamu isteri-isteri dari jenis kamu sendiri dan menjadikan bagimu dari isteri-isteri kamu itu, anak-anak dan cucu-cucu, dan memberimu rezki dari yang baik-baik. Maka Mengapakah mereka beriman kepada yang bathil dan mengingkari nikmat Allah ?" (QS. an-Nahl :72).

Juga firmanNya:

لِلَّهِ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ يَخْلُقُ مَايَشَآءُ يَهَبُ لِمَن يَشَآءُ إِنَاثًا وَيَهَبُ لِمَن يَشَآءُ الذُّكُورَ أَوْ يُزَوِّجُهُمْ ذُكْرَانًا وَإِنَاثًا وَيَجْعَلُ مَن يَشَآءُ عَقِيمًا إِنَّهُ عَلِيمٌ قَدِيرٌ
Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi, Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki. Dia memberikan anak-anak perempuan kepada siapa yang Dia kehendaki dan memberikan anak-anak lelaki kepada siapa yang Dia kehendaki, atau Dia menganugerahkan kedua jenis laki-laki dan perempuan (kepada siapa) yang dikehendaki-Nya, dan Dia menjadikan mandul siapa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha mengetahui lagi Maha Kuasa. (QS. asy-Syuura : 49-50)

Allah juga mengizinkan orang yang menginginkan anak yang shalih untuk memohon kepadaNya. Allah berfirman menceritakan kisah Nabi Ibrohim :

وَقَالَ إِنِّي ذَاهِبٌ إِلَى رَبِّي سَيَهْدِينِ  رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ  فَبَشَّرْنَاهُ بِغُلاَمٍ حَلِيمٍ

Dan Ibrahim berkata:"Sesungguhnya aku pergi menghadap kepada Tuhanku, dan Dia akan memberi petunjuk kepadaku. Ya Tuhanku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang Termasuk orang-orang yang saleh. Maka Kami beri Dia khabar gembira dengan seorang anak yang Amat sabar [Ash-shaffat 99-101]

Demikian juga menceritakan tentang Nabi Zakariya dalam firmanNya:

هُنَالِكَ دَعَازَكَرِيَّا رَبَّهُ قَالَ رَبِّ هَبْ لِي مِن لَّدُنكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً إِنَّكَ سَمِيعُ الدُّعَآءِ فَنَادَتْهُ الْمَلاَئِكَةُ وَهُوَ قَآئِمُُ يُصَلِّي فِي الْمِحْرَابِ أَنَّ اللهَ يُبَشِّرُكَ بِيَحْيَ مُصَدِّقًا بِكَلِمَةٍ مِّنَ اللهِ وَسَيِّدًا وَحَصُورًا وَنَبِيًّا مِّنَ الصَّالِحِينَ

Di sanalah Zakariya mendoa kepada Tuhannya seraya berkata: "Ya Tuhanku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar doa". kemudian Malaikat (Jibril) memanggil Zakariya, sedang ia tengah berdiri melakukan shalat di mihrab (katanya): "Sesungguhnya Allah menggembirakan kamu dengan kelahiran (seorang puteramu) Yahya, yang membenarkan kalimat (yang datang) dari Allah, menjadi ikutan, menahan diri (dari hawa nafsu) dan seorang Nabi Termasuk keturunan orang-orang saleh".(QS Alimron 38-39)

Serta berbicara tentang mukminin dalam firmanNya:

وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

Dan orang orang yang berkata: "Ya Tuhan Kami, anugrahkanlah kepada Kami isteri-isteri Kami dan keturunan Kami sebagai penyenang hati (Kami), dan Jadikanlah Kami imam bagi orang-orang yang bertakwa. (Al-furqaan 74)
Demikian anak shalih adalah anugerah Allah yg seharusnya diminta setiap dari kita semua.

Kewajiban membina anak-anak adalah kewajiban dan tanggung jawab bersama setiap muslim.
Kewajiban dan hak-hak anak-anak terbagi tanggung jawabnya kepada negara, masyarakat, sekolah dan rumah. Semua memiliki kewajiban dan tanggung jawab atas hal ini dihadapan Allah, sebagaimana sabda Rasululah:

أَلَا كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

Ketahuilah seluruh kalian adalah pemimpin dan setiap kalian dimintai pertanggung jawaban atas yang dipimpinnya. (Muttafaqun ‘alaihi).
Kewajiban dan hak-hak yang menjadi tanggung jawab dipundak setiap muslim terhadap pemuda adalah pembinaan mereka dengan pembinaan yang sempurna dan baik dan memberikan perhatian dan pemeliharaan yang menyeluruh pada mereka. Juga mempersiapkan sarana prasarana kebaikan,  keistiqamahan dan kesuksesan serta kebahagiaan dalam agama dan dunianya. Demikian juga mempersiapkan dan mempermudah jalan yang mengantar mereka kepada target manfaat untuk mereka dan masyarakatnya dan menjadi penghalang antara para pemuda dengan penyimpangan pemikiran, dekadensi moral dan sifat-sifat jelek serta teman-teman jelek. Ditambah dengan adanya pengaruh informasi dan komunikasi modern yang merusak dengan segala jenisnya.
Apabila kewajiban-kewajiban tersebut terbagi-bagi atas setiap individu masyarakat sesuai dengan tanggung jawabnya dan sikapnya terhadap generasi sekarang dan akan datang.

Sisi generasi shalih sebagai nikmat Allah:

1.Generasi shalih beribadah kepada Allah tanpa berbuat kesyirikan. Ini merupakan nikmat karena Allah tidak menciptakan jin dan Manusia kecuali untuk ibadah.
2. Dunia akan aman dan tentram dengan ibadah kepada Allah tanpa adanya kesyirikan dan kerusakan dunia terjadi karena berpaling dari ibadah dan perbuatan syirik.
3. Anak-anak adalah generasi penerus perjuangan kedua orang tua mereka yang membawa sifat kedua orang tuanya dan sifat keturunannya serta yang dapat memperbaharui nama baik mereka.
4. Generasi shalih menjadi nikmat dari sisi mereka adalah generasi pengganti dalam memakmurkan dunia dan memperbaikinya sesuai dengan tuntutan syariat islam yang mulia. Mereka juga yang menyiapkan penggunaan dunia ini dalam ketaatan kepada Allah dan memeliharanya dari kerusakan dan kehancuran serta kesyirikan.  Allah berfirman:
Dan Dia lah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi dan Dia meninggikan sebahagian kamu atas sebahagian (yang lain) beberapa derajat, untuk mengujimu tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu. Sesungguhnya Tuhanmu Amat cepat siksaan-Nya dan Sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (al-An’am 165)
Juga firmanNya:
Kemudian Kami jadikan kamu pengganti-pengganti (mereka) di muka bumi sesudah mereka, supaya Kami memperhatikan bagaimana kamu berbuat. (Yunus 14 )
5. Anak keturunan (generasi penerus) adalah nikmat dari sisi mereka adalah kekuatan umat yang akan membela agama dan melindungi kaum muslimin dan islam dari serangan musuh-musuhnya dan perbuatan bodoh serta rusak orang-orang yang tidak bertanggung jawab.

Apabila sudah jelas demikian besarnya nikmat Allah yang dianugerahkan kepada para hambaNya dengan pemberian anak-anak keturunan ini. Sudha menjadi kewajiban untuk mensyukurinya dengan sungguh-sungguh menunaikan hak-hak anak dan menjaga kemaslahan mereka serta perhatian yang besar terhadap pendidikan mereka secara baik dan sempurna. Agar kemudian mereka menjadi batu-bata yang kuat dan kokoh untuk membangun masyarakat islam.
Semoga kita dianugerahkan anak2 shalih dan shalihah.

Ditulis oleh: أُسْتَاذُ Abu Asma Kholid Syamhudi, Lc - حفظه الله

♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥

Sifat Kalbu yang Menerima Ilmu

Sifat Kalbu yang Menerima Ilmu
Ditulis oleh: أُسْتَاذُ Abu Asma Kholid Syamhudi, Lc - حفظه الله


Syeikhul Islam Ibnul Taimiyah -Rahimahullah- berkata:


Sampai kepada kami dari para salaf, pernyataan: "Kalbu adalah bejana Allah di bumiNya, maka yang paling Allah cintai adalah yang paling halus dan paling bersih". Ini adalah permisalah yang bagus, karena kalbu apabila halus lembut, maka bisa menerima ilmu dengan mudah sekali dan ilmu akan masuk dan kokoh serta berpengaruh padanya.

Apabila kalbu itu keras lagi kasar, maka menerima ilmu dengan susah dan sukar.

Kalbu yang halus lembut tersebut harus disertai juga dengan kalbu yang kecerdasan, bersih dan sehat hingga ilmu bisa tumbuh dan menghasilkan buah yang bagus. Apabila tidak seandainyapun menerima ilmu dan ada kekotoran dan keburukan maka hal itu merusak ilmu, itu seperti hama di tanaman pertanian, kalau tidak mencegah biji tumbuh tentu menghalanginya untuk tumbuh dan berbuah. Ini cukup jelas bagi ulul abshaar.


Sumber: Majmu' Fatawa 9/513.


Kesimpulan: Sukses mendapatkan ilmu dan manfaatnya bila kita memiliki kalbu yang lembut, cerdas, bersih dan sehat.
Mari kita gapai hal ini!

⌣̊┈̥-̶̯͡♈̷̴✽̶┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈⌣̊┈̥-̶̯͡.

Jumat, 29 November 2013

Bangunkan orang yang ngantuk di samping Anda

Bangunkan orang yang ngantuk di samping Anda.

• Nasehat seputar sholat Jum'at.

ketika mendengarkan khutbah Jumat, merupakan salah satu kesalahan besar yang dianggap lumrah dalam kegiatan ibadah kaum muslimin. Layaknya tidak mungkin lagi ada khutbah tanpa makmum yang tertidur. Seolah khutbah Jumat adalah kesempatan paling tepat untuk tidur. Sampai ada pameo yang menyatakan, bagi penderita insomnia yang sulit tidur, bisa diobati dengan mendengarkan khutbah Jumat. Kita ucapkan, Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raajiun.

Bangunkan.!
Sebagai bentuk kepedulian anda kepada sesama. Namun ini harus dilakukan tanpa suara. Artinya, anda bangunkan hanya dengan gerakan tanpa ucapan.

Imam Ibnu Baz pernah ditanya tentang hukum membangunkan orang yang tidur ketika mendengarkan khutbah. Beliau menjelaskan,

يستحب إيقاظهم بالفعل لا بالكلام، لأن الكلام في وقت الخطبة لا يجوز؛ لقول النبي صلى الله عليه وسلم:(إذا قلت لصاحبك أنصت يوم الجمعة والإمام يخطب فقد لغوت) متفق على صحته..

Dianjurkan untuk membangunkan mereka dengan gerakan, tanpa ucapan. Karena berbicara ketika berkhutbah tidak dibolehkan. Berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Apabila kamu berbicara kepada sampingmu “Diam”, pada hari Jumat dan imam sedang berkhutbah, berarti kamu telah berbuat sia-sia…” (Muttafaq ‘alaihi)

T̲̲̲I̲P̲S̲ ̲̲̲m̲̲̲e̲̲̲n̲̲̲g̲̲̲a̲̲̲t̲̲̲a̲̲̲s̲̲̲i̲̲̲ ̲̲̲n̲̲̲g̲̲̲a̲̲̲n̲̲̲t̲̲̲u̲̲̲k̲̲̲ ̲̲̲s̲̲̲a̲̲̲a̲̲̲t̲̲̲ ̲̲̲m̲e̲n̲d̲̲̲e̲̲̲n̲̲̲g̲̲̲a̲̲̲r̲̲̲ ̲̲̲k̲̲̲h̲̲̲a̲̲̲t̲̲̲i̲̲̲b̲̲̲ ̲̲̲J̲u̲m̲'̲a̲t̲ !

Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا نَعَسَ أَحَدُكُمْ يَوْمَ الجُمُعَةِ فَلْيَتَحَوَّلْ مِنْ مَجْلِسِهِ ذَلِكَ

“Apabila kalian ngantuk pada hari Jumat, maka berpindahlah dari tempat duduknya.” (HR. Abu Daud, Turmudzi dan dishahihkan al-Albani).

Ditulis oleh: أُسْتَاذُ Abu Asma Kholid Syamhudi, Lc - حفظه الله


♥♥♡♡♡♥♥♡♡♡♥♥♡♡♡♥♥♡♡♡♥♥

Jumat, 22 November 2013

Sebab Happy

Sebab Happy
Ditulis oleh: أُسْتَاذُ Abu Asma Kholid Syamhudi, Lc - حفظه الله



Sebuah nasehat dari seorang ‘alim robbani:

Ketahuilah, mentaati Allah dan Rasul-Nya serta menjadikan keduanya sebagai hakim dalam memutuskan perselisihan adalah sebab seseorang mendapatkan kebagahagiaan di dunia dan di akhirat. Jika seseorang merenungkan berbagai kejadian di alam ini dan mencermati berbagai kerusakan yang timbul, pastilah ia tahu bahwa sebab kerusakan di muka bumi ini terjadi karena menyelisihi seruan Rasulullah  dan keluar dari ketaatan padanya. Sebaliknya, segala kebaikan yang muncul di muka bumi ini ada karena sebab ketaatan pada Rasulullah.

Begitu pula berbagai bencana dan siksaan di akhirat kelak, itu semua terjadi karena menyelisihi seruan Oleh karenanya, segala kerusakan di dunia dan akhirat disebabkan karena menyelisihi perintah Rasulullah.
Seandainya seluruh manusia menaati Rasul dengan melakukan ketaatan dengan sebenar-benarnya, niscaya tidak akan ada satu pun kerusakan di muka bumi. Inilah yang sering kita saksikan pada berbagai musibah dan bencana yang terjadi di muka. Semua kejelekan, kerusakan dan kesusahan itu terjadi pada diri hamba karena penyelisihannya terhadap seruan Rasulullah. Jika seseorang betul-betul mentaati beliau dalam ajakannya, maka ia termasuk orang-0rang yang akan mendapatkan rasa aman dan mendapatkan keselamatan.

Jadi, dari penjelasan di atas telah diketahui bahwa berbagai kerusakan di muka bumi dan di akhirat nanti, itu semua disebabkan oleh kejahilan (kebodohan) terhadap ajaran Rasul dan enggan mengamalkan ajarannya padahal telah ia ilmui.

Dari sini diketahui bahwa tidak akan ada keselamatan dan kebahagiaan selain dengan berusaha keras mengilmui ajaran Rasul dan mengamalkannya. Kemudian untuk menyempurnakan kebahagiaan tersebut ditambah dengan dua amalan yaitu: mendakwahkan ilmu tadi pada orang lain dan  bersabar dan bersungguh-sungguh dalam mendakwahkannya.
Demikian penjelasan yang sangat bagus dari Ibnul Qayyim –semoga Allah senantiasa merahmati beliau-.


♥♥♡♡♡♥♥♡♡♡♥♥♡♡♡♥♥♡♡♡♥♥

Menghadapi Fitnah

Menghadapi Fitnah
Ditulis oleh: أُسْتَاذُ Abu Asma Kholid Syamhudi, Lc - حفظه الله 






Sudah menjadi fithrah manusia, jika mengalami atau tertimpa suatu musibah, maka dia akan berusaha menyelamatkan diri dengan segala cara yang mungkin dilakukannya. Namun, ada juga sebagian orang yang pasrah, berputus asa dan tidak mau mencari jalan keluar, akhirnya kebinasaan menjadi pungkasannya. Ada juga yang tidak menyadari dirinya sedang dalam musibah, sehingga tidak tergerak untuk mencari solusi, akhirnya penyesalan pun tak terelakkan.

Pada saat ini, banyak sekali bahaya yang mengintai kita sebagaimana yang dikabarkan oleh Rasûlullâh صلى الله عليه وسلم dalam banyak hadits tentang fitnah akhir zaman. Rasulullah صلى الله عليه وسلم sebagai rasul yang penuh kasih sayang kepada umatnya, tidak hanya memberitahukan tentang fitnah ini saja, tapi juga memberitahukan solusinya. Al-Qur’ân dan sunnah Rasûlullâh صلى الله عليه وسلم merupakan solusi yang tidak bisa ditawar-tawar. Kalau tidak, kesengsaraan mesti akan menimpa. Allah befirman:

Jika datang kepadamu petunjuk dari-Ku, maka barangsiapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta”. Berkatalah ia, “Ya Rabbku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dahulunya adalah seorang yang melihat ?” Allâh berfirman, “Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, lalu kamu melupakannya, dan begitu (pula) pada hari ini kamupun dilupakan”. (QS. Thaha/20:123-126)

Kini, fitnah-fitnah itu sudah banyak sekali disekitar kita, siap menerkam siapa saja yang lalai. Oleh karena itu, hendaknya kita senantiasa waspada dan menjaga diri.
Diantara fitnah-fitnah itu adalah fitnah harta. Diriwayatkan dari Ka’ab bin ‘Iyadh , dia mengatakan, “Aku pernah mendengar Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda :

إِنَّ لِكُلِّ أُمَّةٍ فِتْنَةً وَإِنَّ فِتْنَةَ أُمَّتِي الْمَالُ

Sesungguhnya masing-masing umat itu ada fitnahnya dan fitnah bagi umatku adalah harta (HR. Ahmad, Tirmidzi dan Ibni Hibban dalam shahihnya)

Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda :

فَوَاللَّهِ مَا الْفَقْرَ أَخْشَى عَلَيْكُمْ وَلَكِنِّي أَخْشَى أَنْ تُبْسَطَ عَلَيْكُمْ الدُّنْيَا كَمَا بُسِطَتْ عَلَى مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ فَتَنَافَسُوهَا كَمَا تَنَافَسُوهَا وَتُهْلِكَكُمْ كَمَا أَهْلَكَتْهُمْ

Demi Allâh ! Bukan kefakiran yang saya khawatirkan atas kalian, namun yang saya khawatirkan adalah kalian diberi kemakmuran dunia sebagaimana pernah diberikan kepada umat sebelum kalian, lalu kalian berlomba-lomba sebagaimana mereka. Sehingga akhirnya dunia menyebabkan kalian binasa sebagaimana mereka. (HR. Bukhâri dan Muslim)

Harta itu fitnah dari semua sisi. Dimulai saat mengumpulkan dan mengembangkannya, kesibukan ini sering melalaikan seseorang dari beribadah kepada Allah . Juga kegemaran menumpuk harta yang tidak pernah bisa mencapai titik klimaks, diperparah lagi dengan prilaku menghalalkan segala cara demi memenuhi ambisinya. Harta juga menjadi fitnah atau musibah bagi yang empunya saat harta dibelanjakan di jalan yang tidak dibenarkan syari’at atau enggan mengeluarkan zakat yang menjadi kewajibannya. Akibatnya, berbagai keburukan pun bermunculan akibat harta.

Kini harta yang sering menjadi sumber fitnah itu melimpah ruah di mana-mana, sebagaimana yang dikabarkan oleh Rasulullah صلى الله عليه وسلم dalam sabda beliau :

إِنَّ مِنْ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ أَنْ يَفْشُوَ الْمَالُ وَيَكْثُرَ وَتَفْشُوَ التِّجَارَةُ

Sesungguhnya diantara tanda-tanda kiamat yaitu tersebar dan melimpahnya harta serta melimpahnya perniagaan (HR. an-Nasa’i dan al-Hakim, beliau mengatakan, “Shahih sesuai dengan syarat Bukhari dan Muslim)

Dalam hadits riwayat Abu Hurairah bahwa Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda :

لَيَأْتِيَنَّ عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ لَا يُبَالِي الْمَرْءُ بِمَا أَخَذَ الْمَالَ أَمِنْ حَلَالٍ أَمْ مِنْ حَرَامٍ

Sungguh akan datang suatu masa, saat itu manusia tidak lagi peduli dengan cara apa dia menghasilkan harta, apakah dari sesuatu yang halal ataukah haram ! (HR. Bukhari)



♥♥♡♡♡♥♥♡♡♡♥♥♡♡♡♥♥♡♡♡♥♥

Senin, 18 November 2013

52 Kiat Untuk Para Suami Agar Disayang Istri


52 Kiat Untuk Para Suami Agar Disayang Istri


1. Berhiaslah untuk isteri anda sebagaimana anda senang apabila ia berhias untuk anda.
2. Merayu isteri dan mencandainya.
3. Mempergaulinya dengan lemah lembut dan kasih sayang.
4. Penuhi kesenangannya untuk berbicara dan bercakap-cakap (bercengkerama).
5. Panggillah isteri dan nama kesukaannya.

6. Jauhilah sikap emosional dan tempramental.
7. Berilah isteri anda rasa aman dan tenang.
8. Membuatnya gembira dengan pemberian yang mengejutkan.
9. Masuklah ke dalam rumah dengan wajah berseri-seri dan tersenyum.
10. Berlemahlembutlah dalam berbicara.

11. Bicarakanlah sesuatu yang menyenangkannya.
12. Memujinya di hadapan keluarga anda dan keluarganya.
13. Menghargai penampilannya.
14. Berikanlah hadiah (romantis) semisal bunga atau selainnya sebagai penguat cinta diantara keduanya.
15. Hilangkanlah kejenuhan rutinitas sehari-hari dengan bertamasya (rihlah) atau selainnya.

16. Terimalah kekurangan-kekurangannya karena tidak ada manusia yang sempurna.
17. Jagalah diri dari perkara-perkara sepele yang dapat bertumpuk menjadi masalah besar.
18. Bantulah isteri anda dalam urusan-urusan rumah tangga.
19. Jangan kikir dengan perasaan anda. Ekspresikan perasaan anda kepadanya dengan kelembutan dan kejujuran.
20. Hargai akal dan buah pemikirannya.

21. Selalulah berbaik sangka kepada dirinya.
22. Bangkitkanlah perasaannya bahwa ia adalah wanita yang ideal bagi anda.
23. Bantulah ia meningkatkan kemampuannya.
24. Jagalah perasaannya terutama di saat haidh dan hamil.
25. Bantulah dirinya di dalam mengurusi anak-anak.

26. Hormati keluarganya, berbuat baik kepada mereka dan tidak melarangnya untuk mengunjungi keluarganya.
27. Makan bersama di rumah atau tempat lain yang tenang dan aman dari fitnah.
28. Berikan pujian dan sanjungan kepada dirinya.
29. Jagalah rahasianya dan janganlah menyebarkannya.
30. Jagalah hak-haknya dan janganlah menyia-nyiakannya.

31. Berbuat adillah kepada dirinya.
32. Perlakukanlah dirinya dengan baik dan lemah lembut.
33. Bersikaplah realistis dan jadikanlah dirinya sebagai isteri yang ideal bagi anda.
34. Bekerja sama dengannya di dalam ketaatan kepada Allah.
35. Janganlah anda terlalu sering meninggalkan dirinya dan rumah.

36. Yang lalu biarlah berlalu dan jangan suka mengungkit-ungkit kesalahan yang telah berlalu.
37. Jangan memberikan peluang kepada orang lain untuk mencampuri urusan rumah tangga anda.
38. Jauhi motivasi yang buruk tatkala menikah.
39. Jagalah kesehatannya secara intensif.
40. Ajaklah isteri anda ke dalam kebahagiaan anda.

41. Kirimlah surat kepadanya apabila anda jauh darinya.
42. Jelas dan tidak tergesa-gesa apabila anda meminta sesuatu padanya sehingga dia faham dan tidak bingung dengan apa yang anda inginkan.
43. Maklumilah kecemburuannya dan maafkanlah.
44. Bantulah dirinya di dalam menghadapi persoalan-persoalan yang menyusahkan dan membosankan.
45. Ikutilah petunjuk Islam ketika isteri anda berpaling.

46. Jangan menganggap diri anda selalu benar.
47. Mengikuti petunjuk Islam tatkala melakukan hubungan intim.
48. Tidak mendatangi isteri dari dubur atau tatkala haidh.
49. Menjaganya dari pandangan-pandangan jahat manusia.
50. Memberinya anggaran khusus selain biaya hidup sehari-hari.

51. Nikmatilah nikmatnya lupa terutama yang berkaitan dengan musibahmusibah yang menyedihkan, kesalahan-kesalahan dan perilaku isteri di masa lalu.
52. Janganlah anda menunggu-nunggu mukjizat, karena isteri anda adalah unik dengan karakternya dan janganlah anda memaksanya berubah sekehendak anda.

Terimalah dirinya apa adanya, tutuplah mata dari kelemahankelemahannya dan bukalah mata dari kelebihan-kelebihannya.

Insya Allah isteri anda akan semakin mencintai anda.


Sumber :

Kiat-kiat disayang isteri, Pustaka al-Sofwa, pent.

Akhyar ash-Shidiq Muhsin, Lc.,

Editor :
أُسْتَاذُ Abu Asma Kholid Syamhudi Al Bantani, Lc - حفظه الله
Judul Asli : Kayfa Taj’al Zawjataka Tuhibbuka
♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥