KATAKAN إِنْ شَاءَ اللّهُ
Allah سبحانه وتعالى berfirman dalam surat Al-Kahfi ayat 23-24 yang artinya, "Dan jangan sekali-kali engkau mengatakan terhadap sesuatu", Aku pasti melakukan itu besok pagi", kecuali (dengan mengatakan) إِنْ شَاءَ اللّهُ ( jika Allah menghendaki )".
Berkata Al-Allamah As-Syinkithy dalam Adwa'ul Bayan, "Ayat muliya ini Allah سبحانه وتعالى melarang Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم untuk mengatakan "Aku akan melakukan sesuatu esok hari", kecuali jika digantungkan dengan ucapan إِنْ شَاءَ اللّهُ , yang mana tiada sesuatu yang terjadi sekecil apapun di alam semesta ini kecuali atas kehendak Allah سبحانه وتعالى , oleh karenanya dilarang mengatakan akan melakukan sesuatu dengan pasti esok hari.
Kalimat "esok hari / besok pagi" adalah ungkapan umum dan global untuk masa yang akan datang, sebagaimana dikatakan dalam lantunan sya'ir; "Dan aku mengetahui apa yang aku ilmui hari ini dan kemarin hari sebelumnya - Akan tetapi terhadap apa yang ada di esok hari Aku tidak mengetahuinya".
Sebab turunnya Ayat mulia ini, bahwasanya orang yahudi berkata kepada orang-orang kafir kuraisy", Bertanyalah kepada Muhammad tentang ruh, tentang Dzul Kurnain, dan tentang Ashabul Kahfi".
Maka ditanyakan hal itu kepada Nabi dan dijawab, "Aku akan berikan jawaban besok". Tanpa mengatakan إِنْ شَاءَ اللّهُ. Maka beberapa hari wahyu tidak turun kepada Nabi صلى الله عليه وسلم hingga dikatakan 15 hari. Maka keterlambatan wahyu ini menjadikan Nabi صلى الله عليه وسلم bersedih, kemudian turunlah teguran ayat ini sekaligus memberikan jawaban tiga pertanyaan diatas.
Teguran seperti ini juga Allah سبحانه وتعالى lakukan terhadap Nabi Sulaiman tatkala ia berkata, "Sungguh Aku akan keliling dalam malam ini terhadap isrti-istriku yang berjumlah 70
dalam riwayat lain 90, dalam riwayat lain 100 dan niscaya akan melahirkan setiap darinya Anak Laki-laki yang akan berperang di jalan Allah. Dan ia tidak mengatakan kalimat إِنْ شَاءَ اللّهُ .
Maka ia pun keliling ke seluruh istrinya akan tetapi tidak seorangpun darinya terlahir, kecuali hanya satu dari istrinya yang hanya berbentuk separuh manusia (tidak utuh berbentuk manusia).
Maka Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda,
"Demi jiwaku yang ada di tanganNya, jika ia mengatakan kalimat إِنْ شَاءَ اللّهُ , niscaya terpenuhi keinginannya". Dalam riwayat lain, "Niscaya masing-masing lahir anak lelaki semuanya berjuang di jalan Allah".
- Adwa'ul Bayan 540 -
Ditulis oleh Ustadz Rochmad Supriyadi, Lc حفظه الله تعالى .
♥♥♥♥♥♥
Tampilkan postingan dengan label أُسْتَاذُ Rochmad Supriyadi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label أُسْتَاذُ Rochmad Supriyadi. Tampilkan semua postingan
Jumat, 08 Agustus 2014
Rabu, 07 Mei 2014
Menjaga Lisan
Menjaga Lisan
Menjaga lisan bisa dilakukan dg menahan ucapan dari yg tdk
manfaat, dan memperhitungkan
apakah ucapannya nanti akan membawa kepada
keberuntungan di dunia maupun di akhirat, jika tdk membawa
keberuntungan maka hendaknya dikekang dan ditahan.
Bahkan lisan merupakan
gambaran apa yg ada didalam hati, sebagaimana berkata Yahya ibnu Mu’adz ; ” Hati merupakan bejana yg akan menumpahkan
isi yg ada didalamnya, sedangkan lisan adalah lubang jalan keluarnya, maka lihatlah seseorang tatkala bicara, lisannya
akan menumpahkan isi hati nya, bisa jadi manis, pahit, jernih lagi dingin, dan seterusnya, dan
senantiasa menuangkan isi hatinya dengan gerakan lisannya”. HR Abu Nuaim.
Berkata Anas,” Tidaklah lurus iman seorang hamba hingga lurus hatinya, dan tak akan lurus hati seorang hamba hingga lurus
lisannya“. HR Ahmad.
Nabi ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ditanya tentang perbuatan yg paling
banyak mengantarkan kedalam neraka maka menjawab ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ
ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ,” Lisan dan farji“. HR Tirmidzy
Mu’adz pernah bertanya kepada
Nabi ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻞ ﻡ tentang amalan yg memasukkan kedalam
surga dan menjauhkan dari neraka maka Nabi ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ
ﻭﺳﻠﻢ bersabda ,” Jaga darimu lisan ini “. Kemudian Mu’adz
bertanya kembali ,’ apakah kita akan bertanggung jawab dari
lisan ini ? Maka Nabi ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ
ﻭﺳﻠﻢ bersabda ,” Ya, kelak manusia akan ditelungkupkan didalam neraka lantaran hasil
dari buah bibir nya”. HR Tirmidzy.
Merupakan hal yg aneh, manusia mampu menjaga diri dari
memakan haram, mencuri, minum khomer, berzina, dan sulit baginya menjaga lisan, bahkan seseorang terpandang dalam
agama, zuhud, rajin ibadah ia merasa sulit untuk mengekang
lisan, hinga terucap satu kalimat yg tanpa sadar menyeret kejurang neraka lebih jauh antara timur dan barat.
Ditulis oleh: أُسْتَاذُ Rochmad Supriyadi, Lc حفظه الله تعال
✽¸.•
•.¸✽¸•
•.¸✽¸•
•.¸✽¸.•
•.¸✽
Menjaga lisan bisa dilakukan dg menahan ucapan dari yg tdk
manfaat, dan memperhitungkan
apakah ucapannya nanti akan membawa kepada
keberuntungan di dunia maupun di akhirat, jika tdk membawa
keberuntungan maka hendaknya dikekang dan ditahan.
Bahkan lisan merupakan
gambaran apa yg ada didalam hati, sebagaimana berkata Yahya ibnu Mu’adz ; ” Hati merupakan bejana yg akan menumpahkan
isi yg ada didalamnya, sedangkan lisan adalah lubang jalan keluarnya, maka lihatlah seseorang tatkala bicara, lisannya
akan menumpahkan isi hati nya, bisa jadi manis, pahit, jernih lagi dingin, dan seterusnya, dan
senantiasa menuangkan isi hatinya dengan gerakan lisannya”. HR Abu Nuaim.
Berkata Anas,” Tidaklah lurus iman seorang hamba hingga lurus hatinya, dan tak akan lurus hati seorang hamba hingga lurus
lisannya“. HR Ahmad.
Nabi ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ditanya tentang perbuatan yg paling
banyak mengantarkan kedalam neraka maka menjawab ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ
ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ,” Lisan dan farji“. HR Tirmidzy
Mu’adz pernah bertanya kepada
Nabi ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻞ ﻡ tentang amalan yg memasukkan kedalam
surga dan menjauhkan dari neraka maka Nabi ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ
ﻭﺳﻠﻢ bersabda ,” Jaga darimu lisan ini “. Kemudian Mu’adz
bertanya kembali ,’ apakah kita akan bertanggung jawab dari
lisan ini ? Maka Nabi ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ
ﻭﺳﻠﻢ bersabda ,” Ya, kelak manusia akan ditelungkupkan didalam neraka lantaran hasil
dari buah bibir nya”. HR Tirmidzy.
Merupakan hal yg aneh, manusia mampu menjaga diri dari
memakan haram, mencuri, minum khomer, berzina, dan sulit baginya menjaga lisan, bahkan seseorang terpandang dalam
agama, zuhud, rajin ibadah ia merasa sulit untuk mengekang
lisan, hinga terucap satu kalimat yg tanpa sadar menyeret kejurang neraka lebih jauh antara timur dan barat.
Ditulis oleh: أُسْتَاذُ Rochmad Supriyadi, Lc حفظه الله تعال
✽¸.•
Jumat, 02 Mei 2014
IKHLAS ADALAH BERAMAL SALIH & KHAWATIR TERHADAP ADZAB AKHIRAT
IKHLAS ADALAH BERAMAL SALIH & KHAWATIR TERHADAP ADZAB AKHIRAT
Ditulis oleh: أُسْتَاذُ Rochmad Supriyadi, Lc حفظه الله تعال
Allah Ta’ala mengkisahkan keberadaan kelompok dari org-org shalih yg berbuat kebaikan dlm firman-Nya,
“& mereka memberikan makanan yg disukainya kpd org miskin,
anak yatim & org yg ditawan. Sesungguhnya kami memberi makanan
kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu & tidak pula (ucapan) terima kasih. Sesungguhnya kami takut akan (azab) Tuhan kami pada suatu hari yg (di hari itu) org-org bermuka masam penuh kesulitan. Maka Tuhan memelihara mereka dari kesusahan hari itu, & memberikan kpd mereka kejernihan (wajah) & kegembiraan hati” (QS. Al-Insan: 8-11)
org-org shalih tersebut berbuat kebaikan bukan dlm rangka mengharap imbalan, penghargaan maupun ungkapan syukur dari para manusia & mereka tidak mengharapkan balasan dlm pemberian makan, minum serta pertolongan yg mereka lakukan, akan tetapi rasa takut kpd Allah Ta’ala yg menjadi dasar atas perbuatan kebaikan yg mereka kerjakan. Sebagaimana diungkapkan, ”Sesungguhnya kami takut akan (azab) Tuhan kami pada suatu hari yg (di hari itu) org-org bermuka masam penuh kesulitan”, maka mereka berbuat kebaikan & mereka khawatir akan Tuhannya pada hari Kiamat, bukan dlm rangka memuaskan hati, bersikap sombong kpd yg mereka santuni, sebagaimana diriwayatkan oleh ‘Aisyah radhiyallahu’anha tatkala bertanya tentang ayat yg difirmankan;
“& org-org yg memberikan apa yg telah mereka berikan, dg hati yg takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kpd Tuhan mereka”(QS Al Mukminun: 60)
Berkata ‘Aisyah radhiyallahu’anha, ”Apakah mereka ini sekelompok org yg minum khomer & mencuri?”, maka dijawab, “Bukan wahai Bintu Siddiq, mereka adalah org-org yg berpuasa, mendirikan sholat, bersedekah, sedangkan hati mereka khawatir dari tidak diterima amal mereka, sehingga mereka bersegera dlm berbagai kebaikan“(silsilah shohihah no. 162)
✽¸.•
•.¸✽¸•
•.¸✽¸•
•.¸✽¸.•
•.¸✽
Ditulis oleh: أُسْتَاذُ Rochmad Supriyadi, Lc حفظه الله تعال
Allah Ta’ala mengkisahkan keberadaan kelompok dari org-org shalih yg berbuat kebaikan dlm firman-Nya,
“& mereka memberikan makanan yg disukainya kpd org miskin,
anak yatim & org yg ditawan. Sesungguhnya kami memberi makanan
kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu & tidak pula (ucapan) terima kasih. Sesungguhnya kami takut akan (azab) Tuhan kami pada suatu hari yg (di hari itu) org-org bermuka masam penuh kesulitan. Maka Tuhan memelihara mereka dari kesusahan hari itu, & memberikan kpd mereka kejernihan (wajah) & kegembiraan hati” (QS. Al-Insan: 8-11)
org-org shalih tersebut berbuat kebaikan bukan dlm rangka mengharap imbalan, penghargaan maupun ungkapan syukur dari para manusia & mereka tidak mengharapkan balasan dlm pemberian makan, minum serta pertolongan yg mereka lakukan, akan tetapi rasa takut kpd Allah Ta’ala yg menjadi dasar atas perbuatan kebaikan yg mereka kerjakan. Sebagaimana diungkapkan, ”Sesungguhnya kami takut akan (azab) Tuhan kami pada suatu hari yg (di hari itu) org-org bermuka masam penuh kesulitan”, maka mereka berbuat kebaikan & mereka khawatir akan Tuhannya pada hari Kiamat, bukan dlm rangka memuaskan hati, bersikap sombong kpd yg mereka santuni, sebagaimana diriwayatkan oleh ‘Aisyah radhiyallahu’anha tatkala bertanya tentang ayat yg difirmankan;
“& org-org yg memberikan apa yg telah mereka berikan, dg hati yg takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kpd Tuhan mereka”(QS Al Mukminun: 60)
Berkata ‘Aisyah radhiyallahu’anha, ”Apakah mereka ini sekelompok org yg minum khomer & mencuri?”, maka dijawab, “Bukan wahai Bintu Siddiq, mereka adalah org-org yg berpuasa, mendirikan sholat, bersedekah, sedangkan hati mereka khawatir dari tidak diterima amal mereka, sehingga mereka bersegera dlm berbagai kebaikan“(silsilah shohihah no. 162)
✽¸.•
MANUSIA SEMPURNA
MANUSIA SEMPURNA
..͡▹ Penulis: أُسْتَاذُ Rochmad Supriyadi, Lc حفظه الله تعال
Kesempurnaan manusia berdasarkan dua pijakan, mengetahui Al-Hak dari yg Bathil, dan Mengedepankan Al-Hak dg Amal dan menyeru kpd nya. Dan derajat manusia di sisi Allah سبحانه وتعالى baik d dunia dan akhirat terpaku pd dua perkara diatas.
Dg ini bisa dipilah manusia dg beberapa jenis ;
- Manusia yg mengenal Al-Hak dan mengamalkan serta mendakwahkan. Maka ini jenis yg paling muliya di sisi Allah dari seluruh makhluk yg ada.
- Manusia yg tdk memiliki bashirah agama dan tdk bersemangat utk dirinya dan utk orang lain. Maka ini seburuk2 makhluk, mereka tertawan syaithon bahkan menjadi pengikut dan tentara nya.
- Manusia yg memiliki Bashiroh ilmu dan hidayah,akan tetapi ia lemah tdk berdaya. Maka ini gambaran seorang mukmin yg lemah, sedang mukmin yg kuwat lebih dicinta Allah.
- Manusia yg memiliki kekuatan dan semanggat, akan tetapi ia lemah pemahaman agamanya.
Dari semua yg diatas tdk pantas utk menjadi pemimpin Agama dan tdk layak melainkan jenis pertama , yg mana Allah berfirman ,
" Dan kami jadikan diantara mereka para pemimpin yg senantiasa membawa petunjuk hidayah di jalan kami , tatkala mereka sabar dan mereka senantiasa yakin thd Ayat kami ". As-Sajjadah 24.
- mausuah fikh islamy 1/487 -
✽¸.•
•.¸✽¸•
•.¸✽¸•
•.¸✽¸.•
•.¸✽
Kesempurnaan manusia berdasarkan dua pijakan, mengetahui Al-Hak dari yg Bathil, dan Mengedepankan Al-Hak dg Amal dan menyeru kpd nya. Dan derajat manusia di sisi Allah سبحانه وتعالى baik d dunia dan akhirat terpaku pd dua perkara diatas.
Dg ini bisa dipilah manusia dg beberapa jenis ;
- Manusia yg mengenal Al-Hak dan mengamalkan serta mendakwahkan. Maka ini jenis yg paling muliya di sisi Allah dari seluruh makhluk yg ada.
- Manusia yg tdk memiliki bashirah agama dan tdk bersemangat utk dirinya dan utk orang lain. Maka ini seburuk2 makhluk, mereka tertawan syaithon bahkan menjadi pengikut dan tentara nya.
- Manusia yg memiliki Bashiroh ilmu dan hidayah,akan tetapi ia lemah tdk berdaya. Maka ini gambaran seorang mukmin yg lemah, sedang mukmin yg kuwat lebih dicinta Allah.
- Manusia yg memiliki kekuatan dan semanggat, akan tetapi ia lemah pemahaman agamanya.
Dari semua yg diatas tdk pantas utk menjadi pemimpin Agama dan tdk layak melainkan jenis pertama , yg mana Allah berfirman ,
" Dan kami jadikan diantara mereka para pemimpin yg senantiasa membawa petunjuk hidayah di jalan kami , tatkala mereka sabar dan mereka senantiasa yakin thd Ayat kami ". As-Sajjadah 24.
- mausuah fikh islamy 1/487 -
✽¸.•
Rabu, 30 April 2014
SUDAHKAH KITA IKHLAS ???
S
SUDAHKAH KITA IKHLAS ???
..͡▹ Penulis: أُسْتَاذُ Rochmad Supriyadi, Lc حفظه الله تعال
Allah Ta’ala berfirman dalam QS Al Furqon Ayat: 23,
وَقَدِمْنَا إِلَى مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَاء مَّنثُوراً
“Dan kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan , lalu kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan.”Hal ini dikarenakan mereka tidak berbuat ikhlas mengharap wajah Allah Ta’ala, dan demikianlah seluruh amal manusia jika tidak berbuat ikhlas, maka apa yang ia dapat dari berbuat letih dan lelah dalam suatu amalan, jika hal itu berujung kepada fatamorgana tidak berbekas sedikitpun.
Maka dari itu wahai orang-orang yang beramal, hendaknya kalian memperhatikan keikhlasan dan keikhlasan.......Sebagai tanda seseorang telah melakukan ikhlas adalah:
Ia sangat memperhatikan keabsahan amal dan menjauhi akan pembatal dan perusak amalan serta segala yang mengurangi pahala, sehingga ia mendekatkan diri kepada Allah sesuai petunjuk Sunnah.
Ia tidak mengharap imbalan dari manusia dan tidak merasa telah berjasa kepada Allah atas amalnya, akan tetapi Allah yang telah melimpahkan nikmat kepada dirinya dengan menunjukkan jalan keimanan.
Ia senantiasa melihat kepada dirinya dengan pandangan koreksi dan muhasabah, hingga ia tidak merasa bangga diri atas amalnya, akan tetapi ia istiqomah dalam beramal dan khawatir akan tidak diterima disisi Allah.
Ia tidak gemar menampakkan amal dihadapan manusia, akan tetapi ia berusaha menyembunyikan hingga tidak terlihat para manusia. Dahulu Amru ibnu Qois -salah satu dari salaf yang gemar beribadah- jika ia menangis, maka ia memalingkan wajahnya ketembok dan mengatakan ia sedang kurang enak badan.
|✽¸.•
•.¸✽¸•
•.¸✽¸•
•.¸✽¸.•
•.¸✽
SUDAHKAH KITA IKHLAS ???
Allah Ta’ala berfirman dalam QS Al Furqon Ayat: 23,
وَقَدِمْنَا إِلَى مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَاء مَّنثُوراً
“Dan kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan , lalu kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan.”Hal ini dikarenakan mereka tidak berbuat ikhlas mengharap wajah Allah Ta’ala, dan demikianlah seluruh amal manusia jika tidak berbuat ikhlas, maka apa yang ia dapat dari berbuat letih dan lelah dalam suatu amalan, jika hal itu berujung kepada fatamorgana tidak berbekas sedikitpun.
Maka dari itu wahai orang-orang yang beramal, hendaknya kalian memperhatikan keikhlasan dan keikhlasan.......Sebagai tanda seseorang telah melakukan ikhlas adalah:
Ia sangat memperhatikan keabsahan amal dan menjauhi akan pembatal dan perusak amalan serta segala yang mengurangi pahala, sehingga ia mendekatkan diri kepada Allah sesuai petunjuk Sunnah.
Ia tidak mengharap imbalan dari manusia dan tidak merasa telah berjasa kepada Allah atas amalnya, akan tetapi Allah yang telah melimpahkan nikmat kepada dirinya dengan menunjukkan jalan keimanan.
Ia senantiasa melihat kepada dirinya dengan pandangan koreksi dan muhasabah, hingga ia tidak merasa bangga diri atas amalnya, akan tetapi ia istiqomah dalam beramal dan khawatir akan tidak diterima disisi Allah.
Ia tidak gemar menampakkan amal dihadapan manusia, akan tetapi ia berusaha menyembunyikan hingga tidak terlihat para manusia. Dahulu Amru ibnu Qois -salah satu dari salaf yang gemar beribadah- jika ia menangis, maka ia memalingkan wajahnya ketembok dan mengatakan ia sedang kurang enak badan.
|✽¸.•
MEREDAM PAHITNYA MUSIBAH
MEREDAM PAHITNYA MUSIBAH
Mimbar Jum’ah oleh: Asy-Syaikh Abdurrozak Al-Badr hafidzahullah
Alhamdulillah, washsholatu wassalamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du;
Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kalian kepada Allah, takwa yaitu melakukan ketaatan kepada Allah atas dasar petunjuk dari Allah, dengan mengharap pahala Allah, serta menjauhi maksyiat kepada Allah lantaran petunjuk dari Allah, dalam rangka takut akan siksa Allah.
Sesungguhnya diantara sunnah Allah yang berlaku pada para makhluknya, dari semenjak diciptakannya hingga hari kiamat adalah senantiasa dijumpai cobaan , ujian, musibah, agar nampak diantara para hamba mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang bersabar dan mana yang menggerutu, sebagaimana yang telah difirmankan Allah Ta’ala dalam QS Al-Baqarah 155-156,
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوفْ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الأَمَوَالِ وَالأنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ. الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُم مُّصِيبَةٌ قَالُواْ إِنَّا لِلّهِ وَإِنَّـا إِلَيْهِ رَاجِعونَ.
155. “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. 156. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: "Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun" .
Adapun hasil dari datangnya musibah adalah sejauh mana ia mensikapi musibah tersebut, jika ia ridho maka baginya keridhoan, dan jika ia murka maka baginya adalah kemurkaan. Maka barang siapa yang tatkala ia mendapat musibah dan ia murka dan kufur, ia akan dituliskan di dalam golongan orang-orang yang binasa. Barang siapa yang berkeluh kesah serta lalai, maka ia akan dituliskan di dalam kelompok orang yang lalai, barang siapa yang murka dan menentang hikmah serta ketentuan Allah, maka ia digolongkan dalam kelompok orang yang merugi.
Dan barang siapa yang ia ridho maka ia digolongkan dalam kelompok orang yang diridhoi. Barang siapa yang ia mampu bersabar, maka ia dikelompokkan dalam golongan orang yang sabar. Barang siapa yang ia mampu bersyukur, maka ia digolongkan pada kelompok orang yang bersyukur.
Tatkala manusia dihadapkan pada cobaan maka sebaiknya ia mengetahui adab islam dan bimbingan syari’ah, dikarenakan dalam suatu cobaan terdapat rasa sakit, berat, pahit, akan tetapi bagi seorang yang beriman jika ia telah mengetahui petunjuk agama, adab dan perangai islam, maka ia akan merasa terhibur dan mendapat hikmah dan kebaikan di dunia dan akhirat. Oleh karenanya bagi seorang muslim agar mempelajari adab, etika dan petunjuk agama agar dirinya mampu meredam pahitnya musibah, dan orang yang paling beruntung adalah orang yang diberi taufik Allah hingga ia dapat istiqomah tatkala musibah menghampirinya.
Diantara amalan yang utama dalam meredam pahitnya musibah adalah mengucapkan kalimat istirja’, yaitu ucapan “INNA LILLAHI WA INNAA ILAIHI ROJI’UUN”, sebagaimana yang telah Allah firmankan dalam QS. Al-Baqarah: 156,
الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُم مُّصِيبَةٌ قَالُواْ إِنَّا لِلّهِ وَإِنَّـا إِلَيْهِ رَاجِعونَ
156. “(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: "Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun" .
Ini merupakan penawar yang utama, di saat ia tertimpa musibah maka ia ingat bahwa dirinya adalah seorang hamba milik Allah, dan ia akan dikembalikan kehadapan Allah, dengan ini ia akan merasa terhibur walaupun apa yang ia timpa adalah ujian yang berat dan besar.
Diantara peredam musibah adalah hendaknya ia mengetahui ilmu yakin tidak ragu walau sekecil apapun bahwa apa yang telah menjadi putusan Allah tidak akan luput baginya, dan apa yang bukan menjadi takdirnya maka tidak akan menghampirinya, Allah berfirman dalam QS. Al-Hadid: 22;
مَا أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِّن قَبْلِ أَن نَّبْرَأَهَا إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ
“Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah”.
Diantara penawar musibah adalah merenungi dan membandingkan dengan musibah lain, yang mana ia akan mendapati bahwa di sana terdapat musibah yang jauh lebih besar, sehingga ia merasa terhibur.
Diantara penawar musibah adalah ia mengetahui bahwa tatkala ia berkeluh kesah dalam suatu cobaan, tidak akan merubah kenyataan, bahkan akan membawa kepada keburukan, kelemahan dan kesengsaraan.
Diantara penawar musibah adalah hendaknya ia mengilmui, bahwa hilangnya pahala dan balasan dari suatu musibah yang terjadi merupakan bentuk musibah yang paling besar, dikarenakan di sana telah Allah janjikan pahala bagi yang mampu bersabar, dalam firman-Nya;
أُولَـئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِّن رَّبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَـئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ
“Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk”. (QS. Al-Baqarah: 157).
Diantara penawar musibah adalah berharap mendapat ganti dari sisi Allah Ta’ala, dikarenakan tatkala ia ditimpa musibah dan ia mengucap kalimat istirja’ niscaya ia akan mendapat ganti yang lebih baik, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ”Tidaklah seorang hamba tertimpa suatu musibah, dan ia mengatakan ‘inna lillahi wa inna ilaihi roji’uun, Allahumma ajjurni fi mushibati wakhlufli khoiran minha’, kecuali ia akan diberikan pertolongan dan diberikan ganti yang lebih utama“.
Diantara penawar musibah adalah mengetahui bahwa jika ia tidak bersabar karena Allah dan mencari keridhoan dan pahala-Nya niscaya ia akan berhadapan dengan kenyataan yang memaksanya sabar yang tidak berpahala, sebagaimana dikatakan, ”Barang siapa tidak bersabar dan merasa terhibur dalam musibah yang menimpanya dalam rangka mencari pahala Allah dan iman akan takdir-Nya maka ia akan terpaksa sabar dengan kesabaran binatang“.
Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda, ”Sesungguhnya kesabaran hanyalah tatkala turunnya suatu musibah“.
Diantara penawar musibah adalah mengetahui bahwa Allah Ta’ala tidak akan menurunkan musibah bagi seorang muslim dalam rangka membinasakan hambanya, akan tetapi diturunkan dalam rangka membersihkan seorang hamba dan membedakan antara hamba yang bersabar dan yang berkeluh kesah, oleh karena itu sepantasnya seorang hamba untuk memperhatikan perkara ini agar meraih pahala dan ganjaran Allah Ta’ala, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ”Mengherankan perkara seorang mukmin, setiap perkaranya adalah kebaikan, dan hal itu tidak ada kecuali bagi seorang mukmin, jika ia ditimpa sesuatu yang menyenangkan dia bersyukur, maka ini adalah kebaikan baginya. Jika ia ditimpa sesuatu yang tidak menyenangkan dia bersabar, maka ini adalah kebaikan baginya“.
Diantara penawar musibah adalah melihat dan merenungi keadaan para manusia semuanya, jika ia melihat ia akan menjumpai banyak manusia yang diberikan ujian dan cobaan. Dan hendaknya ia sadar bahwa kesenangan hidup dunia adalah menyerupai mimpi dalam tidur dan bayangan yang akan lenyap. Berkata Abdullah ibnu Mas’ud, ”Disetiap kegembiraan terdapat pengorbanan, dan tidaklah suatu rumah terdapat banyak kegembiraan melainkan banyak dijumpai tetesan air mata“.
Diantara penawar musibah adalah seorang hamba mengetahui bahwa musibah adalah cobaan, dan Allah Ta’ala mengasihi seorang hamba atas apa yang menimpanya, hal ini dikarenakan jika hamba terus menerus dalam kesehatan dan ‘afiyah, melimpahnya harta bisa jadi akan lalai dan tertipu serta bangga diri yang akan menjadikan kebinasaan bagi dirinya. Akan tetapi bilamana Allah turunkan peringatan baik pada dirinya, hartanya, ataupun dalam urusannya, maka niscaya ia akan senatiasa tunduk dan rendah hati dan terjauhkan dari rasa ujub, maka Maha Suci Allah tatkala menurunkan suatu cobaan dan peringatan atas hamba-Nya.
Diantara penawar musibah adalah seorang hamba mengetahui tatkala dijumpai pahitnya musibah bila disertai kesabaran dan mencari pahala disisi Allah, niscaya akan berubah menjadi suatu yang manis terlebih pada hari kiamat, ia bersabar atas pahitnya ujian yang bersifat sementara dan akan meraih ganjaran kebahagiaan yang kekal abadi, jika tidak maka akan terjadi sebaliknya, dan kita berlindung kepada Allah dari hal ini.
Semoga kita diberikan akal sehingga dapat merenung dan berfikir dan semoga kita diberikan limpahan hidayah menuju jalan yang lurus. Dan semoga Allah memperbaiki urusan dan perkara kita semua, serta segala putusan-Nya baik bagi kita semua, dan kita meminta ampun kepada Allah atas dosa kita dan kaum muslimin seluruhnya, sesungguhnya Dia adalah Dzat Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Alhamdulillah, wa sholatu wassalamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du;
Wahai para hamba Allah, jika seandainya kita dalam kesehatan dan ‘afiyah serta limpahan harta maka jangan sekali-kali kita tertipu dan terpedaya, bukankah orang yang kerkena musibah dan cobaan pada hari ini mereka dulunya dalam keadaan sehat dan ‘afiyah!! Oleh karena itu sepantasnya bagi orang yang berakal tatkala ia dalam keadaan sehat dan ‘afiyah tidak melupakan keadaan ini, dan seyogyanya ia tidak lupa terhadap para hamba Allah lainnya yang sedang mengalami musibah, sesungguhnya Allah senantiasa memberikan pertolongan bagi para hamba selagi mereka memberikan pertolongan terhadap sesama saudara mereka, dan jika hamba senantiasa memenuhi dalam hajat saudaranya, niscaya Allah akan memenuhi hajatnya disaat ia menjumpai perkara genting, dan perbuatan kebajikan akan menjadi perisai ketika keadaan buruk.
Wahai kaum mukminin, barang siapa yang melihat keadaan saudaranya dari kaum muslimin di berbagai penjuru, niscaya di sana dijumpai diantara mereka yang sedang mendapat ujian dan cobaan, maka sebaiknya kita memberikan pertolongan dengan memanjatkan do’a kepada Allah agar mereka segera terbebas dari kesusahannya, dimudahkan urusannya, dan semoga Allah menjaga mereka, dan sepantasnya kita memberikan bantuan apa yang kita mampu untuk mereka dalam rangka menunaikan kewajiban dan mencari pahala disisi Allah Ta’ala.
Ketahuilah wahai kaum muslimin -semoga Allah menjaga kalian- bahwasanya sebaik-baik perkataan adalah kitab Allah, dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan seburuk-buruk perkara adalah perkara yang diada-adakan, dan setiap perkara yang diada-adakan adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah sesat, dan hendaknya kalian bersama Al-Jama’ah, sesungguhnya tangan Allah berada di atas Jamaah.
Bersholawat dan salamlah kepada Nabi Muhammad ibnu Abdillah, sebagaimana diperintahkan Allah dalam firman Nya;
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً
“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi . Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya”. (QS. Al-Ahzab: 56).
..͡▹ Penulis: أُسْتَاذُ Rochmad Supriyadi, Lc حفظه الله تعال
25 Jumadats Tsani 1435H / 25 April 2014
✽¸.•
•.¸✽¸•
•.¸✽¸•
•.¸✽¸.•
•.¸✽
Mimbar Jum’ah oleh: Asy-Syaikh Abdurrozak Al-Badr hafidzahullah
Alhamdulillah, washsholatu wassalamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du;
Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kalian kepada Allah, takwa yaitu melakukan ketaatan kepada Allah atas dasar petunjuk dari Allah, dengan mengharap pahala Allah, serta menjauhi maksyiat kepada Allah lantaran petunjuk dari Allah, dalam rangka takut akan siksa Allah.
Sesungguhnya diantara sunnah Allah yang berlaku pada para makhluknya, dari semenjak diciptakannya hingga hari kiamat adalah senantiasa dijumpai cobaan , ujian, musibah, agar nampak diantara para hamba mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang bersabar dan mana yang menggerutu, sebagaimana yang telah difirmankan Allah Ta’ala dalam QS Al-Baqarah 155-156,
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوفْ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الأَمَوَالِ وَالأنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ. الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُم مُّصِيبَةٌ قَالُواْ إِنَّا لِلّهِ وَإِنَّـا إِلَيْهِ رَاجِعونَ.
155. “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. 156. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: "Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun" .
Adapun hasil dari datangnya musibah adalah sejauh mana ia mensikapi musibah tersebut, jika ia ridho maka baginya keridhoan, dan jika ia murka maka baginya adalah kemurkaan. Maka barang siapa yang tatkala ia mendapat musibah dan ia murka dan kufur, ia akan dituliskan di dalam golongan orang-orang yang binasa. Barang siapa yang berkeluh kesah serta lalai, maka ia akan dituliskan di dalam kelompok orang yang lalai, barang siapa yang murka dan menentang hikmah serta ketentuan Allah, maka ia digolongkan dalam kelompok orang yang merugi.
Dan barang siapa yang ia ridho maka ia digolongkan dalam kelompok orang yang diridhoi. Barang siapa yang ia mampu bersabar, maka ia dikelompokkan dalam golongan orang yang sabar. Barang siapa yang ia mampu bersyukur, maka ia digolongkan pada kelompok orang yang bersyukur.
Tatkala manusia dihadapkan pada cobaan maka sebaiknya ia mengetahui adab islam dan bimbingan syari’ah, dikarenakan dalam suatu cobaan terdapat rasa sakit, berat, pahit, akan tetapi bagi seorang yang beriman jika ia telah mengetahui petunjuk agama, adab dan perangai islam, maka ia akan merasa terhibur dan mendapat hikmah dan kebaikan di dunia dan akhirat. Oleh karenanya bagi seorang muslim agar mempelajari adab, etika dan petunjuk agama agar dirinya mampu meredam pahitnya musibah, dan orang yang paling beruntung adalah orang yang diberi taufik Allah hingga ia dapat istiqomah tatkala musibah menghampirinya.
Diantara amalan yang utama dalam meredam pahitnya musibah adalah mengucapkan kalimat istirja’, yaitu ucapan “INNA LILLAHI WA INNAA ILAIHI ROJI’UUN”, sebagaimana yang telah Allah firmankan dalam QS. Al-Baqarah: 156,
الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُم مُّصِيبَةٌ قَالُواْ إِنَّا لِلّهِ وَإِنَّـا إِلَيْهِ رَاجِعونَ
156. “(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: "Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun" .
Ini merupakan penawar yang utama, di saat ia tertimpa musibah maka ia ingat bahwa dirinya adalah seorang hamba milik Allah, dan ia akan dikembalikan kehadapan Allah, dengan ini ia akan merasa terhibur walaupun apa yang ia timpa adalah ujian yang berat dan besar.
Diantara peredam musibah adalah hendaknya ia mengetahui ilmu yakin tidak ragu walau sekecil apapun bahwa apa yang telah menjadi putusan Allah tidak akan luput baginya, dan apa yang bukan menjadi takdirnya maka tidak akan menghampirinya, Allah berfirman dalam QS. Al-Hadid: 22;
مَا أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِّن قَبْلِ أَن نَّبْرَأَهَا إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ
“Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah”.
Diantara penawar musibah adalah merenungi dan membandingkan dengan musibah lain, yang mana ia akan mendapati bahwa di sana terdapat musibah yang jauh lebih besar, sehingga ia merasa terhibur.
Diantara penawar musibah adalah ia mengetahui bahwa tatkala ia berkeluh kesah dalam suatu cobaan, tidak akan merubah kenyataan, bahkan akan membawa kepada keburukan, kelemahan dan kesengsaraan.
Diantara penawar musibah adalah hendaknya ia mengilmui, bahwa hilangnya pahala dan balasan dari suatu musibah yang terjadi merupakan bentuk musibah yang paling besar, dikarenakan di sana telah Allah janjikan pahala bagi yang mampu bersabar, dalam firman-Nya;
أُولَـئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِّن رَّبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَـئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ
“Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk”. (QS. Al-Baqarah: 157).
Diantara penawar musibah adalah berharap mendapat ganti dari sisi Allah Ta’ala, dikarenakan tatkala ia ditimpa musibah dan ia mengucap kalimat istirja’ niscaya ia akan mendapat ganti yang lebih baik, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ”Tidaklah seorang hamba tertimpa suatu musibah, dan ia mengatakan ‘inna lillahi wa inna ilaihi roji’uun, Allahumma ajjurni fi mushibati wakhlufli khoiran minha’, kecuali ia akan diberikan pertolongan dan diberikan ganti yang lebih utama“.
Diantara penawar musibah adalah mengetahui bahwa jika ia tidak bersabar karena Allah dan mencari keridhoan dan pahala-Nya niscaya ia akan berhadapan dengan kenyataan yang memaksanya sabar yang tidak berpahala, sebagaimana dikatakan, ”Barang siapa tidak bersabar dan merasa terhibur dalam musibah yang menimpanya dalam rangka mencari pahala Allah dan iman akan takdir-Nya maka ia akan terpaksa sabar dengan kesabaran binatang“.
Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda, ”Sesungguhnya kesabaran hanyalah tatkala turunnya suatu musibah“.
Diantara penawar musibah adalah mengetahui bahwa Allah Ta’ala tidak akan menurunkan musibah bagi seorang muslim dalam rangka membinasakan hambanya, akan tetapi diturunkan dalam rangka membersihkan seorang hamba dan membedakan antara hamba yang bersabar dan yang berkeluh kesah, oleh karena itu sepantasnya seorang hamba untuk memperhatikan perkara ini agar meraih pahala dan ganjaran Allah Ta’ala, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ”Mengherankan perkara seorang mukmin, setiap perkaranya adalah kebaikan, dan hal itu tidak ada kecuali bagi seorang mukmin, jika ia ditimpa sesuatu yang menyenangkan dia bersyukur, maka ini adalah kebaikan baginya. Jika ia ditimpa sesuatu yang tidak menyenangkan dia bersabar, maka ini adalah kebaikan baginya“.
Diantara penawar musibah adalah melihat dan merenungi keadaan para manusia semuanya, jika ia melihat ia akan menjumpai banyak manusia yang diberikan ujian dan cobaan. Dan hendaknya ia sadar bahwa kesenangan hidup dunia adalah menyerupai mimpi dalam tidur dan bayangan yang akan lenyap. Berkata Abdullah ibnu Mas’ud, ”Disetiap kegembiraan terdapat pengorbanan, dan tidaklah suatu rumah terdapat banyak kegembiraan melainkan banyak dijumpai tetesan air mata“.
Diantara penawar musibah adalah seorang hamba mengetahui bahwa musibah adalah cobaan, dan Allah Ta’ala mengasihi seorang hamba atas apa yang menimpanya, hal ini dikarenakan jika hamba terus menerus dalam kesehatan dan ‘afiyah, melimpahnya harta bisa jadi akan lalai dan tertipu serta bangga diri yang akan menjadikan kebinasaan bagi dirinya. Akan tetapi bilamana Allah turunkan peringatan baik pada dirinya, hartanya, ataupun dalam urusannya, maka niscaya ia akan senatiasa tunduk dan rendah hati dan terjauhkan dari rasa ujub, maka Maha Suci Allah tatkala menurunkan suatu cobaan dan peringatan atas hamba-Nya.
Diantara penawar musibah adalah seorang hamba mengetahui tatkala dijumpai pahitnya musibah bila disertai kesabaran dan mencari pahala disisi Allah, niscaya akan berubah menjadi suatu yang manis terlebih pada hari kiamat, ia bersabar atas pahitnya ujian yang bersifat sementara dan akan meraih ganjaran kebahagiaan yang kekal abadi, jika tidak maka akan terjadi sebaliknya, dan kita berlindung kepada Allah dari hal ini.
Semoga kita diberikan akal sehingga dapat merenung dan berfikir dan semoga kita diberikan limpahan hidayah menuju jalan yang lurus. Dan semoga Allah memperbaiki urusan dan perkara kita semua, serta segala putusan-Nya baik bagi kita semua, dan kita meminta ampun kepada Allah atas dosa kita dan kaum muslimin seluruhnya, sesungguhnya Dia adalah Dzat Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Alhamdulillah, wa sholatu wassalamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du;
Wahai para hamba Allah, jika seandainya kita dalam kesehatan dan ‘afiyah serta limpahan harta maka jangan sekali-kali kita tertipu dan terpedaya, bukankah orang yang kerkena musibah dan cobaan pada hari ini mereka dulunya dalam keadaan sehat dan ‘afiyah!! Oleh karena itu sepantasnya bagi orang yang berakal tatkala ia dalam keadaan sehat dan ‘afiyah tidak melupakan keadaan ini, dan seyogyanya ia tidak lupa terhadap para hamba Allah lainnya yang sedang mengalami musibah, sesungguhnya Allah senantiasa memberikan pertolongan bagi para hamba selagi mereka memberikan pertolongan terhadap sesama saudara mereka, dan jika hamba senantiasa memenuhi dalam hajat saudaranya, niscaya Allah akan memenuhi hajatnya disaat ia menjumpai perkara genting, dan perbuatan kebajikan akan menjadi perisai ketika keadaan buruk.
Wahai kaum mukminin, barang siapa yang melihat keadaan saudaranya dari kaum muslimin di berbagai penjuru, niscaya di sana dijumpai diantara mereka yang sedang mendapat ujian dan cobaan, maka sebaiknya kita memberikan pertolongan dengan memanjatkan do’a kepada Allah agar mereka segera terbebas dari kesusahannya, dimudahkan urusannya, dan semoga Allah menjaga mereka, dan sepantasnya kita memberikan bantuan apa yang kita mampu untuk mereka dalam rangka menunaikan kewajiban dan mencari pahala disisi Allah Ta’ala.
Ketahuilah wahai kaum muslimin -semoga Allah menjaga kalian- bahwasanya sebaik-baik perkataan adalah kitab Allah, dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan seburuk-buruk perkara adalah perkara yang diada-adakan, dan setiap perkara yang diada-adakan adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah sesat, dan hendaknya kalian bersama Al-Jama’ah, sesungguhnya tangan Allah berada di atas Jamaah.
Bersholawat dan salamlah kepada Nabi Muhammad ibnu Abdillah, sebagaimana diperintahkan Allah dalam firman Nya;
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً
“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi . Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya”. (QS. Al-Ahzab: 56).
25 Jumadats Tsani 1435H / 25 April 2014
✽¸.•
Minggu, 16 Februari 2014
KATAKAN إِنْ شَاءَ اللّهُ
KATAKAN إِنْ شَاءَ اللّهُ
Allah سبحانه وتعالى berfirman dalam surat Al-Kahfi ayat 23-24 yang arti nya ,” Dan jangan sekali-kali engkau mengatakan terhadap sesuatu ,” Aku pasti melakukan itu besok pagi”, kecuali (dengan mengatakan) إِنْ شَاءَ اللّهُ ( jika Allah menghendaki ) “.
Berkata Al-Allamah As-Syinkithy dalam Adwa’ul Bayan ,” Ayat muliya ini Allah سبحانه وتعالى melarang Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم untuk mengatakan “Aku akan melakukan sesuatu esok hari”, kecuali jika digantungkan dengan ucapan إِنْ شَاءَ اللّهُ , yang mana tiada sesuatu yg terjadi sekecil apapun di alam semesta ini kecuali atas kehendak Allah سبحانه وتعالى , olih karenanya dilarang mengatakan akan melakukan sesuatu dengan pasti esok hari.
Kalimat ” esok hari / besok pagi ” adalah ungkapan umum dan global untuk masa yg akan datang, sebagaimana dikatakan dalam lantunan sya’ir ; ” Dan aku mengetahui apa yg aku ilmui hari ini dan kemarin hari sebelum nya - Akan tetapi terhadap apa yang ada di esok hari Aku tidak mengetahui nya “.
Sebab turunya Ayat muliya ini, bahwasanya orang yahudi berkata kepada orang-orang kafir kuraisy ,” Bertanya lah kepada Muhammad tentang ruh, tentang Dzul Kurnain, dan tentang Ashabul Kahfi “.
Maka ditanyakan hal itu kepada Nabi dan dijawab ,” Aku akan berikan jawaban besok “. Tanpa mengatakan إِنْ شَاءَ اللّهُ. Maka beberapa hari wahyu tdk turun kepada Nabi صلى الله عليه وسلم hingga dikatakan 15 hari. Maka keterlambatan wahyu ini menjadikan Nabi صلى الله عليه وسلم bersedih, kemudian turunlah teguran ayat ini sekaligus memberikan jawaban tiga pertanyaan diatas.
Teguran seperti ini juga Allah سبحانه وتعالى lakukan terhadap Nabi Sulaiman tatkala ia berkata ,” Sungguh Aku akan keliling dalam malam ini terhadap isrti-istriku yg berjumlah 70
dalam riwayat lain 90 , dalam riwayat lain 100 dan niscaya akan melahirkan setiap darinya Anak Laki-laki yg akan berperang dijalan Allah. Dan ia tdk mengatakan kalimat إِنْ شَاءَ اللّهُ.
Maka ia pun keliling ke seluruh istrinya akan tetapi tidak seorangpun dari nya terlahir, kecuali hanya satu dari istri nya yg hanya berbentuk separuh manusia (tidak utuh berbentuk manusia).
Maka Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda ,” Demi jiwaku yang ada di tangan Nya, jika ia mengatakan kalimat إِنْ شَاءَ اللّهُ , niscaya terpenuhi keinginan nya”. Dalam riwayat lain,” Niscaya masing-masing lahir anak lelaki semuanya berjuang dijalan Allah “.
– Adwa’ul Bayan 540 -
Ditulis oleh: Ustadz Rochmad Supriyadi, Lc - حفظه الله تعالى
⌣̊┈»̶·̵̭̌✽����✽·̵̭̌«̶┈⌣̊
Allah سبحانه وتعالى berfirman dalam surat Al-Kahfi ayat 23-24 yang arti nya ,” Dan jangan sekali-kali engkau mengatakan terhadap sesuatu ,” Aku pasti melakukan itu besok pagi”, kecuali (dengan mengatakan) إِنْ شَاءَ اللّهُ ( jika Allah menghendaki ) “.
Berkata Al-Allamah As-Syinkithy dalam Adwa’ul Bayan ,” Ayat muliya ini Allah سبحانه وتعالى melarang Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم untuk mengatakan “Aku akan melakukan sesuatu esok hari”, kecuali jika digantungkan dengan ucapan إِنْ شَاءَ اللّهُ , yang mana tiada sesuatu yg terjadi sekecil apapun di alam semesta ini kecuali atas kehendak Allah سبحانه وتعالى , olih karenanya dilarang mengatakan akan melakukan sesuatu dengan pasti esok hari.
Kalimat ” esok hari / besok pagi ” adalah ungkapan umum dan global untuk masa yg akan datang, sebagaimana dikatakan dalam lantunan sya’ir ; ” Dan aku mengetahui apa yg aku ilmui hari ini dan kemarin hari sebelum nya - Akan tetapi terhadap apa yang ada di esok hari Aku tidak mengetahui nya “.
Sebab turunya Ayat muliya ini, bahwasanya orang yahudi berkata kepada orang-orang kafir kuraisy ,” Bertanya lah kepada Muhammad tentang ruh, tentang Dzul Kurnain, dan tentang Ashabul Kahfi “.
Maka ditanyakan hal itu kepada Nabi dan dijawab ,” Aku akan berikan jawaban besok “. Tanpa mengatakan إِنْ شَاءَ اللّهُ. Maka beberapa hari wahyu tdk turun kepada Nabi صلى الله عليه وسلم hingga dikatakan 15 hari. Maka keterlambatan wahyu ini menjadikan Nabi صلى الله عليه وسلم bersedih, kemudian turunlah teguran ayat ini sekaligus memberikan jawaban tiga pertanyaan diatas.
Teguran seperti ini juga Allah سبحانه وتعالى lakukan terhadap Nabi Sulaiman tatkala ia berkata ,” Sungguh Aku akan keliling dalam malam ini terhadap isrti-istriku yg berjumlah 70
dalam riwayat lain 90 , dalam riwayat lain 100 dan niscaya akan melahirkan setiap darinya Anak Laki-laki yg akan berperang dijalan Allah. Dan ia tdk mengatakan kalimat إِنْ شَاءَ اللّهُ.
Maka ia pun keliling ke seluruh istrinya akan tetapi tidak seorangpun dari nya terlahir, kecuali hanya satu dari istri nya yg hanya berbentuk separuh manusia (tidak utuh berbentuk manusia).
Maka Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda ,” Demi jiwaku yang ada di tangan Nya, jika ia mengatakan kalimat إِنْ شَاءَ اللّهُ , niscaya terpenuhi keinginan nya”. Dalam riwayat lain,” Niscaya masing-masing lahir anak lelaki semuanya berjuang dijalan Allah “.
– Adwa’ul Bayan 540 -
Ditulis oleh: Ustadz Rochmad Supriyadi, Lc - حفظه الله تعالى
⌣̊┈»̶·̵̭̌✽����✽·̵̭̌«̶┈⌣̊
Minggu, 09 Februari 2014
KASIH SAYANG DIANTARA PARA SAHABAT
KASIH SAYANG DIANTARA PARA SAHABAT
Ditulis oleh أُسْتَاذُ Rochmad Supriyadi, Lc - حفظه الله تعالى
Sahabat mulia Ali رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ bercerita," Suatu hari datang kepadaku Abu Bakar dan Umar, beliau berdua berkata," Alangkah baiknya engkau datang menemui Rosulullah صلى الله عليه وسلم dan engkau meminang putri Nya Fa'thimah".
Maka aku pun bersegera melakukan anjuran Abu Bakar dan Umar, mendatangi Baginda Rosulillah صلى الله عليه وسلم , maka Nabi صلى الله عليه وسلم berkata kepadaku," Pergilah, dan jual perisaimu dan segera kembali dg hasil jualanmu, hingga aku segera persiapkan putriku Fa'thimah agar Aku nikahkan denganmu".
Maka aku segera pergi menjual tameng/perisai yg aku miliki kepada Utsman ibnu Affan dengan harga 400 dirham. Tatkala aku bergegas pergi meninggalkan Utsman maka ia berkata," Bukankah sekarang perisai ini milikku sekarang? Maka Aku jawab; iya. Utsman lalu berkata; "perisai ini saya hadiyahkan kepada mu".
Ali berkata; "Maka aku membawa uang dirham dan perisai kehadapan Nabi صلى الله عليه وسلم dan aku hadapkan di hadapan Nabi صلى الله عليه وسلم , dan aku ceritakan apa yg dilakukan utsman kepadaku, maka Nabi صلى الله عليه وسلم berdoa kebaikan untuk Utsman".
Kemudian Nabi صلى الله عليه وسلم mengambil uang dirham dan memangil Abu Bakar agar membeli sesuatu utk persiapan dan perbekalan pernikahan putri nya Fa'thimah dirumah nya.
Nabi memerintahkan kepada Anas رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ agar mengundang Abu Bakar, Umar, Utsman, Tholhah, Zubair, dan beberapa orang anshor, tatkala semua hadir maka Nabi صلى الله عليه وسلم berkata," Bersaksilah untuk Ku bahwa aku menikahkan putriku Fa'thimah bersama Aly dengan mahar 400 mitskol dari perak".
- Hukbah minal Ta'rikh hal 8-9, syeh Utsman Al-Khomist-
┈┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈┈
Ditulis oleh أُسْتَاذُ Rochmad Supriyadi, Lc - حفظه الله تعالى
Sahabat mulia Ali رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ bercerita," Suatu hari datang kepadaku Abu Bakar dan Umar, beliau berdua berkata," Alangkah baiknya engkau datang menemui Rosulullah صلى الله عليه وسلم dan engkau meminang putri Nya Fa'thimah".
Maka aku pun bersegera melakukan anjuran Abu Bakar dan Umar, mendatangi Baginda Rosulillah صلى الله عليه وسلم , maka Nabi صلى الله عليه وسلم berkata kepadaku," Pergilah, dan jual perisaimu dan segera kembali dg hasil jualanmu, hingga aku segera persiapkan putriku Fa'thimah agar Aku nikahkan denganmu".
Maka aku segera pergi menjual tameng/perisai yg aku miliki kepada Utsman ibnu Affan dengan harga 400 dirham. Tatkala aku bergegas pergi meninggalkan Utsman maka ia berkata," Bukankah sekarang perisai ini milikku sekarang? Maka Aku jawab; iya. Utsman lalu berkata; "perisai ini saya hadiyahkan kepada mu".
Ali berkata; "Maka aku membawa uang dirham dan perisai kehadapan Nabi صلى الله عليه وسلم dan aku hadapkan di hadapan Nabi صلى الله عليه وسلم , dan aku ceritakan apa yg dilakukan utsman kepadaku, maka Nabi صلى الله عليه وسلم berdoa kebaikan untuk Utsman".
Kemudian Nabi صلى الله عليه وسلم mengambil uang dirham dan memangil Abu Bakar agar membeli sesuatu utk persiapan dan perbekalan pernikahan putri nya Fa'thimah dirumah nya.
Nabi memerintahkan kepada Anas رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ agar mengundang Abu Bakar, Umar, Utsman, Tholhah, Zubair, dan beberapa orang anshor, tatkala semua hadir maka Nabi صلى الله عليه وسلم berkata," Bersaksilah untuk Ku bahwa aku menikahkan putriku Fa'thimah bersama Aly dengan mahar 400 mitskol dari perak".
- Hukbah minal Ta'rikh hal 8-9, syeh Utsman Al-Khomist-
┈┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈┈
Selasa, 28 Januari 2014
SYIRIK MODERAT
SYIRIK MODERAT
Allah سبحانه وتعالى berfirman ," Katakanlah,' Terangkan kepadaku jika siksa Allah datang kepadamu, atau hari kiyamat sampai kepadamu, apakah kamu akan menyeru tuhan selain Allah, jika kamu termasuk orang yg benar!". (Sekali kali tidak), hanya kpd-Nya (Allah) kamu minta pertolongan, jika Dia menghendaki maka Dia menghilangkan kesusahan yg kamu mohonkan kpd-Nya, dan kamu tinggalkan apa yg kamu persekutukan (dengan Allah). QS Al-An'am 40-41.
Berkata Al-Ala'mah Taqiyuddin Al Hilaly rohimahullah ," Ayat ini memiliki kandungan makna bahwa kaum musyrikin di masa Nabi صلى الله عليه وسلم mereka menyekutukan Allah dlm ibadah diwaktu longgar disaat bergelimang kenikmatan, adapun dikala susah, sedih, terjepit, mereka tidak menyeru kecuali hanya kepada Allah semata, agar diberikan pertolongan Allah atas kesusahan mereka, karena mereka yakin dengan sebenar-benar yakin dan mengetahui ajaran sebelum mereka dari agama Ibrohim dan Ismail, bahwa syirik,kufur adalah ajaran yg menyeleweng yg tdk diridhoi Allah سبحانه وتعالى , dan tuhan yg mereka sembah walaupun malaikat, nabi, orang saleh, tdk mampu mengentaskan mereka dari kesusahan. Maka dari itu mereka berdoa dg ikhlas dan murni hanya kepada Allah disaat itu, akan tetapi jikala selamat dan longgar, mereka kembali menyekutukan Allah سبحانه وتعالى.
Adapun musyrikin dimasa kini, umat moderat zaman sekarang, mereka menyekutukan Allah baik di waktu longgar dan sempit, suka dan duka, bahkan mereka begitu khusyuk berbuat syirik disaat genting. Tidak inggat kepada Allah sama sekali. Jika engkau bersumpah seribu kali atas nama Allah سبحانه وتعالى mereka tidak takut dan gentar lagi percaya, akan tetapi jika bersumpah menyebut nama tokoh tarekat tertentu mereka akan takut dan percaya. Mereka lebih takut dan berharap kpd makhluk dari pada kepada Allah.
.
Dikisahkan ada suatu kelompok mereka bepergian dg bahtera di atas lautan, tiba-tiba bahtera tersebut oling dan molai tengelam sedikit demi sedikit. Maka para penumpang kapal tersebut molai berteriak beristighostah menyeru nama wali-wali yg mereka yakini dapat menolong mereka. Dan di bahtera tersebut ada seorang tua salafy yg hanya terdiam. Maka penumpang lainya meneriaki,' hai orang tua kenapa kamu hanya diam saja! Tidak kah tau keadaan kita sedang genting! Tidakkah kamu beristighotsyah!!". Maka orang tua tersebut berteriak ," Aku memohon kepada Allah سبحانه وتعالى Yang Maha Esa agar menengelamkan kaliyan dan kita semua !!". Maka orang-orang marah dan mengatakan,' apa kamu tdk takut Allah kalau dikabulkan doa mu !!'. Maka dijawab ; " kaliyan berhak untuk ditengelamkan Allah, karena kaliyan berpaling dari berdoa kepada Allah Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu dan kaliyan menyeru para wali yg tdk membawa manfaat dan mudhorot!!".(Sabilul Rosyad 1 / 329)
Ditulis oleh أُسْتَاذُ Rochmad Supriyadi, Lc - حفظه الله تعالى
┈┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈┈
Allah سبحانه وتعالى berfirman ," Katakanlah,' Terangkan kepadaku jika siksa Allah datang kepadamu, atau hari kiyamat sampai kepadamu, apakah kamu akan menyeru tuhan selain Allah, jika kamu termasuk orang yg benar!". (Sekali kali tidak), hanya kpd-Nya (Allah) kamu minta pertolongan, jika Dia menghendaki maka Dia menghilangkan kesusahan yg kamu mohonkan kpd-Nya, dan kamu tinggalkan apa yg kamu persekutukan (dengan Allah). QS Al-An'am 40-41.
Berkata Al-Ala'mah Taqiyuddin Al Hilaly rohimahullah ," Ayat ini memiliki kandungan makna bahwa kaum musyrikin di masa Nabi صلى الله عليه وسلم mereka menyekutukan Allah dlm ibadah diwaktu longgar disaat bergelimang kenikmatan, adapun dikala susah, sedih, terjepit, mereka tidak menyeru kecuali hanya kepada Allah semata, agar diberikan pertolongan Allah atas kesusahan mereka, karena mereka yakin dengan sebenar-benar yakin dan mengetahui ajaran sebelum mereka dari agama Ibrohim dan Ismail, bahwa syirik,kufur adalah ajaran yg menyeleweng yg tdk diridhoi Allah سبحانه وتعالى , dan tuhan yg mereka sembah walaupun malaikat, nabi, orang saleh, tdk mampu mengentaskan mereka dari kesusahan. Maka dari itu mereka berdoa dg ikhlas dan murni hanya kepada Allah disaat itu, akan tetapi jikala selamat dan longgar, mereka kembali menyekutukan Allah سبحانه وتعالى.
Adapun musyrikin dimasa kini, umat moderat zaman sekarang, mereka menyekutukan Allah baik di waktu longgar dan sempit, suka dan duka, bahkan mereka begitu khusyuk berbuat syirik disaat genting. Tidak inggat kepada Allah sama sekali. Jika engkau bersumpah seribu kali atas nama Allah سبحانه وتعالى mereka tidak takut dan gentar lagi percaya, akan tetapi jika bersumpah menyebut nama tokoh tarekat tertentu mereka akan takut dan percaya. Mereka lebih takut dan berharap kpd makhluk dari pada kepada Allah.
.
Dikisahkan ada suatu kelompok mereka bepergian dg bahtera di atas lautan, tiba-tiba bahtera tersebut oling dan molai tengelam sedikit demi sedikit. Maka para penumpang kapal tersebut molai berteriak beristighostah menyeru nama wali-wali yg mereka yakini dapat menolong mereka. Dan di bahtera tersebut ada seorang tua salafy yg hanya terdiam. Maka penumpang lainya meneriaki,' hai orang tua kenapa kamu hanya diam saja! Tidak kah tau keadaan kita sedang genting! Tidakkah kamu beristighotsyah!!". Maka orang tua tersebut berteriak ," Aku memohon kepada Allah سبحانه وتعالى Yang Maha Esa agar menengelamkan kaliyan dan kita semua !!". Maka orang-orang marah dan mengatakan,' apa kamu tdk takut Allah kalau dikabulkan doa mu !!'. Maka dijawab ; " kaliyan berhak untuk ditengelamkan Allah, karena kaliyan berpaling dari berdoa kepada Allah Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu dan kaliyan menyeru para wali yg tdk membawa manfaat dan mudhorot!!".(Sabilul Rosyad 1 / 329)
Ditulis oleh أُسْتَاذُ Rochmad Supriyadi, Lc - حفظه الله تعالى
┈┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈┈
Jumat, 10 Januari 2014
Berkata Bohong
Berkata Bohong
Ditulis oleh أُسْتَاذُ Rochmad Supriyadi, Lc - حفظه الله تعالى
Musuh islam sangatlah banyak sekali, diantaranya adalah ada ditubuh kaum muslimin, mengatasnamakan islam. Sebagaimana banyak dijumpai hadist2 palsu yang diatasnamakan dari Nabi صلى الله عليه وسلم , pada kenyataannya bukan ucapan ataupun sabda Nabi صلى الله عليه وسلم , hal ini seperti apa yang banyak beredar hadist tentang fadhilah & keutamaan ayat & surat didlm Al-Qur’an, yang mana telah beredar lebih dari seribu hadist yang dipalsukan.
Musuh islam tidak berhenti sampai disini, bahkan perkataan2 ulama & ahli ilmi pun turut ikut serta dipalsukan, & diatas namakan dari ulama.
Sebagai contoh, apa yang telah beredar dari ungkapan Al-Imam Abu Hanifah, yang menyatakan bahwa jihad yang fardhu adalah jihad difa’ (melawan & membela diri), demikiyan pula apa yang masyhur dari Al-Imam Malik, bahwa sholat menurut pendapat imam adalah tidak bersedekap, akan tetapi meluruskan tangan tanpa bersedekap meletakkan tangan kanan diatas tangan kiri didada. Sbgmn pula terkenal pendapat tentang melafadzkan niyat tatkala sholat dari pendapat Al-Imam Sya’fi’i, demikian pula ungkapan dari Imam Ahmad dsb.
Ini semua adalah kebohongan & pengelabuhan terhadap ilmu para ulama.
Termasuk tuduhan kepada syaikhul Islam ibnu Taimiyah & murid nya Ibnu Qoyyim, imam Muhammad ibnu Abdul wahab, hingga para ulama dizaman sekarang.
Dikabarkan mereka: ulama yang benci kepada Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم , tidak mau mengucap sholawat kepada Nabi dan sahabatnya.
Maka semua tuduhan ini adalah kebohongan & kedustaan, yang tidak ada nyata & bukti.
Bagamana mungkin orang2 yang berpegang teguh terhadap sunnah2 Nabi صلى الله عليه وسلم tidak cinta Nabi & benci bersholawat?
Sholawat yang manakah yang dibenci para pembela sunnah Nabi?
Apakah sholawat yang di ajarkan Nabi صلى الله عليه وسلم ataukah ungkapan yang berlebihan yang ditujukan kepada Nabi صلى الله عليه وسلم yang hal ini dilarang Nabi dalam sabdanya,”Janganlah kalian mengkultuskanku sebagaimana umat nasrani mengkultuskan Isa ibnu Maryam, Sesungguhnya Aku hanyalah Hamba & RasulAllah”
♧°˚˚˚°♧♧°˚˚˚°♧♧°˚˚˚°♧♧°˚˚˚°♧
Ditulis oleh أُسْتَاذُ Rochmad Supriyadi, Lc - حفظه الله تعالى
Musuh islam sangatlah banyak sekali, diantaranya adalah ada ditubuh kaum muslimin, mengatasnamakan islam. Sebagaimana banyak dijumpai hadist2 palsu yang diatasnamakan dari Nabi صلى الله عليه وسلم , pada kenyataannya bukan ucapan ataupun sabda Nabi صلى الله عليه وسلم , hal ini seperti apa yang banyak beredar hadist tentang fadhilah & keutamaan ayat & surat didlm Al-Qur’an, yang mana telah beredar lebih dari seribu hadist yang dipalsukan.
Musuh islam tidak berhenti sampai disini, bahkan perkataan2 ulama & ahli ilmi pun turut ikut serta dipalsukan, & diatas namakan dari ulama.
Sebagai contoh, apa yang telah beredar dari ungkapan Al-Imam Abu Hanifah, yang menyatakan bahwa jihad yang fardhu adalah jihad difa’ (melawan & membela diri), demikiyan pula apa yang masyhur dari Al-Imam Malik, bahwa sholat menurut pendapat imam adalah tidak bersedekap, akan tetapi meluruskan tangan tanpa bersedekap meletakkan tangan kanan diatas tangan kiri didada. Sbgmn pula terkenal pendapat tentang melafadzkan niyat tatkala sholat dari pendapat Al-Imam Sya’fi’i, demikian pula ungkapan dari Imam Ahmad dsb.
Ini semua adalah kebohongan & pengelabuhan terhadap ilmu para ulama.
Termasuk tuduhan kepada syaikhul Islam ibnu Taimiyah & murid nya Ibnu Qoyyim, imam Muhammad ibnu Abdul wahab, hingga para ulama dizaman sekarang.
Dikabarkan mereka: ulama yang benci kepada Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم , tidak mau mengucap sholawat kepada Nabi dan sahabatnya.
Maka semua tuduhan ini adalah kebohongan & kedustaan, yang tidak ada nyata & bukti.
Bagamana mungkin orang2 yang berpegang teguh terhadap sunnah2 Nabi صلى الله عليه وسلم tidak cinta Nabi & benci bersholawat?
Sholawat yang manakah yang dibenci para pembela sunnah Nabi?
Apakah sholawat yang di ajarkan Nabi صلى الله عليه وسلم ataukah ungkapan yang berlebihan yang ditujukan kepada Nabi صلى الله عليه وسلم yang hal ini dilarang Nabi dalam sabdanya,”Janganlah kalian mengkultuskanku sebagaimana umat nasrani mengkultuskan Isa ibnu Maryam, Sesungguhnya Aku hanyalah Hamba & RasulAllah”
♧°˚˚˚°♧♧°˚˚˚°♧♧°˚˚˚°♧♧°˚˚˚°♧
Rabu, 11 Desember 2013
SIAPAKAH SYIAH ISTNA ASYARIYAH?
SIAPAKAH SYIAH ISTNA ASYARIYAH ?
Alhamdulillah, washolatu wassalamu ala' Rosulillah, wa Alihi wa Ashabihi wa Ta'biin wa manihtada bi huda'hu ila yaumil kiyamah, wa ba'du ;
Risalah ringkas ini adalah rangkaian nasihat untuk kaum muslimin agar waspada dari keyakinan yg menyimpang, terlebih hari-hari ini banyak beredar ajaran syiah, dengan sekte-sekte nya yg mulai merasuki masyarakat awam, yg menyatakan dengan terang bahwa mereka tidak berbeda dg keyakinan Ahlus-Sunnah, mereka menyebar kebohongan bahwa mereka tertindas teraniaya dan tersisihkan, dengan dalih ini mereka menyebar luaskan ajaran mereka dalam rangka mensejajarkan hak dan idiologi mereka. Maka menjadi wajib bagi kita agar menangkis syubhat keyakinan mereka dalam rangka nasehat untuk umat seluruh nya.
Pondasi keyakinan Syiah Itsna Asyariyah, mereka mengakui bahwa asal mula ajaran mereka diambil dari yahudi yg dikembangkan olih Ibnu Saba' Al Yahudy, sebagaimana tetulis dalam kitab mereka " Firok As-Syiah hal:22 dan karangan At-Thusy hal: 107.
Syiah meyakini bahwa mereka tidak akan pernah bersatu keyakinan dengan Ahlus-Sunnah dalam masalah Tuhan, Nabi, Dan Imam. Mereka menyatakan; " Bahwa Tuhan yg memiliki nabi Muhammad yg kholifah setelah nya Abu Bakar, bukanlah Tuhan kami, Nabi Nya juga Bukan Nabi kami, dan Kholifah nya bukan lah kholifah kami ". Hal ini tertulis dalam buku Al-Anwar An-Nu'maniyah yg ditulis olih nikmatullah Al-Jaza'iry 2/278.
Syiah meyakini tentang adanya perubahan dan hilang nya banyak ayat dan surat didalam Al-Qur'an Al-Karim, adapun yg sempurna ada di tangan imam mahdi mereka yg belum datang. Hal ini dinyatakan olih imam-imam mereka seperti : Ali ibrohim Al-Qummy, Nikmatallah Al-Jaza'iry, Ahmad At-Thobarsy, Muhammad bakir Al-Majlisy, An-Nury At-Thobarsy, Muhammad Ya'kub Al-Kulainy, Muhammad Al-Ayaasy dll...
Ditulis oleh أُسْتَاذُ Rochmad Supriyadi, Lc - حفظه الله تعالى
┈┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈┈
Alhamdulillah, washolatu wassalamu ala' Rosulillah, wa Alihi wa Ashabihi wa Ta'biin wa manihtada bi huda'hu ila yaumil kiyamah, wa ba'du ;
Risalah ringkas ini adalah rangkaian nasihat untuk kaum muslimin agar waspada dari keyakinan yg menyimpang, terlebih hari-hari ini banyak beredar ajaran syiah, dengan sekte-sekte nya yg mulai merasuki masyarakat awam, yg menyatakan dengan terang bahwa mereka tidak berbeda dg keyakinan Ahlus-Sunnah, mereka menyebar kebohongan bahwa mereka tertindas teraniaya dan tersisihkan, dengan dalih ini mereka menyebar luaskan ajaran mereka dalam rangka mensejajarkan hak dan idiologi mereka. Maka menjadi wajib bagi kita agar menangkis syubhat keyakinan mereka dalam rangka nasehat untuk umat seluruh nya.
Pondasi keyakinan Syiah Itsna Asyariyah, mereka mengakui bahwa asal mula ajaran mereka diambil dari yahudi yg dikembangkan olih Ibnu Saba' Al Yahudy, sebagaimana tetulis dalam kitab mereka " Firok As-Syiah hal:22 dan karangan At-Thusy hal: 107.
Syiah meyakini bahwa mereka tidak akan pernah bersatu keyakinan dengan Ahlus-Sunnah dalam masalah Tuhan, Nabi, Dan Imam. Mereka menyatakan; " Bahwa Tuhan yg memiliki nabi Muhammad yg kholifah setelah nya Abu Bakar, bukanlah Tuhan kami, Nabi Nya juga Bukan Nabi kami, dan Kholifah nya bukan lah kholifah kami ". Hal ini tertulis dalam buku Al-Anwar An-Nu'maniyah yg ditulis olih nikmatullah Al-Jaza'iry 2/278.
Syiah meyakini tentang adanya perubahan dan hilang nya banyak ayat dan surat didalam Al-Qur'an Al-Karim, adapun yg sempurna ada di tangan imam mahdi mereka yg belum datang. Hal ini dinyatakan olih imam-imam mereka seperti : Ali ibrohim Al-Qummy, Nikmatallah Al-Jaza'iry, Ahmad At-Thobarsy, Muhammad bakir Al-Majlisy, An-Nury At-Thobarsy, Muhammad Ya'kub Al-Kulainy, Muhammad Al-Ayaasy dll...
Ditulis oleh أُسْتَاذُ Rochmad Supriyadi, Lc - حفظه الله تعالى
┈┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈┈
Minggu, 08 Desember 2013
DITERIMA NYA AMAL
DITERIMA NYA AMAL
Ditulis oleh أُسْتَاذُ Rochmad Supriyadi, Lc - حفظه الله تعالى
Allah سبحانه وتعالى berfirman," Maka barang siapa mengharap pertemuan dg Tuhan nya maka hendaklah ia mengerjakan kebajikan dan janganlah ia mempersekutukan dg sesuatu pun dlm beribadah kpd Tuhannya". QS Al-Kahfi 110.
Berkata Al-Imam Ibnu Qoyyim rahimahullah,
"Ini adalah suatu amal yg diterima, yaitu hendaknya sesuai dg As-Sunnah dan diniatkan hanya kpd Allah سبحانه وتعالى semata. Dan tdk dapat dua hal ini dicapai melainkan dg Ilmu, dikarenakan bila ia tdk mengilmui apa yg diajarkan Nabi صلى الله عليه وسلم , ia tdk dapat pula meraih ikhlas, karena ia tdk mengenal Tuhannya, dan sekiranya tanpa ilmu niscaya amalnya tdk diterima. Maka bisa disimpulkan Ilmu adalah petunjuk yg mengarahkan pd ke-ikhlasan dan petunjuk yg membawa kpd mengikuti Nabi صلى الله عليه وسلم.
Diantara do'a yg dipanjatkan Umar ibn Khothob," Allahummaj'al amali kullahu solihan, w-aj'al hu liwajhika kholison, wala taj'al li ahadin fihi syai'an ". HR Ahmad.
♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥
Ditulis oleh أُسْتَاذُ Rochmad Supriyadi, Lc - حفظه الله تعالى
Allah سبحانه وتعالى berfirman," Maka barang siapa mengharap pertemuan dg Tuhan nya maka hendaklah ia mengerjakan kebajikan dan janganlah ia mempersekutukan dg sesuatu pun dlm beribadah kpd Tuhannya". QS Al-Kahfi 110.
Berkata Al-Imam Ibnu Qoyyim rahimahullah,
"Ini adalah suatu amal yg diterima, yaitu hendaknya sesuai dg As-Sunnah dan diniatkan hanya kpd Allah سبحانه وتعالى semata. Dan tdk dapat dua hal ini dicapai melainkan dg Ilmu, dikarenakan bila ia tdk mengilmui apa yg diajarkan Nabi صلى الله عليه وسلم , ia tdk dapat pula meraih ikhlas, karena ia tdk mengenal Tuhannya, dan sekiranya tanpa ilmu niscaya amalnya tdk diterima. Maka bisa disimpulkan Ilmu adalah petunjuk yg mengarahkan pd ke-ikhlasan dan petunjuk yg membawa kpd mengikuti Nabi صلى الله عليه وسلم.
Diantara do'a yg dipanjatkan Umar ibn Khothob," Allahummaj'al amali kullahu solihan, w-aj'al hu liwajhika kholison, wala taj'al li ahadin fihi syai'an ". HR Ahmad.
♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥
Selasa, 12 November 2013
SEBAIK-BAIK CITA-CITA
SEBAIK-BAIK CITA-CITA
Allah سبحانه وتعالى berfirman dlm Ayat-NYA ," Harta dan anak adalah perhiasan kehidupan dunia, tetapi amal kebajikan yg terus menerus adalah lbh baik pahala nya d sisi Tuhanmu serta lbh baik utk mjd harapan dan cita-cita". QS Al-Kahfi 46.
Kandungan Ayat Muliya diatas, memberikan peringatan agar banyak beramal salih, dan tdk bersibuk dg perhiasan dan gemerlapan dunia dari harta benda dan kluarga, sehingga melalaikan dari apa yg lbh kekal d akhirat yg jauh lbh berharga.
Allah سبحانه وتعالى telah sebutkan gemerlap dunia di dalam Ayat QS Ali-Imran 14-15, dan Allah beritahukan apa yg lbh berharga dlm Firman-NYA, " Katakanlah," Maukah aku kabarkan kpd-mu apa yg lbh baik dari yg demikiyan?" Bagi org-org yg bertaqwa tersedia disisi Tuhan mereka surga-surga yg mengalir dibawahnya sungai-sungai, mereka kekal d dlm nya, dan pasangan2 yg suci serta ridha Allah. Dan Allah Maha Melihat hamba2 nya".
Berkata para ulama ttg ayat diatas, semua bersepakat pada satu perkara, yaitu Amal yg mendatangkan Ridho Allah سبحانه وتعالى ,yg diantaranya berupa menjaga Sholat Lima Waktu, sebagaimana d riwayatkan para salaf diantaranya Ibn Abbas, Said ibn Jubair, Abu Maisaroh, dan Amr ibn Syarahbi.
- Adwa'ul Bayan 562-
Oleh : أُسْتَاذُ Rochmad Supriyadi, Lc - حفظه الله تعالى
┈┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈┈
Rabu, 06 November 2013
DAKWAH DENGAN TAULADAN
DAKWAH DENGAN TAULADAN
Oleh: أُسْتَاذُ Rochmad Supriyadi, Lc - حفظه الله تعالىSahal ibn Abdillah pernah ditanya seseorang, "Hai Abu Muhammad, siapakah yg menurut anda layak aku bergaul dengannya?"
Ia menjawab, "Bergabunglah dengan orang yang berbicara dengan anggota tubuhnya dan bukan dengan lidahnya".
Abdullah ibn Bisyr berkata," Ada seseorang yg sesekali duduk dengan Ayyub As-Sakhtiyani, lalu ketika ia melihat perilaku Ayyub, maka ia semakin mantab kemauannya untuk mengikuti ucapan yang ia dengar".
-Hikmah Salaf-
-------๑๑•°♥°•๑๑-------
Selasa, 05 November 2013
BULAN MUHARRAM
BULAN MUHARRAM
Ditulis oleh: أُسْتَاذُ Rochmad Supriyadi, Lc - حفظه الله تعالى
Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyah pernah d tanya tentang apa-apa yg dilakukan manusia dari mengenang wafatnya Husain رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ oleh sekelompok golongan yg mereka menampakkan kesedihan yg sangat dan berlebihan, maka Syaikhul-Islam berkata,
"Mereka adalah kelompok yg jahil lagi aniaya, yaitu melenceng dari agama lagi munafik, dan sesat lagi menyesatkan. Mereka menampakkan cinta dan loyal kpd Kluarga Nabi صلى الله عليه وسلم , yg mereka menjadikan hari A'syuro hari berkabung dan sedih yg amat mendalam, yg mencontoh perilaku kaum jahiliyah seperti menampar muka, merobek baju, berteriak histeris,melantunkan syiir dan nasyid jahiliyah, mengenang cerita2 dusta yg tdk ada benarnya melainkan hanya menanamkan kebencian dan permusuhan dan peperangan serta menghembuskan api fitnah pada kaum muslimin sehingga menjadikan perkara tsb utk memberanikan mencela dan mencerca orang-orang salaf terdahulu, maka dari itu keburukan mereka dan kejahatannya atas kaum muslimin sangat nampak sekali pada seseorang yg awam sekalipun.
Maka dari dua golongan yg satu menampakkan loyal kpd Ahlil-Bait dan satunya lagi berseberangan dg menampakkan kegembiraan dan kebahagiaan yg mendalam yg mereka melawan keburukan dg keburukan, bid'ah dg bid'ah, kedustaan dg kedustaan, maka memalsukan banyak hadist ttg anjuran bergembira dan bermewah di hari a'syuro', seperti berdandan, berhias, bermewah dlm makanan, dan berlebihan dlm merayakan yg tdk dilakukan diluar bulan tsb, sehingga menjadikan hari A'syuro sbg hari perayaan dan hari ied, maka kedua golongan diatas adalah keliru dan kluar dari sunnah ".
-Fatawa Kubro - di sadur dari mansyurot dar Al-Watn-
Semoga bermanfaat.
◦"̮◦◦"̮◦◦"̮◦◦"̮◦◦"̮◦◦"̮◦◦"̮◦◦" ̮◦◦"̮◦◦"̮◦
Ditulis oleh: أُسْتَاذُ Rochmad Supriyadi, Lc - حفظه الله تعالى
Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyah pernah d tanya tentang apa-apa yg dilakukan manusia dari mengenang wafatnya Husain رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ oleh sekelompok golongan yg mereka menampakkan kesedihan yg sangat dan berlebihan, maka Syaikhul-Islam berkata,
"Mereka adalah kelompok yg jahil lagi aniaya, yaitu melenceng dari agama lagi munafik, dan sesat lagi menyesatkan. Mereka menampakkan cinta dan loyal kpd Kluarga Nabi صلى الله عليه وسلم , yg mereka menjadikan hari A'syuro hari berkabung dan sedih yg amat mendalam, yg mencontoh perilaku kaum jahiliyah seperti menampar muka, merobek baju, berteriak histeris,melantunkan syiir dan nasyid jahiliyah, mengenang cerita2 dusta yg tdk ada benarnya melainkan hanya menanamkan kebencian dan permusuhan dan peperangan serta menghembuskan api fitnah pada kaum muslimin sehingga menjadikan perkara tsb utk memberanikan mencela dan mencerca orang-orang salaf terdahulu, maka dari itu keburukan mereka dan kejahatannya atas kaum muslimin sangat nampak sekali pada seseorang yg awam sekalipun.
Maka dari dua golongan yg satu menampakkan loyal kpd Ahlil-Bait dan satunya lagi berseberangan dg menampakkan kegembiraan dan kebahagiaan yg mendalam yg mereka melawan keburukan dg keburukan, bid'ah dg bid'ah, kedustaan dg kedustaan, maka memalsukan banyak hadist ttg anjuran bergembira dan bermewah di hari a'syuro', seperti berdandan, berhias, bermewah dlm makanan, dan berlebihan dlm merayakan yg tdk dilakukan diluar bulan tsb, sehingga menjadikan hari A'syuro sbg hari perayaan dan hari ied, maka kedua golongan diatas adalah keliru dan kluar dari sunnah ".
-Fatawa Kubro - di sadur dari mansyurot dar Al-Watn-
Semoga bermanfaat.
◦"̮◦◦"̮◦◦"̮◦◦"̮◦◦"̮◦◦"̮◦◦"̮◦◦"
Selasa, 15 Oktober 2013
SALING MENGINGATKAN & MENJALIN PERSAUDARAAN KARENA ALLAH
SALING MENGINGATKAN & MENJALIN PERSAUDARAAN KARENA ALLAH
Ditulis oleh : اُسْتَاذْ Rochmad Supriyadi, Lc, حفظه الله تعال
Alhamdulillah, washolatu wassalamu ala Rosulillah, wa ba’du. Sesungguhnya saling nasehat-menasehati dan ingat-mengingatkan satu dengan lain nya, serta merajut persaudaraan diatas naungan Allah adalah ibadah yg paling utama yg menghantarkan kepada ketaatan kepada Allah, yg meliputi saling kerja sama dan ta’awun diatas ketakwaan dan kebajikan, yg senantiasa dipuji dan disanjung Allah atas para pelakunya dan dikabarkan bahwa mereka adalah yg mendapatkan keberuntungan.
Allah berfirman,” Dan bekerjasamalah kaliyan diatas kebajikan dan ketakwaan, dan jangan bekerjasama diatas dosa dan permusuhan”. QS Al-Ma’idah 2.
Allah berfirman,” Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar dalam keadaan merugi. Kecuali orang-orang yg senantiasa beriman dan beramal saleh dan saling menasehati didalam kebenaran dan menasehati dalam kesabaran “. QS Al-Asr 1-3.
Didalam Ayat pertama diperintahkan agar kita saling bekerjasama dalam kebaikan dan ketakwaan, termasuk didalamnya saling menasehati dan mengarahkan dijalan kebajikan, amar makruf nahi munkar, birrul walidain, dan semisalnya yg membawa manfaat kepada para hamba, dan dilarang bekerjasama dalam dosa dan permusuhan, terkandung didalamnya pula segala apa yg mendatangkan kemurkaan Allah, seperti saling membantu dalam mengerjakan kemaksiyatan, kedholiman, maka seorang muslim dilarang saling membantu dalam perbuatan dosa, akan tetapi seyogyanya jangan sampai terlambat dalam berbuat kebajikan dan ketakwaan.
Adapun didalam surat Al-Asr dijelaskan perangai orang-orang yg beruntung dan menggapai keselamatan, mereka adalah orang yg beriman dan beramal saleh serta saling nasehat dalam jalan kebenaran dan kesabaran.
⌣̊┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈⌣̊
Minggu, 29 September 2013
AMALAN SUNNAH DI BULAN DZUL-HIJJAH
* AMALAN SUNNAH DI BULAN DZUL-HIJJAH. *
Oleh: أُسْتَاذُ Rochmad Supriyadi, Lc - حفظه الله تعالى
Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda," Sebaik-baik hari d dunia adalah sepuluh hari di bulan dzul-Hijjah ". HR Al-Bazzar dan Ibnu Hibban dan d sahkan Imam Al-Albany.
Bilamana kita mengetahui keutamaan bulan ini, bahwasanya ini adalah suatu kesempatan emas yg Allah berikan kpd kita,maka sepantasnya kita mengisi hari2 ini dg penuh semangat dan mengkhususkan perhatian padanya, dan berlomba didalam kebajikan, sebagaimana pernyataan orang-orang salaf, diantaranya Abu Utsman An-Nahdy bercerita," Dahulu para Salaf, senantiasa mengagunggkan sepuluh hari yg tiga, yg pertama; sepuluh hari akhir Ramadhon, yg kedua; sepuluh hari awal Dzul-Hijjah, yg ketiga; sepuluh hari di awal Muharrom.
Diantara Amal2 salih sbb;
- Menunaikan manasik Haji dan Umroh bagi yg Allah berikan kemampuan. Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda, "Umroh ke umroh berikutnya akan menghapus antara keduanya,dan hajji mabrur tdk ada balasannya kecuali surga". HR Bukhary-Muslim.
- Berpuasa, di mana Allah berfirman dlm hadist Qudsy," Setiap amal anak adam untuknya pribadi, kecuali puasa sesungguhnya ini utk-Ku, dan Aku akan balasi dg nya". HR Bukhari-Muslim.
Dan Nabi صلى الله عليه وسلم telah mengkhususkan puasa di hari Arofah di sepuluh hari tsb, dan bersabda," Puasa hari Arofah aku berharap kpd Allah agar diampuni setahun sebelumnya, dan setahun sesudahnya". HR Muslim.
Diantara amal-amal yg dianjurkan utk memperbanyak d bulan nan suci ini adalah:
- Sholat, dikarenakan sholat merupakan amal yg paling mulia, dan banyak dalil yg menganjurkannya, olih karenanya diwajibkan agar menjaga sholat pada waktunya dg berjamaah, Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda, meriwayatkan dari Allah سبحانه وتعالى " Senantiasa seseorang hamba mendekatkan diri dg mengerjakan nafilah(sholat sunnat) hingga aku mencintainya". HR Bukhary.
- Memperbanyak Takbir-Tahmid-Tahlil-Dzikir Diriwayatkan dari Ibnu Umar رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ dari Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda," Tidak ada hari yg lebih muliya di sisi Allah dan tdk ada amal yg paling dicintai Allah dari hari-hari yg sepuluh ini, maka perbanyaklah dari Tahlil,Takbir,Tahmid ". HR Ahmad. Berkata imam Bukhary," Dahulu Ibnu Umar dan Abu Hurairah pergi menuju pasar di hari yg sepuluh dg bertakbir dan manusia ikut bertakbir pula". - Sedekah. Diantara amal salih yg dianjurkan adalah sedekah,dan memperbanyak dihari tsb, Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda," Tidaklah harta berkurang dg bersedekah". HR Muslim.
- Diantara amal-amal yg lain adalah ; Membaca Al-Qur'an dan mempelajari arti2 dan tafsir nya, Memperbanyak istigfar dan berbuat bakti kpd orang tua,Menyambung silaturrohmi, Amar ma'ruf dan Nahi munkar, mendamaikan seseorang yg berselisih, menjaga lisan, bebuat baik kpd tetangga, memuliakan tamu, berinfak di jalan Allah, memberi nafkah keluarga-anak yatim-para janda, menjenguk orang sakit, meringankan beban saudarannya, mendoakan saudara dg kebaikan, longgar dada kpd kaum muslimin, berusaha membuat senang orang lain dan tdk menyusahkannya, menjaalin ta'awun antara kaum muslimin dlm kebajikan dll...
-------๑๑•°♥°•๑๑-------
10 HARI DI BULAN DZULHIJJAH
10 HARI DI BULAN DZULHIJJAH
Oleh: أُسْتَاذُ Rochmad Supriyadi Lc - حفظه الله تعالى
Diantara karunia Allah سبحانه وتعالى kepada para hamba, dijadikannya satu kesempatan untuk berbuat taat, memperbanyak amal salih, berlomba dalam perkara yang dapat mendekatkan diri kpd Robb سبحانه وتعالى.
Seorang yg bahagia adalah yg mampu mengisi hari-harinya dg ketaatan, dan tdk membiarkan hari tsb berlalu tanpa bekas…
Diantara kesempatan muliya tsb adalah 10 hari dibulan dzul-Hijjah, yg mana Nabi صلى الله عليه وسلم memberikan kesaksian bahwasanya ia adalah sebaik-baik hari di duniya, dan menganjurkan agar banyak beramal didalamnya, bahkan Allah سبحانه وتعالى telah bersumpah dg nya, dan ini adalah dalil yg menunjukkan kemuliyaan hari tsb, dikarenakan Dzat Yg Maha Besar tdk bersumpah kecuali thd perkara yg Besar.
Dg ini seorang hamba hendaknya bersungguh2 menyambutnya, beramal didalamnya, mengunakan sebaik-baiknya.
Dg apa kita menyambut nya? ;
- Taubat dg sepenuh hati. Seorang muslim hendaknya dlm menyambut bulan ini dg banyak bertaubat, Allah berfirman,” Dan bertaubatlah kalian semuanya kpd Allah wahai orang2 yg beriman agar kalian beruntung”. An-Nur 31.
- Berusaha sekuat tenaga memperbanyak amal salih, Allah berfirman,” Dan orang2 yg bersungguh-sungguh (berjihad) utk kami, niscaya kami akan tunjuki kpd nya jalan-jalan kami”. Al-Ankabut 69.
- Menjauhi perkara maksiyat. Sebagaimana ketaatan akan mendekatkan kpd Allah سبحانه وتعالى ,maka maksiyat adalah sebab jauhnya hamba dari Allah سبحانه وتعالى dan rahmat-Nya. Jikalau sekiranya mengharap ampunan ilahi, dan bebas dari siksa-Nya,maka menjauhlah dari maksiyat di hari nan suci ini. “Barang siapa memahami tujuan yg akan d tuju, niscaya akan terasa ringan apa yg ia tempuh”.
-Qism Ilmi bid-Daar Al-Watn-
♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥
Oleh: أُسْتَاذُ Rochmad Supriyadi Lc - حفظه الله تعالى
Diantara karunia Allah سبحانه وتعالى kepada para hamba, dijadikannya satu kesempatan untuk berbuat taat, memperbanyak amal salih, berlomba dalam perkara yang dapat mendekatkan diri kpd Robb سبحانه وتعالى.
Seorang yg bahagia adalah yg mampu mengisi hari-harinya dg ketaatan, dan tdk membiarkan hari tsb berlalu tanpa bekas…
Diantara kesempatan muliya tsb adalah 10 hari dibulan dzul-Hijjah, yg mana Nabi صلى الله عليه وسلم memberikan kesaksian bahwasanya ia adalah sebaik-baik hari di duniya, dan menganjurkan agar banyak beramal didalamnya, bahkan Allah سبحانه وتعالى telah bersumpah dg nya, dan ini adalah dalil yg menunjukkan kemuliyaan hari tsb, dikarenakan Dzat Yg Maha Besar tdk bersumpah kecuali thd perkara yg Besar.
Dg ini seorang hamba hendaknya bersungguh2 menyambutnya, beramal didalamnya, mengunakan sebaik-baiknya.
Dg apa kita menyambut nya? ;
- Taubat dg sepenuh hati. Seorang muslim hendaknya dlm menyambut bulan ini dg banyak bertaubat, Allah berfirman,” Dan bertaubatlah kalian semuanya kpd Allah wahai orang2 yg beriman agar kalian beruntung”. An-Nur 31.
- Berusaha sekuat tenaga memperbanyak amal salih, Allah berfirman,” Dan orang2 yg bersungguh-sungguh (berjihad) utk kami, niscaya kami akan tunjuki kpd nya jalan-jalan kami”. Al-Ankabut 69.
- Menjauhi perkara maksiyat. Sebagaimana ketaatan akan mendekatkan kpd Allah سبحانه وتعالى ,maka maksiyat adalah sebab jauhnya hamba dari Allah سبحانه وتعالى dan rahmat-Nya. Jikalau sekiranya mengharap ampunan ilahi, dan bebas dari siksa-Nya,maka menjauhlah dari maksiyat di hari nan suci ini. “Barang siapa memahami tujuan yg akan d tuju, niscaya akan terasa ringan apa yg ia tempuh”.
-Qism Ilmi bid-Daar Al-Watn-
♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥
Senin, 23 September 2013
Ujub Dan Penawarnya
Ujub Dan Penawarnya
Oleh: أُسْتَاذُ Rochmad Supriyadi Lc - حفظه الله تعالى
Ujub atau bangga diri merupakan penyakit yang menghancurkan amal seorang hamba, penawar nya sebagai berikut :
- Hendaknya banyak inggat akan kekurangan yg ada pada diri pribadi, sebagaimana halnya jika ia bangga akan ibadah yg ia lakukan, maka hendaknya ia inggat akan kekurangan yg ada pada dirinya pada sisi lain, hingga ia sibuk memperbaiki kekurangan tersebut dan melupakan dari berbangga diri, hingga ia lebih giat dan tekun dalam beribadah dan termasuk dari golongan hamba yg mendapat taufik Allah.
– Hendaknya ia merasa bahwa apa yg ia lakukan semata-mata limpahan karunia Allah kepada dirinya, sekiranya bukan karunia Allah, niscaya ia tdk akan mampu mengerjakannya.
Allah berfirman, “Dan mengapa ketika engkau memasuki kebun mu engkau tidak mengucap ‘Masya Allah la Quwwata illa billah’ sungguh atas kehendak Allah, tiada kekuatan kecuali dari Allah semata”.
(QS Al-Kahfi 39.)
- Hendaknya ia sadar bahwa masih banyak kekurangan yang ada walau ia telah berusaha maksimal dalam segala urusan, karena pastilah ada celah dan lobang, karena tiada manusia yang lepas dari kekurangan. Jika sekiranya menimbang antara kekurangan dan kelebihan niscaya akan muncul banyak kurang nya,
Allah berfirman, “Dan Manusia di ciptakan dalam kondisi lemah”. (QS An-Nisa’ 28)
Tiga perkara ini niscaya إِنْ شَاءَ اللّهُ akan mengobati penyakit ujub bangga diri, secara umum hati ini butuh pembelajaran, pembinaan, pengobatan dan hamba bila tidak koreksÍ akan dirinya niscaya akan menyeret jurang kesengsaraan dan kebinasaan.
Kita berlindung kepada Allah dari sifat tercela ini , innahu Waliyyu dzalika wal Qo’diru alaihi.
✽.•°•.☆.•°•✽.•°•☆.•°•✽.•°•.☆.•°•✽.•°•☆.•°•✽
Ujub atau bangga diri merupakan penyakit yang menghancurkan amal seorang hamba, penawar nya sebagai berikut :
- Hendaknya banyak inggat akan kekurangan yg ada pada diri pribadi, sebagaimana halnya jika ia bangga akan ibadah yg ia lakukan, maka hendaknya ia inggat akan kekurangan yg ada pada dirinya pada sisi lain, hingga ia sibuk memperbaiki kekurangan tersebut dan melupakan dari berbangga diri, hingga ia lebih giat dan tekun dalam beribadah dan termasuk dari golongan hamba yg mendapat taufik Allah.
– Hendaknya ia merasa bahwa apa yg ia lakukan semata-mata limpahan karunia Allah kepada dirinya, sekiranya bukan karunia Allah, niscaya ia tdk akan mampu mengerjakannya.
Allah berfirman, “Dan mengapa ketika engkau memasuki kebun mu engkau tidak mengucap ‘Masya Allah la Quwwata illa billah’ sungguh atas kehendak Allah, tiada kekuatan kecuali dari Allah semata”.
(QS Al-Kahfi 39.)
- Hendaknya ia sadar bahwa masih banyak kekurangan yang ada walau ia telah berusaha maksimal dalam segala urusan, karena pastilah ada celah dan lobang, karena tiada manusia yang lepas dari kekurangan. Jika sekiranya menimbang antara kekurangan dan kelebihan niscaya akan muncul banyak kurang nya,
Allah berfirman, “Dan Manusia di ciptakan dalam kondisi lemah”. (QS An-Nisa’ 28)
Tiga perkara ini niscaya إِنْ شَاءَ اللّهُ akan mengobati penyakit ujub bangga diri, secara umum hati ini butuh pembelajaran, pembinaan, pengobatan dan hamba bila tidak koreksÍ akan dirinya niscaya akan menyeret jurang kesengsaraan dan kebinasaan.
Kita berlindung kepada Allah dari sifat tercela ini , innahu Waliyyu dzalika wal Qo’diru alaihi.
✽.•°•.☆.•°•✽.•°•☆.•°•✽.•°•.☆.•°•✽.•°•☆.•°•✽
Selasa, 17 September 2013
MERENUNG
♚ MERENUNG ♚
Ditulis oleh أُسْتَاذُ Rochmad Supriyadi, Lc - حفظه الله تعالى
Didalam Al-Qur'an terdapat banyak ayat yang menganjurkan kepada kita agar banyak merenung dan berfikir, yang ini merupakan perkara agung yang banyak memiliki faidah,
Allah berfirman," Demikiyanlah Allah memberikan penjelasan ayat-ayat kepada kaliyan agar kaliyan renungi ". QS Al-Baqoroh 219.
Allah berfirman," Sesungguhnya didalam perkara itu terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mau berfikir ". QS Ar-Road 3 , QS An-Nahl 11.
Allah berfirman," Apakah mereka tidak merenungi apa yang ada pada diri-diri mereka". QS Ar-Rum 8.
Allah berfirman," Dan permisalan-permisalan itu Kami berikan kepada para manusia agar mereka berfikir ". QS Al-Hasyr 21.
Ayat-ayat yang serupa diatas sangat sangat banyak sekali, dan Allah memberikan pujian muliya kepada para hamba yang mau berfikir dan merenung. " Sesungguhnya didalam penciptaan langit dan bumi dan pergantian malam dan siang sungguh merupakan tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang mau merenungi lagi berakal. Orang-orang yang senantiasa menginggat Allah baik ia berdiri, duduk, dan berbaring, dan merenungi penciptaan langit dan bumi, sungguh tiada dari ciptaan-Mu yang sia-sia, Maha Suci Engkau, dan hindarkan kami dari siksamu api neraka ". QS Ali Imran 191.
Merenung yang Allah anjurkan adalah kunci dari setiap kebajikan, asas dari keberuntungan, sumber dari segala keutamaan, yang merupakan ibadah hati yang muliya, yang memindahkan dari kelalian kepada mengingat, maksiat menuju taat, dari kehinaan menuju kemuliyaan, dan keagungan.
Barang siapa merenungi keagungan Allah, bahwa Ia melihat kepada para hamba, tiada yang luput dari pengawasan-Nya, Maha Mendengar, Maha Melihat, Maha Mengetahui, Maha Mampu atas segala sesuatu, maka merenung yang seperti ini niscaya akan menghalangi dari terjerumus kedalam maksiyat.
♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥
Ditulis oleh أُسْتَاذُ Rochmad Supriyadi, Lc - حفظه الله تعالى
Didalam Al-Qur'an terdapat banyak ayat yang menganjurkan kepada kita agar banyak merenung dan berfikir, yang ini merupakan perkara agung yang banyak memiliki faidah,
Allah berfirman," Demikiyanlah Allah memberikan penjelasan ayat-ayat kepada kaliyan agar kaliyan renungi ". QS Al-Baqoroh 219.
Allah berfirman," Sesungguhnya didalam perkara itu terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mau berfikir ". QS Ar-Road 3 , QS An-Nahl 11.
Allah berfirman," Apakah mereka tidak merenungi apa yang ada pada diri-diri mereka". QS Ar-Rum 8.
Allah berfirman," Dan permisalan-permisalan itu Kami berikan kepada para manusia agar mereka berfikir ". QS Al-Hasyr 21.
Ayat-ayat yang serupa diatas sangat sangat banyak sekali, dan Allah memberikan pujian muliya kepada para hamba yang mau berfikir dan merenung. " Sesungguhnya didalam penciptaan langit dan bumi dan pergantian malam dan siang sungguh merupakan tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang mau merenungi lagi berakal. Orang-orang yang senantiasa menginggat Allah baik ia berdiri, duduk, dan berbaring, dan merenungi penciptaan langit dan bumi, sungguh tiada dari ciptaan-Mu yang sia-sia, Maha Suci Engkau, dan hindarkan kami dari siksamu api neraka ". QS Ali Imran 191.
Merenung yang Allah anjurkan adalah kunci dari setiap kebajikan, asas dari keberuntungan, sumber dari segala keutamaan, yang merupakan ibadah hati yang muliya, yang memindahkan dari kelalian kepada mengingat, maksiat menuju taat, dari kehinaan menuju kemuliyaan, dan keagungan.
Barang siapa merenungi keagungan Allah, bahwa Ia melihat kepada para hamba, tiada yang luput dari pengawasan-Nya, Maha Mendengar, Maha Melihat, Maha Mengetahui, Maha Mampu atas segala sesuatu, maka merenung yang seperti ini niscaya akan menghalangi dari terjerumus kedalam maksiyat.
♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥
Langganan:
Postingan (Atom)
















