Kabar Gembira
✏ oleh: Ustadz Badrusalam, Lc حفظه الله تعالى
Rabb kita berfirman..
Hai orang orang yang beriman..
siapa saja diantara kamu yang murtad..
maka Allah akan mendatangkan kaum yang lain..
yang Allah cintai mereka..
dan merekapun mencintai Allah..
surat Al Maidah: 54..
renungkanlah ayat ini..
Syaikhul Islam ibnu Taimiyah menyebutkan..
bahwa ayat ini mengandung kabar gembira..
setiap kali ada yang murtad..
maka akan ada kaum lain yang mencintai Allah..
subhanallah..
ketika di indonesia banyak yang murtad..
di barat sana banyak yang masuk islam..
memang itu sudah janji Allah..
ketika Dia berfirman..
Mereka ingin memadamkan cahaya Allah dengan mulut mulut mereka..
namun Allah enggan kecuali untuk menyempurnakan cahayaNya..
walupun orang orang kafir itu tidak menyukainya..
bagimu segala puji ya Rabb..
¤¤(*)¤¤
Tampilkan postingan dengan label أُسْتَاذُ Abu Yahya Badrusalam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label أُسْتَاذُ Abu Yahya Badrusalam. Tampilkan semua postingan
Minggu, 14 Juni 2015
Senin, 08 Juni 2015
Resume Kajian Tafsir Ayat-Ayat Puasa
Resume Kajian Tafsir Ayat-Ayat Puasa (Bagian pertama)
-----------------------------------------
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
"Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa." (QS al-Baqarah : 183)
Yaa ayyuhalladziina aamanuu. Panggilan "Hai orang-orang yang beriman" biasanya menunjukkan adanya perintah atau larangan. Berkata Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu :
إِذَا سَمِعْتَ اللَّهَ يَقُولُ {يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا} فَأَرْعِهَا سَمْعك، فَإِنَّهُ خَيْرٌ يَأْمُرُ بِهِ أَوْ شَرٌّ يَنْهَى عَنْهُ
"Jika engkau mendengar Allah berfirman 'Hai orang-orang yang beriman' maka persiapkanlah pendengaranmu, maka sesungguhnya ia adalah kebaikan yang diperintahkan dengannya atau keburukan yang dilarang atasnya" (Tafsir Ibnu Katsir 1/374)
Dan perintah berpuasa disini membutuhkan keimanan. Meski di depan kita ada makanan dan minuman, kita tidak menyentuhnya karena adanya keimanan. Juga karena keimanan, kita meyakini Allah mengetahui segala apa yang kita lakukan.
Kutiba 'alaikum ash-shiyaam. Kutiba = dituliskan, disini bermakna diwajibkan. Diwajibkan atas kalian berpuasa.
Shiyam /shaum dari kata صام - يصوم - صوما وصياما (shoma yashumu shouman wa shiyaman) secara bahasa menahan diri.
Adapun secara istilah menahan diri dari segala sesuatu yang bisa membatalkan puasa dari terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari disertai dengan niat.
Yang membatalkan puasa :
1. Makan dan minum dengan sengaja
2. Bersetubuh, membutuhkan kafarat.
3. Haid dan nifas
4. Muntah dengan sengaja (muntah dengan tidak sengaja, tidak membatalkan)
Selain di atas, ada perkara yang diperselisihkan apakah membatalkan puasa atau tidak :
- Istimna' / onani, apakah sama dengan bersetubuh atau tidak. Sebagian berpendapat sama, sebagian berpendapat tidak sama dengan bersetubuh karena tidak ada dalil yang menunjukkan istimna' membatalkan puasa. Sebab jika diqiyaskan dengan bersetubuh maka kafaratnya sama dengan memberi makan 60 fakir miskin, dan tidak ada ulama yang berpendapat demikian. Syaikh Albani mengatakan istimna' tidak membatalkan puasa meski pelakunya berdosa.
- masalah suntikan, pendapat yang paling kuat boleh selama tidak memberi makan kepada tubuh.
Keutamaan puasa dalam Islam, disebutkan dalam hadits-hadits berikut :
الصِّيَامُ جُنَّةٌ فَإِذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ أَحَدِكُمْ فَلَا يَرْفُثْ وَلَا يَصْخَبْ
"Puasa itu tameng, maka apabila salah seorang di antara kalian berpuasa janganlah berkata kotor dan berteriak-teriak." (Shahih. HR. An-Nasa'i no. 2216) Hadits ini mengajarkan adab dalam berpuasa yakni menjaga lidah.
كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ الْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِ مِائَةِ ضِعْفٍ مَا شَاءَ اللَّهُ يَقُولُ اللَّهُ إِلَّا الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ يَدَعُ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ مِنْ أَجْلِي لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ فَرْحَةٌ عِنْدَ فِطْرِهِ وَفَرْحَةٌ عِنْدَ لِقَاءِ رَبِّهِ وَلَخُلُوفُ فَمِ الصَّائِمِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ
"Setiap amal (kebaikan) manusia akan dilipatgandakan, satu kebaikan dibalas dengan sepuluh kebaikan yang sama hingga tujuh ratus kali lipat sesuai kehendak Allah. Allah berfirman, "Kecuali puasa, sesungguhnya puasa itu untuk-Ku, Aku lah yang akan membalasnya, ia meninggalkan syahwat dan makannya karena-Ku.' Bagi orang yang berpuasa di beri dua kegembiraan: kegembiraan saat berbuka puasa, dan kegembiraan saat berjumpa Tuhannya, sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih wangi di sisi Allah daripada aroma wangi misik." (Shahih. HR. Ibnu Majah no. 1335)
Kamaa kutiba 'alalladzina min qablikum : sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian, yakni yahudi dan nasrani. Sebelum ramadhan diwajibkan, Allah mewajibkan puasa 3 hari setiap bulan ditambah puasa asyura. Setelah diwajibkan puasa Ramadhan maka puasa sebelumnya menjadi sunnah.
La'allakum tattaquun : agar kalian bertakwa, inilah target puasa.
Tanda puasa diterima adalah puasanya menghasilkan ketakwaan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala
------------------------------
أَيَّامًا مَعْدُودَاتٍ ۚ فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ ۚ وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ ۖ فَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَهُ ۚ وَأَنْ تَصُومُوا خَيْرٌ لَكُمْ ۖ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ
"(yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka barangsiapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui." (QS. al-Baqarah : 184)
Ayyaaman ma'duudaat : hari-hari yang terhitung (Allah tidak mengatakan hari-hari yang banyak) agar jiwa kita tidak merasa berat.
Faman kaana mariidhan : Siapa diantara kalian yang sakit. Ibnu Hazm berpendapat segala sakit meski ringan, jumhur berpendapat adalah sakit yang apabila kita berpuasa akan menimbulkan kepayahan
Au 'ala safarin : atau dalam perjalanan, jika menimbulkan masyaqqah (kesulitan). Dalam hal ini diperselisihkan apakah musafir itu lebih baik berpuasa atau tidak, sehingga terbagi dalam beberapa pendapat :
1. Berpuasa lebih utama, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan para sahabat pernah keluar pada hari yang panas di bulan Ramadhan, dan tidak ada yang berpuasa kecuali Rasulullah dan Abdullah bin Rawahah (lihat Shahih Muslim no. 1122)
2. Tidak berpuasa lebih utama. Berdasarkan hadits, tidak termasuk kebaikan, berpuasa ketika safar, juga karena itu rukhshoh.
3. Wajib berbuka, pendapat Ibnu hazm. Dalilnya juga sama dengan hadits sebelumnya.
4. Dan ini pendapat yang rajih, dilihat keadaanya. Bila tidak melelahkan lebih baik berpuasa, bila melelahkan lebih baik berbuka. Dalilnya dengan melihat sebab hadits sebelumnya. Dari Jabir bin Abdullah radhiyallahu 'anhu :
قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فِي سَفَرٍ، فَرَأَى زِحَامًا، وَرَجُلاً قَدْ ظُلِّلَ عَلَيْهِ، فَقَالَ " مَا هَذَا ". فَقَالُوا صَائِمٌ. فَقَالَ " لَيْسَ مِنَ الْبِرِّ الصَّوْمُ فِي السَّفَرِ
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah dalam suatu perjalanan melihat kerumunan orang, yang diantaranya ada seseorang yang sedang dipayungi. Beliau bertanya: "Ada apa ini?" Mereka menjawab: "Orang ini sedang berpuasa". Maka Beliau bersabda: "Tidak termasuk kebajikan berpuasa dalam perjalanan". (HR. al-Bukhari no. 1946)
Fa 'iddatun min ayyaamin ukhar. Dalam ayat ini, Allah menyebut yang wajib qadha' : 1) orang yang sakit dan 2) orang yang safar. Dan dalam hadits, Nabi menambahkan : 3) wanita yang haid, dan diqiyaskan juga padanya 4) wanita yang nifas.
Wa 'alalladzina yuthiiquunahu fidyatun tho'aamun miskiin : dan orang yang tidak mampu berpuasa maka atas mereka membayar fidyah, memberi makan kepada fakir miskin. Menurut Ibnu Abbas yang membayar fidyah : orang tua renta yang tidak mampu berpuasa, orang sakit yang tidak diharapkan kesembuhannya, wanita hamil dan menyusui. Wanita hamil dan menyusui tidak wajib qadha' karena tidak ada dalil. Ada juga pendapat lain : wajib qadha dan membayar fidyah, namun pendapat ini tidak tepat karena wanita hamil dan menyusui bukan orang sakit.
Fidyatun tho'aamun miskiin : Fidyah bukan dengan uang, tapi dengan makanan. Ukurannya setengah sha' (1 sha = 1,5 liter beras)
Faman tathowa'a khairan fahuwa khairun lahu, dan siapa yang mampu melakukan lebih dari itu maka itu lebih baik baginya. Misal membayarnya setiap hari 1 sha' maka itu lebih baik. Cara membayar fidyah :
1. Di setiap hari yang ditinggalkan.
2. Dengan mengumpulkan hari yang ditinggalkan dan mengundang fakir miskin sejumlah hari yang ditinggalkan untuk makan sepuasnya, sebagaimana dilakukann Anas bin Malik.
Wa an tashumuu khairun lakum in kuntum ta'lamuun. dan kalian berpuasa maka itu lebih baik bagimu (jika ada pilihan berpuasa atau tidak) jika kalian mengetahuinya. di awal-awal Islam, puasa tidak diwajibkan sehingga diberikan pilihan puasa atau tidak, dan ketika manusia sudah terlatih maka Allah wajibkan berpuasa.
(bersambung)
------------------------
Dari kajian pengganti Shahihul Jami' yang tetap disampaikan oleh ustadz Badrusalam hafizhahullah, Sabtu malam, 6 Juni 2015 di Muadz bin Jabal.
📚 WA Mu'adz bin Jabal 📚
Resume Kajian Tafsir Ayat-Ayat Puasa (Bagian terakhir)
--------------------
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
"(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur." (QS. al-Baqarah : 185)
Syahru ramadhaanalladzii unzila fiihil-qur'an. Allah menyebutkan keutamaan ramadhan sebagai bulan turunnya al-Qur'an, yakni yang tepatnya di malam lailatul qadr, di malam itu Allah mentakdirkan takdir setahun penuh (takdir samawi). Dalam hadits hasan riwayat at-Tirmidzi no. 682, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menyebutkan keutamaan Ramadhan :
إِذَا كَانَ أَوَّلُ لَيْلَةٍ مِنْ شَهْرِ رَمَضَانَ صُفِّدَتِ الشَّيَاطِينُ، وَمَرَدَةُ الجِنِّ، وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ، فَلَمْ يُفْتَحْ مِنْهَا بَابٌ، وَفُتِّحَتْ أَبْوَابُ الجَنَّةِ، فَلَمْ يُغْلَقْ مِنْهَا بَابٌ، وَيُنَادِي مُنَادٍ: يَا بَاغِيَ الخَيْرِ أَقْبِلْ، وَيَا بَاغِيَ الشَّرِّ أَقْصِرْ، وَلِلَّهِ عُتَقَاءُ مِنَ النَّارِ، وَذَلكَ كُلُّ لَيْلَةٍ.
"Apabila tiba awal malam bulan Ramadhan, maka syetan-syetan dan jin yang durhaka dibelenggu, pintu-pintu neraka ditutup, tidak ada satu pintupun yang dibuka, pintu-pintu surga dibuka dan tidak ada satupintupun yang ditutup, lalu (malaikat) penyeru menyerukan, "Wahai orang yang menghendaki kebaikan, datanglah. Wahai orang yang menghendaki kejelekan, berhentilah. Allah juga mempunyai pembebas-pembebas dari neraka. Hal itu (terjadi) pada tiap malam."
Akhir hadits ini menunjukkan kelemahan hadits yang membagi Ramadhan terbagi tiga (.... awwaluhu rahmah, ausatuhu maghfirah, akhiruhu itqun minannaar - HR. Ibnu Khuzaiman no. 1887; hadits munkar karena di dalamnya ada perawi yang disepakati kelemahannya : Ali bin Zaid bin Jud'an)
Unzila fiihil-Qur'an, bulan diturunkannya Al-Qur’an, ini isyarat anjuran banyak membaca al-Qur'an. Rasulullah tiap malam bertemu malaikat Jibril di bulan Ramadhan untuk tadarus al-Qur'an. Para shahabat dan tabi'in begitu gemar membaca al-qur'an. Sampai imam Malik meliburkan kajian haditsnya di bulan Ramadhan untuk fokus pada al-qur'an, juga imam asy-Syafi'i mengkhatamkan setiap hari di bulan Ramadhan. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda :
الصِّيَامُ وَالْقُرْآنُ يَشْفَعَانِ لِلْعَبْدِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، يَقُولُ الصِّيَامُ: أَيْ رَبِّ، مَنَعْتُهُ الطَّعَامَ وَالشَّهَوَاتِ بِالنَّهَارِ، فَشَفِّعْنِي فِيهِ، وَيَقُولُ الْقُرْآنُ: مَنَعْتُهُ النَّوْمَ بِاللَّيْلِ، فَشَفِّعْنِي فِيهِ "، قَالَ: " فَيُشَفَّعَانِ
“Puasa dan al-Qqur'an memberi syafaat kepada hamba pada hari kiamat. Puasa berkata : “Yaa Rabbi, saya menahan dia dari makan dan syahwatnya di siang hari, maka berilah kepadaku syafa’at untuknya”. Aal-Qur’an berkata : “Saya menahannya dari tidur di malam hari maka berilah kepadaku syafa’at untuknya”. Maka keduanyapun memberi syafaat. ( Shahih. HR. Ahmad no. 6626, Shahihul Jami' no. 3882)
Hudan linnas, sebagai hidayah bagi manusia. Dalam Al-Baqarah ayat 1 : Hudan lil muttaqin. Tidak bertabrakan kedua ayat ini , karena al-Qur'an itu hidayah bagi manusia, dan setiap manusia mau menerima al-Qur'an kecuali orang-orang yang bertakwa.
Wal furqan, sebagai al-Furqan, pembeda yang haq dan yang bathil
Faman syahida minkumusy-syahra falyasumhu, barangsiapa diantara kalian yang menyaksikan bulan maka hendaknya berpuasa. Sebagaimana hadits riwayat al-Bukhari dan Muslim :
صُومُوا لِرُؤْيَتِهِ، وَأَفْطِرُوا لِرُؤْيَتِهِ
"Berpuasalah kalian dengan melihatnya (hilal) dan berbukalah dengan melihatnya pula."
Para ulama sepakat penentuan bulan Ramadhan dengan melihat hilal. Menurut Ibnu Taimiyah, orang yang berpuasa dengan hisab semata : ahli bid'ah.
Jumhur berpendapat menentukan masuknya Ramadhan cukup 1 orang yang menyaksikan (hadits riwayat Ibnu Umar) dan apabila keluar Ramadhan 2 orang
Menyaksikan syahr/bulan. Hilal disebut bulan (syahr) karena masuknya bulan itu masyhur.
Apabila ada orang melihat hilal sendirian namun ditolak qadhi, maka ada dua pendapat :
1) tetap berpuasa walaupun sendirian.
2) mengikut keputusan qadhi (pendapat syaikhul Islam dan lainnya). sebagaimana disebutkan di sebuah hadits shahih dalam sunan at-Tirmidzi no. 697 :
الصَّوْمُ يَوْمَ تَصُومُونَ وَالْفِطْرُ يَوْمَ تُفْطِرُونَ وَالْأَضْحَى يَوْمَ تُضَحُّونَ
"Puasa (Ramadhan) adalah hari kamu berpuasa, Idul Fitri adalah hari kamu berbuka, dan Idul Adha adalah hari kamu menyembelih hewan Kurban." at-Tirmidzi setelah membawakan hadits ini berkata : Sebagian ahli ilmu menafsirkan hadits ini, yang dimaksud hadits ini adalah berpuasa dan ber-idul fitri bersama jama'ah.
Menurut Ibnu Taimiyah, dalam hal ini ada 2 faedah :
1. Yang menyaksikan bulan lalu ditolak pemerintah wajib mengikuti keputusan pemerintah, tidak boleh puasa sendirian
2. Yang berhak menentukan kapan puasa adalah pemimpin, tidak boleh organisasi/individu.
Bila pemerintah salah, maka kata Ibnu Taimiyah tidak ada bedanya dengan imam shalat, bila imam salah maka dosanya baginya sendiri dan makmum tetap berpahala.
Setelah ayat ini diturunkan puasa Ramadhan menjadi wajib, setelah sebelumnya diberikan pilihan berpuasa atau tidak (lihat ayat sebelumnya)
Wa man kaana mariidhan au 'alaa safarin fa'iddatun min ayyaamin ukhar. Bagi yang sakit dan safar wajib mengqadha' di hari yang lain. Bagi yang sebelumnya pernah tidak puasa dengan berpuasa maka hendaknya bertaubat, tidak ada dalilnya mengqadha'.
Yuriidullahu bikumul-yusra walaa yuriidu bikumul-'usra. Allah menginkan kalian kemudahan dan tidak menginginkan kesulitan. Ini menunjukkan iradah syar'iyah Allah yang menginginkan kemudahan. Syari'at Islam ini mudah. Dalam Shahih , Rasulullah bersabda :
إِنَّ الدِّينَ يُسْرٌ
"Sesungguhnya agama ini mudah." (HR. al-Bukhari no. 39)
Walitukmiluul'iddah, dan hendaklah kalian menyempurnakan bilangannya.
Walitukabbiruullah, agar kalian bertakbir, membesarkan Allah. Imam asy-Syafi'i menjadikan dalil bahwa bertakbir pada malam bulan Ramadhan (juga pendapat Ibnu Taimiyah). Sebagian yang lain berpendapat takbiran dimulai saat pagi hari keluar rumah dengan berdasarkan hadits bahwa Rasulullah keluar dan bertakbir di pagi hari, hanya saja sanad hadits ini mudhtarib/guncang. Karena tidak ada dalil yang shahih, tidak boleh saling mengingkari di antara dua pendapat tersebut.
Allahu a'lam
------------------------
Dari kajian pengganti Shahihul Jami' yang tetap disampaikan oleh ustadz Badrusalam hafizhahullah, Sabtu malam, 6 Juni 2015 di Muadz bin Jabal.
📚 WA Mu'adz bin Jabal 📚
¤¤(*)¤¤
-----------------------------------------
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
"Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa." (QS al-Baqarah : 183)
Yaa ayyuhalladziina aamanuu. Panggilan "Hai orang-orang yang beriman" biasanya menunjukkan adanya perintah atau larangan. Berkata Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu :
إِذَا سَمِعْتَ اللَّهَ يَقُولُ {يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا} فَأَرْعِهَا سَمْعك، فَإِنَّهُ خَيْرٌ يَأْمُرُ بِهِ أَوْ شَرٌّ يَنْهَى عَنْهُ
"Jika engkau mendengar Allah berfirman 'Hai orang-orang yang beriman' maka persiapkanlah pendengaranmu, maka sesungguhnya ia adalah kebaikan yang diperintahkan dengannya atau keburukan yang dilarang atasnya" (Tafsir Ibnu Katsir 1/374)
Dan perintah berpuasa disini membutuhkan keimanan. Meski di depan kita ada makanan dan minuman, kita tidak menyentuhnya karena adanya keimanan. Juga karena keimanan, kita meyakini Allah mengetahui segala apa yang kita lakukan.
Kutiba 'alaikum ash-shiyaam. Kutiba = dituliskan, disini bermakna diwajibkan. Diwajibkan atas kalian berpuasa.
Shiyam /shaum dari kata صام - يصوم - صوما وصياما (shoma yashumu shouman wa shiyaman) secara bahasa menahan diri.
Adapun secara istilah menahan diri dari segala sesuatu yang bisa membatalkan puasa dari terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari disertai dengan niat.
Yang membatalkan puasa :
1. Makan dan minum dengan sengaja
2. Bersetubuh, membutuhkan kafarat.
3. Haid dan nifas
4. Muntah dengan sengaja (muntah dengan tidak sengaja, tidak membatalkan)
Selain di atas, ada perkara yang diperselisihkan apakah membatalkan puasa atau tidak :
- Istimna' / onani, apakah sama dengan bersetubuh atau tidak. Sebagian berpendapat sama, sebagian berpendapat tidak sama dengan bersetubuh karena tidak ada dalil yang menunjukkan istimna' membatalkan puasa. Sebab jika diqiyaskan dengan bersetubuh maka kafaratnya sama dengan memberi makan 60 fakir miskin, dan tidak ada ulama yang berpendapat demikian. Syaikh Albani mengatakan istimna' tidak membatalkan puasa meski pelakunya berdosa.
- masalah suntikan, pendapat yang paling kuat boleh selama tidak memberi makan kepada tubuh.
Keutamaan puasa dalam Islam, disebutkan dalam hadits-hadits berikut :
الصِّيَامُ جُنَّةٌ فَإِذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ أَحَدِكُمْ فَلَا يَرْفُثْ وَلَا يَصْخَبْ
"Puasa itu tameng, maka apabila salah seorang di antara kalian berpuasa janganlah berkata kotor dan berteriak-teriak." (Shahih. HR. An-Nasa'i no. 2216) Hadits ini mengajarkan adab dalam berpuasa yakni menjaga lidah.
كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ الْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِ مِائَةِ ضِعْفٍ مَا شَاءَ اللَّهُ يَقُولُ اللَّهُ إِلَّا الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ يَدَعُ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ مِنْ أَجْلِي لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ فَرْحَةٌ عِنْدَ فِطْرِهِ وَفَرْحَةٌ عِنْدَ لِقَاءِ رَبِّهِ وَلَخُلُوفُ فَمِ الصَّائِمِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ
"Setiap amal (kebaikan) manusia akan dilipatgandakan, satu kebaikan dibalas dengan sepuluh kebaikan yang sama hingga tujuh ratus kali lipat sesuai kehendak Allah. Allah berfirman, "Kecuali puasa, sesungguhnya puasa itu untuk-Ku, Aku lah yang akan membalasnya, ia meninggalkan syahwat dan makannya karena-Ku.' Bagi orang yang berpuasa di beri dua kegembiraan: kegembiraan saat berbuka puasa, dan kegembiraan saat berjumpa Tuhannya, sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih wangi di sisi Allah daripada aroma wangi misik." (Shahih. HR. Ibnu Majah no. 1335)
Kamaa kutiba 'alalladzina min qablikum : sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian, yakni yahudi dan nasrani. Sebelum ramadhan diwajibkan, Allah mewajibkan puasa 3 hari setiap bulan ditambah puasa asyura. Setelah diwajibkan puasa Ramadhan maka puasa sebelumnya menjadi sunnah.
La'allakum tattaquun : agar kalian bertakwa, inilah target puasa.
Tanda puasa diterima adalah puasanya menghasilkan ketakwaan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala
------------------------------
أَيَّامًا مَعْدُودَاتٍ ۚ فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ ۚ وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ ۖ فَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَهُ ۚ وَأَنْ تَصُومُوا خَيْرٌ لَكُمْ ۖ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ
"(yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka barangsiapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui." (QS. al-Baqarah : 184)
Ayyaaman ma'duudaat : hari-hari yang terhitung (Allah tidak mengatakan hari-hari yang banyak) agar jiwa kita tidak merasa berat.
Faman kaana mariidhan : Siapa diantara kalian yang sakit. Ibnu Hazm berpendapat segala sakit meski ringan, jumhur berpendapat adalah sakit yang apabila kita berpuasa akan menimbulkan kepayahan
Au 'ala safarin : atau dalam perjalanan, jika menimbulkan masyaqqah (kesulitan). Dalam hal ini diperselisihkan apakah musafir itu lebih baik berpuasa atau tidak, sehingga terbagi dalam beberapa pendapat :
1. Berpuasa lebih utama, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan para sahabat pernah keluar pada hari yang panas di bulan Ramadhan, dan tidak ada yang berpuasa kecuali Rasulullah dan Abdullah bin Rawahah (lihat Shahih Muslim no. 1122)
2. Tidak berpuasa lebih utama. Berdasarkan hadits, tidak termasuk kebaikan, berpuasa ketika safar, juga karena itu rukhshoh.
3. Wajib berbuka, pendapat Ibnu hazm. Dalilnya juga sama dengan hadits sebelumnya.
4. Dan ini pendapat yang rajih, dilihat keadaanya. Bila tidak melelahkan lebih baik berpuasa, bila melelahkan lebih baik berbuka. Dalilnya dengan melihat sebab hadits sebelumnya. Dari Jabir bin Abdullah radhiyallahu 'anhu :
قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فِي سَفَرٍ، فَرَأَى زِحَامًا، وَرَجُلاً قَدْ ظُلِّلَ عَلَيْهِ، فَقَالَ " مَا هَذَا ". فَقَالُوا صَائِمٌ. فَقَالَ " لَيْسَ مِنَ الْبِرِّ الصَّوْمُ فِي السَّفَرِ
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah dalam suatu perjalanan melihat kerumunan orang, yang diantaranya ada seseorang yang sedang dipayungi. Beliau bertanya: "Ada apa ini?" Mereka menjawab: "Orang ini sedang berpuasa". Maka Beliau bersabda: "Tidak termasuk kebajikan berpuasa dalam perjalanan". (HR. al-Bukhari no. 1946)
Fa 'iddatun min ayyaamin ukhar. Dalam ayat ini, Allah menyebut yang wajib qadha' : 1) orang yang sakit dan 2) orang yang safar. Dan dalam hadits, Nabi menambahkan : 3) wanita yang haid, dan diqiyaskan juga padanya 4) wanita yang nifas.
Wa 'alalladzina yuthiiquunahu fidyatun tho'aamun miskiin : dan orang yang tidak mampu berpuasa maka atas mereka membayar fidyah, memberi makan kepada fakir miskin. Menurut Ibnu Abbas yang membayar fidyah : orang tua renta yang tidak mampu berpuasa, orang sakit yang tidak diharapkan kesembuhannya, wanita hamil dan menyusui. Wanita hamil dan menyusui tidak wajib qadha' karena tidak ada dalil. Ada juga pendapat lain : wajib qadha dan membayar fidyah, namun pendapat ini tidak tepat karena wanita hamil dan menyusui bukan orang sakit.
Fidyatun tho'aamun miskiin : Fidyah bukan dengan uang, tapi dengan makanan. Ukurannya setengah sha' (1 sha = 1,5 liter beras)
Faman tathowa'a khairan fahuwa khairun lahu, dan siapa yang mampu melakukan lebih dari itu maka itu lebih baik baginya. Misal membayarnya setiap hari 1 sha' maka itu lebih baik. Cara membayar fidyah :
1. Di setiap hari yang ditinggalkan.
2. Dengan mengumpulkan hari yang ditinggalkan dan mengundang fakir miskin sejumlah hari yang ditinggalkan untuk makan sepuasnya, sebagaimana dilakukann Anas bin Malik.
Wa an tashumuu khairun lakum in kuntum ta'lamuun. dan kalian berpuasa maka itu lebih baik bagimu (jika ada pilihan berpuasa atau tidak) jika kalian mengetahuinya. di awal-awal Islam, puasa tidak diwajibkan sehingga diberikan pilihan puasa atau tidak, dan ketika manusia sudah terlatih maka Allah wajibkan berpuasa.
(bersambung)
------------------------
Dari kajian pengganti Shahihul Jami' yang tetap disampaikan oleh ustadz Badrusalam hafizhahullah, Sabtu malam, 6 Juni 2015 di Muadz bin Jabal.
📚 WA Mu'adz bin Jabal 📚
Resume Kajian Tafsir Ayat-Ayat Puasa (Bagian terakhir)
--------------------
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
"(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur." (QS. al-Baqarah : 185)
Syahru ramadhaanalladzii unzila fiihil-qur'an. Allah menyebutkan keutamaan ramadhan sebagai bulan turunnya al-Qur'an, yakni yang tepatnya di malam lailatul qadr, di malam itu Allah mentakdirkan takdir setahun penuh (takdir samawi). Dalam hadits hasan riwayat at-Tirmidzi no. 682, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menyebutkan keutamaan Ramadhan :
إِذَا كَانَ أَوَّلُ لَيْلَةٍ مِنْ شَهْرِ رَمَضَانَ صُفِّدَتِ الشَّيَاطِينُ، وَمَرَدَةُ الجِنِّ، وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ، فَلَمْ يُفْتَحْ مِنْهَا بَابٌ، وَفُتِّحَتْ أَبْوَابُ الجَنَّةِ، فَلَمْ يُغْلَقْ مِنْهَا بَابٌ، وَيُنَادِي مُنَادٍ: يَا بَاغِيَ الخَيْرِ أَقْبِلْ، وَيَا بَاغِيَ الشَّرِّ أَقْصِرْ، وَلِلَّهِ عُتَقَاءُ مِنَ النَّارِ، وَذَلكَ كُلُّ لَيْلَةٍ.
"Apabila tiba awal malam bulan Ramadhan, maka syetan-syetan dan jin yang durhaka dibelenggu, pintu-pintu neraka ditutup, tidak ada satu pintupun yang dibuka, pintu-pintu surga dibuka dan tidak ada satupintupun yang ditutup, lalu (malaikat) penyeru menyerukan, "Wahai orang yang menghendaki kebaikan, datanglah. Wahai orang yang menghendaki kejelekan, berhentilah. Allah juga mempunyai pembebas-pembebas dari neraka. Hal itu (terjadi) pada tiap malam."
Akhir hadits ini menunjukkan kelemahan hadits yang membagi Ramadhan terbagi tiga (.... awwaluhu rahmah, ausatuhu maghfirah, akhiruhu itqun minannaar - HR. Ibnu Khuzaiman no. 1887; hadits munkar karena di dalamnya ada perawi yang disepakati kelemahannya : Ali bin Zaid bin Jud'an)
Unzila fiihil-Qur'an, bulan diturunkannya Al-Qur’an, ini isyarat anjuran banyak membaca al-Qur'an. Rasulullah tiap malam bertemu malaikat Jibril di bulan Ramadhan untuk tadarus al-Qur'an. Para shahabat dan tabi'in begitu gemar membaca al-qur'an. Sampai imam Malik meliburkan kajian haditsnya di bulan Ramadhan untuk fokus pada al-qur'an, juga imam asy-Syafi'i mengkhatamkan setiap hari di bulan Ramadhan. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda :
الصِّيَامُ وَالْقُرْآنُ يَشْفَعَانِ لِلْعَبْدِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، يَقُولُ الصِّيَامُ: أَيْ رَبِّ، مَنَعْتُهُ الطَّعَامَ وَالشَّهَوَاتِ بِالنَّهَارِ، فَشَفِّعْنِي فِيهِ، وَيَقُولُ الْقُرْآنُ: مَنَعْتُهُ النَّوْمَ بِاللَّيْلِ، فَشَفِّعْنِي فِيهِ "، قَالَ: " فَيُشَفَّعَانِ
“Puasa dan al-Qqur'an memberi syafaat kepada hamba pada hari kiamat. Puasa berkata : “Yaa Rabbi, saya menahan dia dari makan dan syahwatnya di siang hari, maka berilah kepadaku syafa’at untuknya”. Aal-Qur’an berkata : “Saya menahannya dari tidur di malam hari maka berilah kepadaku syafa’at untuknya”. Maka keduanyapun memberi syafaat. ( Shahih. HR. Ahmad no. 6626, Shahihul Jami' no. 3882)
Hudan linnas, sebagai hidayah bagi manusia. Dalam Al-Baqarah ayat 1 : Hudan lil muttaqin. Tidak bertabrakan kedua ayat ini , karena al-Qur'an itu hidayah bagi manusia, dan setiap manusia mau menerima al-Qur'an kecuali orang-orang yang bertakwa.
Wal furqan, sebagai al-Furqan, pembeda yang haq dan yang bathil
Faman syahida minkumusy-syahra falyasumhu, barangsiapa diantara kalian yang menyaksikan bulan maka hendaknya berpuasa. Sebagaimana hadits riwayat al-Bukhari dan Muslim :
صُومُوا لِرُؤْيَتِهِ، وَأَفْطِرُوا لِرُؤْيَتِهِ
"Berpuasalah kalian dengan melihatnya (hilal) dan berbukalah dengan melihatnya pula."
Para ulama sepakat penentuan bulan Ramadhan dengan melihat hilal. Menurut Ibnu Taimiyah, orang yang berpuasa dengan hisab semata : ahli bid'ah.
Jumhur berpendapat menentukan masuknya Ramadhan cukup 1 orang yang menyaksikan (hadits riwayat Ibnu Umar) dan apabila keluar Ramadhan 2 orang
Menyaksikan syahr/bulan. Hilal disebut bulan (syahr) karena masuknya bulan itu masyhur.
Apabila ada orang melihat hilal sendirian namun ditolak qadhi, maka ada dua pendapat :
1) tetap berpuasa walaupun sendirian.
2) mengikut keputusan qadhi (pendapat syaikhul Islam dan lainnya). sebagaimana disebutkan di sebuah hadits shahih dalam sunan at-Tirmidzi no. 697 :
الصَّوْمُ يَوْمَ تَصُومُونَ وَالْفِطْرُ يَوْمَ تُفْطِرُونَ وَالْأَضْحَى يَوْمَ تُضَحُّونَ
"Puasa (Ramadhan) adalah hari kamu berpuasa, Idul Fitri adalah hari kamu berbuka, dan Idul Adha adalah hari kamu menyembelih hewan Kurban." at-Tirmidzi setelah membawakan hadits ini berkata : Sebagian ahli ilmu menafsirkan hadits ini, yang dimaksud hadits ini adalah berpuasa dan ber-idul fitri bersama jama'ah.
Menurut Ibnu Taimiyah, dalam hal ini ada 2 faedah :
1. Yang menyaksikan bulan lalu ditolak pemerintah wajib mengikuti keputusan pemerintah, tidak boleh puasa sendirian
2. Yang berhak menentukan kapan puasa adalah pemimpin, tidak boleh organisasi/individu.
Bila pemerintah salah, maka kata Ibnu Taimiyah tidak ada bedanya dengan imam shalat, bila imam salah maka dosanya baginya sendiri dan makmum tetap berpahala.
Setelah ayat ini diturunkan puasa Ramadhan menjadi wajib, setelah sebelumnya diberikan pilihan berpuasa atau tidak (lihat ayat sebelumnya)
Wa man kaana mariidhan au 'alaa safarin fa'iddatun min ayyaamin ukhar. Bagi yang sakit dan safar wajib mengqadha' di hari yang lain. Bagi yang sebelumnya pernah tidak puasa dengan berpuasa maka hendaknya bertaubat, tidak ada dalilnya mengqadha'.
Yuriidullahu bikumul-yusra walaa yuriidu bikumul-'usra. Allah menginkan kalian kemudahan dan tidak menginginkan kesulitan. Ini menunjukkan iradah syar'iyah Allah yang menginginkan kemudahan. Syari'at Islam ini mudah. Dalam Shahih , Rasulullah bersabda :
إِنَّ الدِّينَ يُسْرٌ
"Sesungguhnya agama ini mudah." (HR. al-Bukhari no. 39)
Walitukmiluul'iddah, dan hendaklah kalian menyempurnakan bilangannya.
Walitukabbiruullah, agar kalian bertakbir, membesarkan Allah. Imam asy-Syafi'i menjadikan dalil bahwa bertakbir pada malam bulan Ramadhan (juga pendapat Ibnu Taimiyah). Sebagian yang lain berpendapat takbiran dimulai saat pagi hari keluar rumah dengan berdasarkan hadits bahwa Rasulullah keluar dan bertakbir di pagi hari, hanya saja sanad hadits ini mudhtarib/guncang. Karena tidak ada dalil yang shahih, tidak boleh saling mengingkari di antara dua pendapat tersebut.
Allahu a'lam
------------------------
Dari kajian pengganti Shahihul Jami' yang tetap disampaikan oleh ustadz Badrusalam hafizhahullah, Sabtu malam, 6 Juni 2015 di Muadz bin Jabal.
📚 WA Mu'adz bin Jabal 📚
¤¤(*)¤¤
Senin, 23 Juni 2014
Siapkan Harta sebelum Ramadhan
:::Siapkan Harta sebelum Ramadhan:::
Sebelum memasuki bulan Ramadhan, kita persiapkan harta kita.
Untuk apa?
Untuk beli makanan buka puasa?
Tidak.
Untuk bikin kue lebaran?
Tidak.
Tapi untuk memperbanyak amalan shodaqah.
Dalam sebuah hadits, dari Ibnu 'Abbas radhiallâhu'anhu:
Rasulullah orang yang paling dermawan dan lebih dermawan di bulan Ramadhan.
(Al Hadits)
Mari kita berlomba lomba untuk shodaqah.
Tarhib Ramadhan
Ditulis oleh: أُسْتَاذُ Abu Yahya Badrusalam, Lc حفظه الله تعال
✽¸.•
•.¸✽¸•
•.¸✽¸•
•.¸✽¸.•
•.¸✽
Sebelum memasuki bulan Ramadhan, kita persiapkan harta kita.
Untuk apa?
Untuk beli makanan buka puasa?
Tidak.
Untuk bikin kue lebaran?
Tidak.
Tapi untuk memperbanyak amalan shodaqah.
Dalam sebuah hadits, dari Ibnu 'Abbas radhiallâhu'anhu:
Rasulullah orang yang paling dermawan dan lebih dermawan di bulan Ramadhan.
(Al Hadits)
Mari kita berlomba lomba untuk shodaqah.
Ditulis oleh: أُسْتَاذُ Abu Yahya Badrusalam, Lc حفظه الله تعال
✽¸.•
Jumat, 09 Mei 2014
Sepucuk Surat Untuk Sahabat
Sepucuk Surat Untuk Sahabat
Oleh: Ustadz Badrusalam, Lc ﺣﻔﻈﻪ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ
"Sahabat, dengarkanlah sejenak...
Diriwayatkan, bahwa: Apabila penghuni Surga telah masuk ke dalam Surga, lalu mereka tidak menemukan sahabat-sahabat mereka yang selalu bersama mereka dahulu di dunia, mereka bertanya tentang sahabat mereka itu kepada Allah Subhaanahu wa ta'ala..
"Yaa Rabb..
Kami tidak melihat sahabat-sahabat kami yang sewaktu di dunia, shalat bersama kami, puasa bersama kami dan berjuang bersama kami,"
Maka Allah subhanahu wa ta'ala berfirman:
"Pergilah ke neraka, lalu keluarkan sahabatmu yang di hatinya ada Iman walaupun hanya sebesar dzarrah." (HR. Ibnul Mubarak dalam kitab "Az-Zuhd")
Al-Hasan Al-Bashri berkata, "Perbanyaklah sahabat-sahabat Mu'min-mu, karena mereka memiliki Syafa'at pada hari kiamat."
Ibnul Jauzi pernah berpesan kepada sahabat-sahabatnya sambil menangis, "Jika kalian tidak menemukan aku nanti di Surga bersama kalian, maka bertanyalah kepada Allah ta'ala tentang aku,
"Wahai Rabb Kami..
Hamba-Mu fulan, sewaktu di dunia selalu mengingatkan kami tentang Engkau. Maka masukkanlah dia bersama kami di Surga-Mu."
Sahabatku..
Mudah-mudahan dengan ini, aku telah mengingatkanmu tentang Allah ta'ala ..Agar aku dapat besamamu kelak di Surga & meraih Ridha-Nya..
Aku memohon kepada-Mu.. Karuniakanlah kepadaku sahabat-sahabat yang selalu mengajakku untuk tunduk, patuh & taat kepada Syariat-Mu..
Kekalkanlah persahabatan kami hingga kami bertemu di akhirat nanti dengan-Mu..
Aamiin...
✽¸.•
•.¸✽¸•
•.¸✽¸•
•.¸✽¸.•
•.¸✽
Oleh: Ustadz Badrusalam, Lc ﺣﻔﻈﻪ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ
"Sahabat, dengarkanlah sejenak...
Diriwayatkan, bahwa: Apabila penghuni Surga telah masuk ke dalam Surga, lalu mereka tidak menemukan sahabat-sahabat mereka yang selalu bersama mereka dahulu di dunia, mereka bertanya tentang sahabat mereka itu kepada Allah Subhaanahu wa ta'ala..
"Yaa Rabb..
Kami tidak melihat sahabat-sahabat kami yang sewaktu di dunia, shalat bersama kami, puasa bersama kami dan berjuang bersama kami,"
Maka Allah subhanahu wa ta'ala berfirman:
"Pergilah ke neraka, lalu keluarkan sahabatmu yang di hatinya ada Iman walaupun hanya sebesar dzarrah." (HR. Ibnul Mubarak dalam kitab "Az-Zuhd")
Al-Hasan Al-Bashri berkata, "Perbanyaklah sahabat-sahabat Mu'min-mu, karena mereka memiliki Syafa'at pada hari kiamat."
Ibnul Jauzi pernah berpesan kepada sahabat-sahabatnya sambil menangis, "Jika kalian tidak menemukan aku nanti di Surga bersama kalian, maka bertanyalah kepada Allah ta'ala tentang aku,
"Wahai Rabb Kami..
Hamba-Mu fulan, sewaktu di dunia selalu mengingatkan kami tentang Engkau. Maka masukkanlah dia bersama kami di Surga-Mu."
Sahabatku..
Mudah-mudahan dengan ini, aku telah mengingatkanmu tentang Allah ta'ala ..Agar aku dapat besamamu kelak di Surga & meraih Ridha-Nya..
Aku memohon kepada-Mu.. Karuniakanlah kepadaku sahabat-sahabat yang selalu mengajakku untuk tunduk, patuh & taat kepada Syariat-Mu..
Kekalkanlah persahabatan kami hingga kami bertemu di akhirat nanti dengan-Mu..
Aamiin...
✽¸.•
Selasa, 06 Mei 2014
Qolbin Salim
Qolbin Salim
Tahukah Anda..
Keselamatan kita di hari akhirat..
Tergantung kepada keselamatan hati kita..
Allah Ta’ala berfirman yang artinya..
Pada hari tidak bermanfaat harta dan anak-anak..
Kecuali orang yang datang membawa hati yang selamat..
Asy Syu’ara ayat 88-89..
Bahan renungan dan introspeksi kita..
Selamatkah hati kita dari Syirik..
Selamatkah dari sombong dan ujub..
Selamatkah dari dengki dan hasad..
Selamatkah dari penyakit cinta
dunia..
Selamatkah dari mengutamakan hawa nafsu..
Dan seribu pertanyaan lainnya..
Cobalah tanyakan..
Selama ini, apakah kita lebih memperhatikan badan..
Ataukah keselamatan hati..
Pertanyaan yang sulit dijawab..
Bahkan mungkin dianggap remeh..
Padahal ia masalah besar..
Coba rasakan..
Ketika mendengar lantunan ayat ayat AL Qur’an..
Ketika berdzikir kepada Allah..
Ketika melakukan ketaatan..
Bila terasa gembira dan bahagia..
Bila terasa syahdu di dada..
Puji lah Allah..
Dan jika tidak demikian..
Ucapkan Inna lillaahi wa Inna ilaihi raji’un..
Karena cahaya iman telah mulai redup dalam hati kita..
Yaa Rabb..
Oleh: Ustadz Badrusalam, Lc ﺣﻔﻈﻪ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ
٭ ♌ ♧ ٭ ♌ ♧ ٭ ♌ ♧ ٭ ♌ ♧ ٭
Tahukah Anda..
Keselamatan kita di hari akhirat..
Tergantung kepada keselamatan hati kita..
Allah Ta’ala berfirman yang artinya..
Pada hari tidak bermanfaat harta dan anak-anak..
Kecuali orang yang datang membawa hati yang selamat..
Asy Syu’ara ayat 88-89..
Bahan renungan dan introspeksi kita..
Selamatkah hati kita dari Syirik..
Selamatkah dari sombong dan ujub..
Selamatkah dari dengki dan hasad..
Selamatkah dari penyakit cinta
dunia..
Selamatkah dari mengutamakan hawa nafsu..
Dan seribu pertanyaan lainnya..
Cobalah tanyakan..
Selama ini, apakah kita lebih memperhatikan badan..
Ataukah keselamatan hati..
Pertanyaan yang sulit dijawab..
Bahkan mungkin dianggap remeh..
Padahal ia masalah besar..
Coba rasakan..
Ketika mendengar lantunan ayat ayat AL Qur’an..
Ketika berdzikir kepada Allah..
Ketika melakukan ketaatan..
Bila terasa gembira dan bahagia..
Bila terasa syahdu di dada..
Puji lah Allah..
Dan jika tidak demikian..
Ucapkan Inna lillaahi wa Inna ilaihi raji’un..
Karena cahaya iman telah mulai redup dalam hati kita..
Yaa Rabb..
Oleh: Ustadz Badrusalam, Lc ﺣﻔﻈﻪ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ
٭ ♌ ♧ ٭ ♌ ♧ ٭ ♌ ♧ ٭ ♌ ♧ ٭
Jumat, 02 Mei 2014
Jangan Lewatkan Hari tanpa 3 Perkara Ini!
Jangan Lewatkan Hari tanpa 3 Perkara Ini!
(Faedah dari penjelasan ﺃُﺳْﺘَﺎﺫُ Abu
Yahya Badrusalam, Lc – ﺣﻔﻈﻪ ﺍﻟﻠﻪ
dalam kajian Mukhtashar Minhajul Qasidin)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah meninggalkan sebuah do’a, yang mana beliau senantiasa berdo’a dengan do’a ini setiap selesai shalat Shubuh. Sebagaimana
yang diriwayatkan oleh Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha
(( ﺍﻟﻠﻬﻢ ﺇﻧﻲ ﺃﺳﺄﻟﻚ ﻋﻠﻤﺎ ﻧﺎﻓﻌﺎ ﻭﺭﺯﻗﺎ
ﻃﻴﺒﺎ ﻭﻋﻤﻼ ﻣﺘﻘﺒﻼ ))
“Ya Allah, aku memohon
kepadamu Ilmu yang
bermanfaat, rizki yang halal, serta amal yang
diterima” [Diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Ibnu Majah, Thabrani, dan yang lainnya, dan
dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani rahimahullah dalam Shahih Ibnu
Majah]
Hal ini merupakan sinyal yang diberikan oleh Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam, agar
hari-hari kita tidak kosong dari 3 hal tersebut, yaitu:
*Pertama, agar senantiasa kita
Menambah Ilmu, bukan sekedar ilmu, akan tetapi yang diinginkan
adalah ilmu yang bermanfaat, yaitu ilmu agama, yang dengannya kita mengetahui apa-
apa yang diinginkan Allah Ta’ala dan apa-apa yang telah disampaikan oleh RasulNya shallallahu ’alaihi wasallam. Ilmu
hanya diperoleh dengan
mempelajarinya.
Maka dengan memanjatkan do’a ini, kita berharap agar Allah
Ta’ala memberi taufiq kepada kita sehingga terdorong hati kita
untuk menuntut ilmu,
mempelajarinya demi
mengangkat kebodohan dari diri kita. Terlebih lagi, segala bentuk
sarana telah tersedia pada hari ini, yang memudahkan kita untuk
mendapatkan ilmu agama, kapan saja, dan dimana saja.
*Kedua, Agar kita juga Mencari Rizki, bekerja dan berkarya, tidak
duduk-duduk menantikan uluran
tangan dari org lain. Islam menganjurkan mencari rizki demi untuk dapat melaksanakan ketaatan kepada Allah. Dengan
rizki tersebut kita bisa
menyempurnakan shalat kita, dgn rizki tersebut kita bisa bersedekah baik yg wajib maupun yg sunnah, dengan rizki
tersebut mungkin mencukupi utk
menunaikan umrah maupun haji, dan segala bentuk ketaatan
lainnya.
Akan tetapi tidak berarti semua rizki, melainkan hanya yang halal.
Karena hanya rizki yang halal yang akan memberikan
keberkahan. Dan karena Allah Ta’ala tidak akan menerima kecuali dari yang halal dan baik.
*Ketiga, agar kita banyak beramal shaleh. Kita sangat butuh agar
amalan kita diterima Allah Ta’ala.
Setelah bersusah payah,
mengorbankan waktu, tenaga, harta, tentu kita ingin agar semua itu diterima Allah Ta’ala
sehingga mendapat balasan yang diinginkan. Akan tetapi
Allah hanya akan menerima amal yang shaleh, yaitu amal yang
dilandasi 2 hal utama: Ikhlas (semata-mata mengharap Wajah Allah), serta Muttaba’ah (beramal hanya dengan petunjuk yang telah dibawa oleh Muhammad
shallallahu ’alaihi wasallam).
Dan ketiga hal diatas saling berhubungan satu sama lain.
Dengan Ilmu yang bermanfaat kita dapat mengetahui mana yang halal dan mana yang haram, sehingga dalam mencari rizki pun kita mengetahui batasan-
batasannya dan memastikan hanya mencari yang halal.
Dan hanya dengan ilmulah suatu amal dapat ditegakkan dengan benar, sesuai yang diinginkan Allah dan RasulNya, sehingga
amalan pun diterima. Karena amalan yang tidak dilandasai dengan ilmu, yaitu yang tidak
berdasarkan petunjuk Allah dan RasulNya, maka amalan tersebut
akan tertolak, sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh
A’isyah radhiyallahu ’anha
“Barangsiapa yang beramal dengan suatu amalan yang bukan atas petunjuk kami, maka
amalan tersebut tertolak” (Riwayat Muslim, shahih).
Demikian juga, harta yang halal juga menentukan apakah amalan kita diterima atau ditolak.
Sebagaimana hadits yang menceritakan seorang musafir yang berdo’a kepada Allah dalam safarnya “Ya Rabb, Ya Rabb…”
akan tetapi makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya
haram, sehingga Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam
bersabda “Bagaimana do’anya akan dikabulkan?” (Riwayat
Muslim, shahih).
Padahal orang tersebut berada pada kondisi dimana jika berdo’a
tidak akan tertolak, tapi ternyata Rasulullah shallallahu ’alaihi
wasallam mengabarkan bahwa do’anya tertolak lantaran makanan, minuman, serta
pakaiannya berasal dari sesuatu yang haram.
Semoga dengan mentadabburi do’a diatas, dapat memotivasi
diri kita untuk senantiasa mengisi hari-hari yang kita lalui
dengan ketiga amalan diatas.
✽¸.•
•.¸✽¸•
•.¸✽¸•
•.¸✽¸.•
•.¸✽
(Faedah dari penjelasan ﺃُﺳْﺘَﺎﺫُ Abu
Yahya Badrusalam, Lc – ﺣﻔﻈﻪ ﺍﻟﻠﻪ
dalam kajian Mukhtashar Minhajul Qasidin)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah meninggalkan sebuah do’a, yang mana beliau senantiasa berdo’a dengan do’a ini setiap selesai shalat Shubuh. Sebagaimana
yang diriwayatkan oleh Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha
(( ﺍﻟﻠﻬﻢ ﺇﻧﻲ ﺃﺳﺄﻟﻚ ﻋﻠﻤﺎ ﻧﺎﻓﻌﺎ ﻭﺭﺯﻗﺎ
ﻃﻴﺒﺎ ﻭﻋﻤﻼ ﻣﺘﻘﺒﻼ ))
“Ya Allah, aku memohon
kepadamu Ilmu yang
bermanfaat, rizki yang halal, serta amal yang
diterima” [Diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Ibnu Majah, Thabrani, dan yang lainnya, dan
dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani rahimahullah dalam Shahih Ibnu
Majah]
Hal ini merupakan sinyal yang diberikan oleh Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam, agar
hari-hari kita tidak kosong dari 3 hal tersebut, yaitu:
*Pertama, agar senantiasa kita
Menambah Ilmu, bukan sekedar ilmu, akan tetapi yang diinginkan
adalah ilmu yang bermanfaat, yaitu ilmu agama, yang dengannya kita mengetahui apa-
apa yang diinginkan Allah Ta’ala dan apa-apa yang telah disampaikan oleh RasulNya shallallahu ’alaihi wasallam. Ilmu
hanya diperoleh dengan
mempelajarinya.
Maka dengan memanjatkan do’a ini, kita berharap agar Allah
Ta’ala memberi taufiq kepada kita sehingga terdorong hati kita
untuk menuntut ilmu,
mempelajarinya demi
mengangkat kebodohan dari diri kita. Terlebih lagi, segala bentuk
sarana telah tersedia pada hari ini, yang memudahkan kita untuk
mendapatkan ilmu agama, kapan saja, dan dimana saja.
*Kedua, Agar kita juga Mencari Rizki, bekerja dan berkarya, tidak
duduk-duduk menantikan uluran
tangan dari org lain. Islam menganjurkan mencari rizki demi untuk dapat melaksanakan ketaatan kepada Allah. Dengan
rizki tersebut kita bisa
menyempurnakan shalat kita, dgn rizki tersebut kita bisa bersedekah baik yg wajib maupun yg sunnah, dengan rizki
tersebut mungkin mencukupi utk
menunaikan umrah maupun haji, dan segala bentuk ketaatan
lainnya.
Akan tetapi tidak berarti semua rizki, melainkan hanya yang halal.
Karena hanya rizki yang halal yang akan memberikan
keberkahan. Dan karena Allah Ta’ala tidak akan menerima kecuali dari yang halal dan baik.
*Ketiga, agar kita banyak beramal shaleh. Kita sangat butuh agar
amalan kita diterima Allah Ta’ala.
Setelah bersusah payah,
mengorbankan waktu, tenaga, harta, tentu kita ingin agar semua itu diterima Allah Ta’ala
sehingga mendapat balasan yang diinginkan. Akan tetapi
Allah hanya akan menerima amal yang shaleh, yaitu amal yang
dilandasi 2 hal utama: Ikhlas (semata-mata mengharap Wajah Allah), serta Muttaba’ah (beramal hanya dengan petunjuk yang telah dibawa oleh Muhammad
shallallahu ’alaihi wasallam).
Dan ketiga hal diatas saling berhubungan satu sama lain.
Dengan Ilmu yang bermanfaat kita dapat mengetahui mana yang halal dan mana yang haram, sehingga dalam mencari rizki pun kita mengetahui batasan-
batasannya dan memastikan hanya mencari yang halal.
Dan hanya dengan ilmulah suatu amal dapat ditegakkan dengan benar, sesuai yang diinginkan Allah dan RasulNya, sehingga
amalan pun diterima. Karena amalan yang tidak dilandasai dengan ilmu, yaitu yang tidak
berdasarkan petunjuk Allah dan RasulNya, maka amalan tersebut
akan tertolak, sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh
A’isyah radhiyallahu ’anha
“Barangsiapa yang beramal dengan suatu amalan yang bukan atas petunjuk kami, maka
amalan tersebut tertolak” (Riwayat Muslim, shahih).
Demikian juga, harta yang halal juga menentukan apakah amalan kita diterima atau ditolak.
Sebagaimana hadits yang menceritakan seorang musafir yang berdo’a kepada Allah dalam safarnya “Ya Rabb, Ya Rabb…”
akan tetapi makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya
haram, sehingga Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam
bersabda “Bagaimana do’anya akan dikabulkan?” (Riwayat
Muslim, shahih).
Padahal orang tersebut berada pada kondisi dimana jika berdo’a
tidak akan tertolak, tapi ternyata Rasulullah shallallahu ’alaihi
wasallam mengabarkan bahwa do’anya tertolak lantaran makanan, minuman, serta
pakaiannya berasal dari sesuatu yang haram.
Semoga dengan mentadabburi do’a diatas, dapat memotivasi
diri kita untuk senantiasa mengisi hari-hari yang kita lalui
dengan ketiga amalan diatas.
✽¸.•
Peringatan isra' mi'raj
Peringatan isra' mi'raj
Cobalah periksa..
Lalu teliti..
Apakah benar isra' mi'raj terjadi di bulan rajab..
Ibnu Rajab rahimahullah berkata:
Telah diriwayatkan bahwa telah terjadi di bulan rajab..
Kejadian kejadian besar..
Namun semua itu tidak shahih.. (Lathaiful ma'arif hal. 168)..
Imam Abu Syaamah rahimahullah berkata:
"Sebagian tukang cerita menyebutkan..
Bahwa isra mi'raj terjadi di bulan rajab..
Semua itu menurut ahli jarh watta'dil adalah kedustaan..
(Al Ba'its hal 171)..
Cobalah periksa..
Lalu teliti..
Adakah Rasulullah dan para shahabat merayakan malam isra mi'raj..
Adakah imam yang empat memperingatinya..
Siapakah yang lebih tahu tentang kebaikan?
Bila itu baik, tentu mereka telah lebih dahulu melakukannya..
Ibnul Hajj berkata, "Diantara bid'ah yang mereka ada-adakan..
Peringatan malam dua puluh tujuh rajab..
Yang dianggap malam isra mi'raj..
(Al Madkhal 1/199)..
Tidak memperingati bukan berarti tidak menghormati..
Tapi membuat syari'at yang tidak pernah di izinkan oleh Allah adalah tercela..
Karena Robbuna berfirman:
أم لهم شركاء شرعوا لهم من الدين ما لم يأذن به الله
"Apakah mereka mempunyai sekutu-sekutu (bagi Allah) yang membuat syari'at untuk mereka dari agama sesuatu yang tidak diizinkan oleh Allah?"
..͡▹ Ditulis oleh: أُسْتَاذُ Abu Yahya Badrusalam, Lc حفظه الله تعال
✽¸.•
•.¸✽¸•
•.¸✽¸•
•.¸✽¸.•
•.¸✽
Cobalah periksa..
Lalu teliti..
Apakah benar isra' mi'raj terjadi di bulan rajab..
Ibnu Rajab rahimahullah berkata:
Telah diriwayatkan bahwa telah terjadi di bulan rajab..
Kejadian kejadian besar..
Namun semua itu tidak shahih.. (Lathaiful ma'arif hal. 168)..
Imam Abu Syaamah rahimahullah berkata:
"Sebagian tukang cerita menyebutkan..
Bahwa isra mi'raj terjadi di bulan rajab..
Semua itu menurut ahli jarh watta'dil adalah kedustaan..
(Al Ba'its hal 171)..
Cobalah periksa..
Lalu teliti..
Adakah Rasulullah dan para shahabat merayakan malam isra mi'raj..
Adakah imam yang empat memperingatinya..
Siapakah yang lebih tahu tentang kebaikan?
Bila itu baik, tentu mereka telah lebih dahulu melakukannya..
Ibnul Hajj berkata, "Diantara bid'ah yang mereka ada-adakan..
Peringatan malam dua puluh tujuh rajab..
Yang dianggap malam isra mi'raj..
(Al Madkhal 1/199)..
Tidak memperingati bukan berarti tidak menghormati..
Tapi membuat syari'at yang tidak pernah di izinkan oleh Allah adalah tercela..
Karena Robbuna berfirman:
أم لهم شركاء شرعوا لهم من الدين ما لم يأذن به الله
"Apakah mereka mempunyai sekutu-sekutu (bagi Allah) yang membuat syari'at untuk mereka dari agama sesuatu yang tidak diizinkan oleh Allah?"
✽¸.•
Rabu, 30 April 2014
SUNNAHKAH BERSETUBUH DI MALAM DAN HARI JUMAT?
SUNNAHKAH BERSETUBUH DI MALAM DAN HARI JUMAT?
Hadits ttg keutamaan bersetubuh di malam jum’at tidak ditemukan dalam
kitab hadits manapun. Kemungkinan besar ia adalah buatan Ishaq bin Najih Al Multhay. Dia yang membuat hadits hadits tentang keutamaan jima (bersetubuh) atas nama Ali bin Abi Thalib.
Ibnu Adi berkata, “Semuanya dia yang memalsukan. Ia meriwayatkan dari ibnu Juraij dari Atha dari Abu Sa’id wasiat untuk Ali radliyallahu‘anhu tentang bersetubuh (jima’) dan bagaimana tata cara berjima’.
Lihatlah betapa beraninya orang ini.” (Mizanul i’tidal 1/201).
Adapun tentang bersetubuh di hari jum’at, para ulama berselisih apakah itu disunnahkan atau tidak. Sebab perselisihan ini berasal dari
perbedaan pemahaman mereka terhadap lafadz “Man Ghossala waghtasala”. Yang diriwayatkan oleh At Tirmidzi, Nasai, ibnu Majah dan Ahmad.
Sebagian ulama berpendapat bahwa makna ghossala tersebut adalah
bersetubuh. Alasan mereka diantaranya adalah hadits yang diriwayatkan oleh Al Baihaqi dalam kitab Syu’abul Iman bahwa Rasulullah shallallahu‘alaihi wasallam yang artinya, “Apakah seseorang dari kalian merasa lemah untuk menyetubuhi istrinya di setiap hari jum’at. Karena
sesungguhnya ia mendapatkan dua pahala, yaitu pahala mandinya dan pahala mandi istrinya.”
Tetapi sayang hadits ini sangat lemah karena di dalam sanadnya ada dua cacat:
Pertama:
Yazid bin Sinan. Ia matruk sebagaimana dikatakan oleh imam An nasai.
Kedua:
Baqiyyah bin Al Walid. Ia seorang perawi yang mudallis. Dan di sini ia meriwayatkan dengan lafadz ‘an sehingga tidak diterima.
Pendapat yang paling kuat adalah bahwa makna “Ghossala” tersebut telah
di tafsirkan oleh Rasulullah langsung dalam hadits lain.
Yaitu hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam sunannya dari Aus Ats-Tsaqofi bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda yang artinya:
“Siapa yang mencuci rambutnya pada hari jum’at dan ia mandi..dst"
Jadi pendapat yang mengatakan bahwa disunnahkan bersetubuh pada hari
jum’at adalah pendapat yang LEMAH karena tidak didukung oleh dalil.
Imam ibnu Qayyim menyebutkan dalam Zadul Ma’ad, bahwa saat bersetubuh
yang paling baik adalah ketika SYAHWAT SEDANG MENGGELORA.
الله أعلم بالصواب
..͡▹ Ditulis oleh: أُسْتَاذُ Abu Yahya Badrusalam, Lc حفظه الله تعال
28 Jumadats Tsani 1435H / 28 April 2014
̣̣̇̇
̣̣̇̇
̣̣̇̇
̣̣̇̇
̣̣̇̇
̣̣̇̇
̣̣̇̇
̣̣̇̇
̣̣̇̇
̣̣̇̇
̣̣̇̇
̣̣̇̇
̣̣̇̇
̣̣̇̇
̣̣̇̇
̣̣̇̇
̣̣̇̇
̣̣̇̇
̣̣̇̇
Hadits ttg keutamaan bersetubuh di malam jum’at tidak ditemukan dalam
kitab hadits manapun. Kemungkinan besar ia adalah buatan Ishaq bin Najih Al Multhay. Dia yang membuat hadits hadits tentang keutamaan jima (bersetubuh) atas nama Ali bin Abi Thalib.
Ibnu Adi berkata, “Semuanya dia yang memalsukan. Ia meriwayatkan dari ibnu Juraij dari Atha dari Abu Sa’id wasiat untuk Ali radliyallahu‘anhu tentang bersetubuh (jima’) dan bagaimana tata cara berjima’.
Lihatlah betapa beraninya orang ini.” (Mizanul i’tidal 1/201).
Adapun tentang bersetubuh di hari jum’at, para ulama berselisih apakah itu disunnahkan atau tidak. Sebab perselisihan ini berasal dari
perbedaan pemahaman mereka terhadap lafadz “Man Ghossala waghtasala”. Yang diriwayatkan oleh At Tirmidzi, Nasai, ibnu Majah dan Ahmad.
Sebagian ulama berpendapat bahwa makna ghossala tersebut adalah
bersetubuh. Alasan mereka diantaranya adalah hadits yang diriwayatkan oleh Al Baihaqi dalam kitab Syu’abul Iman bahwa Rasulullah shallallahu‘alaihi wasallam yang artinya, “Apakah seseorang dari kalian merasa lemah untuk menyetubuhi istrinya di setiap hari jum’at. Karena
sesungguhnya ia mendapatkan dua pahala, yaitu pahala mandinya dan pahala mandi istrinya.”
Tetapi sayang hadits ini sangat lemah karena di dalam sanadnya ada dua cacat:
Pertama:
Yazid bin Sinan. Ia matruk sebagaimana dikatakan oleh imam An nasai.
Kedua:
Baqiyyah bin Al Walid. Ia seorang perawi yang mudallis. Dan di sini ia meriwayatkan dengan lafadz ‘an sehingga tidak diterima.
Pendapat yang paling kuat adalah bahwa makna “Ghossala” tersebut telah
di tafsirkan oleh Rasulullah langsung dalam hadits lain.
Yaitu hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam sunannya dari Aus Ats-Tsaqofi bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda yang artinya:
“Siapa yang mencuci rambutnya pada hari jum’at dan ia mandi..dst"
Jadi pendapat yang mengatakan bahwa disunnahkan bersetubuh pada hari
jum’at adalah pendapat yang LEMAH karena tidak didukung oleh dalil.
Imam ibnu Qayyim menyebutkan dalam Zadul Ma’ad, bahwa saat bersetubuh
yang paling baik adalah ketika SYAHWAT SEDANG MENGGELORA.
الله أعلم بالصواب
28 Jumadats Tsani 1435H / 28 April 2014
Embun pagi
Embun pagi
Oleh : أُسْتَاذُ Abu Yahya Badrusalam, Lc - حفظه الله تعالى
Umar bin Khathab menulis surat kepada anaknya yang bernama Abdullah..
Amma ba'du..
Sesungguhnya siapa yang bertaqwa kepada Allah..
Allah akan menjaganya..
Siapa yang bertawakkal kepadaNya..
Allah akan mencukupinya..
Siapa yang bersyukur kepada Allah..
Allah akan memberinya tambahan..
Siapa yang menghutangiNya (berinfak)..
Allah akan memberinya balasan..
Jadikanlah taqwa kemakmuran hatimu dan pembening matamu..
Karena tidak amal bagi yang tidak punya niat..
Tidak ada kebaikan bagi yang yang tidak punya rasa takut kepadaNya..
(Al aqdul farid 3/114)..
Nasihat orang tua yang bijak..
Yang menginginkan kebaikan untuk anaknya..
Bukan hanya kebaikan dunia..
Namun yang terbesar adalah kebaikan akhirat..
♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥
Oleh : أُسْتَاذُ Abu Yahya Badrusalam, Lc - حفظه الله تعالى
Umar bin Khathab menulis surat kepada anaknya yang bernama Abdullah..
Amma ba'du..
Sesungguhnya siapa yang bertaqwa kepada Allah..
Allah akan menjaganya..
Siapa yang bertawakkal kepadaNya..
Allah akan mencukupinya..
Siapa yang bersyukur kepada Allah..
Allah akan memberinya tambahan..
Siapa yang menghutangiNya (berinfak)..
Allah akan memberinya balasan..
Jadikanlah taqwa kemakmuran hatimu dan pembening matamu..
Karena tidak amal bagi yang tidak punya niat..
Tidak ada kebaikan bagi yang yang tidak punya rasa takut kepadaNya..
(Al aqdul farid 3/114)..
Nasihat orang tua yang bijak..
Yang menginginkan kebaikan untuk anaknya..
Bukan hanya kebaikan dunia..
Namun yang terbesar adalah kebaikan akhirat..
♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥
Sunnah yang terlupakan
Sunnah yang terlupakan
Abdullah bin Amru bin Al 'Ash berkata, "Empat roka'at setelah Isya nilainya sama dengan Lailatu qodar." (HR Ibnu Abi Syaibah dalam Al Mushonnaf no 7273. Sanadnya shahih).
Aisyah radliyallahu 'anha berkata, "Empat roka'at setelah Isya nilainya sama dengan Lailatul Qodar." (HR Ibnu Abi Syaibah no 7274. Sanadnya shahih sesuai syarat Bukhari dan Muslim).
Abdullah bin Mas'ud radliyallahu 'anhu berkata, "Siapa yang sholat setelah Isya empat roka'at dengan tanpa memisahnya dengan salam, maka nilainya sama dengan Lailatul Qodar." (HR Ibnu Abi Syaibah no 7275. Sanadnya shahih sesuai dengan syarat Bukhari dan Muslim).
Walaupun semuanya mauquf.. Namun dihukumi marfu'.. Ibnu Abbas berkata, "Aku pernah menginap di rumah bibiku maimunah binti Al Harits istri Nabi shallallahu 'alaihi wasallam.. Maka Nabi sholat Isya, lalu pulang ke rumahnya dan sholat empat roka'at. Lalu beliaupun tidur. (HR Al Bukhari no 117 dan 665).
Alhamdulillahi Rabbil 'alamiin..
Ditulis oleh: Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc - حفظه الله تعالى
⌣̊┈»̶·̵̭̌✽����✽·̵̭̌«̶┈⌣̊
Abdullah bin Amru bin Al 'Ash berkata, "Empat roka'at setelah Isya nilainya sama dengan Lailatu qodar." (HR Ibnu Abi Syaibah dalam Al Mushonnaf no 7273. Sanadnya shahih).
Aisyah radliyallahu 'anha berkata, "Empat roka'at setelah Isya nilainya sama dengan Lailatul Qodar." (HR Ibnu Abi Syaibah no 7274. Sanadnya shahih sesuai syarat Bukhari dan Muslim).
Abdullah bin Mas'ud radliyallahu 'anhu berkata, "Siapa yang sholat setelah Isya empat roka'at dengan tanpa memisahnya dengan salam, maka nilainya sama dengan Lailatul Qodar." (HR Ibnu Abi Syaibah no 7275. Sanadnya shahih sesuai dengan syarat Bukhari dan Muslim).
Walaupun semuanya mauquf.. Namun dihukumi marfu'.. Ibnu Abbas berkata, "Aku pernah menginap di rumah bibiku maimunah binti Al Harits istri Nabi shallallahu 'alaihi wasallam.. Maka Nabi sholat Isya, lalu pulang ke rumahnya dan sholat empat roka'at. Lalu beliaupun tidur. (HR Al Bukhari no 117 dan 665).
Alhamdulillahi Rabbil 'alamiin..
Ditulis oleh: Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc - حفظه الله تعالى
⌣̊┈»̶·̵̭̌✽����✽·̵̭̌«̶┈⌣̊
Suka diingatkan
Suka diingatkan
Oleh: Ustadz Abu Yahya Badrusalam LC. حفظه الله تعالى
Ibnu qudamah rahimahullah berkata..
Kaum salaf terdahulu..
Merasa senang bila ada yang mengingatkan kesalahan mereka..
Sedangkan kita di zaman ini..
Yang paling kita benci adalah orang yang mengingatkan kesalahan kita..
Ini adalah tanda lemahnya iman..
(Mukhtashar Minhajul Qashidin hal. 147)..
Itulah fenomena zaman..
Kritikan yang membangun dianggap mencari cari kesalahan..
Bahkan dianggap pemecah belah..
Seakan orang bebas melakukan apa yang ia pandang baik..
Padahal kebaikan adalah yang dipandang oleh syariat..
Seorang yang ikhlas..
Lebih mementingkan kebenaran dari harga diri..
Karena kebenaran adalah barang cariannya..
Seorang yang berjiwa taslim..
Segera rujuk dari kesalahannya..
Ia menerima kritikan dengan jiwa yang lapang..
Dadanya tidak merasa panas menerimanya..
Bahkan medo'akan orang yang mengingatkan kesalahannya..
Semoga Allah merahmati orang yang mengingatkan kesalahanku..
Namun itu berat..
Kecuali untuk yang berjiwa besar..
٭ ♌ ♧ ٭ ♌ ♧ ٭ ♌ ♧ ٭ ♌ ♧ ٭
Oleh: Ustadz Abu Yahya Badrusalam LC. حفظه الله تعالى
Ibnu qudamah rahimahullah berkata..
Kaum salaf terdahulu..
Merasa senang bila ada yang mengingatkan kesalahan mereka..
Sedangkan kita di zaman ini..
Yang paling kita benci adalah orang yang mengingatkan kesalahan kita..
Ini adalah tanda lemahnya iman..
(Mukhtashar Minhajul Qashidin hal. 147)..
Itulah fenomena zaman..
Kritikan yang membangun dianggap mencari cari kesalahan..
Bahkan dianggap pemecah belah..
Seakan orang bebas melakukan apa yang ia pandang baik..
Padahal kebaikan adalah yang dipandang oleh syariat..
Seorang yang ikhlas..
Lebih mementingkan kebenaran dari harga diri..
Karena kebenaran adalah barang cariannya..
Seorang yang berjiwa taslim..
Segera rujuk dari kesalahannya..
Ia menerima kritikan dengan jiwa yang lapang..
Dadanya tidak merasa panas menerimanya..
Bahkan medo'akan orang yang mengingatkan kesalahannya..
Semoga Allah merahmati orang yang mengingatkan kesalahanku..
Namun itu berat..
Kecuali untuk yang berjiwa besar..
٭ ♌ ♧ ٭ ♌ ♧ ٭ ♌ ♧ ٭ ♌ ♧ ٭
Bekas yg tdk hilang
Bekas yg tdk hilang
Oleh: Ustadz Abu Yahya Badrusalam LC. حفظه الله تعالى
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu berkata: "Khaulah berkata: "Wahai Rasulullah, bagaimana bila darah (haidh) tidak bisa hilang?" Beliau bersabda: "Cukup untukmu air dan tidak berpengaruh bekasnya". HR Tirmidzi, dan dishahihkan oleh Syaikh al Bani.
Fawaid hadits: 1. Wajibnya mencuci darah haidh yang mengenai baju dan badan.
2. Kewajiban mencucinya adalah dengan air.
3. Apabila baju telah dicuci namun masih tersisa bekasnya, maka tidak berpengaruh.
4. Islam adalah agama yang mudah, tidak memberikan beban kecuali sesuai dengan kemampuan.
5. Badan wanita haidh dan keringatnya adalah suci.
"""""""""""""""""""""(y)(y)(y)
Oleh: Ustadz Abu Yahya Badrusalam LC. حفظه الله تعالى
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu berkata: "Khaulah berkata: "Wahai Rasulullah, bagaimana bila darah (haidh) tidak bisa hilang?" Beliau bersabda: "Cukup untukmu air dan tidak berpengaruh bekasnya". HR Tirmidzi, dan dishahihkan oleh Syaikh al Bani.
Fawaid hadits: 1. Wajibnya mencuci darah haidh yang mengenai baju dan badan.
2. Kewajiban mencucinya adalah dengan air.
3. Apabila baju telah dicuci namun masih tersisa bekasnya, maka tidak berpengaruh.
4. Islam adalah agama yang mudah, tidak memberikan beban kecuali sesuai dengan kemampuan.
5. Badan wanita haidh dan keringatnya adalah suci.
"""""""""""""""""""""(y)(y)(y)
Bejana Allah
Bejana Allah
Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda.. " إِنَّ للَّهِ عَزَّ وَجَلَّ فِي الأَرْضِ آنِيَةً ، وَأَحَبُّ آنِيَةِ اللَّهِ إِلَيْهِ مَا رَقَّ وَصَفَا ، وَآنِيَةُ اللَّهِ فِي الأَرْضِ قُلُوبُ الْعِبَادِ الصَّالِحِينَ " . Sesunnguhnya Allah memeliki bejana bejana di bumi ini.. BejanaNya yang paling Allah cintai adalah.. Yang paling lembut dan paling bening.. Bejana bejana Allah di bumi itu adalah hati hamba hamba-Nya yang shalih. (HR Ahmad).
Dengan apakah bejana itu akan kita penuhi.. Bila bejana itu telah dipenuhi cinta dunia.. Tak ada lagi tempat untuk cinta akhirat..
Ditulis oleh: Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc - حفظه الله تعالى
⌣̊┈»̶·̵̭̌✽����✽·̵̭̌«̶┈⌣̊
Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda.. " إِنَّ للَّهِ عَزَّ وَجَلَّ فِي الأَرْضِ آنِيَةً ، وَأَحَبُّ آنِيَةِ اللَّهِ إِلَيْهِ مَا رَقَّ وَصَفَا ، وَآنِيَةُ اللَّهِ فِي الأَرْضِ قُلُوبُ الْعِبَادِ الصَّالِحِينَ " . Sesunnguhnya Allah memeliki bejana bejana di bumi ini.. BejanaNya yang paling Allah cintai adalah.. Yang paling lembut dan paling bening.. Bejana bejana Allah di bumi itu adalah hati hamba hamba-Nya yang shalih. (HR Ahmad).
Dengan apakah bejana itu akan kita penuhi.. Bila bejana itu telah dipenuhi cinta dunia.. Tak ada lagi tempat untuk cinta akhirat..
Ditulis oleh: Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc - حفظه الله تعالى
⌣̊┈»̶·̵̭̌✽����✽·̵̭̌«̶┈⌣̊
TERGANTUNG HATI
TERGANTUNG HATI
Tahukah Anda.. Keselamatan kita di hari akhirat.. Tergantung kepada keselamatan hati kita..
Allah Ta'ala berfirman yang artinya.. Pada hari tidak bermanfaat harta dan anak-anak.. Kecuali orang yang datang membawa hati yang selamat.. QS. Asy Syu'ara ayat 88-89..
Bahan renungan dan introspeksi kita.. Selamatkah hati kita dari Syirik.. Selamatkah dari sombong dan ujub.. Selamatkah dari dengki dan hasad.. Selamatkah dari penyakit cinta dunia.. Selamatkah dari mengutamakan hawa nafsu.. Dan seribu pertanyaan lainnya..
Cobalah tanyakan.. Selama ini, apakah kita lebih memperhatikan badan? Ataukah keselamatan hati? Pertanyaan yang sulit dijawab.. Bahkan mungkin dianggap remeh.. Padahal ia masalah besar..
Coba rasakan.. Ketika mendengar lantunan ayat ayat Al Qur'an.. Ketika berdzikir kepada Allah.. Ketika melakukan ketaatan.. Bila terasa gembira dan bahagia.. Bila terasa syahdu di dada.. Pujilah Allah..
Dan jika tidak demikian.. Ucapkan Innaa lillaahi wa Innaa Ilaihi Rooji'uun.. Karena cahaya iman telah mulai redup dalam hati kita..
Yaa Rabb..
..͡▹ Penulis: أُسْتَاذُ Abu Yahya Badru Salam, Lc. حفظه الله تعال - Alumnus Universitas Islam Madinah Saudi Arabia.
♡♡♡♡♡♡♡
Tahukah Anda.. Keselamatan kita di hari akhirat.. Tergantung kepada keselamatan hati kita..
Allah Ta'ala berfirman yang artinya.. Pada hari tidak bermanfaat harta dan anak-anak.. Kecuali orang yang datang membawa hati yang selamat.. QS. Asy Syu'ara ayat 88-89..
Bahan renungan dan introspeksi kita.. Selamatkah hati kita dari Syirik.. Selamatkah dari sombong dan ujub.. Selamatkah dari dengki dan hasad.. Selamatkah dari penyakit cinta dunia.. Selamatkah dari mengutamakan hawa nafsu.. Dan seribu pertanyaan lainnya..
Cobalah tanyakan.. Selama ini, apakah kita lebih memperhatikan badan? Ataukah keselamatan hati? Pertanyaan yang sulit dijawab.. Bahkan mungkin dianggap remeh.. Padahal ia masalah besar..
Coba rasakan.. Ketika mendengar lantunan ayat ayat Al Qur'an.. Ketika berdzikir kepada Allah.. Ketika melakukan ketaatan.. Bila terasa gembira dan bahagia.. Bila terasa syahdu di dada.. Pujilah Allah..
Dan jika tidak demikian.. Ucapkan Innaa lillaahi wa Innaa Ilaihi Rooji'uun.. Karena cahaya iman telah mulai redup dalam hati kita..
Yaa Rabb..
..͡▹ Penulis: أُسْتَاذُ Abu Yahya Badru Salam, Lc. حفظه الله تعال - Alumnus Universitas Islam Madinah Saudi Arabia.
♡♡♡♡♡♡♡
Ada apa dengan Rajab?
Bismillah
Ada apa dengan Rajab?
(Ustadz Badru Salam, Lc حفظه الله تعال )
Allah menciptakan 12 bulan dalam setahun.. Diantaranya adalah empat bulan haram.. Dzulqaidah, dzulhijjah, muharram dan rajab.. Allah melarang kita berbuat zalim di bulan bulan tersebut.. Padahal berbuat zalim di selain bulan itu di haramkan.. Namun.. Kezaliman di bulan bulan itu dilipat gandakan dosanya..
Sekarang di bulan Rajab.. Berhati-hatilah dari perbuatan zalim.. Kezaliman yang agung sering dilakukan di bulan ini.. Dengan menebar hadits hadits palsu seputar Rajab.. Seperti keutamaan tanggal 1 rajab, 2,3,4 dan seterusnya.. Seperti hadits: Rajab adalah bulan Allah.. Hadits tentang shalat raghaib.. Semua itu dusta atas nama Nabi.. Al Hafidz ibnu Hajar rahimahullah.. Telah menjelaskan dalam kitabnya: tabyinul 'ajab.. Bahwa hadits hadits tentang keutamaan rajab adalah lemah dan palsu.. Ingatlah saudaraku sebuah hadits: "Siapa yang sengaja berdusta atas namaku.. Hendaklah ia mempersiapkan tempat duduknya dalam api Neraka.. HR Bukhari Muslim dan lainnya..
Rajab memang bulan haram.. Namun tidak ada amalan khusus di bulan ini.. Tidak ada bedanya dengan bulan bulan haram lainnya.. Untuk memperbanyak amal ibadah dan menjauhi keharaman.. Semoga kita diberi kekuatan dan dilindungi dari berbuat zalim.. Amiin
⌣̊┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈⌣̊
Ada apa dengan Rajab?
(Ustadz Badru Salam, Lc حفظه الله تعال )
Allah menciptakan 12 bulan dalam setahun.. Diantaranya adalah empat bulan haram.. Dzulqaidah, dzulhijjah, muharram dan rajab.. Allah melarang kita berbuat zalim di bulan bulan tersebut.. Padahal berbuat zalim di selain bulan itu di haramkan.. Namun.. Kezaliman di bulan bulan itu dilipat gandakan dosanya..
Sekarang di bulan Rajab.. Berhati-hatilah dari perbuatan zalim.. Kezaliman yang agung sering dilakukan di bulan ini.. Dengan menebar hadits hadits palsu seputar Rajab.. Seperti keutamaan tanggal 1 rajab, 2,3,4 dan seterusnya.. Seperti hadits: Rajab adalah bulan Allah.. Hadits tentang shalat raghaib.. Semua itu dusta atas nama Nabi.. Al Hafidz ibnu Hajar rahimahullah.. Telah menjelaskan dalam kitabnya: tabyinul 'ajab.. Bahwa hadits hadits tentang keutamaan rajab adalah lemah dan palsu.. Ingatlah saudaraku sebuah hadits: "Siapa yang sengaja berdusta atas namaku.. Hendaklah ia mempersiapkan tempat duduknya dalam api Neraka.. HR Bukhari Muslim dan lainnya..
Rajab memang bulan haram.. Namun tidak ada amalan khusus di bulan ini.. Tidak ada bedanya dengan bulan bulan haram lainnya.. Untuk memperbanyak amal ibadah dan menjauhi keharaman.. Semoga kita diberi kekuatan dan dilindungi dari berbuat zalim.. Amiin
⌣̊┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈⌣̊
Rabu, 16 April 2014
Berdiri Hormati Kyai
Berdiri Hormati Kyai
Anas bin Malik radliyallahu anhu berkata:
" لَمْ يَكُنْ شَخْصٌ أَحَبَّ إِلَيْهِمْ مِنْ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، وَكَانُوا إِذَا رَأَوْهُ لَمْ يَقُومُوا لِمَا يَعْلَمُونَ مِنْ كَرَاهِيَتِهِ لِذَلِكَ " .
Tidak ada orang yang paling dicintai oleh mereka (para shahabat) dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam..
namun apabila mereka melihat beliau..
mereka tidak berdiri menghormatinya..
karena mereka tahu bahwa beliau tidak menyukainya..
HR At Tirmidzi no 2754..
bandingkan dengan zaman ini..
banyak ustadz atau kiyai merasa suka bila manusia berdiri menghormatinya..
padahal Nabi bersabda:
مَنْ أَحَبَّ أَنْ يَمْثُلَ لَهُ الرِّجَالُ قِيَامًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ
Siapa yang menyukai orang orang berdiri menghormatinya..
maka hendaklah ia mempersiapkan tempat duduknya dalam api Neraka.
HR Abu Daud no 5229..
di kelas..
murid murid malah disuruh berdiri menghormati guru..
padahal Nabi tidak suka para shahabat berdiri untuk menghormatinya..
akankah pak kiyai lebih utama dari para Nabi..
aneh....
Ditulis oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc - حفظه الله تعالى
⌣̊┈»̶·̵̭̌✽����✽·̵̭̌«̶┈⌣̊
Anas bin Malik radliyallahu anhu berkata:
" لَمْ يَكُنْ شَخْصٌ أَحَبَّ إِلَيْهِمْ مِنْ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، وَكَانُوا إِذَا رَأَوْهُ لَمْ يَقُومُوا لِمَا يَعْلَمُونَ مِنْ كَرَاهِيَتِهِ لِذَلِكَ " .
Tidak ada orang yang paling dicintai oleh mereka (para shahabat) dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam..
namun apabila mereka melihat beliau..
mereka tidak berdiri menghormatinya..
karena mereka tahu bahwa beliau tidak menyukainya..
HR At Tirmidzi no 2754..
bandingkan dengan zaman ini..
banyak ustadz atau kiyai merasa suka bila manusia berdiri menghormatinya..
padahal Nabi bersabda:
مَنْ أَحَبَّ أَنْ يَمْثُلَ لَهُ الرِّجَالُ قِيَامًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ
Siapa yang menyukai orang orang berdiri menghormatinya..
maka hendaklah ia mempersiapkan tempat duduknya dalam api Neraka.
HR Abu Daud no 5229..
di kelas..
murid murid malah disuruh berdiri menghormati guru..
padahal Nabi tidak suka para shahabat berdiri untuk menghormatinya..
akankah pak kiyai lebih utama dari para Nabi..
aneh....
Ditulis oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc - حفظه الله تعالى
⌣̊┈»̶·̵̭̌✽����✽·̵̭̌«̶┈⌣̊
Selasa, 04 Maret 2014
Berakal
Berakal
Oleh: Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc - حفظه الله تعالى
Sufyan bin Uyainah rahimahullah berkata:
Bukanlah orang yang berakal yang sebatas mengetahui kebaikan dan keburukan..
tetapi orang berakal adalah yang apabila melihat kebaikan..
ia mengikutinya..
dan bila melihat keburukan..
ia meninggalkannya..
(Hilyah auliya 8/339)
iya..
kita sudah banyak mengetahui ilmu..
tapi ilmu itu kebanyakan adanya di dada..
untuk mengaplikasikannya susah terasa..
tahu bahwa ghibah itu haram..
tapi lisan ini serasa manis menggunjing orang..
tahu bahwa ujub itu haram..
tapi seringkali menghantui hati karena adanya kelebihan..
kelebihan ilmu..
kelebihan amal..
kelebihan bersedekah..
semoga Allah mengampuni kita..
┈┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈┈
Oleh: Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc - حفظه الله تعالى
Sufyan bin Uyainah rahimahullah berkata:
Bukanlah orang yang berakal yang sebatas mengetahui kebaikan dan keburukan..
tetapi orang berakal adalah yang apabila melihat kebaikan..
ia mengikutinya..
dan bila melihat keburukan..
ia meninggalkannya..
(Hilyah auliya 8/339)
iya..
kita sudah banyak mengetahui ilmu..
tapi ilmu itu kebanyakan adanya di dada..
untuk mengaplikasikannya susah terasa..
tahu bahwa ghibah itu haram..
tapi lisan ini serasa manis menggunjing orang..
tahu bahwa ujub itu haram..
tapi seringkali menghantui hati karena adanya kelebihan..
kelebihan ilmu..
kelebihan amal..
kelebihan bersedekah..
semoga Allah mengampuni kita..
┈┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈┈
Tiga manfaat menundukkan pandangan
Tiga manfaat menundukkan pandangan
Oleh: Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc - حفظه الله تعالى 1.
Merasakan manisnya iman.
Karena orang yang meninggalkan sesuatu karena Allah, maka Allah akan gantikan dengan sesuatu yang lebih baik darinya.
2. Mewariskan cahaya di hatii dan kekuatan firasat.
Syah bin Syuja' seorang ulama yang amat kuat firasatnya berkata, "Siapa yang menundukkan pandangannya. dari sesuatu yang haram, menahan dirinya dari syahwat, memakmurkan hatinya dengan selalu merasa di awasi oleh Allah, dan memakmurkan l ahiriahnya dengan mengikuti sunnah, serta membiasakan memakan yang halal, maka firasatnya tidak akan salah."
3. Memberikan kekuatan hati dan ketegaran.
Karena pengikut hawa nafsu akan ditimpa kerendahan dan kehinaan pada jiwanya. Sebaliknya orang yang senantiasa mentaati Allah akan diberikan kemuliaan dan keperkasaan.
Al Hasan Al Bashri berkata, "Walaupun. ia berkendaraan yang mewah dan berjalan dengan bangganya, sesungguhnya kehinaan itu membelit lehernya karena Allah enggan kecuali menghinakan orang yang memaksiatinya."
(Fiqih Nadzor hal 40-42).
Semoga kita senantiasa diberi kekuatan untuk selalu menundukkan pandangan..
⌣̊┈»̶·̵̭̌✽����✽·̵̭̌«̶┈⌣̊
Oleh: Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc - حفظه الله تعالى 1.
Merasakan manisnya iman.
Karena orang yang meninggalkan sesuatu karena Allah, maka Allah akan gantikan dengan sesuatu yang lebih baik darinya.
2. Mewariskan cahaya di hatii dan kekuatan firasat.
Syah bin Syuja' seorang ulama yang amat kuat firasatnya berkata, "Siapa yang menundukkan pandangannya. dari sesuatu yang haram, menahan dirinya dari syahwat, memakmurkan hatinya dengan selalu merasa di awasi oleh Allah, dan memakmurkan l ahiriahnya dengan mengikuti sunnah, serta membiasakan memakan yang halal, maka firasatnya tidak akan salah."
3. Memberikan kekuatan hati dan ketegaran.
Karena pengikut hawa nafsu akan ditimpa kerendahan dan kehinaan pada jiwanya. Sebaliknya orang yang senantiasa mentaati Allah akan diberikan kemuliaan dan keperkasaan.
Al Hasan Al Bashri berkata, "Walaupun. ia berkendaraan yang mewah dan berjalan dengan bangganya, sesungguhnya kehinaan itu membelit lehernya karena Allah enggan kecuali menghinakan orang yang memaksiatinya."
(Fiqih Nadzor hal 40-42).
Semoga kita senantiasa diberi kekuatan untuk selalu menundukkan pandangan..
⌣̊┈»̶·̵̭̌✽����✽·̵̭̌«̶┈⌣̊
Minggu, 16 Februari 2014
Diantara Nasehat Ali bin Hasan As Sulami
Diantara Nasehat Ali bin Hasan As Sulami
Abu Nu'aim meriwayatkan dalam kitab Hilyatul Aulia (7/82-85) Dari jalan Sufyan Ats Tsauri rahimahullah bahwa Ali bin Al Hasan As Sulami berwasiat:
"Hendaklah kamu jujur di setiap keadaan..
Jauhilah dusta, khianat dan jangan bermajelis dengan pelakunya..
Karena itu semua adalah dosa..
Jauhilah oleh kamu Riya dalam perkataan dan perbuatan..Karena ia adalah kesyirikan..
Jauhilah rasa ujub..Karena amal shalih yang disertai ujub tidak akan diangkat..
Ambillah agamamu dari orang yang memperhatikan agamanya..
Karena perumpamaannya seperti tabib yang tidak mampu mengobati dirinya..
Bagaimana ia akan mampu mengobati manusia..
Saudaraku..
Agamamu adalah darah dan dagingmu..
Tangisilah dosa-dosa dirimu dan sayangilah ia..
Bila kamu tidak menangisi dirimu..
Kamu tidak akan disayangi olehNya..
Ambillah teman yang membuatmu zuhud dalam kehidupan dunia..
Dan memberimu motivasi kepada akhirat..
Jauhilah olehmu ahli dunia yang pembicaraannya sebatas dunia..
Karena mereka akan merusak agama dan hatimu..
Mintalah keselamatan kepada Allah untuk umurmu yang tersisa..
Saudaraku..
Hendaklah kamu memperhatikan adab dan akhlak yang baik..
Jangan selisihi al jama'ah (Rasulullah dan shahabatnya)..
Karena kebaikan ada padanya..
Ditulis oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc - حفظه الله تعالى
┈┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈┈
Abu Nu'aim meriwayatkan dalam kitab Hilyatul Aulia (7/82-85) Dari jalan Sufyan Ats Tsauri rahimahullah bahwa Ali bin Al Hasan As Sulami berwasiat:
"Hendaklah kamu jujur di setiap keadaan..
Jauhilah dusta, khianat dan jangan bermajelis dengan pelakunya..
Karena itu semua adalah dosa..
Jauhilah oleh kamu Riya dalam perkataan dan perbuatan..Karena ia adalah kesyirikan..
Jauhilah rasa ujub..Karena amal shalih yang disertai ujub tidak akan diangkat..
Ambillah agamamu dari orang yang memperhatikan agamanya..
Karena perumpamaannya seperti tabib yang tidak mampu mengobati dirinya..
Bagaimana ia akan mampu mengobati manusia..
Saudaraku..
Agamamu adalah darah dan dagingmu..
Tangisilah dosa-dosa dirimu dan sayangilah ia..
Bila kamu tidak menangisi dirimu..
Kamu tidak akan disayangi olehNya..
Ambillah teman yang membuatmu zuhud dalam kehidupan dunia..
Dan memberimu motivasi kepada akhirat..
Jauhilah olehmu ahli dunia yang pembicaraannya sebatas dunia..
Karena mereka akan merusak agama dan hatimu..
Mintalah keselamatan kepada Allah untuk umurmu yang tersisa..
Saudaraku..
Hendaklah kamu memperhatikan adab dan akhlak yang baik..
Jangan selisihi al jama'ah (Rasulullah dan shahabatnya)..
Karena kebaikan ada padanya..
Ditulis oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc - حفظه الله تعالى
┈┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈┈
Penyakit nanti
Penyakit nanti
Al Hasan Al Bashri rahimahullah berkata:
: " إِيَّاكَ وَالتَّسْوِيفَ فَإِنَّكَ بِيَوْمِكِ وَلَسْتَ بِغَدِكَ قَالَ : فَإِنْ يَكُنْ غَدٌ لَكَ فِكِسْ فِيهِ كَمَا كِسْتَ فِي الْيَوْمِ , وَإِلا يَكُنِ الْغَدُ لَكَ لَمْ تَنْدَمْ عَلَى مَا فَرَّطْتَ فِي الْيَوْمِ " .
jauhi taswif (nanti)..
karena kamu sedang berada di hari ini..
bukan di hari esok..
bila esok masih menjelang..
maka lakukan seperti yang kamu lakukan di hari ini..
bila esok tidak menjelang..
kamu tidak akan menyesali perbuatanmu di hari ini..
nanti..
penyakit yang menghinggapi penuntut ilmu..
ketika ada kesempatan..
ia berkata: nanti sore saja..
ketika sore menjelang..
ia berkata: nanti saja besok..
demikianlah setan..
memberikan angan-angan..
agar kita terluput dari kebaikan..
say no to nanti..
Ditulis oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc - حفظه الله تعالى
┈┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈┈
Al Hasan Al Bashri rahimahullah berkata:
: " إِيَّاكَ وَالتَّسْوِيفَ فَإِنَّكَ بِيَوْمِكِ وَلَسْتَ بِغَدِكَ قَالَ : فَإِنْ يَكُنْ غَدٌ لَكَ فِكِسْ فِيهِ كَمَا كِسْتَ فِي الْيَوْمِ , وَإِلا يَكُنِ الْغَدُ لَكَ لَمْ تَنْدَمْ عَلَى مَا فَرَّطْتَ فِي الْيَوْمِ " .
jauhi taswif (nanti)..
karena kamu sedang berada di hari ini..
bukan di hari esok..
bila esok masih menjelang..
maka lakukan seperti yang kamu lakukan di hari ini..
bila esok tidak menjelang..
kamu tidak akan menyesali perbuatanmu di hari ini..
nanti..
penyakit yang menghinggapi penuntut ilmu..
ketika ada kesempatan..
ia berkata: nanti sore saja..
ketika sore menjelang..
ia berkata: nanti saja besok..
demikianlah setan..
memberikan angan-angan..
agar kita terluput dari kebaikan..
say no to nanti..
Ditulis oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc - حفظه الله تعالى
┈┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈┈
Langganan:
Postingan (Atom)






