Tampilkan postingan dengan label أُسْتَاذُ Fachrudin Nu’man. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label أُسْتَاذُ Fachrudin Nu’man. Tampilkan semua postingan

Jumat, 02 Mei 2014

Hadis Dlaif Terkait Bulan Rajab

Copas dari: Ustadz Fahruddin Nu'man al-Bantani, Lc - حفظه الله تعالى




Hadis Dlaif Terkait Bulan Rajab

1) Hadis: “Sesungguhnya di surga ada sebuah sungai, namanya sungai Rajab. Airnya lebih putih dari pada susu, lebih manis dari pada madu, siapa yang puasa sehari di bulan Rajab maka Allah akan memberi minum orang ini dengan air sungai tersebut.” (Riwayat Abul Qosim At Taimi dalam At Targhib wat Tarhib, Al Hafidz Al Ashbahani dalam kitab Fadlus Shiyam, dan Al Baihaqi dalam Fadhail Auqat. Ibnul Jauzi mengatakan dalam Al Ilal Al Mutanahiyah: Dalam sanadnya terdapat banyak perawi yang tidak dikenal, sanadnya dhaif secara umum, namun tidak sampai untuk dihukumi palsu.)

2) Hadis: “Allahumma baarik lanaa fii rajabin wa sya’baana wa ballighnaa Ramadhaana.” (Riwayat Ahmad, dan di sanadnya terdapat perawi Zaidah bin Abi Raqqad, dari Ziyadah An Numairi. Tentang para perawi ini, Imam Bukhari mengatakan: Munkarul hadis. An Nasa’i mengatakan: Mungkarul hadis. Sementara Ibn Hibban menyatakan: hadisnya tidak bisa dijadikan dalil)

3) Hadis: “Sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah puasa setelah Ramadhan, selain di bulan Rajab dan Sya’ban.” (Riwayat Al Baihaqi. Ibn Hajar mengatakan: ini adalah hadis munkar, disebabkan adanya perawi yang bernama Yusuf bin Athiyah, dia orang yang dhaif sekali.- Tabyinul Ajbi, hal. 12)

4) Hadis: “Rajab adalah bulan Allah, Sya’ban adalah bulanku, dan Ramadhan adalah bulan umatku.” (Riwayat Abu Bakr An Naqasy. Al Hafidz Abul Fadhl Muhammad bin Nashir mengatakan: An Naqasy adalah pemalsu hadis, pendusta. Ibnul Jauzi, As Shaghani, dan As Suyuthi menyebut hadis ini dengan hadis maudlu’)

5) Hadis: “Keutamaan Rajab dibanding bulan yang lain, seperti keutamaan Al Qur’an dibanding dzikir yang lain.” (Ibn Hajar mengatakan: Perawi hadis ini ada yang bernama As Saqathi, dia adalah penyakit dan orang yang terkenal sebagai pemalsu

6) Hadis: “Rajab adalah bulan Allah Al Asham. Siapa yang berpuasa sehari di bulan Rajab, atas dasar iman dan ihtisab (mengharap pahala) maka dia berhak mendapat ridla Allah yang besar.” (Hadis palsu, sebagaimana penjelasan As Syaukani dalam Al Fawaid Al Majmu’ah)

7) Hadis: “Barangsiapa yang berpuasa tiga hari bulan Rajab, Allah catat baginyu puasa sebulan penuh. Siapa yang puasa tujuh hari maka Allah menutup tujuh pintu neraka.” (Hadis maudlu, sebagaimana keterangan Ibnul Jauzi dalam Al Maudlu’at, 2/206)

8) Hadis: “Siapa yang shalat maghrib di malam pertama bulan Rajab, setelah itu dia shalat dua puluh rakaat, setiap rakaat dia membaca Al Fatihah dan surat Al Ikhlas sekali, dan dia melakukan salam sebanyak sepuluh kali. Tahukah kalian apa pahalanya? ….lanjutan hadis: Allah akan menjaga dirinnya, keluarganya, hartanya, dan anaknya. Dia dilindungi dari siksa kubur, …“(Hadis maudlu, sebagaimana keterangan Ibnul Jauzi dalam Al Maudlu’at, 2/123)

9) Hadits: “Siapa yang puasa di bulan Rajab dan shalat empat rakaat…maka dia tidak akan mati sampai dia melihat tempatnya di surga atau dia diperlihatkan.” (Hadis maudlu, sebagaimana keterangan Ibnul Jauzi dalam Al Maudlu’at, 2/124, Al Fawaid Al Majmu’ah, hal. 47)

10) Hadis Shalat Raghaib: “Rajab bulan Allah, Sya’ban bulanku, dan Ramadlan bulan umatku… namun janganlah kalian lupa dengan malam jum’at pertama bulan Rajab, karena malam itu adalah malam yang disebut oleh para malaikat dengan Ar Raghaib. Dimana apabila telah berlalu sepertiga malam, tidak ada satupun malaikat yang berada di semua lapisan langit dan bumi, kecuali mereka berkumpul di ka’bah dan sekitarnya. Kemudian Allah melihat kepada mereka, dan berfirman: Wahai malaikatKu, mintalah apa saja yang kalian inginkan. Maka mereka mengatakan: Wahai Tuhan kami, keinginan kami adalah agar engkau mengampuni orang yang suka puasa Rajab. Allah berfirman: Hal itu sudah Aku lakukan. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Siapa yang berpuasa hari kamis pertama di bulan Rajab, kemudian shalat antara maghrib sampai isya’ – yaitu pada malam jum’at – dua belas rakaat…’” (Hadis palsu, sebagaimana keterangan Ibnul Jauzi dalam Al Maudhu’at, 2/124 – 126, Ibnu Hajar dalam Tabyinul ‘Ujbi, hal. 22 – 24, dan As Syaukani dalam Al fawaid Al Majmu’ah, hal. 47 – 50)

11) Hadis: “Barangsiapa yang shalat pada malam pertengahan bulan Rajab, sebanyak 14 rakaat, setiap rakaat membaca Al Fatihah sekali dan surat Al Ikhlas 20 kali…..” (Hadis palsu, sebagaimana keterangan Ibnul Jauzi dalam Al Maudhu’at, 2/126, Ibnu Hajar dalam Tabyinul ‘Ujbi, hal. 25, As Syaukani dalam Al Fawaid Al Majmu’ah, hal. 50)

12) Hadis: “Sesungguhnya bulan Rajab adalah bulan yang agung, siapa yang berpuasa sehari, Allah akan mencatat baginya puasa seribu tahun…”(Hadis palsu, sebagaimana keterangan Ibnul Jauzi dalam Al Maudhu’at, 2/206 – 207, Ibnu Hajar dalam Tabyinul ‘Ujbi, hal. 26, As Syaukani dalam Al Fawaid Al Majmu’ah, hal. 101, As Suyuthi dalam Al Lali’ Al Mashnu’ah, 2/115)

♧°˚˚˚°♧♧°˚˚˚°♧♧°˚˚˚°♧♧°˚˚˚°♧

Sabtu, 04 Januari 2014

MALAM TAHUN BARU ANA TIDAK IKUT-IKUTAN....CUMA.....

"MALAM TAHUN BARU ANA TIDAK IKUT-IKUTAN....CUMA....."

(n) Ana tidak ikut-ikutan bakar petasan.....cuma.....bakar ikan....
(n) Ana tidak ikut-ikutan niup terompet.... cuma.... seneng dengernya....
(n) Ana tidak ikut-ikutan nyalakan kembang api .... cuma.... asyik melihatnya.....
(n) Ana tidak ikut-ikutan begadang malam tahun baru....cuma.... kasian anak2 klu ga th baruan.....
(n) sebenarnya Ana ga mau ikut-ikutan malam tahun baruan krn itu syi'ar orang2 Nashrani....cuma.... ga enak sama temen2.....

</3 Laa Haula Wala Quwwata Illa Billah..... kekasih kita menanyakan keimanan kita....."barang siapa yang melihat kemungkaran maka rubahlah dengan tangannya, bila tidak mampu maka dengan lisannya, dan bila tidak mampu maka (ingkari) dengan hatinya...(dgn tidak mengikutinya)....maka setelah itu tidak ada sebiji dzarroh pun dari iman....

PRINSIP SEORANG MUSLIM SEJATI....
"Katakan lah...Wahai orang2 kafir....aku tidak akan (ikut2an) menyembah apa yg kalian sembah....dan kalianpun (selama kalian kafir) bukan penyembah menyembah apa yg aku sembah.....pantang bagiku menjadi penyembah apa yg kalian sembah....sebagaimana kalianpun tidak pernah menjadi penyembah tuhan yg aku sembah....maka untukku agamaku dan untukmu agamamu.....(QS.Al-kafiruun:1-6)

:'(  saudaraku....tegakah kita menyesatkan diri kita dengan mengikuti syi'ar org2 yang sesat sehingga kita ikut-ikutan tersesat di dunia dan akhirat.....bukankah setiap hari minimal 17 kali kita meminta ditetapkan diatas jalan hidayah....dan berlindung dari jalan orang2 yg dibenci (yahudi) juga jalan org2 yg tersesat (nashroni)....!!!

(y) semoga Allah taala melindungi antum sekalian dari kesesatan dan menetapkan kalian di atas jalan hidayah....

Ditulis oleh:
أُسْتَاذُ Abu Ismail Fahruddin Nu'man al-Bantani, Lc - حفظه الله تعالى




♧°˚˚˚°♧♧°˚˚˚°♧
♧°˚˚˚°♧♧°˚˚˚°♧

WAJAH NEGERIKU

" :'( ...WAJAH NEGERIKU...:'(  "

Sungguh sangat memilukan wajah negeriku ...... Negeri yg Allah limpahkan didalamnya segala kenikmatan....
(y) Tanahnya subur.....
(y) Mengalir sungai2 di dalamnya....
(y) Sumber daya alamnya melimpah...
(y) Udaranya segar....
(y) pemandangannya sangat indah....
.
Negeri yang 85% penduduknya beragama islam.....

:'(  Namun.....

(n) Kekufuran merajalela di dalamnya.....
(n) Kesyirikan menebar di mana2.....
(n) Kebid'ahan sdh menjadi kebiasaan.....
(n) Kemaksiatan sdh menjadi sdh menjadi kenikmatan....
(n) Kedzoliman sdh menjadi santapan....
(n) Perpecahan sdh tak terelakan
(n) Musuh2 Allah telah banyak di jadikan teman...
(n) .Wali2 Allah sdh banyak dimusuhi.....

(n) lihatlah saudara2 kita dimalam hari ini....

Syi'ar2 Allah dipadamkan.....sementara syi'ar2 musuh Allah di semarakn.....

LAA HAULA WALA QUWWATA ILLA BILLAH.....

Allah jalla wa ala....telah mengingatkan kita.....

"Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan dgn sebuah negeri yang dahulunya aman lg tentram, rezekinya datang kepadanya meklimpah ruah dr segenap tempat. Tetapi penduduknya mengingkari nikmat2 Allah, karena Itu Allah menimpakan kepada mrk kelaparan dan ketakutan disebabkan apa yang selalu mereka perbuat.(An-Nahl : 112)

semoga Allah melindungi negeri ini dan memberikan hidayah kepada penduduknya....

Ditulis oleh: 
أُسْتَاذُ Abu Ismail Fahruddin Nu'man, Lc - حفظه الله تعالى

⌣̊┈̥-̶̯͡♈̷̴✽̶┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈⌣̊┈̥-̶̯͡.

Jumat, 27 Desember 2013

JIKA SEMUT DITUDUH BERDUSTA

JIKA SEMUT DITUDUH BERDUSTA



Ketika Ibnu Taimiyah mendapat cerita dari Ibnu Qoyyim mengenai kehidupan semut, ia berkata,“Sesungguhnya semut diciptakan Allah dengan watak jujur dan mencela kebohongan.” (Kitab Syifa’ul ‘Alil)

Salah seorang arif bercerita bahwa ia pernah menyaksikan sebuah pemandangan yang sangat menakjubkan.
Ia berkisah:“Suatu ketika aku melihat seekor semut yang berusaha mengangkat bangkai belalang, namun ia tidak sanggup mengangkatnya. Semut itu pergi sejenak lalu kembali dengan membawa serombongan semut lainnya. Sebelum mereka tiba aku mengangkat bangkai belalang itu. Ketika semut dan rombongannya tiba, semut tersebut berputar-putar di tempat itu dan diikuti oleh rombongannya, namun mereka tidak menemukan apa-apa, akhirnya mereka pun kembali. Aku menaruh bangkai belalang itu di tempat semula. Kemudian semut itu datang lagi dan menemukan bangkai belalang tersebut namun ia tidak mampu mengangkatnya.Semut itupun pergi sejenak lalu kembali dengan membawa rombongannya. Aku kembali mengangkat bangkai belalang itu. Semut-semut itu berputar-putar di sekitar tempat tersebut namun tidak menemukan apa-apa. Lalu semut-semut itupun pergi. Aku kembali meletakkan bangkai itu di tempat semula. Semut itu kembali lagi lalu memanggil rombongannya. Aku kembali mengangkat bangkai belalang tersebut. Semut-semut itu berputar-putar di sekitar tempat itu namun tidak menemukan apa-apa. Lalu semut-semut itu membentuk lingkaran kemudian mereka meletakkan semut yang memanggil mereka di tengah-tengah lingkaran lalu mereka mengangkatnya beramai-ramai dan memotongnya menjadi beberapa bagian, sementara aku melihat semua itu dengan mata kepalaku!”

(Keajaiban-keajaiban Makhluk dalam Pandangan Al Imam Ibnul Qayyim, karya Abul Mundzir Khalil bin Ibrahim Amin)

Ditulis oleh: أُسْتَاذُ  Fachrudin Nu’man - حفظه الله تعالى


♈̷̴⌣♈̷̴⌣♈̷̴⌣♈̷̴⌣♈̷̴⌣♈̷̴⌣♈̷̴⌣♈̷

Rabu, 11 Desember 2013

BAHAYA AMBISI TERHADAP KEHORMATAN

BAHAYA AMBISI TERHADAP KEHORMATAN

Ambisi terhadap kehormatan di dunia merupakan batu sandungan bagi setiap muslim dalam menggapai cita-citanya untuk mendapatkan ridha dan cinta Allah. Ketika ia lebih mengutamakan mencari popularitas, pengaruh, jabatan dan kedudukan dari ridha-Nya, ia akan berjalan menyimpang dari jalan Allah.
Diantara ciri orang yang berambisi untuk memperoleh kehormatan dari manusia:
1. Gila hormat dan pujian serta anti terhadap kritikan
2. Mudah berfatwa meskipun tanpa ilmu
3. Suka menjilat dan berbuat nifak
4. Suka memamerkan amal dan membanggakan keberhasilannya
5. Mudah berbohong, menggunjing, memfitnah orang lain dan berbuat dzalim
6. Menghalalkan segala cara dalam mencapai tujuan
7. Sombong dan dengki
8. Mengutamakan dunia dari akhirat


Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda yang artinya: "Kalian akan berambisi atas kekuasaan dan akan menjadi penyesalan pada hari kiamat..." (Bukhari)

"Barangsiapa yang menuntut ilmu untuk mendebat orang yang bodoh atau menandingi para ulama atau untuk mencari perhatian manusia, maka Allah akan memasukkannya kedalam api neraka". ( Shahih Riwayat Tirmidzi)

Penyebab dari ambisi terhadap kehormatan adalah mengikuti hawa nafsu yang akan melahirkan cinta dunia. Solusinya adalah takwa, Allah berfirman yang artinya,

"Adapun orang yang melampaui batas, dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, maka sesungguhnya nerakalah tempat tinggal(nya). Adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Rabbnya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya)".(An-Nazi’aat: 37 – 41)

"Negeri akhirat itu, Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di (muka) bumi. Dan kesudahan (yang baik) itu adalah bagi orang-orang yang bertakwa" ( Al-Qashash:83)

Imam Ibnu Rajab rahimahullah (Wafat tahun 795 H) berkata,
"Barangsiapa sibuk membina dirinya untuk mendapatkan kedudukan yang tinggi di sisi Allah dengan jalan mengenal Allah, takut , cinta kepadaNya, selalu merasa dalam pengawasanNya, tawakal, ridha dengan takdirNya, merasa tentram dan rindu kepadaNya, dia akan sampai kepadaNya. Dia tidak peduli dengan penilaian manusia. Meskipun demikian, Allah akan memberikan kedudukan yang tinggi di mata manusia dan mereka hormat kepadanya padahal dia sendiri tidak menginginkan hal tersebut, bahkan lari menjauhinya dan khawatir kalau kehormatan dunia ini bisa memutuskan jalannya menuju ridha Allah.

Allah berfirman yang artinya: "Sesungguhnya orang-orang beriman dan beramal saleh, kelak Allah Yang Mahapemurah akan menanamkan dalam (hati) mereka kasih sayang". (Maryam : 96)

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda yang artinya: "Sesungguhnya jika Allah mencintai seorang hamba, Dia berfirman: “Wahai jibril Aku mencintai si Fulan, maka cintailah dia!” lalu Jibrilpun mencintainya. Lalu jibril berseru kepada penduduk langit: Sesungguhnya Allah mencintai si Fulan, maka cintailah dia!”, maka penduduk langitpun mencintainya. Kemudian dia di karuniai dengan diterimanya di muka bumi". ( Bukhari dan Muslim)

Kesimpulannya mencari kehormatan di akhirat akan mendapatkan kehormatan akhirat plus kehormatan di dunia, meskipun ia tidak menginginkan dan tidak mencarinya. Sedangkan mencari kehormatan dunia tidak akan bertemu dan tidak akan mungkin berkumpul dengan kehormatan akhirat. Orang yang bahagia adalah orang yang lebih mengutamakan akhirat yang kekal dibandingkan dunia yang fana

 

Ditulis oleh أُسْتَاذُ Abu Isma'il Fachrudin Ibnu Nu'man - حفظه الله تعالى

♥♥♡♡♡♥♥♡♡♡♥♥♡♡♡♥♥♡♡♡♥♥

Selasa, 05 November 2013

Anak kecil yang takut kepada Allah

Anak kecil yang takut kepada Allah
Ditulis oleh: أُسْتَاذُ Abu Ismail Fahruddin Nu'man, Lc - حفظه الله تعالى


Suatu hari Abu Yazid al-Busthami menunaikan shalat tahajud.
Tiba-tiba anaknya yang masih kecil berdiri shalat di sampingnya. Abu Yazid merasa kasihan melihat anaknya yang masih kecil itu ikut shalat bersamanya, karena umumnya anak-anak kecil seusianya tidur di saat malam yang larut, apalagi malam itu udara terasa begitu dingin, orang-orang dewasa pun akan merasa berat meninggalkan tempat tidur mereka.

Abu Yazid berkata pada anaknya,
“Tidurlah wahai anakku, malam masih panjang.”
Anaknya menjawab,
“Lalu mengapa ayah shalat?”
Abu Yazid mengatakan,
“Anakku, aku memang dituntut untuk shalat malam.”
Anaknya malah menjawab dengan hafalan ayat Alquran yang ia hafal,
“Aku telah menghafal sebagian firman Allah yang berbunyi: ‘Sesungguhnya Tuhanmu mengetahui bahwa kamu berdiri shalat kurang dari dua pertiga malam atauseperdua malam atau sepertiganya dan demikian pula segolongan orang-orangyang bersama kamu (Nabi)’.
Lalu siapa orang-orang yang berdiri shalat bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam?
Abu Yazid menjawab,
“Tentu saja para sahabat beliau.”
Anak Abu Yazid kembali mengatakan,
“Jangan menghalangiku untuk meraih kemuliaan menyertaimu dalam ketaatan kepada Allah.”
Abu Yazid dengan penuh kekaguman berkata,
“Anakku kamu masih bocah dan belum mencapai usia dewasa.”
Anaknya menjawab,
“Ayah, aku melihat ibu sewaktu menyalakan api; dia memulai dengan potongan-potongan kayu kecil untuk menyalakan kayu-kayu yang besar. Maka aku takut Allah memulai dengan kami para anak kecil sebelum orang-orang dewasa pada hari kiamat nanti, jika kita lalai dari ketaatan kepada-Nya.”

Abu Yazid pun tersentak dengan ucapan anaknya itu dan kagum dengan rasa takut kepada Allah yang dimiliki anaknya walaupun masih sangat kecil.
Abu Yazid berkata,
“Anakku berdirilah. Kamu lebih berhak dengan Allah daripada bapakmu.”

Maha Suci Allah, yang mengubah keadaan. Hari ini anak-anak kita jauh dari Allah, mereka sibuk dengan hal-hal yang menjauhkan mereka dari Allah dan terbiasa dengan akhlak dan budi pekerti yang rendah. Kalau generasi dahulu sejak kecil mereka telah mengenal ketaatan, mungkin tidak berlebihan apabila kita katakan anak-anak sekarang sejak kecil telah mengenal kemaksiatan kecuali yang diselamatkan oleh Allah. Oleh karena itu, para orang tua hendaknya menjadi teladan bagi anak-anak mereka, mencontohkan perbuatan ketaatan, dan menjauhkan mereka dari acara-acara dan program yang memuat akhlak yanghina, karena anak-anak meniru apa yang mereka saksikan.

Mudah-mudahan Allah memberi taufik kepada kita dan keluarga kita untuk selalu menaatinya.

Sumber:
Ensiklopedi Kisah Generasi Salaf


◦"̮◦◦"̮◦◦"̮◦◦"̮◦◦"̮◦◦"̮◦◦"̮◦◦"̮◦◦"̮◦◦"̮◦

Minggu, 03 November 2013

Benci Syi'ah

Benci Syi'ah
Ditulis oleh: أُسْتَاذُ Abu Ismail Fahruddin Nu'man - حفظه الله تعالى

Setiap kaum muslimin berkewajiban menanamkan kebencian terhadap kaum SYI'AH di dada keluarga, anak dan keturunannya, sebagaimana mereka telah menanamkan kebencian terhadap Abu Bakar, Umar, Utsman, dan para sahabat juga istri2 Nabi shallallahu 'alaihi wasallam di dada keluarga anak dan keturunan mrk.

Mereka menghancurkan agama Rosulullah dari dua sumbernya yg otentik yaitu keluarga (istri2nya) dan para sahabatnya lalu mrk menggunakan dalil2 palsu di dalam beragama krn tidak memiliki sumber.

Ahlussunnah harus gigih berjuang utk melumpuhkan agama yg sesat ini,
dan jangan membiarkan bendera mrk berkibar di negri ini. Dengan terus mendahwahkan prinsip ahlussunnah dan menanamkan kecintaan kaum muslimin terhadap kekasih2 Rosulullah yaitu para sahabat dan istri2nya.

♈̷̴⌣♈̷̴⌣♈̷̴⌣♈̷̴⌣♈̷̴⌣♈̷̴⌣♈̷̴⌣♈̷

Rabu, 10 Juli 2013

Lima amalan utama yg kita patut kita sempurnakan dan kita jaga di bulan Ramadhan

Saudaraku...
Ramadhan adalah hari2 yang terbatas dan akan cepat berlalu...
Maka jgn terlambat...!
Barangkali kita tidak bertemu lg dgn ramadhan yg akan datang.

Minimal Ada lima amalan utama yg kita patut kita sempurnakan dan kita jaga di bulan ini :

1) Menyempurnakan puasa, dan bersungguh2 menjaganya dari hal2 yg mengurangi pahalanya.
2) Bersungguh2 qiyamullail / tarawih dgn berjama'h bagi laki2 dengan menyempurnakan khusyu'nya.
3) Bersungguh2 mmbaca Al-qur'an dan mengkhatamkannya.
4) Memperbanyak infaq dan memberi buka puasa kpd saudaranya.
5) Bersungguh2 di sepuluh hari terakhir dengan beri'tikaf dan mencari malam lailatul qodar.

Semoga Allah mmberikan pertolongan kpd kita dalam mendulang keutamaan di bln yg penuh barokah ini.
Semoga Allah mengampuni dosa2 kita, dan membebaskan kita dari neraka-Nya.

Ditulis oleh
أُسْتَاذُ  Abu Isma'il Fahruddin Ibnu Nu'man, Lc - حفظه الله تعالى 


*•☆°• •°☆•**•☆°• •°☆•**•☆*•☆°• •°☆•

Senin, 08 Juli 2013

Hilal atau Hisab ???

✽ Hilal atau Hisab ??? ✽
Oleh : أُسْتَاذُ Fahrudin Nu'man, Lc - حفظه الله تعالى

Bismillah,
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,:
”Sesungguhnya kami adalah umat ummiyah. Kami tidak mengenal kitabah (tulis-menulis) dan tidak pula mengenal hisab (ilmu nujum/astronomi). Bulan itu seperti ini (beliau berisyarat dgn bilangan 29) dan seperti ini (beliau berisyarat dgn bilangan 30).
[HR. Bukhari no. 1913 dan Muslim no. 1080, dari ‘Abdullah bin ‘Umar]

Ibnu Hajar rahimahullah brkata :
"Menentukan awal ramadhan dan hari raya dgn hisab (astronomi), termasuk perkara bid'ah dlm agama"
[kitab Fathul Bari, 4/127].

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam brsabda:
“Berpuasalah karena melihat hilal, begitu pula berhari rayalah karena melihatnya.” (HR. Bukhari)

“Berpuasalah kalian karena melihatnya (hilal) dan berbukalah karena melihatnya (hilal bulan Syawal). Jika kalian terhalang awan, maka sempurnakanlah Sya’ban tiga puluh hari.”
(HSR. Bukhari 4/106, dan Muslim 1081 Dari Abi Hurairah radhiallahu ‘anhu)

“Barangsiapa mentaatiku berarti telah menaati Allah, barangsiapa menentangku berarti telah menentang Allah, barangsiapa menaati pemimpin (umat)ku berarti telah menaatiku, dan barang siapa menentang pemimpin (umat)ku berarti telah menentangku.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim, dari shahabat Abu Hurairah)

Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani berkata: “Di dalam hadits ini terdapat keterangan tentang kewajiban menaati para pemerintah dalam perkara2 yang bukan kemaksiatan. Adapun hikmahnya adalah untuk menjaga persatuan dan kebersamaan (umat Islam), karena di dalam perpecahan terdapat kerusakan.” (Fathul Bari, 13/120).

Jd HISAB hanya utk perkiraan saja sedangkan penentuannya adalah dgn HILAL.

Allah subhaanahu wa ta'ala dan RasulNya memerintahkan kita utk taat kpd Ulil Amri (pemerintah muslim) dlm hal yg ma'ruf, bukan kpd Ormas. Termasuk disini dlm penentuan awal ramadhan atau syawal. Dan itulah yg lebih SELAMAT.

»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶