Tampilkan postingan dengan label أُسْتَاذُ Ahmad Zainuddin. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label أُسْتَاذُ Ahmad Zainuddin. Tampilkan semua postingan

Senin, 23 Juni 2014

Faedah ta'lim dari Syeikh Ali bin Hasan Alhalabi hafidzahullahu ta'ala

Dari أُسْتَاذُ Ahmad Zainuddin bass fm:

Bismillah, ada beberapa faedah yang bisa ana ambil dari Syeikh Ali bin Hasan Alhalabi hafidzahullahu ta'ala yaitu; terjun ke kancah politik bagaikan berjalan di sebuah tempat yang penuh dengan ranjau, perlu sangat berhati hati, kalau tidak, maka akan terjebak. Jika kalian ikut memihak salah satu dari capres, maka kalian akan mendapatkan resiko baik negativ atau positiv, jika kalian tidak bersuara maka akan nyaman bersama keduanya. Jika menurut anggapan kalian ikut memilih adalah darurat dan benar, maka pilihlah yang paling sedikit bahayanya, jika kalian beda pendapat dalam masalah ini, maka perkara ini adalah ijtihadiyah fiqhiyah, jagalah persaudaraan, persatuan, kasih sayang dan lemah lembut sesama ahlissunnah, semoga Allah membimbing kalian pada kebenaran. Aamiin, Jakarta 22 Juni 2014 (Ahmad Zainuddin Bassfm Salatiga)

♠̣̣̇̇♠̣̣̇̇♠̣̣̇̇♠̣̣̇̇♠̣̣̇̇♠̣̣̇̇♠̣̣̇̇♠̣̣̇̇♠̣̣̇̇♠̣̣̇̇♠̣̣̇̇♠̣̣̇̇♠̣̣̇̇♠̣̣̇̇♠̣̣̇̇♠̣̣̇̇♠̣̣̇̇♠̣̣̇̇♠̣̣̇̇♠̣̣̇̇


Jumat, 03 Januari 2014

Ini Doanya jika Ingin Mendoakan Anak Anda

Ini Doanya jika Ingin Mendoakan Anak Anda



Doa mempunyai kedudukan yang sangat agung di dalam agama Islam, ditambah lagi jika doa tersebut berasal dari orangtua untuk anaknya:

Hal ini dijelaskan di dalam hadits:
“Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tiga doa yang dikabulkan, tidak diragukan pengabulannya; doanya orangtua (maksudnya untuk anaknya), doanya seorang musafir dan doanya yang terzhalimi.” HR. Abu Daud dan dishahihkan oleh Al Albani di dalam kitab Silsilah Al Ahadits Ash Shahihah, no. 596.

Tunggu apa lagi wahai para orangtua…

Masihkah Anda lupa atau malas untuk mendoakan anak-anak Anda yang sangat anda cintai. Sungguh, mereka sangat butuh kepada doa Anda!

Jangan pernah meremehkan doa!

Karena Doa dapat merubah apa yang telah ditakdirkan

Karena doa dapat melawan bala dan musibah, bahkan sampai hari kiamat!

“Aisyah radhiyallahu ‘anha meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak akan bermanfaat sikap hati-hati dari takdir Allah dan doa akan bermanfaat dari sesuatu yang telah terjadi dan dari yang akan terjadi, sesungguhnya bala akan benar-benar turun lalu dihadang oleh doa, lalu keduanya saling dorong mendorong sampai hari kiamat.” HR. Al Hakim dan dihasankan oleh Al Albani di dalam kitab Shahih Al Jami’. No. 7739.

Di bawah ini beberapa doa diambilkan dari Al Quran dan As Sunnah:

Doanya Nabi Zakariyya ‘alaihissalam ketika menginginkan anak:

رَبِّ هَبْ لِي مِنْ لَدُنْكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً إِنَّكَ سَمِيعُ الدُّعَاءِ

(Rabbi Habli min ladunka dzurriyyatan thayyibatan innaka sami’ud du’a)

Artinya: “Wahai Rabbku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar doa”. Lihat Al Quran Surat Ali Imran:38.

Doanya Nabi Ibrahim ‘alaihissalam ketika meminta anak:

رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ

(Rabbi habli minash shalihin)

Artinya: “Wahai Rabbku, berilah aku keturunan yang shalih.” Lihat Al Quran surat Al Qashshash: 110.

Doanya Istri Imran ketika setelah melahirkan Maryam:

(رَبّ) إِنِّي أُعِيذُهَا بِكَ وَذُرِّيَّتَهَا مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

(Rabbi) Inni u’idzuha bika wa dzurriyyataha minasy syaithanir rajim)

Artinya: “Dan aku mohon perlindungan untuknya serta anak-anak keturunannya kepada (pemeliharaan) Engkau daripada setan yang terkutuk.” Lihat Al Quran surat Ali Imran: 34-36.

Doanya hamba-hamba Allah Yang Maha Pengasih

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

(Rabbana hablana min azwajina wa dzurriyyatina qurrata a’yun waj’alna lilmuttaqina imama)

Artinya: “Wahai Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” Lihat Al Quran surat Al Furqan:74.

Doanya Nabi Ibrahim ‘alaihissalam:

(رَبِّ) اجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَنْ نَعْبُدَ الْأَصْنَامَ

(Rabbi) ujnubni wa baniyya an na’budal ashnam)

Artinya: “(Wahai Rabbku), jauhkanlah aku dan keturunanku dari menyembah berhala-berhala.” Lihat Al Quran Surat Ibrahim: 35.

رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلَاةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءِ

(Rabbij ‘alni muqimash shalah wa min dzurriyyati wa taqabbal du’a)

Artinya: “Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan salat, ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku.” Lihat Al Quran surat Ibrahim:40.

Doanya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam untuk meruqyah Al Hasan Al Husein radhiyallahu ‘anhuma:

أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّةِ مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ وَهَامَّةٍ ، وَمِنْ كُلِّ عَيْنٍ لاَمَّةٍ

(A’udzu bikalimatillahit tammah wa min kulli syaithanin wa hammah wa min kulli ‘ain lammah)

Artinya: “Aku melindungkan dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari setiap setan dan penyakit yang beracun dan dari setiap mata yang menyakiti.” Lihat hadits riwayat Bukhari dan Muslim.

Doanya beliau shallallahu ‘alaihi wasallam untuk Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma.

اللَّهُمَّ فَقِّهْهُ فِى الدِّينِ dan اللَّهُمَّ فَقِّهْهُ فِى الدِّينِ وَعَلِّمْهُ التَّأْوِيلَ

(Allahumma faqqihhu fid din) (Allahumma faqqihhu fid din wa ‘allimhut ta’wil)

Artinya: “Wahai Allah, Fahamkanlah dia perkara agama”. Lihat hadits riwayat Bukhari.

Artinya: “Wahai Allah, fahamkanlah dia perkara agama dan ajarkanlah tafsir Al Quran.” Lihat hadits diriwayatkan oleh Ahmad dan dishahihkan oleh Al Albani di dalam kitab silsilah Al Ahadits Ash Shahihah, no. 2589.

Doa beliau shallallahu ‘alaihi wasallam untuk Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu:

اللَّهُمَّ أَكْثِرْ مَالَهُ وَوَلَدَهُ ، وَبَارِكْ لَهُ فِيمَا أَعْطَيْتَهُ

(Allahumma Aktsir malahu wa waladahu wa barik lahu fima a’thaitahu)

Artinya: “Wahai Allah, perbanyaklah harta dan anaknya serta berkahilah selalu baginya apa yang telah Engkau berikan kepadanya.” Lihat hadits riwayat bukhari.

Doa-doanya bukan ini saja, masih banyak yang lain…semoga bermanfaat bagai para orangtua.



Ditulis oleh: أُسْتَاذُ Ahmad Zainuddin, Lc - حفظه الله تعالى


♠̣̣̇̇♠̣̣̇̇♠̣̣̇̇♠̣̣̇̇♠̣̣̇̇♠̣̣̇̇♠̣̣̇̇♠̣̣̇̇♠̣̣̇̇♠̣̣̇̇♠̣̣̇̇♠̣̣̇̇♠̣̣̇̇♠̣̣̇̇♠̣̣̇̇♠̣̣̇̇♠̣̣̇̇♠̣̣̇̇♠̣̣̇̇♠̣̣̇̇

Kamis, 19 Desember 2013

Ocehan Anak Anda Adalah Hasil Ajaran Anda

"Ocehan Anak Anda Adalah Hasil Ajaran Anda"
Ditulis oleh: أُسْتَاذُ Ahmad Zainuddin, Lc - حفظه الله تعالى
 



Saudaraku seiman…

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, OCEHAN artinya adalah mengulang-ulang suara yang sama secara terus-menerus.

Nah…Pernahkah Anda memperhatikan ocehan Anak Anda?

Apa yang ia ocehkan adalah gambaran dari apa yang ia dengar atau apa yang diajarkan kepadanya.

Jika ocehannya berbagai macam ayat Al Quran atau doa-doa, MAKA bisa dipastikan bahwa yang sering ia dengar atau yang sering diajarkan kepadanya adalah Al Quran atau doa-doa.

Jika ocehannya adalah berbagai macam lagu dalam berbagai macam genre, ada dangdut, pop, beatle, rock, dll, MAKA bisa dipastikan bahwa yang sering ia dengar atau yang sering diajarkan kepadanya adalah lagu-lagu.

Berarti…MEMANG ORANGTUA LAH YANG MEMPUNYAI KANS BESAR DALAM PEMBETUKAN WATAK DAN KARAKTER ANAK-ANAKNYA.

PERTANYAANNYA, APAKAH YANG ANDA PERDENGARKAN DAN AJARKAN KEPADA ANAK-ANAK ANDA SELAMA INI?!?

Disinilah rahasia dari sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

« مَا مِنْ مَوْلُودٍ إِلاَّ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ وَيُنَصِّرَانِهِ وَيُمَجِّسَانِهِ كَمَا تُنْتَجُ الْبَهِيمَةُ بَهِيمَةً جَمْعَاءَ هَلْ تُحِسُّونَ فِيهَا مِنْ جَدْعَاءَ ».

“Tidak ada anak yang terlahir kecuali dilahirkan di atas fitrah, lalu kedua orangtuanya menjadikannya seorang Yahudi, seorang Nashrani atau seorang Majusi, sebagaimana hewan dilahirkan dalam keadaan yang sempurna (tidak cacat), apakah kalian mengira di dalamnya terdapat kecacatan (kecuali setelah itu)”. HR. Bukhari dan Muslim.


-------๑๑•°♥°•๑๑-------

Minggu, 17 November 2013

Sampai Jumpa di Surga…

Sampai Jumpa di Surga…
Ditulis oleh: أُسْتَاذُ Ahmad Zainuddin, Lc - حفظه الله تعالى


Inilah ucapan yang paling sering saya dengar dari kawan-kawan sesama pekerja di Dammam ketika saya berpamitan mau pulang ke Indonesia, baik mereka yang bekerja sebagai penjaga warung, pekerja rumah makan, penjaga toko selimut dan kasur, penjaga toko baju, penjaga bufia, pekerja Laundry, dll…hampir semuanya berpesan:
“Wahai Ahmad…Jika kita tidak bertemu setelah ini di dunia, Maka kita memohon kepada Allah untuk mengumpulkan kita di dalam surga-Nya.”

Masya Allah…perkataan yang sepertinya ringan, tetapi menunjukkan cita dan asa yang tinggi, Yaitu MASUK SURGA JAUH DARI NERAKA.

Dan inilah life stylenya para Shahabat nabi radiyallahu ‘anhum, orang-orang yang diridhai Allah Azza Wa Jalla.
mari perhatikan salah satu hadits yang menunjukkan hal tersebut:
“Dari Muadz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu, beliau bercerita: “Aku pernah bersama Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dalam sebuah perjalanan, lalu suatu ketika aku berada di dekat beliau dalam keadaan kami sedang dalam perjalanan, lalu aku bertanya; “Wahai Rasulullah, beritahukan kepadaku sebuah amalan yang memasukkanku ke dalam surga dan menjauhkanku dari api neraka?”, beliau bersabda: “Sungguh engkau bertanya tentang yang agung dan ia adalah ringan bagi siapa yang diringankan Allah, kamu beribadah kepada Allah dan tidak mensyirikkan-Nya dengan sesuatu apapun, mendirikan shalat, membayar zakat, berpuasa Ramadhan dan menunaikan ibadah haji.” HR. Tirmidzi.

Sobat…
seorang yang berorientasi kepada: “MASUK SURGA JAUH DARI NERAKA” tidak akan mudah riya’, sum’ah, ujub, putus asa, parah semangat, galau, hidup tidak menentu, sering mengeluh, menggerutu, kesal….

TIDAK PERCAYA?! SILAHKAN COBA..


⌣̊┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈⌣̊

Minggu, 10 November 2013

ADA YANG SALAH...

ADA YANG SALAH...
Ditulis oleh: أُسْتَاذُ Ahmad Zainuddin, Lc - حفظه الله تعالى


Dulu...
Orang tua kita berangkat bekerja setelah matahari terbit dan sudah kembali ke rumah sebelum matahari terbenam. Walaupun memiliki anak yang banyak..

Rumah dan halaman pun tetap luas, bahkan tidak sedikit ada yang memiliki kebun..
dan semua anak-anaknya bersekolah..

Sekarang...
Banyak yang berangkat kerja subuh (bahkan sebelum subuh pent.) dan sampai rumah setelah isya, tapi rumah dan tanah yang dimiliki tidak seluas rumah orang tua kita, dan bahkan banyak yang takut memiliki anak banyak karena takut kekurangan....

لَنَبْلُوَنَّكُم بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ
"Dan sungguh akan Allah berikan cobaan kepada manusia dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta dan buah-buahan ...."
[QS. Al-Baqarah : 155]

Ada yang salah dengan cara hidup orang modern...
Orangtua kita hidup tanpa banyak alat bantu..
tapi, begitu tenang menjalani hidupnya...

Sementara kita yang dilengkapi dengan banyak kemudahan seperti Pampers, Mesin Cuci, Kompor Gas, HP, Kendaraan, TV, email, FB, Twitter, ipad, ruangan ber-AC, dll..
(Yang) seharusnya mempermudah hidup ini..
tapi ternyata tidak, sampai-sampai tidak sempat kita menikmati hidup karena semuanya dilakukan terburu-buru....

Berangkat kerja, TERBURU-BURU.....
Pulang kerja, juga TERBURU-BURU.....
Makan siang, TERBURU-BURU.....
Dilampu merah, TERBURU-BURU.....
Berdo'a pun, TERBURU-BURU.....
Bahkan sholatpun, TERBURU-BURU...
Sifat diatas bukti dari Al-Qur'an surat Al-Isra' (17) : 11

وَكَانَ الإنْسَانُ عَجُولا

"Dan adalah manusia bersifat tergesa-gesa"
Hanya Mati, yang tidak seorangpun mau TERBURU-BURU..
Saking takutnya akan kurangnya harta untuk keluarga sampai-sampai kita HITUNGAN dalam BERSEDEKAH, sementara Allah tidak pernah hitungan dalam memberi rizki kepada kita.

الشَّيْطَانُ يَعِدُكُمُ الْفَقْرَ وَيَأْمُرُكُمْ بِالْفَحْشَاءِ ۖ
"Setan menakut-nakuti kamu dengan kemiskinan dan menyuruh berbuat kikir.."
[QS. Al-Baqarah : 268]

Bahkan saking lebih takutnya kita kehilangan pekerjaan hingga berani melewatkan sholat subuh, sholat maghrib, dsb..
Sampai dimanakah hidup kita pada hari ini...???
Semoga Bermanfaat..

(Dengan penambahan teks ayat oleh: Ustz. Sulaiman Abu Syeikha)

◦"̮◦◦"̮◦◦"̮◦◦"̮◦◦"̮◦◦"̮◦◦"̮◦◦"̮◦◦"̮◦◦"̮◦

Minggu, 03 November 2013

Oase senja

Oase senja
Ditulis oleh: أُسْتَاذُ Ahmad Zainuddin, Lc - حفظه الله تعالى
-------------

Kamu benci hidupmu...?
Sementara banyak orang bermimpi ingin memiliki kehidupan sepertimu..?!

Bersyukurlah..!

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Lihatlah kepada orang yang lebih rendah daripada kalian dan jangan melihat orang yang lebih di atas kalian. Yang demikian ini (melihat ke bawah) akan membuat kalian tidak meremehkan nikmat Allah yang diberikan-Nya kepada kalian.” (HR. Muslim)

Dalam satu riwayat :
“Apabila salah seorang dari kalian melihat kepada orang yang diberi kelebihan dalam hal harta dan rupa/fisik, maka hendaklah ia melihat orang yang lebih rendah dari dirinya.”

Hadits di atas memberikan sebuah pelajaran (ibroh) kepada setiap kita sebagai pribadi muslim agar senantiasa melihat ke bawah dalam perkara dunia dan jangan melihat kepada orang yang melebihinya.

Karena jika kita selalu melihat keatas dalam persoalan dunia, yang ada justru akan melahirkan keluh kesah, dada akan terasa sempit, dan akan muncul rasa seakan - akan dialah orang yang paling paling sengsara di jagad raya ini, ujung - ujungnya tidak bersyukur dengan apa yang Allah berikan kepadanya.

Sebaliknya dalam perkara agama/akhirat, seorang muslim harus melihat ke atas, kepada orang yang lebih Alim darinya, dalam beramal dalam ketaatan, dalam keshalihan dan ketakwaan sehingga ia terpacu untuk terus menambah ketaatan dan amal ibadah. (Bahjatun Nazhirin, 1/534).

Semoga kita mampu menjadi hamba - hamba Allah yang pandai bersyukur...

⌣̊┈̥-̶̯͡♈̷̴✽̶┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈⌣̊┈̥-̶̯͡.

Jumat, 18 Oktober 2013

Muslim Kulit Hitam Lebih Menyenangkan Daripada Musyrik/Kafir

Muslim Kulit Hitam Lebih Menyenangkan Daripada Musyrik/Kafir
Ditulis oleh: أُسْتَاذُ Ahmad Zainuddin, Lc - حفظه الله تعالى
Di Dammam, KSA

Demi Allah, ketika thawaf, saya melihat saudara saya sesama muslim meskipun ia berkulit hitam lebih menyenangkan hati saya di bandingkan saya melihat kepada orang-orang yang kafir dan musyrik meskipun mereka ganteng, cantik atau berkulit putih.

Semoga perasaan yang ada di dalam hati ini memang seperti apa yang disebutkan oleh Allah Ta’ala di dalam Al Quran:

{وَلَا تَنْكِحُوا الْمُشْرِكَاتِ حَتَّى يُؤْمِنَّ وَلَأَمَةٌ مُؤْمِنَةٌ خَيْرٌ مِنْ مُشْرِكَةٍ وَلَوْ أَعْجَبَتْكُمْ وَلَا تُنْكِحُوا الْمُشْرِكِينَ حَتَّى يُؤْمِنُوا وَلَعَبْدٌ مُؤْمِنٌ خَيْرٌ مِنْ مُشْرِكٍ وَلَوْ أَعْجَبَكُمْ أُولَئِكَ يَدْعُونَ إِلَى النَّارِ وَاللَّهُ يَدْعُو إِلَى الْجَنَّةِ وَالْمَغْفِرَةِ بِإِذْنِهِ وَيُبَيِّنُ آيَاتِهِ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ } [البقرة: 221]
Artinya: “Dan janganlah kamu nikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. SESUNGGUHNYA WANITA BUDAK YANG MUKMIN LEBIH BAIK DARI WANITA MUSYRIK, WALAUPUN DIA MENARIK HATIMU. Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin) sebelum mereka beriman. SESUNGGUHNYA BUDAK YANG MUKMIN LEBIH BAIK DARI ORANG MUSYRIK WALAUPUN DIA MENARIK HATIMU. Mereka mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. Dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya (perintah-perintah-Nya) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran.”
QS. Al Baqarah: 221.

Semoga Allah memudahkan seluruh amalan jama'ah haji.

14 Oktober 2013

⌣̊┈̥-̶̯͡♈̷̴✽̶┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈⌣̊┈̥-̶̯͡.

Selasa, 15 Oktober 2013

Banggaku Padamu, Ibuku…

Banggaku Padamu, Ibuku…




TULISAN INI UNTUK IBUKU YANG KU BANGGAKAN…
TULISAN INI JUGA UNTUK SEORANG IBU YANG BELUM BISA MEMBACA AL QURAN,….
SEHINGGA TIDAK BISA MENGAJARI ANAKNYA AL QURAN,
YANG AKHIRNYA MENYURUH ORANG LAIN MENGAJARI ANAKNYA AL QURAN !!….
TULISAN INI JUGA UNTUK IBU YANG LEBIH SUKA MENGAJARI ANAKNYA MENYANYI, BERJOGET, MENARI, MENJADI FOTO MODEL, PERAGAWATI, ARTIS CILIK…DARIPADA AKU BISA MEMBACA DAN MENGHAFAL AL QURAN…..

Aku bangga padamu ibu, engkaulah yang mengajariku membaca Al Quran
Aku bangga padamu ibu, engkaulah yang menghafalkan kepadaku Al Quran

Al Quran itu aku akan baca selama hidupku,….
dengan demikian pahalamu selalu mengalir meskipun engkau telah tiada…………
sebanyak Al Quran yang ku baca,…..
maka sebanyak itu pula pahala yang engkau dapatkan…..
karena engkaulah yang mengajariku Al Quran….
karena engkau telah menunjukkan kepada kebaikan ini…

itulah baktiku padamu ibu…

قال رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّمَ : من دلَّ على خيرٍ فلهُ مثلُ أجرِ فاعلِه

Artinya: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang menunjukkan maka baginya seperti pahala pelakunya.” HR. Muslim

Al Quran itu akan selalu aku hafal..
sehingga engkau dan bapak akan mendapatkan dua jubah dari surga
karena engkaulah yang mengajari dan menghafalkan kepadaku Al Quran

قال رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّمَ: يجيء القرآن يوم القيامة كالرجل الشاحب يقول لصاحبه : هل تعرفني ؟ أنا الذي كنت أسهر ليلك ، و أظميء هواجرك ، و إن كان تاجرا من و راء تجارته ، و أنا لك اليوم من وراء كل تاجر ، فيعطى الملك بيمينه ، و الخلد بشماله ، و يوضع على رأسه تاج الوقار ، و يكسى والداه حلتين لا تقوم لهم الدنيا و ما فيها ، فيقولان : يا رب ! أنى لنا هذا ؟ فيقال : بتعليم ولدكما القرآن

Artinya: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Akan datang Al Quran pada hari kiamat seperti seorang yang kenal, ia berkata untuk pembacanya: “Apakah kamu mengenalku? aku adalah yang membuatmu begadang pada malam harimu, yang telah membuatmu tidak istirahat pada siang harimu. dan sesungguhnya seorang pedagang dari belakang perdagangannya (ada keuntungan-pen), pada hari ini aku adalah milikmu dari setiap perdagangan maka akhirnya diberikan kepadanya kekuasaan pada tangan kanannya dan kekekalan pada tangan kirinya, diletakkan di atas kepalanya mahkota kewibawaan, dan akan dipakaikan dua jubah kepada kedua orangtuanya, yang tidak dapat dinilai dengan dunia dan seisinya, lalu kedua (orangtuanya) berkata: “Wahai Rabbku, bagaimana kami bisa mendapatkan ini?”, mereka berdua dijawab: “karena sebab pengajaran kalian berdua Al Quran terhadap anak kalian.” lihat Kitab Silsilah Al Ahadits Ash Shahihah, no 2829.

Ditulis oleh seorang yang melihat seorang ibu dengan gigihnya mengajari anaknya Al Quran

Ditulis oleh: أُسْتَاذُ Ahmad Zainuddin, Lc - حفظه الله تعالى
13 Dzulqa’dah 1433H, Dammam KSA

-------๑๑•°♥°•๑๑-------

Senin, 30 September 2013

Sabar Menjauhi Maksiat

Sabar Menjauhi Maksiat

Ditulis oleh: أُسْتَاذُ Ahmad Zainudin, Lc - حفظه الله تعالى

Syaikh Zaid bin Muhammad bin Hadi Al Madkhali mengatakan, “Bersabar menahan diri dari kemaksiatan kepada Allah, sehingga dia berusaha menjauhi kemaksiatan, karena bahaya dunia, alam kubur dan akhirat siap menimpanya apabila dia melakukannya. Dan tidaklah umat-umat terdahulu binasa kecuali karena disebabkan kemaksiatan mereka, sebagaimana hal itu dikabarkan oleh Allah ‘azza wa jalla di dalam al-Qur’an.

“Syaikh memberikan isyarat terhadap sebuah ayat,

“Maka masing-masing (mereka itu) kami siksa disebabkan dosanya, Maka di antara mereka ada yang kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil dan di antara mereka ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur, dan di antara mereka ada yang kami benamkan ke dalam bumi, dan di antara mereka ada yang kami tenggelamkan, dan Allah sekali-kali tidak hendak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri.” (QS. Al ‘Ankabuut [29] : 40).
“Bukankah itu semua terjadi hanya karena satu sebab saja yaitu maksiat kepada Allah tabaaraka wa ta’ala. Karena hak Allah adalah untuk ditaati tidak boleh didurhakai, maka kemaksiatan kepada Allah merupakan kejahatan yang sangat mungkar yang akan menimbulkan kemurkaan, kemarahan serta mengakibatkan turunnya siksa-Nya yang sangat pedih. Jadi, salah satu macam kesabaran adalah bersabar untuk menahan diri dari perbuatan
maksiat kepada Allah. Janganlah mendekatinya.
Dan apabila seseorang sudah terlanjur terjatuh di dalamnya hendaklah dia segera bertaubat kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya, meminta ampunan dan menyesalinya di hadapan Allah. Dan hendaknya dia mengikuti kejelekan-kejelekannya dengan berbuat kebaikan-kebaikan.

-------๑๑•°♥°•๑๑------

Rabu, 11 September 2013

“Ocehan” Anak Anda Adalah Cermin Pelajaran Yang Anda Berikan

✽ “Ocehan” Anak Anda Adalah Cermin Pelajaran Yang Anda Berikan ✽


Saudaraku seiman…
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, OCEHAN artinya adalah mengulang-ulang suara yang sama secara terus-menerus.
Nah…Pernahkah Anda memperhatikan ocehan Anak Anda? Apa yang ia ocehkan adalah gambaran dari apa yang ia dengar atau apa yang diajarkan kepadanya. Jika ocehannya berbagai macam ayat Al Quran atau doa-doa, MAKA bisa dipastikan bahwa yang sering ia dengar atau yang sering diajarkan kepadanya adalah Al Quran atau doa-doa. Jika ocehannya adalah berbagai macam lagu dalam berbagai macam genre, ada dangdut, pop, beatle, rock, dll, MAKA bisa dipastikan bahwa yang sering ia dengar atau yang sering diajarkan kepadanya adalah lagu-lagu. Berarti…MEMANG ORANGTUA LAH YANG MEMPUNYAI PERAN BESAR DALAM PEMBETUKAN WATAK DAN KARAKTER ANAK-ANAKNYA. PERTANYAANNYA, APAKAH YANG ANDA PERDENGARKAN DAN AJARKAN KEPADA ANAK-ANAK ANDA SELAMA INI?!?
Disinilah rahasia dari sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:
« مَا مِنْ مَوْلُودٍ إِلاَّ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ وَيُنَصِّرَانِهِ وَيُمَجِّسَانِهِ كَمَا تُنْتَجُ الْبَهِيمَةُ بَهِيمَةً جَمْعَاءَ هَلْ تُحِسُّونَ فِيهَا مِنْ جَدْعَاءَ ».
“Tidak ada anak yang terlahir kecuali dilahirkan di atas fitrah, lalu kedua orangtuanya menjadikannya seorang Yahudi, seorang Nashrani atau seorang Majusi, sebagaimana hewan dilahirkan dalam keadaan yang sempurna (tidak cacat), apakah kalian mengira di dalamnya terdapat kecacatan (kecuali setelah itu)”. HR. Bukhari dan Muslim.

♡ Ditulis oleh : أُسْتَاذُ Ahmad Zainuddin, Lc - حفظه الله تعالى Di Dammam, KSA

♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥

SEBERAPA DEKAT ANDA DENGAN AL QURAN AL KARIM?



Saudaraku Seiman…
Di bawah ini perkataan yg sangat bermanfaat dari Ibnu Qayyim Al Jauziyyah rahimahullah, beliau menerangkan berbagai macam bentuk perilaku meng “HAJR” (menjauhi) Al Quran: هجر الْقُرْآن أَنْوَاع أَحدهَا هجر سَمَاعه وَالْإِيمَان بِهِ والإصغاء إِلَيْهِ وَالثَّانِي هجر الْعَمَل بِهِ وَالْوُقُوف عِنْد حَلَاله وَحَرَامه وَإِن قَرَأَهُ وآمن بِهِ وَالثَّالِث هجر تحكيمه والتحاكم إِلَيْهِ فِي أصُول الدّين وفروعه واعتقاد أَنه لَا يُفِيد الْيَقِين وَأَن أدلته لفظية لَا تحصّل الْعلم وَالرَّابِع هجر تدبّره وتفهّمه وَمَعْرِفَة مَا أَرَادَ الْمُتَكَلّم بِهِ مِنْهُ وَالْخَامِس هجر الِاسْتِشْفَاء والتداوي بِهِ فِي جَمِيع أمراض الْقلب وأدوائها فيطلب شِفَاء دائه من غَيره ويهجر التَّدَاوِي بِهِ وكل هَذَا دَاخل فِي قَوْله {وَقَالَ الرَّسُولُ يَا رَبِّ إِنَّ قَوْمِي اتَّخَذُوا هَذَا الْقُرْآنَ مَهْجُوراً} “Berbagai Macam Bentuk Sikap Menjauhi Al Quran Al Karim: Pertama: Menjauhi mendengarkannya, beriman kepadanya & menyimaknya Kedua: Menjauhi mengamalkannya & tdk berdiam pd halal & haramnya, meskipun ia membaca & mengimaninya Ketiga: Menjauhi menjadikannya sebagai Hakim pemutus perkara & (menjauhi) merujuk kepadanya di dlm pokok & cabang agama serta keyakinan bahwa Al Quran tdk memberikan ilmu yakin & dalil-dalilnya hanya sebuah ucapan tdk menghasilkan ilmu. Keempat: Menjauhi mentadabburinya, memahaminya & mengenal apa yang diinginkan Sang Pembicara dengan pembicaraannya Kelima: Menjauhi berobat dgnnya di dlm seluruh penyakit-penyakit hati,mk dicari obat penyembuh penyakitnya dr selainnya & menjuahi berobat dgnnya. SELURUHNYA INI MASUK KE DALAM FIRMAN ALLAH TA’ALA: {وَقَالَ الرَّسُولُ يَا رَبِّ إِنَّ قَوْمِي اتَّخَذُوا هَذَا الْقُرْآنَ مَهْجُوراً} Artinya:“Berktlah Rasul: "Wahai Rabbku, sesungguhnya kaumku menjdkan Al Qur'an ini suatu yg tdk diacuhkan".QS. Al Furqan: 30. Lht kitab Al Fawaid Saudaraku seiman… Pertanyaannya adlh “SEBERAPA DEKAT ANDA DENGAN AL QURAN AL KARIM?" HANYA ANDA YG DPT MENJAWAB.



Ditulis oleh : أُسْتَاذُ Ahmad Zainuddin, Lc - حفظه الله تعالى
Di Dammam, KSA


-------๑๑•°♥°•๑๑-------

Senin, 09 September 2013

APA YANG DAPAT DIBANGGAKAN ISTRIMU TENTANG DIRIMU???

APA YANG DAPAT DIBANGGAKAN ISTRIMU TENTANG DIRIMU??? 
Oleh : أُسْتَاذُ Ahmad Zainuddin, Lc - حفظه الله تعالى
Di Dammam, KSA



Saya pernah membayangkan, ketika seorang istri menggandeng suaminya Mungkin perasaan istri waktu itu adalah ia ingin memperlihatkan kepada semua orang, kepada dunia, ini loh suami saya, seakan ia ingin berkata:
“Wahai dunia lihatlah…, Saya mempunyai suami yang taat kepada Allah
Saya mempunyai suami yang tidak pernah meremehkan shalat apalagi sampai meninggalkannya
Saya mempunyai suami yang sangat bakti kepada orangtuanya terutama ibunya
Saya mempunyai suami yang bisa membaca Al Quran dan bahkan banyak hafalannya
Saya mempunyai suami yang sangat baik akhlaknya bahkan bukan hanya sesama temannya tetapi terutama kepada istri dan anak-anaknya
Saya mempunyai suami yang menafkahi saya, meski terkadang seadanya tetapi yang penting di bertanggung jawab terhadap saya dan anak-anak."
Nah... Wahai para istri…kira-kira bayangan saya benar atau tidak???
Dan untukmu Wahai para suami…tidakkah kamu merasa malu, jika tidak ada yang dapat dibanggakan istrimu dari dirimu???

✽ SEMOGA BERMANFAAT ✽

♧°˚˚˚°♧♧°˚˚˚°♧

Sabtu, 31 Agustus 2013

PERINGATAN DARI PENGGUNA FB, WA, BBM dan TW

PERINGATAN DARI PENGGUNA FB, WA, BBM dan TW



بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ, الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ وَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ, أَمَّا بَعْدُ:
Saudaraku seiman…
Semua pengguna FB, WA, BBM, Twitter sangat paham dan mengerti bahwa teknologi ini sangat banyak manfaat dan kebaikannya, baik untuk perkara duniawi atau ukhrawi.
Tetapi perlu juga dicermati sisi negatif darinya, maka dalam kesempatan ini beberapa coretan sebagai nasehat, semoga nasehat di bawah ini bermanfaat,
sebelum datang hari:
{يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ} [الشعراء: 88]
Siapa di antara kita yang tidak merasakan perubahan gaya hidup, sesudah kita mengenal Whatsapp, Twitter, Facebook dan BBM social media lainnya.
(sengaja saya pakai “kita” agar menjadi peringatan bagi semua baik penulis dan pembaca atau pendengar)
Sebenarnya gaya hidup seperti ini adalah bentuk perang terhadap fikiran, gaya hidup bahkan akidah Islam kita.
Sehingga kita menjadi budak whatsapp, budak twitter, budak facebook, budak BBM, yang akhirnya menjadikan lisan kita sangat jauh dari berdzikir kepada Allah Ta’ala. dan tidak mungkin terdapat dua hati dalam diri seseorang;
{مَا جَعَلَ اللَّهُ لِرَجُلٍ مِنْ قَلْبَيْنِ فِي جَوْفِهِ} [الأحزاب: 4]
Artinya: “Allah sekali-kali tidak menjadikan bagi seseorang dua buah hati dalam rongganya.” QS Al Ahzab: 4.
Bahkan terkadang kita melakukan ghibah, sedangkan kita tidak duduk seorangpun di dunia nyata pada saat itu!?!
Kenapa demikian..?!?
Karena setiap kali kita dapat tulisan, artikel, broadcast yang di dalamnya mengghibah seorang muslim, maka secepat dan dengan cara yang sangat mudah kita kirim kembali ke grup yang kita ikuti. Yang kemudian tulisan berupa ghibah tersebut disebar lagi, dengan begitu cepat, entah berapa banyak dosanya yang kita dapat, akibat mengghibah secara berjamaah.
Terkadang bahkan mungkin sering, kita menyia-nyiakan shalat shubuh…
Kenapa demikian…?!?
Karena hampir sepanjang malam kita sibuk dengan nge WA atau nge twitt atau FB an atau BBM an, yang mengakibatkan tidur terlambat dan akhirnya sulit bangun untuk shalat shubuh, maka akhirnya ada yang shalat shubuhnya di akhir waktu beberapa menit saja sebelum matahari terbit, ada yang shalat subuhnya setelah terbit matahari bahkan ada yang tidak shalat shubuh.
Sampai waktu-waktu utama dan berkah, seperti sepertiga malam terakhir, setelah mengerjakan shalat shubuh, antara adzan dan iqamah dan waktu utama lainnya, kita sibuk dengan nge WA, nge twit, FB an, BBM an.
Taufik dan petunjuk sulit menghampiri diri kita di dunia, kenapa demikian?!?
Karena diri kita memboikot dan sangat jauh dari Al Quran, yang mengakibatkan hidup kita sempit dan kacau balau:
{وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا } [طه: 124]
Artinya: “Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit…” QS. Thaha: 124.
Padahal ketika di alam barzakh WA, FB, BBM kita, tidak akan menemani kita, yang akan menemani adalah amal shalih semisal bacaan Al Quran dan amal shalih lainnya.
Sangat disayangkan sekali, Kita seperti orang yang kecanduan… yang mengakibatkan kita kurang beradab dengan orang-orang di sekeliling kita…
Ketika makan HP dan smartphone ada di tangan kiri kita
Ketika kita duduk dengan saudara, kerabat atau teman-teman, HP dan smartphone di tangan kita.
Bahkan ketika kita berbincang dengan orangtua yang seharusnya wajib kita hormati dan muliakan, tetapi kita sibuk dengan HP dan smartphone di tangan.
Dan sangat miris, anak-anak kita kehilangan kasih sayang dari kita gara-gara kita tidak menghiraukan mereka karena kita sibuk dengan HP dan smart phone yang ada di tangan kita.
Bahkan nih…istri kita tercinta atau juga suami kita tersayang, mengeluh…
Lebih banyak memperhatikan HPnya daripada pasangannya… yang mengakibatkan diangkatnya sakinah, mawaddah dan rahmat dari pasangan tersebut.
Dan permasalahan sosial lainnya sangat banyak kalau ingin disebutkan.

Terakhir…
Semoga setelah ini kita lebih bijak dan lebih diberi petunjuk oleh Allah Ta'ala untuk lebih beriman dan bertakwa kepada-Nya, dan meninggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat untuk kita sebagai bentuk kebaikan keislaman kita. Allahumma amin.

Ttd
Pengguna WA, FB, TW, BBM

Ditulis oleh : أُسْتَاذُ Ahmad Zainuddin, Lc - حفظه الله تعالى
Kamis, 22 Syawwal 1434H, Dammam Arab Saudi

♧°˚˚˚°♧♧°˚˚˚°♧♧°˚˚˚°♧♧°˚˚˚°♧

Fikih Waqi' (Realita)

⌣̊┈̥♈̷̴ Fikih Waqi' (Realita) ♈̷̴┈̥⌣̊


Saudaraku seiman… Saya heran dan kasihan, setelah tersimbahnya darah kaum muslim baik di Suriah dan khususnya di Mesir, banyak sekali terjadi perdebatan kusir sesama muslim, ada pro dan kontra, bahkan tidak sedikit saling tukar sumpah serapah, banyak sekali orang BERLAGAK menjadi komentator dan analisis, menganggap salah negara ini itu, seakan ia komentator handal dan sangat berpengalaman, BAHKAN TERKADANGANALISANYA 'NGALAH-NGALAHIN' ORANG YANG TINGGAL DI DAERAH TERSEBUT. Akibatnya terputus hubungan tali silaturrahim. Sudah dibilangin...orang seperti saya DAN MUNGKIN JUGA ANDA, orang awam, bukan alim agama, cuma pekerja biasa, lebih baik dalam permasalahan yang menyangkut kebaikan atau keburukan kebanyakan kaum muslim...BANYAK BERDOA DARIPADA BANYAK BERBICARA YANG TIDAK MENGHASILKAN APA-APA, BAHKAN HANYA NAMBAH DOSA KARENA TIDAK MENJAGA LISAN DAN TULISAN. Sudah tidak pergi ke medan jihad... Bersedekah juga tidak... Jadi...BERDOA UNTUK KEBAIKAN KAUM MUSLIM, INILAH YANG LEBIH REAL DILAKUKAN KAUM MUSLIM. INILAH FIKIH WAQI' (REALITA) SEBENARNYA... Dan ternyata begitulah fatwa para ulama. wallahu a'lam.

Ditulis oleh: أُسْتَاذُ Ahmad Zainuddin, Lc - حفظه الله تعالى
di Dammam ~ KSA




*•☆°• •°☆•**•☆°• •°☆•**•☆*•☆°• •°☆•

Selasa, 20 Agustus 2013

SIKAP SEORANG MUSLIM TERHADAP APA YANG TERJADI DI MESIR


✽ SIKAP SEORANG MUSLIM TERHADAP APA YANG TERJADI DI MESIR ✽
Ditulis oleh : أُسْتَاذُ Ahmad Zainuddin, Lc - حفظه الله تعالى
Di Dammam, KSA




بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ, الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ وَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ, أَمَّا بَعْدُ:

Saudaraku seiman…

1. Sedih dengan bersimbah darahnya kaum muslim di Mesir

« لَزَوَالُ الدُّنْيَا أَهْوَنُ عَلَى اللَّهِ مِنْ قَتْلِ رَجُلٍ مُسْلِمٍ ».

“Sungguh hancurnya dunia lebih ringan di sisi Allah dari membunuh seorang muslim”. HR. Tirmidzi.

2. Berdo'a kepada Allah Ta'ala agar darah kaum muslim Mesir segera berhenti dari persimbahan

3. Berdoa kepada Allah Ta'ala agar kaum Muslim Mesir diberikan Pemimpin yang shalih dan baik untuk kebaikan kaum muslim secara khusus dan rakyat Mesir secara umum

4. Bertobat dan meminta ampun dari kesalahan, sungguh semua keburukan ini terjadi akibat dosa-dosa kita.

{ وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ} [الشورى: 30]

Artinya: “Dan apa musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” QS. Asy Syura: 30.

5. Lebih memperbanyak beribadah dalam keadaan serba ketidak-stabilan, penuh kegentingan dan kekacauan serta banyak pembunuhan.

« الْعِبَادَةُ فِى الْهَرْجِ كَهِجْرَةٍ إِلَىَّ »

“Beribadah di dalam kegentingan (yang menyebabkan banyak pembunuhan) laksana berhijrah kepadaku.” HR. Muslim

6. Merujuk kepada para ulama bermanhaj Salaf Ash Shalih tentang apa sebenarnya yang terjadi di Mesir dan bagaimana sikap kaum muslim terhadapnya. Yang fatwa mereka didasari Al Qur'an dan Sunnah dengan pemahaman para salaf ash shalih, fatwa yang mendatangkan kebaikan untuk kaum muslim BUKAN FATWA YANG MALAH MENDATANGKAN KEBURUKAN BAGI KAUM MUSLIM KARENA HANYA BERDASARKAN SEMANGAT DAN RASA IBA, TAPI TANPA ILMU.

7. Dalam keadaan seperti ini lebih diutamakan bagi umumnya kaum muslim untuk banyak menggunakan hadits Rasulullah shallahu 'alaihi wasallam:

« مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ »

"Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah ia berkata yang baik atau diam." HR. Bukhari.

KARENA DITAKUTKAN SATU KATA YANG IA UCAPKAN AKAN MENAMBAH SIMBAHAN DARAH KAUM MUSLIM, YANG ITU SANGAT DIMURKAI OLEH ALLAH TA'ALA.

« لَنْ يَزَالَ الْمُؤْمِنُ فِى فُسْحَةٍ مِنْ دِينِهِ ، مَا لَمْ يُصِبْ دَمًا حَرَامًا »

“Seorang mukmin benar-benar akan leluasa dari perkara agamanya, selama ia tidak pernah mengenai darah yang haram (untuk diteteskan).” HR. Bukhari


Jum'at, 9 Syawwal 1434, Dammam, Arab Saudi

*•☆°• •°☆•**•☆°• •°☆•**•☆*•☆°• •°☆•

Jika Ingin Bergaul Harus Sabar dan Banyak Tenggang Rasa

Jika Ingin Bergaul Harus Sabar dan Banyak Tenggang Rasa
Ditulis oleh : أُسْتَاذُ Ahmad Zainuddin, Lc - حفظه الله تعالى
Di Dammam, KSA


بسم الله الرحمن الرحيم, الحمد لله رب العالمين وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين, أما بعد:
Seorang harus sabar, ketika kawannya berbuat sesuatu yang menyakitkan hatinya, mungkin ia bermaksud yang lain. Seorang istri terkadang harus sabar, ketika suaminya berjanji sesuatu tetapi belum ditepati pada waktunya, mungkin ada sesuatu yang menyebabkannya belum menepati janjinya. Seorang murid harus sabar, ketika guru atau ustadznya berkata nyelekit, mungkin ia ingin memberi nasehat. Seorang harus sabar dan banyak tenggang rasa ketika berinteraksi dengan orang lain. Intinya harus sabar jika ingin bergaul dan bersosial dengan yang lainnya.
Mari kita perlajari hadits berikut:
عَنْ يَحْيَى بْنِ وَثَّابٍ عَنْ شَيْخٍ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « إِنَّ الْمُسْلِمَ إِذَا كَانَ مُخَالِطًا النَّاسَ وَيَصْبِرُ عَلَى أَذَاهُمْ خَيْرٌ مِنَ الْمُسْلِمِ الَّذِى لاَ يُخَالِطُ النَّاسَ وَلاَ يَصْبِرُ عَلَى أَذَاهُمْ ».
“Yahya bin Watsab meriwayatkan dari seorang alim dari shahabat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya seorang muslim, jika ia bergaul dengan manusia dan bersabar atas gangguan mereka lebih baik daripada seorang muslim yang tidak bergaul dengan manusia dan tidak sabat atas gangguan mereka.” HR. Tirmidzi dan dishahihkan oleh Al Albani di dalam kitab Silsilat Al Ahadits Ash Shahihah, no. 939 Pernjelasan para ulama terhadap hadits ini: 1. Maksud dari مُخَالِطًا النَّاسَ (bergaul dengan manusia)
(يُخَالِطُ النَّاسَ) أَيْ يُسَاكِنُهُمْ وَيُقِيمُ فِيهِمْ
"Tinggal bersama mereka dan berdomisil di tengah mereka”. Lihat kitab Tufat Al Ahwadzi, 7/177 (asy Syamela). 2. Maksud dari وَيَصْبِرُ عَلَى أَذَاهُمْ (dan sabar atas gangguan mereka)
(وَيَصْبِرُ عَلَى أَذَاهُمْ) أَيْ عَلَى مَا يَصِلُ إِلَيْهِ مِنْهُمْ مِنَ الْأَذَى
“Atas apa yang sampai kepadanya dari mereka berupa gangguan.” Lihat kitab Tuhfat Al Ahwadzi, 7/177 (Asy Syamela)
3. Keutamaan bergaul dan sabar ketika mendapatkan gangguan dalam bergaul, dibandingkan tidak bergaul dan tidak sabar, kecuali di zaman penuh godaan dan ketidakstabilan Ash Shan’any rahimahullah berkata:
فيه أفضلية من يخالط الناس مخالطة يأمرهم فيها بالمعروف وينهاهم عن المنكر ويحسن معاملتهم فإنه أفضل من الذي يعتزلهم ولا يصبر على المخالطة والأحوال تختلف باختلاف الأشخاص والأزمان ولكل حال مقال ومن رجح العزلة فله على فضلها أدلة وقد استوفاها الغزالي في الإحياء وغيرها
“Di dalam hadits ini (menunjukkan) keutamaan seorang yang bergaul dengan manusia, dengan pergaulan yang ia memerintahkan kepada mereka kebaikan dan melarang mereka dari kemungkaran, berbuat baik dalam menggauli mereka, sesungguhnya ia lebih utama dari seorang yang menyendiri dari mereka dan tidak sabar atas percampuran. Dan keadaan berbeda dengan perbedaan person, waktu, setiap keadaan ada perkataan (yang cocok) dan barangsiapa yang menguatkan pendapat (bahwa) menyendiri (lebih baik), maka ia memiliki dalilk-dalil atas keutamaannya, dan Al Ghazali telah menyembutkan lengkap akan hal itu, di dalam kitab Ihya dan lainnya.” Lihat kitab Subulussalam, 4/211 (Asy Syamela). Nawawi rahimahullah berkata:
باب فضل الاختلاط بالناس وحضور جُمَعِهم وجماعاتهم ، ومشاهد الخير ، ومجالس الذكر معهم ، وعيادة مريضهم ، وحضورجنائزهم ، ومواساة محتاجهم ، وإرشاد جاهلهم ، وغير ذلك من مصالحهم لمن قدر عَلَى الأمر بالمعروف والنهي عن المنكر ، وقمع نفسه عن الإيذاء وصبر عَلَى الأذى اعْلم إِنَّ الاِخْتِلاَطَ بِالنَّاسِ عَلَى هَذَا الْوَجْهِ هُوَ الْمُخْتَارُ الَّذِي كَانَ عَلَيْهِ رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَسَائِرُ الأْنْبِيَاءِ صَلَوَاتُ اللَّهِ وَسَلاَمُهُ عَلَيْهِمْ ، وَكَذَلِكَ الْخُلَفَاءُ الرَّاشِدُونَ ، وَمَنْ بَعْدَهُمْ مِنَ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِينَ ، وَمَنْ بَعْدَهُمْ مِنْ عُلَمَاءِ الْمُسْلِمِينَ وَأَخْيَارِهِمْ وَهُوَ مَذْهَبُ أكثَرِ التَّابِعينَ وَمَنْ بَعدَهُمْ ، وبه قَالَ الشافعيُّ وأحمدُ وأكثَرُ الفقهاءِ رضي اللهُ عنهم أجمعين. قَالَ اللهُ تَعَالَى: { وَتَعَاوَنُوا عَلَى البِرِّ وَالتَّقْوَى } [ المائدة : 20 ] والآيات في معنى مَا ذكرته كثيرة معلومة .
“Bab Keutamaan bergaul dengan manusia, menghadiri shalat jumat dan shalat berjamaah bersama mereka, pemandangan baik dan majelis-majelis dzikir bersama mereka, menjenguk yang sakit dari mereka, menghadiri pengurusan jenazah mereka, menolong yang membutuhkan dari mereka, memberikan petunjuk kepada seorang yang tidak tahu dari mereka dan selainnya dari mashlahat-mashlahat mereka, bagi siapa yang mampu untuk memerintahkan kepada kebaikan dan mencegah atas kemungkaran, dan menahan dirinya dari menyakiti (orang lain) dan sabar atas gangguan (dari orang lain).” “Ketauhilah, sesungguhnya bergaul dengan manusia dalam keadaan seperti ini adalah pendapat yang dipilih, yang senantiasa dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan seluruh para Nabi shalawatullahi wasalamuhu ‘alaihim, demikian pula para khalifah Rasyidah dan orang setelah mereka dari para shahabat dan tabi’ie serta ulama-ulama Islam dan orang-orang terbaiknya setelah mereka, dan ini adalah pendapat kebanyakan para tabi’ie dan orang-orang setelah mereka, dan ini yang dikatakan Asy Syafi’ie, Ahmad dan kebanyakan para ahli fikih radhiyallahu ‘anhum seluruhnya, Allah Ta’ala befirman:
{ وَتَعَاوَنُوا عَلَى البِرِّ وَالتَّقْوَى } [ المائدة : 2 ]
Artinya: “Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa.” QS. Al Maidah: 2, dan ayat-ayat yang semakna apa yang telah aku sebutkan sangat banyak dan diketahui.” Lihat kitab Riyadh Shalihin, karya An NAwawi, bab 70. Berkata Ibnu Utsaimin rahimahullah:
والعزلة خير إذا كان في الخلطة شر أما إذا لم يكن في الخلطة شر فالاختلاط بالناس أفضل قال النبي صلى الله عليه وسلم المؤمن الذي يخالط الناس ويصبر على أذاهم خير من المؤمن الذي لا يخالطهم ولا يصبر على أذاهم لكن إذا كانت الخلطة ضررا عليك في دينك فانج بدينك كما قال النبي صلى الله عليه وسلم يوشك أن يكون خير مال الرجل غنم يتبع بها شعف الجبال ومواقع القطر يعني يفر بدينه من الفتن .
“Dan uzlah (kesendirian) lebih baik jika di dalam bergaul terdapat keburukan, adapun jika di dalam bergaul tidak terdapat keburukan, maka bergaul dengan manusia lebih utama, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya seorang muslim, jika ia bergaul dengan manusia dan bersabar atas gangguan mereka lebih baik daripada seorang muslim yang tidak bergaul dengan manusia dan tidak sabat atas gangguan mereka.” Akan tetapi jika bergaul terdapat bahaya atasmu di dalam agamu, maka selamatkan agamamu, sebagaimana Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Akan menjadi sebaik-baik harta seseorang adalah kambing, ia mengikutinya ke bukit-bukit pegunungan dan ke tempat-tempat subur, yaitu ia menyelamatkan agamanya dari fitnah godaan.” Lihat kitab Syarah Riyadhush Shalihin, 302. Syeikh Al Muhaddits Abdul Muhsin Al ‘Abbad hafizhahullah berkata ketika menjawab pertanyaan;
هل يجوز البداوة في هذا الزمان باعتبار كثرة الفتن؟
“Apakah boleh berdiam di perkampungan di zaman ini dengan anggap banyaknya fitnah godaan?”
الذي يخالط الناس ويصبر على أذاهم أولى ممن يعتزلهم، والفتن التي يكون فيها اعتزال هي ما جاء في الأحاديث والمقصود بها الاقتتال، وأما وجود فتن شهوات وشبهات فيخالط الناس ويحذر من تلك الفتن، ويبين الحق ويحذر من الباطل.
“Seorang yang bergaul dengan manusia dan sabar atas gangguan mereka lebih utama daripada yang menyendiri dari mereka, dan fitnah yang terdapat di dalamnya sikap menyendiri (seperti) apa yang disebutkan di dalam hadits-hadits, maksudnya adalah perperangan, adapun jika terdapat godaan-godaan syahwat dan syubhat, maka hendaklah ia bergaul dengan manusia dan menjauhi fitnah-fitnah tersebut, menjelaskan kebenaran dan memperingatkan yang batil.” Lihat Syarah Abu Daud, Syeikh Al Muhaddits Abdul Muhsin Al ‘Abbad, 24/33. (Asy Syamela) Disebutkan di dalam kitab AL Mausu’ah Al Fiqhiyyah al Kuwaitiyyah:
عَنْ وَاتَّفَقَ الْعُلَمَاءُ عَلَى أَنَّ الأَْفْضَل لِلْمُسْلِمِ أَنْ يَخْتَلِطَ بِالنَّاسِ ، وَيَحْضُرَ جَمَاعَاتِهِمْ وَمَشَاهِدَ الْخَيْرِ وَمَجَالِسَ الْعِلْمِ ، وَأَنْ يَعُودَ مَرِيضَهُمْ ، وَيَحْضُرَ جَنَائِزَهُمْ ، وَيُوَاسِيَ مُحْتَاجَهُمْ ، وَيُرْشِدَ جَاهِلَهُمْ ، وَيَأْمُرَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَى عَنِ الْمُنْكَرِ ، وَيَدْعُوَ لِلْخَيْرِ ، وَيَنْشُرَ الْحَقَّ وَالْفَضِيلَةَ ، وَيُجَاهِدَ فِي سَبِيل اللَّهِ لإِعْلاَءِ كَلِمَةِ اللَّهِ ، وَإِعْزَازِ دِينِهِ مَعَ قَمْعِ نَفْسِهِ عَنْ إِيذَاءِ الْمُسْلِمِينَ وَالصَّبْرِ عَلَى أَذَاهُمْ . لِقَوْلِهِ تَعَالَى { وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى } وقَوْله تَعَالَى : { كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ } وقَوْله تَعَالَى : { إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِهِ صَفًّا كَأَنَّهُمْ بُنْيَانٌ مَرْصُوصٌ } .
“Para ulama bersepakat bahwa yang lebih utama bagi seorang muslim adalah bergaul dengan manusia, dan menghadiri perkumpulan-perkumpulan mereka, tempat-tempat baik, majelis-majelis ilmu, menjenguk yang sakit dari mereka, menghadiri jenazah-jenazah mereka, membantu orang yang membutuhkan dari mereka, memberi arahan kepada orang yang bodoh dari mereka, memerintahkan kepada yang baik dan mencegah dari yang mungkar, berdoa untuk kebaikan, menyebarkan kebenaran dan keutamaan, dan berjihad di jalan Allah untuk mengangkat kalimat Allah, mengagungkan agamanya dengan menahan diri dari menyakiti kaum muslim dan sabar atas gangguan mereka. Berdasarkan Firman Allah Ta’ala:
{ وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى }
“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa.” QS. Al Maidah: 2.
{ كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ }
“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar.” QS. Ali Imran: 110.
{ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِهِ صَفًّا كَأَنَّهُمْ بُنْيَانٌ مَرْصُوصٌ }
“Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.” QS. Ash Shaf: 4.” Lihat kitab Al Mausu’ah Al Fiqhiyyah Al Kuwaitiyyah, 23/174. 4. Cara bergaul yang baik menurut Ibnu Qayyim Al Jauziyyah rahimahullah Ibnu Qayyim Al Jauziyyah rahimahullah:
'' والضابط النافع في أمر الخلطة أن يخالط الناس في خير - كالجمعة والجماعة ، والأعياد والحج ، وتعلم العلم ، والجهاد ، والنصيحة ، ويعتزلهم في الشر وفضول المباحات ، فإن دعت الحاجة إلى خلطتهم في الشر ولم يمكنه اعتزالهم فالحذر الحذر أن يوافقهم ، وليصبر على أذاهم فإنهم لا بد أن يؤذوه إن لم يكن له قوة ولا ناصر ، ولكن أذى يعقبه عز ومحبة له وتعظيم وثناء عليه منهم ومن المؤمنين ومن رب العالمين ، وموافقتهم يعقبها ذل وبغض له ومقت وذم منهم ومن المؤمنين ومن رب العالمين ، فالصبر على أذاهم خير وأحسن عاقبة وأحمد مآلا . وإن دعت الحاجة إلى خلطتهم في فضول المباحات فليجتهد أن يقلب ذلك المجلس طاعة لله ، إن أمكنه ويشجع نفسه ويقوي قلبه ، فإن أعجزته المقادير عن ذلك فليسل قلبه من بينهم كسل الشعرة من العجين . . . ''
“Cara yang baik dalam perkara bergaul, yaitu mengauli manusia di dalam kebaikan, seperti melaksanakan shalat Jumat dan shalat berjamaah, shalat id, menunaikan haji, mengajarkan ilmu, berjihad, memberikan nasehat, dan menyendiri dari mereka di dalam keburukan dan hal-hal mubah yang terlalu berlebihan, jika ada kebutuhan untuk bergaul dengan mereka di dalam keburukan dan tidak mungkin menjauhi mereka, maka berhati-hatilah dari sikap menyamai mereka dan bersabarlah atas gangguan dari mereka, karena mereka pasti akan menyakitinya, jika ia tidak mempunyai kekuatan dan penolong. Akan tetapi ia adalah gangguan yang diakhiri dengan kemenangan, kecintaan untuknya, pengagungan dan pujian untuknya dari kaum beriman dan dari Rabb semesta alam, sedangkan menyamai mereka akan diakhiri dengan khinaaan dan kemurkaan untuknya, dan kemarahan serta celaan dari mereka dan kaum beriman dan dari rabb semesta alam. Jadi, sabar atas gangguan mereka lebih baik dan lebih bagus akibatnya serta lebih terpuji pada akhirnya. Dan jika dibutuhkan untuk bergaul dengan mereka dalam hal-hal yang mubah yang terlalui berlebihan, maka bersungguh-sungguhlah ia untuk merubah majelis itu menjadi ketaatan kepada Allah, jika memungkinkan untuknya dan berani serta kuat hatinya, dan jika ia tidak sanggup akan hal itu, hendaklah ia menghibur hatinya ketika berada di antara mereka sebagaimana diambilnya rambut dari adonan.” Lihat kitab Madarij As Salikin, 1/445-456.

Ahad, 8 Rabiul Awwal 1434H, Dammam KSA

»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶

Senin, 19 Agustus 2013

CONTOH TENGGANG RASA ANTARA SUAMI ISTRI


CONTOH TENGGANG RASA ANTARA SUAMI ISTRI
Oleh : أُسْتَاذُ Ahmad Zainuddin, Lc - حفظه الله تعالى

 بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ, الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ وَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ, أَمَّا بَعْدُ:
Saudaraku seiman…
Salah satu bentuk tenggang rasa adalah “MEMAHAMI DAN MEMAKLUMI KAPAN SUAMI ATAU ISTRI SEDANG MARAH”
Contoh Pertama:
Jadwal marah dan ngomel-ngomelnya suami adalah kalau kerja kecapean atau kepanasan, entah karena pekerjaan luar atau pekerjaan dalam rumah, misalnya memperbaiki genteng rumah di siang hari yang panas, membeli air minum segalon atau tabung di terik sinar matahari dan misal-misal yang lain.
Maka sikap idealnya sang istri adalah memahami keadaan suaminya, memakluminya dan berusaha mencari sesuatu yang dapat meredakan amarah dan omelan suami, dan jangan ikut-ikutan panik atau marah.
Contoh Kedua:
Jadwal cemberut dan bawelnya istri adalah ketika anak-anak terlalu rewel, atau ketika pekerjaan rumah terlalu banyak dan sebagainya.
Maka sikap idealnya sang suami adalah memahami keadaan istrinya, memakluminya dan berusaha mencari sesuatu yang dapat meredakan amarah dan bawelan sang istri, serta jangan sekali-kali ikut-ikutan marah atau bawel.
Inilah yang dicontohkan para generasi salaf Ash Shalih, seperti Abu Ad Darda radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata kepada Ummu ad Darda:
إذا رأيتني غضبت فرضني وإذا رأيتك غضبى رضيتك وإلا لم نصطحب
“Jika kamu melihat aku sedang marah maka maafkanlah aku, jika aku melihatmu dalam keadaan marah, maka aku memaafkan kamu, kalau tidak, kita tidak akan bisa hidup bersama”.
Dan sikap tenggang rasa seperti inilah yang membuat Imam Ahmad rahimahullah dan istrinya Ummu Shalih, tidak pernah cekcok walau dalam satu permasalahan selama 20 Tahun!!
وَقَالَ أَحْمَدُ أَقَامَتْ أُمُّ صَالِحٍ مَعِي عِشْرِينَ سَنَةً فَمَا اخْتَلَفْت أَنَا وَهِيَ فِي كَلِمَةٍ “Imam Ahmad Berkata: “Ummu Shalih hidup bersamaku selama 20 tahun dan aku tidak pernah bercekcok dengannya walau hanya satu kata”. Lihat kitab Al Adab Asy Syar’iyyah wa Al Minah Al Mar’iyyah, 2/238, karya Ibnu Muflih Al Maqdisi.
Dan sikap mereka sepertinya tentunya mereka ambil dari ilmu yang mereka pelajari dari Al Quran Al Karim:
{وَلَهُنَّ مِثْلُ الَّذِي عَلَيْهِنَّ بِالْمَعْرُوفِ} [البقرة: 228]
Artinya: “Dan para wanita (istri) mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang makruf.” QS. Al Baqarah: 228.

Rabu, 8 Syawwal 1434H, Dammam KSA

┈┈»̶·̵̭̌✽✽✽♡♡♡✽✽✽·̵̭̌«̶┈┈

Jumat, 26 Juli 2013

Gajimu berapa mas?

“Gajimu berapa mas?”


Saudaraku seiman…
Seorang istri bertanya:
Benarkah dalam Islam, seorang istri tidak boleh tahu apa yg dilakukan suaminya terutama soal keuangan? Karena semenjak menikah si suami tidak pernah memberi tahu berapa gaji/ penghasilan tiap bulannya, si istri hanya diberi uang belanja sekedarnya, cukup tidak cukup segitu, si istri merasa seperti seorang pembantu yang hanya dikasih gaji tiap bulan, tidak berani protes atau menuntut apapun.
Jawaban:
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ, الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ وَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ, أَمَّا بَعْدُ:
Tidak ada kewajiban bagi suami untuk memberitahukan berapa jumlah gajinya kepada istri atau kepada siapapun, yang merupakan kewajiban bagi suami adalah menafkahi istri dan anak-anaknya semampu dia dan ini adalah salah satu kewajiban dismping kewajiban-kewajiban yang begitu banyak, perhatikan ayat ini:
{لِيُنْفِقْ ذُو سَعَةٍ مِنْ سَعَتِهِ وَمَنْ قُدِرَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ فَلْيُنْفِقْ مِمَّا آتَاهُ اللَّهُ لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا مَا آتَاهَا سَيَجْعَلُ اللَّهُ بَعْدَ عُسْرٍ يُسْرً} [الطلاق: 7]
Artinya: “Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. Dan orang yang disempitkan rezekinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan (sekedar) apa yang Allah berikan kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan.” QS. Ath Thalaq: 7.
Dan kewajiban istri adalah bersyukur atas pemberian suami dan bersabar atas keterbatasan dan menghindari sikap sering mengeluh dan melaknat atas pemberian suami.
 عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَنَّهُ قَالَ « يَا مَعْشَرَ النِّسَاءِ تَصَدَّقْنَ وَأَكْثِرْنَ مِنَ الاِسْتِغْفَارِ فَإِنِّى رَأَيْتُكُنَّ أَكْثَرَ أَهْلِ النَّارِ ». فَقَالَتِ امْرَأَةٌ مِنْهُنَّ جَزْلَةٌ وَمَا لَنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ أَكْثَرَ أَهْلِ النَّارِ قَالَ « تُكْثِرْنَ اللَّعْنَ وَتَكْفُرْنَ الْعَشِيرَ مَا رَأَيْتُ مِنْ نَاقِصَاتِ عَقْلٍ وَدِينٍ أَغْلَبَ لِذِى لُبٍّ مِنْكُنَّ ». قَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا نُقْصَانُ الْعَقْلِ وَالدِّينِ قَالَ « أَمَّا نُقْصَانُ الْعَقْلِ فَشَهَادَةُ امْرَأَتَيْنِ تَعْدِلُ شَهَادَةَ رَجُلٍ فَهَذَا مِنْ نُقْصَانِ الْعَقْلِ وَتَمْكُثُ اللَّيَالِىَ مَا تُصَلِّى وَتُفْطِرُ فِى رَمَضَانَ فَهَذَا مِنْ نُقْصَانِ الدِّينِ ».
Artinya: “Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Wahai para wanita, bersedekahlah kalian, dan perbanyaklah istighfar, karena sesungguhnya aku telah melihat kalian paling banyak penghuni neraka”, seorang wanita tua dari mereka bertanya: “Ada apa dengan kami menjadi kebanyakan penghuni neraka?”, beliau menjawab: “Kalian banyak melaknat dan kufur terhadap suami, aku tidak pernah melihat wanita-wanita yang kurang akal dan agama dapat mengalahkan seorang lelaki yang mempunyai akal dibandingkan kalian”, wanita itu bertanya: “Wahai Rasulullah, apakah yang dimaksud dengan kurang akal dan agama?”, beliau menjawab: “Adapun tentang kurangnya akal adalah persaksian dua orang wanita senilai dengan satu orang lelaki maka ini adalah kurangnya akal, dan seorang wanita berdiam beberapa hari tidak mengerjakan shalat dan tidak berpuasa dalam bulan Ramadhan, maka ini adalah kekurangan agama.” HR. Ibnu Majah         
Semoga para istri menjalankan kewajiban sebagaimana juga suami menjalankan kewajibannya.

Ditulis
oleh: أُسْتَاذُ Ahmad Zainuddin Lc - حفظه الله تعالى
Kamis, 16 Ramadhan 1434H, Dammam KSA.

*•☆°• •°☆•**•☆°• •°☆•**•☆*•☆°• •°☆•

Rabu, 03 Juli 2013

Fatwa Ulama: Tentang Hadits “Tidurnya Orang Puasa Ibadah

◦º°˚♡͡<3 • Fatwa Ulama: Tentang Hadits “Tidurnya Orang Puasa Ibadah ◦º°˚͡♡<3 •
Oleh : أُسْتَاذُ Ahmad Zainuddin, Lc - حفظه الله تعالى
Di Dammam, KSA


عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ أَبِي أَوْفَى الْأَسْلَمِيِّ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: " نَوْمُ الصَّائِمِ عِبَادَةٌ، وَصَمْتُهُ تَسْبِيحٌ، وَدُعَاؤُهُ مُسْتَجَابٌ، وَعَمَلُهُ مُضَاعَفٌ ".
Artinya: “Abdullah bin Abi Aufa Al Aslami radhiyallahu ‘anhu berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidurnya orang puasa adalah ibadah, diamnya adalah tasbih, doanya dikabulkan dan amalannya dilipatkan (pahalanya-pent).”
Al Baihaqi rahimahullah berkata :
مَعْرُوفُ بْنُ حَسَّانَ ضَعِيفٌ وَسُلَيْمَانُ بْنُ عَمْرٍو النَّخَعِيُّ أَضْعَفُ مِنْهُ
“Ma’ruf bin Hassan (salah satu perawi hadits ini) adalah perawi yang lemah dan Sulaiman bin ‘Amr An Nakh’i lebih lemah darinya.” Lihat kitab Syu’ab Al Iman, 5/423 (Syamela).
Al Munawi rahimahullah berkata:
وقال الحافظ العراقي : فيه سليمان النخعي أحد الكذابين اه وأقول : فيه أيضا عبد الملك بن عمير أورده الذهبي في الضعفاء ، وقال أحمد : مضطرب الحديث ، وقال ابن معين : مختلط ، وقال أبو حاتم : ليس بحافظ.
“Al Hafizh Al ‘Iraqi berkata: “Di dalam sanadnya terdapat Sulaiman An Nakha’i, ia adalah salah satu tukang dusta, dan aku (Al Munawi) berkata: “Di dalamnya terdapat Abdul Malik bin ‘Umair disebutkan oleh Adz Dzahabi di dalam kitab Adh Dhu’afa (kitab yang menyebutkan para perawi lemah), dan Ahmad (bin Hambal) berkata: “Ia seorang yang guncang haditsnya”, Ibnu Ma’in berkata: “Seorang perawi yang tercampur hapalannya”, Abu Hatim berkata: “Bukan seorang yang hafizh (menjaga hadits).” Lihat kitab Faidh Al Qadhir, 6/378 (Syamela).

Sumber:
http://www.dakwahsunnah.com/artikel/tanyajawab/357-fatwa-ulama-tentang-hadits-%E2%80%9Ctidurnya-orang-puasa-ibadah%E2%80%9D

※※※※※※※※※※

Senin, 01 Juli 2013

☆ Fatwa Ulama: Seputar Hukum Al Mukhannats (Transgender) – bag. 01 ☆

Fatwa Ulama: Seputar Hukum Al Mukhannats (Transgender) – bag. 01
Ditulis oleh: أُسْتَاذُ Ahmad Zainuddin, Lc -- حفظه الله تعالى
Di Dammam, KSA

Takhannuts = Transgender

Pengertian[1]:

1. At Takhannuts di dalam bahasa dengan makna: At Tatsanni (menjadi perempuan) dan At Takassur (bersikap lemah lembut), dan seorang lelaki bersikap takhannats jika melakukan perbuatan seorang Al Mukhannats (seorang menyerupakan diri dengan wanita). Dan seorang lelaki menyerupakan perkataannya: “Jika ia menyerupakan perkataannya dengan perempuan dalam kelembutan dan kegemulaian.[2]

Dan at takhannuts secara istilah sebagaimana yang terdapat dari pengertian Ibnu ‘Abidin untuk kata al Mukhannats adalah seorang yang berpakaian dengan pakaian para wanita dan menyerupakan diri dengan mereka dalam perihal pelembutan perkataan karena kesengajaan atau karena perbuatan yang mungkar

Dan pemilik kitab Ad Durr berkata: “Al Mukhannats dengan harakat fathah, adalah seorang yang mengerjakan perbuakan kotor, adapaun dengan harakat kasrah (Al Mukhannits) adalah seorang lelaki yang melemah lembutkan dalam tubuhnya, perkataannya dan perbuatannya.” Dan dipahami dari pendapat Al Qalyubi, bahwa tidak ada perbedaan baik dengan diberi harakat fathah (al Mukhannats) atau dengan diberi harakat  kasrah (al Mukhannits) dalam perihal makna, menurutnya al mukhannats adalah seorang lelaki yang menyerupai gerakan-gerakan wanita.” [3]


Hukum Secara Global:

2. Diharamkan lelaki melakukan takhannuts dan penyerupaan diri dengan para wanita di dalam pakaian dan perhiasan yang khusus dengan para wanita, demikian di dalam perkataan dan jalan, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata:

لعن النَّبِىُّ - صلى الله عليه وسلم - الْمُخَنَّثِينَ مِنَ الرِّجَالِ ، وَالْمُتَرَجِّلاَتِ مِنَ النِّسَاءِ

“Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam telah melaknat para lelaki yang mukhannats dan para wanita yang menyerupakan diri dengan lelaki”[4], dan di dalam riwayat yang lain:

لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - الْمُتَشَبِّهِينَ مِنَ الرِّجَالِ بِالنِّسَاءِ ، وَالْمُتَشَبِّهَاتِ مِنَ النِّسَاءِ بِالرِّجَالِ

 “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah melaknat para lelaki yang menyerupakan diri dengan perempuan dan para perempuan yang mnyerupakan diri dengan para lelaki[5],

Ibnu Hajar rahimahullah berkata di dalam kitab Fath Al Bari:

 وَالنَّهْيُ مُخْتَصٌّ بِمَنْ تَعَمَّدَ ذَلِكَ ، وَأَمَّا مَنْ كَانَ أَصْل خِلْقَتِهِ ، فَإِنَّمَا يُؤْمَرُ بِتَكَلُّفِ تَرْكِهِ وَالإِْدْمَانِ  عَلَى ذَلِكَ بِالتَّدْرِيجِ ، فَإِنْ لَمْ يَفْعَل وَتَمَادَى دَخَلَهُ الذَّمُّ ، وَلاَ سِيَّمَا إِذَا بَدَا مِنْهُ مَا يَدُل عَلَى الرِّضَا بِهِ ، وَأَمَّا إِطْلاَقُ مَنْ قَال : إِنَّ الْمُخَنَّثَ خِلْقَةً لاَ يَتَّجِهُ عَلَيْهِ الذَّمُّ ، فَمَحْمُولٌ عَلَى مَا إِذَا لَمْ يَقْدِرْ عَلَى تَرْكِ التَّثَنِّي وَالتَّكَسُّرِ فِي الْمَشْيِ وَالْكَلاَمِ بَعْدَ تَعَاطِيهِ الْمُعَالَجَةَ لِتَرْكِ ذَلِكَ.

“Dan larangan khusus bagi siapa yang mensengajakan perbuatan itu, dan adapun barangsiapa yang asal penciptaannya seperti itu, maka ia diperintahkan untuk berusaha meninggalkannya dan kecanduan atas hal itu dengan perlahan-lahan, dan jika ia tidak melakukannya dan bertahan terus maka masuk ke dalam dirinya celaan, terutama jika terlihat darinya seseuatu yang menunjukkan atas keredhaan akan hal itu, adapun pengeneralisiran orang yang mengatakan bahwa  “Seorang yang mukhannats dari bawaan lahirnya tidak tertuju padanya celaan”, maka hal ini dibawakan kepada seseorang yang tidak sanggup untuk meninggalkan kelemah lembutan dan kegemulaian di dalam jalan dan perkataan setelah ia berusaha mengobati akan hal itu.[6]


Imamnya Seorang Al Mukhannats

3. Al Mukhannats dengan penciptaan, dan ia adalah seorang yang di dalam pembicaraannya kelembutan dan pada anggota tubuhnya kegemulaian dan tidak terkenal dengan perbuatan yang rendak, maka ia tidak dianggap seorang yang fasik, dan tidak masuk ke dalamnya celaan, laknat yang terdapat di dalam hadits-hadits, jadinya pengimamnya (di dalam shalat), akan tetapi ia diperintahkan untuk berusaha meniggalkannya dan kecanduan atas hal itu dengan perlahan-perlahan, jika ia tidak mampu meninggalkannya maka tidak ada celaan atasnya[7].

Adapun yang menyerupakan diri dengan perangai para wanita baik dalam gerakgerik, atau keadaan, dan seorang lelaki yang menyerupakan diri dengan mereka dalam hal melembutkan ucapan dan kegemulaian anggota tubuh dengan sengaja, maka sesungguhnya hal itu adalah kebiasaan yang buruk dan maksiat, dan dianggap pelakunya sebagai seorang yang melakukan dosa dan fasik. Dan seorang fasik dimakruhkan keimamannya menurut madzhab Hanafi dan Syafi’ie, dan ia adalah satu riwayat dari madzhab Maliki, dan Madzhab Hambali serta maliki dalam riwayat yang lain berpendapat batalnya peimaman shalat seroang yang fasik[8]. Sebagaimana yang dijelaskan di dalam kata إمامة

Al Bukhari menukilkan dari Az Zuhri perkataannya: “Kami tidak berpendapat untuk shalat dibelakang Al Mukahnnats kecuali dari keadaan darurat yang harus darinya.[9]


Persaksian Al Mukahnnats:

4. Madzhab Hanafi menjelaskan bahwa Al Mukhannats yang tidak diterima persaksiannya adalah yang di dalam perkataannya kelembutan dan kegemulaian, jika ia sengaja akan hal itu, menyerupakan diri dengan para wanita, dan adapaun jika perkataannya terdapat kelembutan dan di dalam anggot tubuhnya kegemulaian karena berdasakan penciptannya dan tidak terkenal dengan perbuatan-perbuatan buruk seidkitpun, maka ia adalah seorang yang adil (punya martabat) diterima kesaksiannya.

Dan madzhab Syafi’ie, Hambali menganggap bahwa menyerupakan diri dengan para wanita adalah hal yang diharamkan , ditolak dengannya persaksiannya, dan tidak diragukan bahwa yang dimaksudkan dengannya adalah penyerupaan diri derngan sengaja bukan penyerupaan diri  yang datang karena tabiatnya.

Dan madzhab Maliki berpendapat Al Majun termasuk dari yang ditolak persaksiannya dan termasuk dari Al Maun adalah AlMukhannats.

Oleh karenanya seluruh madzhab bersepakat di dalam perincian yang disebutkan oleh madzhab hanafi, silahkan rinciannya di dalam kata شهادة [10]



[1] Tulisan ini terjemahan dari kitab Al Mausu’ah Al Fiqhiyyah Al Kuwaitiyyah, 11/61-65.

[2] Lihat kitab Lisan Al Arab, Al Mishbah, asal kata: "خنث"

[3] Lihat Ibnu ‘Abidin 4/381 dan 5/239 dan jawahir Al Iklil, 2/40-41 dan Qalyubi 4/320 dan al Mughni 6/562 dan Fath Al Bari 2/188

[4] Hadits: Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam telah melaknat para lelaki yang meukhannats dan para wanita yang menyerupakan dengan lelaki. HR. Bukhari (lihat kitab Fath Al Bari, 10/333- cet. As Salafiyyah)

[5] Hadits: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah melaknat para lelaki yang menyerupakan diri dengan perempuan dan para perempuan yang mnyerupakan diri dengan para lelaki

[6] Lihat kitab Fath Al Bari, 10/332 dan lihat kitab karya IBnu Abidin, 4/381.

[7] Lihat: Az Zaila’i, 4/221, kitab fath Al Bari, 10/332 dan kitab Nihayat Al Muhtaj, 8/283.

[8] Lihat Maraqi Al Fallah, hal. 156, kitab Jawahir Iklil

[9] Lihat kitab Fath Al Bari, 2/190.

[10] Lihat kitab tabyiinul Haqaiq, karya Az Zayla’i, 4/221, Ibnu Abidin, 4/381, Al Qaylubi, 2/320-321, Jawahir Iklil, 2/233, Al Hatab, 6/ 152 dan Al Mughni, 9/174.

Sumber: http://www.dakwahsunnah.com/artikel/fiqhsunnah/354-fatwa-ulama-seputar-hukum-al-mukhannats-transgender-–-bag-01
|
*•☆°• •°☆•**•☆°• •°☆•**•☆*•☆°• •°☆•