(*)"Jangan melesetkan kata ISIS "
Entah gurauan atau kesengajaan orang yg melesetkan istilah ISIS dgn candaan
atau gurauan .
Ingatlah ISIS itu berbahaya bagi saudara-saudara kita jdi hendaknya jgn melintir makna itu dgn sebuah Candaan ringan seolah tak ada dampak besar .
Perhatikan himbauan berikut :
Semoga Allah menambahkan semangat dan berkah ilmu dan amal para ikwah
semua .
Tidak pantas rasanya kita membicarakan fitnah ISIS dgn candaan .
Ingat ISIS tlah memakan korban byk kaum muslimin .
Oleh ustdz Muhammad Haekal Awla Lc ,
Ana Harap teman-teman jangan mengkaburkan singkatan ISIS dgn makna yg lain .
Istilah ISIS bukan untuk yang lain tapi khusus kelompok penjahat itu .
Jangan sampe kita tertuduh seorang ISIS gara2 kita punya istilah sendiri yg tdk di
pahami oleh masyarakat umum .
Oleh ustdz Abu Sa'ad ( Relawan Suria )
Jangan bercanda atau menyerupakan dgn istilah mereka ( ISIS ) dengan :
- Istri Shalihah Idaman Suami
- indahnya Salafi Indahnya sunnah
- Ikatan Suami ingin Satu ( lagi )
- Ilmu sedikit ingin syurga
Atau kata" lain yang di jadikan sbg candaan .
Dari Bbm أُسْتَاذُ Muhammad Wasitho Abu Fawaz, Lc MA حفظه الله تعال
«------๑๑•°♥°•๑๑------»
Tampilkan postingan dengan label أُسْتَاذُ Muhammad Wasitho Abu Fawaz. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label أُسْتَاذُ Muhammad Wasitho Abu Fawaz. Tampilkan semua postingan
Jumat, 08 Agustus 2014
Senin, 23 Juni 2014
KEUTAMAAN MELAKUKAN KEBAIKAN SEKECIL APAPUN
KEUTAMAAN MELAKUKAN KEBAIKAN SEKECIL APAPUN
عَنْ أَبِي ذَرٍّ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ لِيَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” لَا تَحْقِرَنَّ مِنْ الْمَعْرُوفِ شَيْئًا وَلَوْ أَنْ تَلْقَى أَخَاكَ بِوَجْهٍ طَلْقٍ “.( رواه مسلم)
Dari Abi Dzar radhiyallahu anhu, ia berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Janganlah kamu meremehkan kebaikan sekecil apapun, sekalipun engkau bertemu saudaramu dengan wajah yang berseri.”
(HR. Muslim no. 6637).
(*) BEBERAPA PELAJARAN PENTING DAN FAEDAH ILMIYAH YANG DAPAT DIAMBIL DARI HADITS INI:
∙̣̇∙̣̇∙̣̇∙̣̣̣̇̇̇∙̣̣̇̇∙̣̇∙ Oleh: أُسْتَاذُ Muhammad Wasitho Abu Fawaz, Lc MA حفظه الله تعال
BEBERAPA PELAJARAN PENTING DAN FAEDAH ILMIYAH YANG DAPAT DIAMBIL DARI HADITS:
1. Dilarang meremehkan kebaikan sekecil apapun meskipun dianggap remeh oleh sebagian orang.
Diantara kebaikan yang dianggap kecil ialah:
» Mengirim sms/email dukungan untuk keberlangsungan dakwah sunnah di TV, Radio dan semisalnya kepada pihak yang berwenang.
» Mengambilkan atau menuangkan air minum untuk orang lain.
» Menshare/menyebar luaskan ilmu atau info kajian Islam dengan pemahaman yang benar kepada orang lain.
» Bersedekah dengan sepotong roti atau sebiji kurma, dan selainnya.
Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:
(Ittaquu An-Naaro Wa Lau Bi Syiqqi At-Tamroti)
Artinya: “Lindungilah diri kalian dari api Neraka meskipun dengan (bersedekah) separuh biji kurma.”
2. Anjuran bersikap lemah lembut dan berwajah ceria ketika berjumpa dengan saudara seislam dan seiman.
3. Anjuran untuk melakukan hal-hal yang dapat menguatkan ikatan persaudaraan Islam, dan wajib menjauhi segala sebab perpecahan dan permusuhan sekecil apapun.
4. Tersenyum dan Berwajah ceria kepada saudara sesama muslim merupakan amal kebaikan yamg mendatangkan pahala sebagaimana pahala bersedekah.
Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam:
(Tabassumuka Fii Wajhi Akhiika Shodaqotun)
Artinya: “Senyummu di hadapan saudaramu sesama muslim adalah (bernilai) sedekah bagimu.”
(HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Hibban. Dan dinyatakan SHOHIH oleh syaikh Al-Albani rahimahullah).
(*) Catatan:
Meskipun senyum dan bermuka manis kepada saudara sesama muslim merupakan amal kebaikan yang berpahala, hanya saja kita wajib menjaga diri kita dari senyum dan tebar pesona kepada lawan jenis yang bukan mahrom, karena sangat dikhawatirkan dapat menimbulkan fitnah dan penyakit di dalam hati, sehingga dengan demikian statusnya berubah dari amal kebaikan yang berpahala menjadi perbuatan buruk yang mendatangkan dosa dan murka Allah ta’ala.
Demikian beberapa pelajaran penting n faedah ilmiyah yang dapat kami sebutkan. Semoga menjadi ilmu yang bermanfaat bagi kita semua.
Wallahu a’lam bish-shawwab.
Wabillahi at-Taufiq
⌣̊┈»̶·̵̭̌✽����✽·̵̭̌«̶┈⌣̊
عَنْ أَبِي ذَرٍّ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ لِيَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” لَا تَحْقِرَنَّ مِنْ الْمَعْرُوفِ شَيْئًا وَلَوْ أَنْ تَلْقَى أَخَاكَ بِوَجْهٍ طَلْقٍ “.( رواه مسلم)
Dari Abi Dzar radhiyallahu anhu, ia berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Janganlah kamu meremehkan kebaikan sekecil apapun, sekalipun engkau bertemu saudaramu dengan wajah yang berseri.”
(HR. Muslim no. 6637).
(*) BEBERAPA PELAJARAN PENTING DAN FAEDAH ILMIYAH YANG DAPAT DIAMBIL DARI HADITS INI:
∙̣̇∙̣̇∙̣̇∙̣̣̣̇̇̇∙̣̣̇̇∙̣̇∙ Oleh: أُسْتَاذُ Muhammad Wasitho Abu Fawaz, Lc MA حفظه الله تعال
BEBERAPA PELAJARAN PENTING DAN FAEDAH ILMIYAH YANG DAPAT DIAMBIL DARI HADITS:
1. Dilarang meremehkan kebaikan sekecil apapun meskipun dianggap remeh oleh sebagian orang.
Diantara kebaikan yang dianggap kecil ialah:
» Mengirim sms/email dukungan untuk keberlangsungan dakwah sunnah di TV, Radio dan semisalnya kepada pihak yang berwenang.
» Mengambilkan atau menuangkan air minum untuk orang lain.
» Menshare/menyebar luaskan ilmu atau info kajian Islam dengan pemahaman yang benar kepada orang lain.
» Bersedekah dengan sepotong roti atau sebiji kurma, dan selainnya.
Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:
(Ittaquu An-Naaro Wa Lau Bi Syiqqi At-Tamroti)
Artinya: “Lindungilah diri kalian dari api Neraka meskipun dengan (bersedekah) separuh biji kurma.”
2. Anjuran bersikap lemah lembut dan berwajah ceria ketika berjumpa dengan saudara seislam dan seiman.
3. Anjuran untuk melakukan hal-hal yang dapat menguatkan ikatan persaudaraan Islam, dan wajib menjauhi segala sebab perpecahan dan permusuhan sekecil apapun.
4. Tersenyum dan Berwajah ceria kepada saudara sesama muslim merupakan amal kebaikan yamg mendatangkan pahala sebagaimana pahala bersedekah.
Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam:
(Tabassumuka Fii Wajhi Akhiika Shodaqotun)
Artinya: “Senyummu di hadapan saudaramu sesama muslim adalah (bernilai) sedekah bagimu.”
(HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Hibban. Dan dinyatakan SHOHIH oleh syaikh Al-Albani rahimahullah).
(*) Catatan:
Meskipun senyum dan bermuka manis kepada saudara sesama muslim merupakan amal kebaikan yang berpahala, hanya saja kita wajib menjaga diri kita dari senyum dan tebar pesona kepada lawan jenis yang bukan mahrom, karena sangat dikhawatirkan dapat menimbulkan fitnah dan penyakit di dalam hati, sehingga dengan demikian statusnya berubah dari amal kebaikan yang berpahala menjadi perbuatan buruk yang mendatangkan dosa dan murka Allah ta’ala.
Demikian beberapa pelajaran penting n faedah ilmiyah yang dapat kami sebutkan. Semoga menjadi ilmu yang bermanfaat bagi kita semua.
Wallahu a’lam bish-shawwab.
Wabillahi at-Taufiq
⌣̊┈»̶·̵̭̌✽����✽·̵̭̌«̶┈⌣̊
Jumat, 02 Mei 2014
SELAMATKAN DIRI KITA DAN KELUARGA DARI LAKNAT ALLAH DENGAN MENUNTUT ILMU SYAR'I DAN MENGAJARKANNYA
•» SELAMATKAN DIRI KITA DAN KELUARGA DARI LAKNAT ALLAH DENGAN MENUNTUT ILMU SYAR'I DAN MENGAJARKANNYA «•
Oleh: أُسْتَاذُ Muhammad Wasitho Abu Fawaz -hafizhahullahu ta'ala-
» Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiallahu 'anhu, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
إِنَّ الدُّنْيَا مَلْعُونَةٌ مَلْعُونٌ ما فيها إلا ذِكْرُ اللَّهِ وما وَالَاهُ وَعَالِمٌ أو مُتَعَلِّمٌ
Artinya:
“Sesungguhnya dunia itu terlaknat, terlaknat segala isinya, kecuali Dzikir kepada Allah dan amalan- amalan ketaatan, demikian pula seorang yang 'alim (paham ilmu agama dan mengajarkannya) atau orang yang mempelajari ilmu (syar'i, pent).” (HR. At-Tirmidzi no.2322, dan Ibnu Majah no.4112. Dan derajatnya dinyatakan HASAN oleh syaikh Al-Albani rahimahullah di dalam Shohih al-Jami’, no:1609).
» Imam Al-Munawi rahimahullah berkata. dalam menjelaskan hadits ini:
“Dunia ini terlaknat, disebabkan karena ia memperdaya jiwa-jiwa manusia dengan keindahan dan kenikmatannya, yang memalingkannya dari beribadah kepada Allah, lalu mengikuti hawa nafsunya.” (Lihat Tuhfatul Ahwadzi Syarhu Jami' At-Tirmidzi, karya Al-Mubarokfuri, VI/504).
•» Makna LAKNAT ialah Diusir dan dijauhkan dari rahmat Allah dan kebaikan-Nya.
» Berdasarkan hadits ini, marilah kita selamatkan dan lindungi diri kita dari Laknat Allah Ta'ala dengan banyak berdzikir dan melakukan amalan-amalan ketaatan kepada-Nya, serta bersemangat di dlm menuntut ilmu syar'i dan mengajarkannya kpd manusia.
•» Semoga Allah ta'ala memberikan taufiq dan bimbingan-Nya kpd kita semua agar selalu istiqomah dlm menuntut ilmu, mengamalkan dan mengajarkannya kpd orang lain dengan ikhlas dan sesuai tuntunan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam hingga akhir hayat. Amiin. (Klaten, 7 April 2014).
✽¸.••.¸✽¸••.¸✽¸••.¸✽¸.••.¸✽
Oleh: أُسْتَاذُ Muhammad Wasitho Abu Fawaz -hafizhahullahu ta'ala-
» Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiallahu 'anhu, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
إِنَّ الدُّنْيَا مَلْعُونَةٌ مَلْعُونٌ ما فيها إلا ذِكْرُ اللَّهِ وما وَالَاهُ وَعَالِمٌ أو مُتَعَلِّمٌ
Artinya:
“Sesungguhnya dunia itu terlaknat, terlaknat segala isinya, kecuali Dzikir kepada Allah dan amalan- amalan ketaatan, demikian pula seorang yang 'alim (paham ilmu agama dan mengajarkannya) atau orang yang mempelajari ilmu (syar'i, pent).” (HR. At-Tirmidzi no.2322, dan Ibnu Majah no.4112. Dan derajatnya dinyatakan HASAN oleh syaikh Al-Albani rahimahullah di dalam Shohih al-Jami’, no:1609).
» Imam Al-Munawi rahimahullah berkata. dalam menjelaskan hadits ini:
“Dunia ini terlaknat, disebabkan karena ia memperdaya jiwa-jiwa manusia dengan keindahan dan kenikmatannya, yang memalingkannya dari beribadah kepada Allah, lalu mengikuti hawa nafsunya.” (Lihat Tuhfatul Ahwadzi Syarhu Jami' At-Tirmidzi, karya Al-Mubarokfuri, VI/504).
•» Makna LAKNAT ialah Diusir dan dijauhkan dari rahmat Allah dan kebaikan-Nya.
» Berdasarkan hadits ini, marilah kita selamatkan dan lindungi diri kita dari Laknat Allah Ta'ala dengan banyak berdzikir dan melakukan amalan-amalan ketaatan kepada-Nya, serta bersemangat di dlm menuntut ilmu syar'i dan mengajarkannya kpd manusia.
•» Semoga Allah ta'ala memberikan taufiq dan bimbingan-Nya kpd kita semua agar selalu istiqomah dlm menuntut ilmu, mengamalkan dan mengajarkannya kpd orang lain dengan ikhlas dan sesuai tuntunan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam hingga akhir hayat. Amiin. (Klaten, 7 April 2014).
✽¸.••.¸✽¸••.¸✽¸••.¸✽¸.••.¸✽
HADITS DHO’IF TENTANG DOA MEMASUKI AWAL BULAN RAJAB
HADITS DHO’IF TENTANG DOA MEMASUKI AWAL BULAN RAJAB
Ditulis oleh : Ustadz Muhammad Wasitho Abu Fawaz, MA - حفظه الله تعالى
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رضي الله عنه كَانَ رسول الله صلى الله عليه وسلم إِذَا دَخَلَ رَجَب قَالَ : « اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي رَجَبٍ وَشَعْبَانَ وَبَلِّغْنَا رَمَضَانَ »
“Dari Anas bin Malik radhiyallohu anhu, (ia berkata): “Adalah Nabi shallallahu alaihi wasallam apabila memasuki bulan Rajab, beliau berdoa: “Ya Allah berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya’ban serta sampaikanlah kami hingga bulan Ramadhan.”
(*) TAKHRIJ HADITS:
Hadits ini dikeluarkan oleh imam Ahmad di dlm Al-Musnad I/259, Ibnu As-Sunni di dalam Amal Al-Yaum wa al-Lailah no.659, Al-Baihaqi di dalam Syu’ab al-Iman III/375, Abu Nu’aim di dalam Al-Hilyah VI/269, Al-Bazzar di dalam Musnadnya I/285 no.402, dan Ath-Thabrani di dalam Al-Mu’jam Al-Ausath IV/189, dan di dalam kitab Ad-Du’a I/284.
(*) DERAJAT HADITS:
Hadits ini derajatnya DHO’IF (Lemah), karena di dalam sanad (jalur periwayatan)nya ada dua cacat, yaitu:
(1) Zaidah bin Abu Ruqqad Al-Bahili. Dia seorang perawi yang haditsnya mungkar.
» Abu Hatim Ar-Rozi berkata tentangnya: “Dia meriwayatkan dari Ziyad An-Numairi dari Anas bin Malik hadits-hadits yang marfu’ namun mungkar, dan kami tidak mengetahui (kemungkaran, pent) itu darinya atau dari Ziyad, dan sy jg tidak mengetahui bahwa ia meriwayatkan (hadits) dari selain Ziyad..dst”.
» Imam al-Bukhari dan Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata tentangnya: “Dia seorang perowi yang haditsnya mungkar.”
» Abu Daud berkata: “saya tidak mengenal beritanya.”
» An-Nasai berkata: “Saya tidak mengetahui siapa dia.”
» Imam Adz-Dzahabi berkata: “Dia tidak dapat dijadikan hujjah.”
(2) Ziyad bin Abdullah An-Numairi al-Bashri. Dia seorang perowi hadits yg Dho’if (lemah).
» Yahya bin Ma’in berkata tentangnya: “Dia seorang yg Dho’if (lemah) haditsnya.”
» Ad-Daruquthni berkata: “Dia bukan orang yg kuat (haditsnya).”
» Abu Hatim Ar-Rozi berkata: “Haditsnya boleh ditulis namun tidak dapat dijadikan sebagai hujjah”.
» Ibnu Hibban di dalam kitabnya Al-Majruhin menerangkan: “Dia seorang yang haditsnya mungkar. Dia meriwayatkan dari Anas hadits-hadits yang tidak menyerupai hadits yg diriwayatkan para perowi tsiqoh (terpercaya), tidak boleh berhujjah dengannya.”
» Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata: “Dia seorang perowi hadits yg Dho’if (lemah).”
(*) PERKATAAN PARA ULAMA TENTANG HADITS INI:
» Imam Al-Baihaqi berkata di dalam Syu’ab al-Iman III/375: “Ziyad an-Numairi bersendirian dlm meriwayatkan hadits ini. Dan Zaidah bin Abi Ruqqad meriwayatkan darinya. Imam Al-Bukhari berkata: “Zaidah bin Abi ar-Ruqqod dari Ziyad an-Numairi adalah mungkar haditsnya.”
» An-Nawawi berkata di dalam kitab Al-Adzkar hal.274: “dan kami meriwayatkannya di dalam Hilyatul Auliya dengan sanad yang mengandung sisi Lemah (Dho’if).”
» Syaikh Ahmad Syakir berkata dalam takhrijnya terhadap kitab Al-Musnad nomor hadits: 2346: “Isnad hadits ini Dho’if (Lemah).”
» Syaikh Muhammad bin Sholih al-Utsaimin berkata: “Hadits ini Dho’if dan mungkar, tidak Shohih dari Nabi shallallahu alaihi wasallam. Oleh karenanya, tidak sepantasnya bagi seorang (muslim) berdoa dengan doa tsb.”
Demikian penjelasan singkat tentang derajat hadits yg menerangkan anjuran doa ketika memasuki awal bulan Rajab. Semoga bermanfaat bagi kita semua , n smg kita semakin berhati-hati dalam beramal ibadah kepada Allah Ta’ala. Yakni, kita tidak akan pernah beribadah kpd Allah kecuali berdasarkan dalil-dalil syar’i yg bersumber dari Al-Quran al-Karim dan Hadits-hadits Shohih dari Nabi shallallahu alaihi wasallam dan dengan pemahaman yg benar. Wallahu a’lam bish-showab. Wabillahi at-Taufiq. (Klaten, 22 Mei 2012).
٭ ♌ ♧ ٭ ♌ ♧ ٭ ♌ ♧ ٭ ♌ ♧ ٭
Ditulis oleh : Ustadz Muhammad Wasitho Abu Fawaz, MA - حفظه الله تعالى
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رضي الله عنه كَانَ رسول الله صلى الله عليه وسلم إِذَا دَخَلَ رَجَب قَالَ : « اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي رَجَبٍ وَشَعْبَانَ وَبَلِّغْنَا رَمَضَانَ »
“Dari Anas bin Malik radhiyallohu anhu, (ia berkata): “Adalah Nabi shallallahu alaihi wasallam apabila memasuki bulan Rajab, beliau berdoa: “Ya Allah berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya’ban serta sampaikanlah kami hingga bulan Ramadhan.”
(*) TAKHRIJ HADITS:
Hadits ini dikeluarkan oleh imam Ahmad di dlm Al-Musnad I/259, Ibnu As-Sunni di dalam Amal Al-Yaum wa al-Lailah no.659, Al-Baihaqi di dalam Syu’ab al-Iman III/375, Abu Nu’aim di dalam Al-Hilyah VI/269, Al-Bazzar di dalam Musnadnya I/285 no.402, dan Ath-Thabrani di dalam Al-Mu’jam Al-Ausath IV/189, dan di dalam kitab Ad-Du’a I/284.
(*) DERAJAT HADITS:
Hadits ini derajatnya DHO’IF (Lemah), karena di dalam sanad (jalur periwayatan)nya ada dua cacat, yaitu:
(1) Zaidah bin Abu Ruqqad Al-Bahili. Dia seorang perawi yang haditsnya mungkar.
» Abu Hatim Ar-Rozi berkata tentangnya: “Dia meriwayatkan dari Ziyad An-Numairi dari Anas bin Malik hadits-hadits yang marfu’ namun mungkar, dan kami tidak mengetahui (kemungkaran, pent) itu darinya atau dari Ziyad, dan sy jg tidak mengetahui bahwa ia meriwayatkan (hadits) dari selain Ziyad..dst”.
» Imam al-Bukhari dan Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata tentangnya: “Dia seorang perowi yang haditsnya mungkar.”
» Abu Daud berkata: “saya tidak mengenal beritanya.”
» An-Nasai berkata: “Saya tidak mengetahui siapa dia.”
» Imam Adz-Dzahabi berkata: “Dia tidak dapat dijadikan hujjah.”
(2) Ziyad bin Abdullah An-Numairi al-Bashri. Dia seorang perowi hadits yg Dho’if (lemah).
» Yahya bin Ma’in berkata tentangnya: “Dia seorang yg Dho’if (lemah) haditsnya.”
» Ad-Daruquthni berkata: “Dia bukan orang yg kuat (haditsnya).”
» Abu Hatim Ar-Rozi berkata: “Haditsnya boleh ditulis namun tidak dapat dijadikan sebagai hujjah”.
» Ibnu Hibban di dalam kitabnya Al-Majruhin menerangkan: “Dia seorang yang haditsnya mungkar. Dia meriwayatkan dari Anas hadits-hadits yang tidak menyerupai hadits yg diriwayatkan para perowi tsiqoh (terpercaya), tidak boleh berhujjah dengannya.”
» Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata: “Dia seorang perowi hadits yg Dho’if (lemah).”
(*) PERKATAAN PARA ULAMA TENTANG HADITS INI:
» Imam Al-Baihaqi berkata di dalam Syu’ab al-Iman III/375: “Ziyad an-Numairi bersendirian dlm meriwayatkan hadits ini. Dan Zaidah bin Abi Ruqqad meriwayatkan darinya. Imam Al-Bukhari berkata: “Zaidah bin Abi ar-Ruqqod dari Ziyad an-Numairi adalah mungkar haditsnya.”
» An-Nawawi berkata di dalam kitab Al-Adzkar hal.274: “dan kami meriwayatkannya di dalam Hilyatul Auliya dengan sanad yang mengandung sisi Lemah (Dho’if).”
» Syaikh Ahmad Syakir berkata dalam takhrijnya terhadap kitab Al-Musnad nomor hadits: 2346: “Isnad hadits ini Dho’if (Lemah).”
» Syaikh Muhammad bin Sholih al-Utsaimin berkata: “Hadits ini Dho’if dan mungkar, tidak Shohih dari Nabi shallallahu alaihi wasallam. Oleh karenanya, tidak sepantasnya bagi seorang (muslim) berdoa dengan doa tsb.”
Demikian penjelasan singkat tentang derajat hadits yg menerangkan anjuran doa ketika memasuki awal bulan Rajab. Semoga bermanfaat bagi kita semua , n smg kita semakin berhati-hati dalam beramal ibadah kepada Allah Ta’ala. Yakni, kita tidak akan pernah beribadah kpd Allah kecuali berdasarkan dalil-dalil syar’i yg bersumber dari Al-Quran al-Karim dan Hadits-hadits Shohih dari Nabi shallallahu alaihi wasallam dan dengan pemahaman yg benar. Wallahu a’lam bish-showab. Wabillahi at-Taufiq. (Klaten, 22 Mei 2012).
٭ ♌ ♧ ٭ ♌ ♧ ٭ ♌ ♧ ٭ ♌ ♧ ٭
INGAT MATI MERUPAKAN OBAT PENYAKIT AMBISI TERHADAP DUNIA
INGAT MATI MERUPAKAN OBAT PENYAKIT AMBISI TERHADAP DUNIA
Ditulis oleh : Ustadz Muhammad Wasitho Abu Fawaz, MA - حفظه الله تعالى
» Imam Adz-Dzahabi rahimahullah menyebutkan di dlm kitab Siyaru A’laami An-Nubala’, bahwa ada seorang laki-laki menemui Abu Darda radhiyallahu ‘anhu (seorang sahabat) dan mengatakan, “Berilah aku nasehat!” Maka Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu berkata kepadanya:
» “Ingatlah kepada Allah di waktu lapang dan senang, niscaya Dia akan mengingatmu di saat engkau dalam keadaan susah dan sempit.
» Dan jika engkau mengingat (keadaan) orang-orang yang telah mati, maka jadikan dirimu seakan-akan engkau termasuk salah seorang dari mereka yg telah mati.
» Dan jika jiwamu condong (untuk berambisi) mengejar (harta benda dan kemewahan) dunia, maka perhatikanlah keadaan (dan tempat kembali) orang yang telah mati itu.”
(Sumber: Siyaru A’laami An-Nubala’ karya imam Adz-Dzahabi, II/349-350).
(*) Makna INGAT kepada ALLAH ialah:
» Bertakwa kepada Allah dengan senantiasa melaksanakan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya berdasarkan petunjuk Al-Quran dan Hadits yg Shohih.
» Dan termasuk bentuk ber-TAKWA kpd ALLAH adalah berdzikir kpd Allah dengan lisan, hati dan anggota badan kita, mempelajari agama-Nya yg bersumber dr Al-Quran dan Hadits yg shohih, mengamalkannya, dan mengajarkannya.
Demikian Faedah ilmiyah dan Mau’izhoh hasanah yg dpt kami smpkn pd hari ini. Smg bermanfaat bagi kita semua. (Klaten, 20 April 2014).
⌣̊┈»̶·̵̭̌✽����✽·̵̭̌«̶┈⌣̊
Ditulis oleh : Ustadz Muhammad Wasitho Abu Fawaz, MA - حفظه الله تعالى
» Imam Adz-Dzahabi rahimahullah menyebutkan di dlm kitab Siyaru A’laami An-Nubala’, bahwa ada seorang laki-laki menemui Abu Darda radhiyallahu ‘anhu (seorang sahabat) dan mengatakan, “Berilah aku nasehat!” Maka Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu berkata kepadanya:
» “Ingatlah kepada Allah di waktu lapang dan senang, niscaya Dia akan mengingatmu di saat engkau dalam keadaan susah dan sempit.
» Dan jika engkau mengingat (keadaan) orang-orang yang telah mati, maka jadikan dirimu seakan-akan engkau termasuk salah seorang dari mereka yg telah mati.
» Dan jika jiwamu condong (untuk berambisi) mengejar (harta benda dan kemewahan) dunia, maka perhatikanlah keadaan (dan tempat kembali) orang yang telah mati itu.”
(Sumber: Siyaru A’laami An-Nubala’ karya imam Adz-Dzahabi, II/349-350).
(*) Makna INGAT kepada ALLAH ialah:
» Bertakwa kepada Allah dengan senantiasa melaksanakan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya berdasarkan petunjuk Al-Quran dan Hadits yg Shohih.
» Dan termasuk bentuk ber-TAKWA kpd ALLAH adalah berdzikir kpd Allah dengan lisan, hati dan anggota badan kita, mempelajari agama-Nya yg bersumber dr Al-Quran dan Hadits yg shohih, mengamalkannya, dan mengajarkannya.
Demikian Faedah ilmiyah dan Mau’izhoh hasanah yg dpt kami smpkn pd hari ini. Smg bermanfaat bagi kita semua. (Klaten, 20 April 2014).
⌣̊┈»̶·̵̭̌✽����✽·̵̭̌«̶┈⌣̊
Rabu, 16 April 2014
BAHAYA SIBUK DENGAN URUSAN DUNIA DAN LALAI DARI URUSAN AKHIRAT
(*) BAHAYA SIBUK DENGAN URUSAN DUNIA DAN LALAI DARI URUSAN AKHIRAT (*)
Ditulis oleh: Ustadz Muhammad Wasitho Abu Fawaz, Lc MA - حفظه الله تعالى
» Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:
مِن حُسْنِ إسلام المرء تركه ما لا يَعنيه
Artinya: ”Salah satu tanda baiknya keislaman seseorang adalah meninggalkan sesuatu yang tidak berguna baginya).” (Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi no.2419 dan Ibnu Majah no.3976).
» Imam Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata: “Diantara tanda-tanda berpalingnya Allah dari seorang hamba adalah Allah menjadikan kesibukannya dalam perkara-perkara yang tidak berguna bagi dirinya.”
» Sahl At-Tusturi rahimahullah berkata: “Barangsiapa (suka) berbicara mengenai permasalahan yang tidak ada manfaatnya, niscaya diharamkan baginya kejujuran.”
» Ma’ruf rahimahullah berkata: “Pembicaraan seorang hamba tentang masalah-masalah yang tidak ada faedahnya merupakan kehinaan dari Allah (untuknya).”. (Lihat Jami’ul ‘Ulum wal Hikam, karya Al-Hafizh Ibnu Rojab I/290-294).
Demikianlah faedah dan mu'izhoh hasanah yg dapat kami sampaikan pada hari Jumat yg penuh berkah ini. Smg bermanfaat bagi kita semua. Amiin. (Klaten, 21 Februari 2014).
» BBG Majlis Hadits, chat room Faedah dan Mau'izhoh Hasanah.
⌣̊┈»̶·̵̭̌✽����✽·̵̭̌«̶┈⌣̊
Ditulis oleh: Ustadz Muhammad Wasitho Abu Fawaz, Lc MA - حفظه الله تعالى
» Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:
مِن حُسْنِ إسلام المرء تركه ما لا يَعنيه
Artinya: ”Salah satu tanda baiknya keislaman seseorang adalah meninggalkan sesuatu yang tidak berguna baginya).” (Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi no.2419 dan Ibnu Majah no.3976).
» Imam Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata: “Diantara tanda-tanda berpalingnya Allah dari seorang hamba adalah Allah menjadikan kesibukannya dalam perkara-perkara yang tidak berguna bagi dirinya.”
» Sahl At-Tusturi rahimahullah berkata: “Barangsiapa (suka) berbicara mengenai permasalahan yang tidak ada manfaatnya, niscaya diharamkan baginya kejujuran.”
» Ma’ruf rahimahullah berkata: “Pembicaraan seorang hamba tentang masalah-masalah yang tidak ada faedahnya merupakan kehinaan dari Allah (untuknya).”. (Lihat Jami’ul ‘Ulum wal Hikam, karya Al-Hafizh Ibnu Rojab I/290-294).
Demikianlah faedah dan mu'izhoh hasanah yg dapat kami sampaikan pada hari Jumat yg penuh berkah ini. Smg bermanfaat bagi kita semua. Amiin. (Klaten, 21 Februari 2014).
» BBG Majlis Hadits, chat room Faedah dan Mau'izhoh Hasanah.
⌣̊┈»̶·̵̭̌✽����✽·̵̭̌«̶┈⌣̊
HUKUM KHITAN BAGI MU'ALLAF (BARU MASUK ISLAM) YANG SUDAH TUA
(*) HUKUM KHITAN BAGI MU'ALLAF (BARU MASUK ISLAM) YANG SUDAH TUA
Tanya:
Assalam mualaikum Warohmatullah Wabarokatuh. Bolehkah laki2 muslim (yg mualaf) setelah jadi muslim tdk disunat, krn usianya sdh uzur? (50 tahun).
Jawab:
Bismillah. Hukum Khitan bagi Laki-laki muslim adalah WAJIB. Sedangkan bagi WANITA muslimah adalah SUNNAH.
Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam:
أَلْقِ عَنْكَ شَعْرَ الْكُفْرِ وَاخْتَتِنْ
“Hilangkan darimu rambut kekufuran (yakni yang menjadi ciri orang kafir) dan berkhitanlah.” (Diriwayatkan oleh Abu Dawud, dan dinyatakan HASAN oleh Syaikh Al-Albani).
Dan juga berdasarkan sabda beliau juga tentang khitannya Nabi Ibrahim 'alaihissalam:
اخْتَتَنَ إِبْرَاهِيمُ عَلَيْهِ السَّلَام وَهُوَ ابْنُ ثَمَانِينَ سَنَةً بِالْقَدُومِ
“(Nabi) Ibrahim ‘alaihissalam telah berkhitan dengan qadum (nama sebuah alat pemotong) sedangkan beliau telah berumur 80 tahun.” (Diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Muslim).
Jadi, jika ada seorang yg baru masuk Islam (muallaf) dan ia belum dikhitan, maka hendaknya segera dikhitan meskipun umurnya sdh tua (Lansia), karena khitan di dlm syariat Islam termasuk perkara fithroh bagi manusia.
Adapun dalil syar'i yg menunjukkan disunnahkannya khitan bagi wanita adalah hadits berikut ini:
» Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada Ummu ‘Athiyah radhiyallahu 'anha (wanita tukang khitan):
اخْفِضِي، وَلا تُنْهِكِي، فَإِنَّهُ أَنْضَرُ لِلْوَجْهِ، وَأَحْظَى عِنْدَ الزَّوْجِ
“Apabila engkau mengkhitan wanita potonglang sedikit, dan janganlah berlebihan (dalam memotong bagian yg dikhitan), karena itu lebih bisa membuat ceria wajah dan lebih menyenangkan (memberi semangat) bagi suami.”. (Diriwayatkan oleh Abu Daud, Al-Hakim, Ibnu Ady dalam Al-Kamil dan Al-Khatib dalam Tarikhnya).
Demikian jawaban yg dpt kami sampaikan. Smg mudah dipahami dan b'manfaat bg kita semua. (Klaten, 23 Februari 2014).
Ditulis oleh: Ustadz Muhammad Wasitha Abu Fawaz, Lc MA - حفظه الله تعالى
⌣̊┈»̶·̵̭̌✽����✽·̵̭̌«̶┈⌣̊
Tanya:
Assalam mualaikum Warohmatullah Wabarokatuh. Bolehkah laki2 muslim (yg mualaf) setelah jadi muslim tdk disunat, krn usianya sdh uzur? (50 tahun).
Jawab:
Bismillah. Hukum Khitan bagi Laki-laki muslim adalah WAJIB. Sedangkan bagi WANITA muslimah adalah SUNNAH.
Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam:
أَلْقِ عَنْكَ شَعْرَ الْكُفْرِ وَاخْتَتِنْ
“Hilangkan darimu rambut kekufuran (yakni yang menjadi ciri orang kafir) dan berkhitanlah.” (Diriwayatkan oleh Abu Dawud, dan dinyatakan HASAN oleh Syaikh Al-Albani).
Dan juga berdasarkan sabda beliau juga tentang khitannya Nabi Ibrahim 'alaihissalam:
اخْتَتَنَ إِبْرَاهِيمُ عَلَيْهِ السَّلَام وَهُوَ ابْنُ ثَمَانِينَ سَنَةً بِالْقَدُومِ
“(Nabi) Ibrahim ‘alaihissalam telah berkhitan dengan qadum (nama sebuah alat pemotong) sedangkan beliau telah berumur 80 tahun.” (Diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Muslim).
Jadi, jika ada seorang yg baru masuk Islam (muallaf) dan ia belum dikhitan, maka hendaknya segera dikhitan meskipun umurnya sdh tua (Lansia), karena khitan di dlm syariat Islam termasuk perkara fithroh bagi manusia.
Adapun dalil syar'i yg menunjukkan disunnahkannya khitan bagi wanita adalah hadits berikut ini:
» Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada Ummu ‘Athiyah radhiyallahu 'anha (wanita tukang khitan):
اخْفِضِي، وَلا تُنْهِكِي، فَإِنَّهُ أَنْضَرُ لِلْوَجْهِ، وَأَحْظَى عِنْدَ الزَّوْجِ
“Apabila engkau mengkhitan wanita potonglang sedikit, dan janganlah berlebihan (dalam memotong bagian yg dikhitan), karena itu lebih bisa membuat ceria wajah dan lebih menyenangkan (memberi semangat) bagi suami.”. (Diriwayatkan oleh Abu Daud, Al-Hakim, Ibnu Ady dalam Al-Kamil dan Al-Khatib dalam Tarikhnya).
Demikian jawaban yg dpt kami sampaikan. Smg mudah dipahami dan b'manfaat bg kita semua. (Klaten, 23 Februari 2014).
Ditulis oleh: Ustadz Muhammad Wasitha Abu Fawaz, Lc MA - حفظه الله تعالى
⌣̊┈»̶·̵̭̌✽����✽·̵̭̌«̶┈⌣̊
BETAPA SEDIKITNYA PENGIKUT KEBENARAN, DAN BETAPA BANYAKNYA PENGIKUT KESESATAN DAN KEMUSYRIKAN
(*) BETAPA SEDIKITNYA PENGIKUT KEBENARAN, DAN BETAPA BANYAKNYA PENGIKUT KESESATAN DAN KEMUSYRIKAN (*)
Ditulis oleh : Ustadz Muhammad Wasitho Abu Fawaz, MA - حفظه الله تعالى
قال الفضيل ابن عياض رحمه الله: " عليك بطريق الهدى وإن قل السالكون، واجتنب طريق الردى وإن كثر الهالكون ".
» Al-Fudhail bin Iyadh rahimahullah berkata: “Wajib atas kalian untuk mengikuti jalan petunjuk (kebenaran) meskipun sedikit orang yang menempuhnya, dan jauhilah jalan kesesatan, meskipun banyak orang-orang yang binasa (karena mengikuti jalan kesesatan, pent).” (Atsar ini disebutkan Oleh imam Asy-Syathibi di dalam kitab Al-I'tishoom I/183, An-Nawawi di dalam Al-Majmu' VIII/275, Dan di dalam Al-Idhooh Hal.219, Dan As-Suyuthi di dalam Al-Amru bil Ittiba' wa An-Nahyu 'An Al-Ibtida' Hal. 152).
» Atsar yg mulia ini menunjukkan kpd kita beberapa pelajaran penting, diantaranya:
1. Bahwa para pengikut kebenaran itu sangat sedikit. Sedangkan para pengikut kesesatan, kemusyrikan dan kekufuran itu jauh lebih banyak.
2. Barometer kebenaran bukanlah berdasarkan kwantitas atau banyaknya pengikut n jama'ah, akan tetapi berdasarkan kesesuaian dan ketaatan seseorang hamba terhadap petunjuk Allah dan Rosul-Nya di dlm Al-Qur'an dan As-Sunnah.
» Hal ini berdasarkan firman Allah Ta'ala (yg artinya): "Kebanyakan mereka tidaklah beriman kepada Allah melainkan dlm keadaan berbuat syirik."
» Dan firman-Nya pula (yg artinya): "Kebanyakan manusia itu tidaklah beriman meskipun engkau (hai Muhammad) bersungguh-sungguh (dlm memberikan hidayah kpd mereka)."
» Dan firman-Nya pula (yg artinya): "Dan jika engkau (hai Muhammad) mentaati kemauan mayoritas manusia, niscaya mereka akan menyesatkamu dari jalan Allah."
» Dan juga berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam: "Telah diperlihatkan (oleh Allah) kpdaku umat-umat terdahulu. Maka aku melihat ada seorang Nabi yg hanya diikuti oleh segelintir orang. Dan ada seorang Nabi yg diikuti oleh 2 orang. Dan ada seorang Nabi yg hanya diikuti oleh 1 orang. Dan ada pula seorang Nabi yg tidak mempunyai seorang pengikut pun."
Oleh karena itu, kita wajib bersabar dan tegar dalam menghadapi berbagai ujian, celaan dan gangguan dari orang-orang yg menentang dan menyelisihi kita dalam memegang teguh aqidah yg lurus, manhaj yg benar, dan tata cara ibadah yg sesuai dengan sunnah (tuntunan) Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Karena Allah telah berjanji akan memasukkan hamba-hamba-Nya yg beriman, bertakwa dan istiqomah dlm mengikuti jalan kebenaran hingga akhir hayat.
» Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam: "Islam itu pertama kali datang (di kota Mekkah, pent) dlm keadaan asing. Dan akan kembali menjadi asing. Maka orang-orang asing tsb akan mendapatkkan surga (atau sebuah pohon rindang di dlm surga)." Maka sebagian para sahabat bertanya; "Siapakah Al-Ghuroba' (yakni orang-orang asing yg dijanjikan akan masuk Surga) itu, wahai Rasulullah?" Beliau jawab: "Mereka adalah orang-orang SHOLIH yg SEDIKIT jumlahnya berada di tengah manusia yg banyak. Orang-orang yg menentang mereka jauh lebih banyak daripada orang yg menaati (dan mengikuti) mereka."
Ya Allah jadikanlah kami sebagai hamba-hamba-Mu yang mendapat Taufiq Dan pertolongan-Mu untuk senantiasa mengikuti jalan KEBENARAN. Dan jangan Engkau jadikan kami termasuk orang-orang binasa yang mengikuti jejak jalannya orang-orang kafir, musyrik, dan orang-orang sesat dengan anugerah dan kemuliaan-Mu. Amiin. (Klaten, 24 Februari 2014)
⌣̊┈»̶·̵̭̌✽����✽·̵̭̌«̶┈⌣̊
Ditulis oleh : Ustadz Muhammad Wasitho Abu Fawaz, MA - حفظه الله تعالى
قال الفضيل ابن عياض رحمه الله: " عليك بطريق الهدى وإن قل السالكون، واجتنب طريق الردى وإن كثر الهالكون ".
» Al-Fudhail bin Iyadh rahimahullah berkata: “Wajib atas kalian untuk mengikuti jalan petunjuk (kebenaran) meskipun sedikit orang yang menempuhnya, dan jauhilah jalan kesesatan, meskipun banyak orang-orang yang binasa (karena mengikuti jalan kesesatan, pent).” (Atsar ini disebutkan Oleh imam Asy-Syathibi di dalam kitab Al-I'tishoom I/183, An-Nawawi di dalam Al-Majmu' VIII/275, Dan di dalam Al-Idhooh Hal.219, Dan As-Suyuthi di dalam Al-Amru bil Ittiba' wa An-Nahyu 'An Al-Ibtida' Hal. 152).
» Atsar yg mulia ini menunjukkan kpd kita beberapa pelajaran penting, diantaranya:
1. Bahwa para pengikut kebenaran itu sangat sedikit. Sedangkan para pengikut kesesatan, kemusyrikan dan kekufuran itu jauh lebih banyak.
2. Barometer kebenaran bukanlah berdasarkan kwantitas atau banyaknya pengikut n jama'ah, akan tetapi berdasarkan kesesuaian dan ketaatan seseorang hamba terhadap petunjuk Allah dan Rosul-Nya di dlm Al-Qur'an dan As-Sunnah.
» Hal ini berdasarkan firman Allah Ta'ala (yg artinya): "Kebanyakan mereka tidaklah beriman kepada Allah melainkan dlm keadaan berbuat syirik."
» Dan firman-Nya pula (yg artinya): "Kebanyakan manusia itu tidaklah beriman meskipun engkau (hai Muhammad) bersungguh-sungguh (dlm memberikan hidayah kpd mereka)."
» Dan firman-Nya pula (yg artinya): "Dan jika engkau (hai Muhammad) mentaati kemauan mayoritas manusia, niscaya mereka akan menyesatkamu dari jalan Allah."
» Dan juga berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam: "Telah diperlihatkan (oleh Allah) kpdaku umat-umat terdahulu. Maka aku melihat ada seorang Nabi yg hanya diikuti oleh segelintir orang. Dan ada seorang Nabi yg diikuti oleh 2 orang. Dan ada seorang Nabi yg hanya diikuti oleh 1 orang. Dan ada pula seorang Nabi yg tidak mempunyai seorang pengikut pun."
Oleh karena itu, kita wajib bersabar dan tegar dalam menghadapi berbagai ujian, celaan dan gangguan dari orang-orang yg menentang dan menyelisihi kita dalam memegang teguh aqidah yg lurus, manhaj yg benar, dan tata cara ibadah yg sesuai dengan sunnah (tuntunan) Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Karena Allah telah berjanji akan memasukkan hamba-hamba-Nya yg beriman, bertakwa dan istiqomah dlm mengikuti jalan kebenaran hingga akhir hayat.
» Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam: "Islam itu pertama kali datang (di kota Mekkah, pent) dlm keadaan asing. Dan akan kembali menjadi asing. Maka orang-orang asing tsb akan mendapatkkan surga (atau sebuah pohon rindang di dlm surga)." Maka sebagian para sahabat bertanya; "Siapakah Al-Ghuroba' (yakni orang-orang asing yg dijanjikan akan masuk Surga) itu, wahai Rasulullah?" Beliau jawab: "Mereka adalah orang-orang SHOLIH yg SEDIKIT jumlahnya berada di tengah manusia yg banyak. Orang-orang yg menentang mereka jauh lebih banyak daripada orang yg menaati (dan mengikuti) mereka."
Ya Allah jadikanlah kami sebagai hamba-hamba-Mu yang mendapat Taufiq Dan pertolongan-Mu untuk senantiasa mengikuti jalan KEBENARAN. Dan jangan Engkau jadikan kami termasuk orang-orang binasa yang mengikuti jejak jalannya orang-orang kafir, musyrik, dan orang-orang sesat dengan anugerah dan kemuliaan-Mu. Amiin. (Klaten, 24 Februari 2014)
⌣̊┈»̶·̵̭̌✽����✽·̵̭̌«̶┈⌣̊
Sabtu, 08 Februari 2014
TANDA-TANDA DITERIMANYA AMAL IBADAH DAN TAUBAT
(*) TANDA-TANDA DITERIMANYA AMAL IBADAH DAN TAUBAT (*)
Ditulis oleh : أُسْتَاذُ Muhammad Wasitho Abu Fawaz, Lc MA - حفظه الله تعالى
Sesungguhnya setiap muslim dan muslimah sudah pasti senantiasa berharap agar amalan-amalan kebaikannya menjadi sah dan diterima Allah ta'ala, dan keburukan-keburukannya dimaafkan dan dihapuskan oleh-Nya. Sebab dengan demikian ia akan menjadi hamba Allah yg hidup selamat dan bahagia di dunia dan akhirat.
Jika amalan kebaikan seorang hamba telah diterima Allah, maka itu sebagai tanda bahwa amalan yg dikerjakannya telah benar dan sesuai dengan petunjuk Allah dan Rasul-Nya shallallahu 'alaihi wasallam. Allah Ta'ala berfirman:
{ إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنْ الْمُتَّقِينَ }
Artinya: "Sesungguhnya Allah hanya menerima (amalan) dari orang-orang yg bertakwa." (QS. Al-Maidah: 27).
» Al-Fudhoil bin 'Iyadh rahimahullah berkata: "Sesungguhnya amalan (ibadah) itu jika dikerjakan dengan ikhlas karena Allah, namun caranya tidak benar, maka amalan ibadah tsb tidak diterima Allah. Demikian pula sebaliknya, amalan (ibadah) jika dikerjakan dengan cara yg benar, namun niatnya tidak ikhlas karena Allah, maka amalan (ibadah) itu juga tidak diterima Allah, sehingga amalan ibadah tsb dikerjakan dengan ikhlas karena mengharap wajah Allah semata, dan benar karena sesuai dengan tuntunan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam."
(*) Lalu, bagaimana dan apa saja tanda-tanda suatu amal ibadah dan taubat seorang hamba telah diterima Allah ta'ala, dan jerih payahnya telah membuahkan hasil?
(*) TANDA KEDUA:
Semakin Bertambah Semangat Dalam Melaksanakan Amal Kebaikan Dan Ketaatan Kepada Allah.
» Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata:
"إن من جزاء الحسنة الحسنة بعدها، ومن عقوبة السيئة السيئةُ بعدها، فإذا قبل الله العبد فإنه يوفقه إلى الطاعة، ويصرفه عن المعصية"
"Sesungguhnya diantara balasan amalan kebaikan ialah (dimudahkan Allah) melaksanakan kebaikan setelahnya. Dan diantara hukuman atas perbuatan buruk ialah melakukan keburukan setelahnya. Maka, apabila Allah telah menerima (amalan n taubat) seorang hamba, niscaya Allah akan memberinya taufiq untuk melaksanakan ketaatan (kepada-Nya), dan memalingkannya dari perbuatan maksiat (kepada-Nya)."
» Beliau (Hasan Al-Bashri rahimahullah) juga pernah berkata:
"يا ابن آدم إن لم تكن فى زيادة فأنت فى نقصان".
"Wahai anak cucu Adam, jika engkau tidak dlm keadaan bertambah (amalan kebaikanmu), berarti engkau benar-benar dlm keadaan berkurang (ketaatanmu kpd Allah, pent)."
(*) TANDA KETIGA:
Sabar dan Tegar Dalam Melaksnakan Ketataatan Kepada Allah Ta'ala.
Tegar dan istiqomah dlm melaksanakan ketaatan memiliki buah yg sangat agung sbgmn dikatakan oleh Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah: "Sungguh Allah yg Maha Mulia telah memberlakukan hukum kebiasaan dengan kemuliaan-Nya bahwa barangsiapa hidupa di atas suatu kebiasaan, niscaya ia akan mati di atas kebiasaan tsb. Dan barangsiapa yg mati dlm suatu keadaan, maka ia akan dibangkitkan Allah pd hari Kiamat di atas keadaan tsb."
Maka, barangsiapa terbiasa melaksanakan ketaatan kpd Allah di dalam hidupnya di dunia, niscaya Allah akan mewafatkannya dlm keadaan berbuat taat.
Hal ini sebagaimana disebutkan di dlm hadits:
بينما رجلٌ يحجُّ مع النبي صلى الله عليه وسلم فوكزته الناقة فمات فقال النبيّ صلى الله عليه وسلم: ( كفنوه بثوبيه فإنه يبعث يوم القيامة ملبّياً )
Artinya: "Tatkala ada seseorang yg menunaikan haji bersama Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, maka ia terjatuh dari seekor onta (yg ditungganginya), lalu ia pun mati. Maka, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda (kpd sebagian para sahabat): "Kafanilah orang ini dengan menggunakan kedua bajunya (maksudnya 2 kain ihromnya), karena sesungguhnya ia akan dibangkitkan (oleh Allah) pada hari Kiamat dalam keadaan bertalbiyah."(HR. Imam Al-Bukhari dan Muslim).
Dan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam jg bersabda tentang seseorang yang mencuri sebagian harta rampasan perang; "Sesungguhnya benda rampasan perang yg ia curi akan ada api yg menyala padanya (pada hari Kiamat, pent)." (HR. Imam Al-Bukhari).
(*) TANDA KEEMPAT:
Bersihnya hati dari noda-noda syirik, kufur, maksiat dan penyakit-penyakit hati, seperti iri dengki, sombong, bangga diri, riya, dsb.
Tanda orang yang diterima amalnya senantiasa mengutamakan apa yang dicintai dan diridhoi Allah daripada kecintaan dan keridhoan manusia, mendahulukan perintah-perintah-Nya daripada perintah siapapun selain-Nya, dan ia mencintai orang lain karena Allah.
Ia juga sangat Jauh dari sifat hasad (iri dan dengki), kebencian dan permusuhan dengan orang lain karena urusan dunia. Ia selalu merasa yakin bahwa segala urusan berada di tangan Allah, sehingga hatinya merasa tentram dan ridho dengan keputusan-Nya. Ia juga meyakini bahwa apapun yang telah ditakdirkan oleh Allah untuk "meleset" dari dirinya, maka hal itu tidak akan menimpa dirinya. Dan apa saja yang ditakdirkan Allah akan menimpa dirinya, maka hal itu tidak akan bisa dihindari.
Yang jelas dan pasti, sikap orang yang diterima Allah amal dan taubatnya ialah selalu merasa ridho dengan takdir dan keputusan Allah dalam bentuk apapun, serta ia berbaik sangka kepada-Nya.
(*) TANDA KELIMA:
Diantara tanda-tanda diterimanya amal ibadah seorang hamba ialah Selalu Mengingat Kehidupan Akhirat Yang Hakiki nan Abadi.
Seorang hamba menyadari bahwa kehidupannya di dunia ini hanyalah bersifat sebentar dan sementara. Ia merasa yakin dan pasti bahwa setiap manusia, apakah ia seorang yang kaya raya lagi berkedudukan tinggi, maupun orang fakir miskin yang berkedudukan rendah di tengah masyarakat, tua maupun muda, dan sehat maupun sakit, semuanya akan mengalami kematian dan sakarotul maut kapan dan dimana pun ia berada sesuai ketentuan takdir Allah ta'ala, tanpa ada pemberitahuan terlebih dahulu.
Allah Ta'ala berfirman:
(Kullu Nafsin Dzaa-iqotul Maut)
Artinya: "Setiap jiwa (manusia) pasti akan merasakan kematian." (QS. Ali 'Imron).
» Pada suatu hari Al-Fudhoil bin 'Iyadh rahimahullah (seorang ulama salaf dari generasi atba'ut tabi'in) bertanya kepada seorang lelaki (tua): "Berapa tahun umur yang telah kau lalui?" Ia jawab: "Sudah 60 (enam puluh) tahun." Maka Al-Fudhoil bin 'Iyadh berkata kepadanya: "Subhanallah, sejak 60 (enam puluh) tahun engkau masih dalam perjalananmu menuju Allah! Sebentar lagi engkau akan sampai (baca: akan mati). Ketahuilah, bahwa engkau akan diminta pertanggung jawaban oleh Allah (atas umurmu di dunia, pent). Oleh karena itu, persiapkanlah jawaban atas pertanyaan-Nya." Maka lelaki tua itu bertanya kepadanya: "Apa yang mesti aku lakukan sekarang?" Jawab Al-Fudhoil bin 'Iyadh: "Berbuat baiklah di sisa umurmu, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu yang telah lalu. Namun, jika engkau berbuat keburukan (dosa dan maksiat) disisa umurmu, niscaya Allah akan menyiksamu atas dosa-dosamu yang telah lalu maupun yang akan datang."
(*) TANDA KEENAM:
Selalu Menjaga Keikhlasan Dalam Setiap Amal Dan Kebaikan.
Pernah ada seseorang laki-laki menyampaikan suatu nasehat di hadapan imam Hasan Al-Bashri (seorang ulama tabi'in) rahimahullah. Maka imam Hasan Al-Basri berkata kepadanya: "Wahai si fulan, saya belum bisa mengambil faedah dan pelajaran dari nasehatmu. Ini bisa jadi dikarenakan hatiku yang "berpenyakit", atau bisa jadi karena niatmu (dalam menyampaikan nasehat) yang kurang ikhlas."
Demikianlah beberapa tanda diterimanya amal ibadah dan taubat seorang hamba. Ini hanyalah sebuah tanda atau ciri diterimanya amal. Sedangkan kepastiannya, hanya Allah Ta'ala saja yang mengetahuinya. Semoga bermanfaat bagi kita semua. Dan semoga Allah menerima seluruh amal ibadah kita dan mengampuni dosa-dosa yang pernah kita lakukan. Amiin.
Cibubur, 11 Rabbi'ul I'tsani 1435 / 11 Februari 2014
⌣̊┈»̶·̵̭̌✽����✽·̵̭̌«̶┈⌣̊
Ditulis oleh : أُسْتَاذُ Muhammad Wasitho Abu Fawaz, Lc MA - حفظه الله تعالى
Sesungguhnya setiap muslim dan muslimah sudah pasti senantiasa berharap agar amalan-amalan kebaikannya menjadi sah dan diterima Allah ta'ala, dan keburukan-keburukannya dimaafkan dan dihapuskan oleh-Nya. Sebab dengan demikian ia akan menjadi hamba Allah yg hidup selamat dan bahagia di dunia dan akhirat.
Jika amalan kebaikan seorang hamba telah diterima Allah, maka itu sebagai tanda bahwa amalan yg dikerjakannya telah benar dan sesuai dengan petunjuk Allah dan Rasul-Nya shallallahu 'alaihi wasallam. Allah Ta'ala berfirman:
{ إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنْ الْمُتَّقِينَ }
Artinya: "Sesungguhnya Allah hanya menerima (amalan) dari orang-orang yg bertakwa." (QS. Al-Maidah: 27).
» Al-Fudhoil bin 'Iyadh rahimahullah berkata: "Sesungguhnya amalan (ibadah) itu jika dikerjakan dengan ikhlas karena Allah, namun caranya tidak benar, maka amalan ibadah tsb tidak diterima Allah. Demikian pula sebaliknya, amalan (ibadah) jika dikerjakan dengan cara yg benar, namun niatnya tidak ikhlas karena Allah, maka amalan (ibadah) itu juga tidak diterima Allah, sehingga amalan ibadah tsb dikerjakan dengan ikhlas karena mengharap wajah Allah semata, dan benar karena sesuai dengan tuntunan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam."
(*) Lalu, bagaimana dan apa saja tanda-tanda suatu amal ibadah dan taubat seorang hamba telah diterima Allah ta'ala, dan jerih payahnya telah membuahkan hasil?
(*) TANDA KEDUA:
Semakin Bertambah Semangat Dalam Melaksanakan Amal Kebaikan Dan Ketaatan Kepada Allah.
» Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata:
"إن من جزاء الحسنة الحسنة بعدها، ومن عقوبة السيئة السيئةُ بعدها، فإذا قبل الله العبد فإنه يوفقه إلى الطاعة، ويصرفه عن المعصية"
"Sesungguhnya diantara balasan amalan kebaikan ialah (dimudahkan Allah) melaksanakan kebaikan setelahnya. Dan diantara hukuman atas perbuatan buruk ialah melakukan keburukan setelahnya. Maka, apabila Allah telah menerima (amalan n taubat) seorang hamba, niscaya Allah akan memberinya taufiq untuk melaksanakan ketaatan (kepada-Nya), dan memalingkannya dari perbuatan maksiat (kepada-Nya)."
» Beliau (Hasan Al-Bashri rahimahullah) juga pernah berkata:
"يا ابن آدم إن لم تكن فى زيادة فأنت فى نقصان".
"Wahai anak cucu Adam, jika engkau tidak dlm keadaan bertambah (amalan kebaikanmu), berarti engkau benar-benar dlm keadaan berkurang (ketaatanmu kpd Allah, pent)."
(*) TANDA KETIGA:
Sabar dan Tegar Dalam Melaksnakan Ketataatan Kepada Allah Ta'ala.
Tegar dan istiqomah dlm melaksanakan ketaatan memiliki buah yg sangat agung sbgmn dikatakan oleh Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah: "Sungguh Allah yg Maha Mulia telah memberlakukan hukum kebiasaan dengan kemuliaan-Nya bahwa barangsiapa hidupa di atas suatu kebiasaan, niscaya ia akan mati di atas kebiasaan tsb. Dan barangsiapa yg mati dlm suatu keadaan, maka ia akan dibangkitkan Allah pd hari Kiamat di atas keadaan tsb."
Maka, barangsiapa terbiasa melaksanakan ketaatan kpd Allah di dalam hidupnya di dunia, niscaya Allah akan mewafatkannya dlm keadaan berbuat taat.
Hal ini sebagaimana disebutkan di dlm hadits:
بينما رجلٌ يحجُّ مع النبي صلى الله عليه وسلم فوكزته الناقة فمات فقال النبيّ صلى الله عليه وسلم: ( كفنوه بثوبيه فإنه يبعث يوم القيامة ملبّياً )
Artinya: "Tatkala ada seseorang yg menunaikan haji bersama Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, maka ia terjatuh dari seekor onta (yg ditungganginya), lalu ia pun mati. Maka, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda (kpd sebagian para sahabat): "Kafanilah orang ini dengan menggunakan kedua bajunya (maksudnya 2 kain ihromnya), karena sesungguhnya ia akan dibangkitkan (oleh Allah) pada hari Kiamat dalam keadaan bertalbiyah."(HR. Imam Al-Bukhari dan Muslim).
Dan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam jg bersabda tentang seseorang yang mencuri sebagian harta rampasan perang; "Sesungguhnya benda rampasan perang yg ia curi akan ada api yg menyala padanya (pada hari Kiamat, pent)." (HR. Imam Al-Bukhari).
(*) TANDA KEEMPAT:
Bersihnya hati dari noda-noda syirik, kufur, maksiat dan penyakit-penyakit hati, seperti iri dengki, sombong, bangga diri, riya, dsb.
Tanda orang yang diterima amalnya senantiasa mengutamakan apa yang dicintai dan diridhoi Allah daripada kecintaan dan keridhoan manusia, mendahulukan perintah-perintah-Nya daripada perintah siapapun selain-Nya, dan ia mencintai orang lain karena Allah.
Ia juga sangat Jauh dari sifat hasad (iri dan dengki), kebencian dan permusuhan dengan orang lain karena urusan dunia. Ia selalu merasa yakin bahwa segala urusan berada di tangan Allah, sehingga hatinya merasa tentram dan ridho dengan keputusan-Nya. Ia juga meyakini bahwa apapun yang telah ditakdirkan oleh Allah untuk "meleset" dari dirinya, maka hal itu tidak akan menimpa dirinya. Dan apa saja yang ditakdirkan Allah akan menimpa dirinya, maka hal itu tidak akan bisa dihindari.
Yang jelas dan pasti, sikap orang yang diterima Allah amal dan taubatnya ialah selalu merasa ridho dengan takdir dan keputusan Allah dalam bentuk apapun, serta ia berbaik sangka kepada-Nya.
(*) TANDA KELIMA:
Diantara tanda-tanda diterimanya amal ibadah seorang hamba ialah Selalu Mengingat Kehidupan Akhirat Yang Hakiki nan Abadi.
Seorang hamba menyadari bahwa kehidupannya di dunia ini hanyalah bersifat sebentar dan sementara. Ia merasa yakin dan pasti bahwa setiap manusia, apakah ia seorang yang kaya raya lagi berkedudukan tinggi, maupun orang fakir miskin yang berkedudukan rendah di tengah masyarakat, tua maupun muda, dan sehat maupun sakit, semuanya akan mengalami kematian dan sakarotul maut kapan dan dimana pun ia berada sesuai ketentuan takdir Allah ta'ala, tanpa ada pemberitahuan terlebih dahulu.
Allah Ta'ala berfirman:
(Kullu Nafsin Dzaa-iqotul Maut)
Artinya: "Setiap jiwa (manusia) pasti akan merasakan kematian." (QS. Ali 'Imron).
» Pada suatu hari Al-Fudhoil bin 'Iyadh rahimahullah (seorang ulama salaf dari generasi atba'ut tabi'in) bertanya kepada seorang lelaki (tua): "Berapa tahun umur yang telah kau lalui?" Ia jawab: "Sudah 60 (enam puluh) tahun." Maka Al-Fudhoil bin 'Iyadh berkata kepadanya: "Subhanallah, sejak 60 (enam puluh) tahun engkau masih dalam perjalananmu menuju Allah! Sebentar lagi engkau akan sampai (baca: akan mati). Ketahuilah, bahwa engkau akan diminta pertanggung jawaban oleh Allah (atas umurmu di dunia, pent). Oleh karena itu, persiapkanlah jawaban atas pertanyaan-Nya." Maka lelaki tua itu bertanya kepadanya: "Apa yang mesti aku lakukan sekarang?" Jawab Al-Fudhoil bin 'Iyadh: "Berbuat baiklah di sisa umurmu, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu yang telah lalu. Namun, jika engkau berbuat keburukan (dosa dan maksiat) disisa umurmu, niscaya Allah akan menyiksamu atas dosa-dosamu yang telah lalu maupun yang akan datang."
(*) TANDA KEENAM:
Selalu Menjaga Keikhlasan Dalam Setiap Amal Dan Kebaikan.
Pernah ada seseorang laki-laki menyampaikan suatu nasehat di hadapan imam Hasan Al-Bashri (seorang ulama tabi'in) rahimahullah. Maka imam Hasan Al-Basri berkata kepadanya: "Wahai si fulan, saya belum bisa mengambil faedah dan pelajaran dari nasehatmu. Ini bisa jadi dikarenakan hatiku yang "berpenyakit", atau bisa jadi karena niatmu (dalam menyampaikan nasehat) yang kurang ikhlas."
Demikianlah beberapa tanda diterimanya amal ibadah dan taubat seorang hamba. Ini hanyalah sebuah tanda atau ciri diterimanya amal. Sedangkan kepastiannya, hanya Allah Ta'ala saja yang mengetahuinya. Semoga bermanfaat bagi kita semua. Dan semoga Allah menerima seluruh amal ibadah kita dan mengampuni dosa-dosa yang pernah kita lakukan. Amiin.
Cibubur, 11 Rabbi'ul I'tsani 1435 / 11 Februari 2014
⌣̊┈»̶·̵̭̌✽����✽·̵̭̌«̶┈⌣̊
Selasa, 28 Januari 2014
KEUTAMAAN MEMBACA TASBIH (SUBHANALLAH WABIHAMDIH)
KEUTAMAAN MEMBACA TASBIH (SUBHANALLAH WABIHAMDIH)
Tanya:
Assalamu'alaikum. Ustadz, Apakah benar barangsiapa membaca Subhaanallaahi wabihamdihi 100 kali setiap hari,maka dosanya di ampuni walaupun sebanyak buih di laut?
Jawab:
Wa'alaikumsalam warahmatullah wabarakatuh.
Bismillah. Iya, benar. Keutamaan membaca tasbih 100 kali setiap hari sebagaimana disebutkan dlm pertanyaan diatas. Hal ini berdasarkan hadits-hadits shohih berikut ini:
1. Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
مَنْ قَالَ سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ فِي يَوْمٍ مِائَةَ مَرَّةٍ حُطَّتْ خَطَايَاهُ وَإِنْ كَانَتْ مِثْلَ زَبَدِ الْبَحْرِ
Artinya: “Barangsiapa yang mengucapkan: SUBHANALLAHI WABIHAMDIH (Maha suci Allah dan dengan segala pujian hanya untuk-Nya) sehari 100 (seratus) kali, maka
kesalahan-kesalahannya akan diampuni (Allah) walaupun sebanyak buih di lautan.” (HR. Imam Al-Bukhari no. 5926 dan Muslim no. 2691).
2. Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
مَنْ قَالَ حِينَ يُصْبِحُ وَحِينَ يُمْسِي سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ مِائَةَ مَرَّةٍ لَمْ يَأْتِ أَحَدٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِأَفْضَلَ مِمَّا جَاءَ بِهِ إِلَّا أَحَدٌ قَالَ مِثْلَ مَا قَالَ أَوْ زَادَ عَلَيْهِ
Artinya: “Barang siapa yang ketika pagi dan sore membaca: SUBHANALLAHI WABIHAMDIH (Maha suci Allah dan dengan segala pujian hanya untuk-Nya) sebanyak 100 (seratus) kali, maka pada hari kiamat tidak ada seorangpun yang
akan mendatangkan amalan yang lebih utama daripada apa yang dia
datangkan. Kecuali orang yang juga mengucapkan bacaan seperti itu atau lebih dari itu.” (HR. Muslim no. 2692).
(*) CATATAN:
» Yang patut kita ketahui, bahwa keutamaan membaca tasbih tsb hanya diperoleh bagi setiap muslim dan muslimah yang meninggal dunia dalam keadaan mentauhidkan Allah. Yakni hanya beribadah kpd Allah dan tidak pernah berbuat syirik dan
kufur kepada-Nya sedikit pun semasa hidupnya di dunia. Dan kalaupun ia pernah berbuat syirik n
kufur kpd Allah, hanya saja ia telah bertaubat darinya dengan taubat nasuha sebelum ia meninggal dunia.
» Para ulama Ahlus Sunnah juga menjelaskan bahwa yang dihapus n diampuni oleh Allah dengan sebab bacaan tasbih maupun amal sholih lainnya hanyalah dosa-dosa kecil. Adapun dosa-dosa besar, maka tidaklah dihapus n diampuni oleh Allah dengan kecuali dengan taubat nasuha. Wallahu a’lam bish-showab. wabillahi at-taufiq. (Klaten, 26 Januari 2014)
» BBG Majlis Hadits, chat room Tanya Jawab.
Ditulis oleh : أُسْتَاذُ Muhammad Wasitho Abu Fawaz, Lc MA - حفظه الله تعالى
┈┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈┈
Tanya:
Assalamu'alaikum. Ustadz, Apakah benar barangsiapa membaca Subhaanallaahi wabihamdihi 100 kali setiap hari,maka dosanya di ampuni walaupun sebanyak buih di laut?
Jawab:
Wa'alaikumsalam warahmatullah wabarakatuh.
Bismillah. Iya, benar. Keutamaan membaca tasbih 100 kali setiap hari sebagaimana disebutkan dlm pertanyaan diatas. Hal ini berdasarkan hadits-hadits shohih berikut ini:
1. Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
مَنْ قَالَ سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ فِي يَوْمٍ مِائَةَ مَرَّةٍ حُطَّتْ خَطَايَاهُ وَإِنْ كَانَتْ مِثْلَ زَبَدِ الْبَحْرِ
Artinya: “Barangsiapa yang mengucapkan: SUBHANALLAHI WABIHAMDIH (Maha suci Allah dan dengan segala pujian hanya untuk-Nya) sehari 100 (seratus) kali, maka
kesalahan-kesalahannya akan diampuni (Allah) walaupun sebanyak buih di lautan.” (HR. Imam Al-Bukhari no. 5926 dan Muslim no. 2691).
2. Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
مَنْ قَالَ حِينَ يُصْبِحُ وَحِينَ يُمْسِي سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ مِائَةَ مَرَّةٍ لَمْ يَأْتِ أَحَدٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِأَفْضَلَ مِمَّا جَاءَ بِهِ إِلَّا أَحَدٌ قَالَ مِثْلَ مَا قَالَ أَوْ زَادَ عَلَيْهِ
Artinya: “Barang siapa yang ketika pagi dan sore membaca: SUBHANALLAHI WABIHAMDIH (Maha suci Allah dan dengan segala pujian hanya untuk-Nya) sebanyak 100 (seratus) kali, maka pada hari kiamat tidak ada seorangpun yang
akan mendatangkan amalan yang lebih utama daripada apa yang dia
datangkan. Kecuali orang yang juga mengucapkan bacaan seperti itu atau lebih dari itu.” (HR. Muslim no. 2692).
(*) CATATAN:
» Yang patut kita ketahui, bahwa keutamaan membaca tasbih tsb hanya diperoleh bagi setiap muslim dan muslimah yang meninggal dunia dalam keadaan mentauhidkan Allah. Yakni hanya beribadah kpd Allah dan tidak pernah berbuat syirik dan
kufur kepada-Nya sedikit pun semasa hidupnya di dunia. Dan kalaupun ia pernah berbuat syirik n
kufur kpd Allah, hanya saja ia telah bertaubat darinya dengan taubat nasuha sebelum ia meninggal dunia.
» Para ulama Ahlus Sunnah juga menjelaskan bahwa yang dihapus n diampuni oleh Allah dengan sebab bacaan tasbih maupun amal sholih lainnya hanyalah dosa-dosa kecil. Adapun dosa-dosa besar, maka tidaklah dihapus n diampuni oleh Allah dengan kecuali dengan taubat nasuha. Wallahu a’lam bish-showab. wabillahi at-taufiq. (Klaten, 26 Januari 2014)
» BBG Majlis Hadits, chat room Tanya Jawab.
Ditulis oleh : أُسْتَاذُ Muhammad Wasitho Abu Fawaz, Lc MA - حفظه الله تعالى
┈┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈┈
HADITS PALSU TENTANG MALAIKAT MAMPU MENGHITUNG JUMLAH TETESAN AIR HUJAN, TAPI IA TIDAK BISA MENGHITUNG BANYAKNYA JUMLAH PAHALA BAGI ORANG YANG BERSHOLAWAT KEPADA NABI Shallallahu ‘Alaihi Wasallam
HADITS PALSU TENTANG MALAIKAT MAMPU MENGHITUNG JUMLAH
TETESAN AIR HUJAN, TAPI IA TIDAK BISA MENGHITUNG BANYAKNYA JUMLAH PAHALA BAGI ORANG YANG BERSHOLAWAT KEPADA NABI Shallallahu ‘Alaihi Wasallam
Ditulis oleh : أُسْتَاذُ Muhammad Wasitho Abu Fawaz, Lc MA - حفظه الله تعالى
عن رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم قال : ليلة المعراج عندما وصلت إلى السماء رأيت ملكاً له ألف يد وفي كل يد ألف إصبع وكان يعد بأصابعه، فسألت جبرائيل عليه السلام عن اسمه وعن وظيفته وعمله، فقال إنه ملك موكل على عدد قطرات المطر النازلة إلى الأرض .. فسألت الملك : هل تعلم عدد قطرات المطر النازلة من السماء إلى الأرض منذ خلق الله الأرض ؟
فأجاب الملك : يا رسول الله (صلى الله عليه وسلم) والله الذي بعثك بالحق نبياًَ إني لأعلم عدد قطرات المطر النازلة من السماء إلى الأرض عامة وكما أعلم الساقطة في البحار والقفار والمعمورة والمزروعة والأرض السـبخة والمقابر.
قال النبي (صلى الله عليه وسلم): فتعجبت من ذكائه وذاكرته في الحساب .. فقال الملك : يا رسول الله (صلى الله عليه وسلم) ولكني بما لدي من الأيدي والأصابع وما عندي من الذاكرة والذكاء فإني أعجز من عد أمر واحد . فقلت له: وما ذاك الأمر ؟
قال الملك : إذا اجتمع عدد من أفراد أمتك في محفل وذكروا اسمك فصلوا عليك . فحينذاك أعجز عن حفظ ما لهؤلاء من الأجر والثواب إزاء صلواتهم عليك ….
TERJEMAH HADITS:
Diriwayatkan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwa beliau bersabda: “Disaat aku tiba di langit di malam Isra’ Miraj, aku melihat satu malaikat memiliki 1000 (seribu) tangan, di setiap tangan ada 1000 (seribu) jari. Malaikat itu sedang menghitung dengan menggunakan jari-jemarinya. Aku bertanya kepada malaikat Jibril alaihissalam, ‘Siapa gerangan malaikat itu, dan apa tugasnya?.’
Jibril menjawab, ‘Sesungguhnya dia adalah malaikat yang diberi tugas untuk menghitung tetesan air hujan yang turun dari langit ke bumi.’
Maka aku (Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam) bertanya kepada malaikat tadi, ‘Apakah kamu tahu berapa bilangan tetesan air hujan yang turun dari langit ke bumi sejak Allah ciptakan bumi?.’
Malaikat itupun berkata, ‘Wahai Rasulullah, demi yang telah mengutusmu dengan membawa kebenaran, sesungguhnya aku mengetahui semua jumlah tetesan air hujan yang turun dari langit ke bumi. Dan aku juga mengetahui secara rinci berapa jumlah tetesan hujan yang jatuh di lautan, di daratan, di bangunan, di perkebunan, di daratan yang bergaram, dan di pekuburan.’
Mendengar uraian malaikat tadi, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sangat takjub atas kecerdasan dan daya ingatnya dalam perhitungan. Kemudian malaikat tadi berkata kepada beliau, ‘Wahai Rasulallah, walaupun aku memiliki seribu tangan dan sejuta jari dan diberikan kepandaian dan keulungan (untuk menghitung tetesan air hujan yang yang turun dari langit ke bumi), tapi aku tidak mampu menghitung satu perkara.’
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun bertanya, ‘Perkara apakah itu?.’
Malaikat itupun menjawab, ‘(Kekurangan dan kelemahanku, wahai Rasulullah), jika umatmu berkumpul di satu tempat, mereka menyebut namamu lalu bershalawat atasmu, pada saat itu aku tidak bisa menghitung berapa banyaknya pahala yang diberikan Allah kepada mereka atas shalawat yang mereka ucapkan atas dirimu.’”
DERAJAT HADITS:
Hadits ini derajatnya PALSU (Maudhu’) dan BATIL karena Tidak Ada Asal-usulnya. Dan diantara tanda atau ciri kepalsuannya adalah sebagai berikut:
1) Hadits Palsu tersebut TIDAK ADA di dalam kitab-kitab hadits yang disusun para ulama Ahlus Sunnah Wal Jama’ah, seperti kitab Shohih Al-Bukhari, Shohih Muslim, Sunan Abu Daud, Sunan An-Nasai, Sunan At-Tirmidzi, Sunan Ibnu Majah, Musnad Imam Ahmad, Sunan Ad-Darimi, Sunan Ad-Daruquthni, Shohih Ibnu Hibban, Shohih Ibnu Khuzaimah, Sunan Al-Baihaqi, dsb. Bahkan di dalam kitab hadits-hadits Dho’if dan Palsu karya para ulama Sunnah pun hadits tersebut tidak ditemukan, sebagaimana dinyatakan oleh sebagian para ulama dan penuntut ilmu hadits.
2) Hadits Palsu ini disebutkan di dalam kitab-kitab hadits karya para tokoh (baca: pendeta) Syi’ah Rofidhoh dengan tanpa menyebutkan sanadnya. Dan juga disebutkan di dalam situs-situs Syi’ah di internet, diantaranya:
1. Kitab Mustadrok Al-Wasa-il karya An-Nuri Ath-Thobrosi Ar-Rofidhi V/355 hadits ke-72, cetakan ke-2, pustaka Alul Bait.
2. Manazilu Al-Akhiroti Wal Matholibu Al-Fakhirotu karya Abbas Al-Qummi Ar-rofidhi, cetakan Muassasah An-Nasyr Al-Islami.
3. http://www.al-shia.org/html/id/service/maqalat/003/11.html
3) Ditinjau dari lafazhnya, maka susunan kalimat hadits palsu tersebut tidak baik dan tidak fasih. Sehingga sangat mustahil hadits ini datang dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, karena beliau telah diberi Allah mukjizat jawami’ul kalim, yakni kemampuan berbicara dengan bahasa Arab yang paling fasih dengan kalimat yang singkat namun maknanya luas dan padat. Sementara di dalam hadits palsu ini terdapat kata Dzaakiroh (ذاكرة) yang artinya daya ingat, dan Dzakaa’ (ذكاء) yang artinya kecerdasan, yang mana kedua kata itu termasuk kata-kata modern yang sering diucapkan oleh orang-orang zaman sekarang. Sehingga dengan demikian dapat disimpulkan bahwa orang yang memalsukan hadits ini bukan orang yang hidup di zaman generasi salaf, tetapi ia hidup di zaman belakangan ini setelah berlalunya generasi as-salaf.
4) Di dalam hadits palsu ini disebutkan bahwa malaikat yang memiliki 1000 (seribu) tangan, dan pada setiap tangan terdapat 1000 (seribu) jari mampu menghitung jumlah tetesan air hujan, maka hadits ini menjadi BATIL karena bertentangan dengan firman Allah ta’ala:
وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لاَ تُحْصُوهَا
Artinya: “Dan jika kalian menghitung nikmat Allah, niscaya kalian tidak mampu untuk menghitungnya.” (QS. Ibrahim: 34).
Dan air hujan merupakan salah satu nikmat dari sekian banyak nikmat Allah yang dilimpahkan kepada hamba-hamba-nya. Maka bagaimana mungkin tetesan air hujan dapat dihitung jumlahnya malaikat atau makhluk lainnya?!
Demikian penjelasan tentang derajat hadits ini yang banyak tersebar di media internet atau melalui BBM, atau selainnya. Semoga Allah ta’ala melindungi kita semua dari bahaya mempercayai, mengamalkan dan menyebarluaskan hadits-hadits lemah dan palsu.
Alhamdulillah, dengan taufiq dan pertolongan-Nya, artikel ini telah selesai ditulis di Klaten, pada pagi hari Jumat, 17 januari 2014. Semoga bermanfaat bagi kita semua. Aamiin.
.-------๑๑•°♥°•๑๑-------
TETESAN AIR HUJAN, TAPI IA TIDAK BISA MENGHITUNG BANYAKNYA JUMLAH PAHALA BAGI ORANG YANG BERSHOLAWAT KEPADA NABI Shallallahu ‘Alaihi Wasallam
Ditulis oleh : أُسْتَاذُ Muhammad Wasitho Abu Fawaz, Lc MA - حفظه الله تعالى
عن رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم قال : ليلة المعراج عندما وصلت إلى السماء رأيت ملكاً له ألف يد وفي كل يد ألف إصبع وكان يعد بأصابعه، فسألت جبرائيل عليه السلام عن اسمه وعن وظيفته وعمله، فقال إنه ملك موكل على عدد قطرات المطر النازلة إلى الأرض .. فسألت الملك : هل تعلم عدد قطرات المطر النازلة من السماء إلى الأرض منذ خلق الله الأرض ؟
فأجاب الملك : يا رسول الله (صلى الله عليه وسلم) والله الذي بعثك بالحق نبياًَ إني لأعلم عدد قطرات المطر النازلة من السماء إلى الأرض عامة وكما أعلم الساقطة في البحار والقفار والمعمورة والمزروعة والأرض السـبخة والمقابر.
قال النبي (صلى الله عليه وسلم): فتعجبت من ذكائه وذاكرته في الحساب .. فقال الملك : يا رسول الله (صلى الله عليه وسلم) ولكني بما لدي من الأيدي والأصابع وما عندي من الذاكرة والذكاء فإني أعجز من عد أمر واحد . فقلت له: وما ذاك الأمر ؟
قال الملك : إذا اجتمع عدد من أفراد أمتك في محفل وذكروا اسمك فصلوا عليك . فحينذاك أعجز عن حفظ ما لهؤلاء من الأجر والثواب إزاء صلواتهم عليك ….
TERJEMAH HADITS:
Diriwayatkan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwa beliau bersabda: “Disaat aku tiba di langit di malam Isra’ Miraj, aku melihat satu malaikat memiliki 1000 (seribu) tangan, di setiap tangan ada 1000 (seribu) jari. Malaikat itu sedang menghitung dengan menggunakan jari-jemarinya. Aku bertanya kepada malaikat Jibril alaihissalam, ‘Siapa gerangan malaikat itu, dan apa tugasnya?.’
Jibril menjawab, ‘Sesungguhnya dia adalah malaikat yang diberi tugas untuk menghitung tetesan air hujan yang turun dari langit ke bumi.’
Maka aku (Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam) bertanya kepada malaikat tadi, ‘Apakah kamu tahu berapa bilangan tetesan air hujan yang turun dari langit ke bumi sejak Allah ciptakan bumi?.’
Malaikat itupun berkata, ‘Wahai Rasulullah, demi yang telah mengutusmu dengan membawa kebenaran, sesungguhnya aku mengetahui semua jumlah tetesan air hujan yang turun dari langit ke bumi. Dan aku juga mengetahui secara rinci berapa jumlah tetesan hujan yang jatuh di lautan, di daratan, di bangunan, di perkebunan, di daratan yang bergaram, dan di pekuburan.’
Mendengar uraian malaikat tadi, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sangat takjub atas kecerdasan dan daya ingatnya dalam perhitungan. Kemudian malaikat tadi berkata kepada beliau, ‘Wahai Rasulallah, walaupun aku memiliki seribu tangan dan sejuta jari dan diberikan kepandaian dan keulungan (untuk menghitung tetesan air hujan yang yang turun dari langit ke bumi), tapi aku tidak mampu menghitung satu perkara.’
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun bertanya, ‘Perkara apakah itu?.’
Malaikat itupun menjawab, ‘(Kekurangan dan kelemahanku, wahai Rasulullah), jika umatmu berkumpul di satu tempat, mereka menyebut namamu lalu bershalawat atasmu, pada saat itu aku tidak bisa menghitung berapa banyaknya pahala yang diberikan Allah kepada mereka atas shalawat yang mereka ucapkan atas dirimu.’”
DERAJAT HADITS:
Hadits ini derajatnya PALSU (Maudhu’) dan BATIL karena Tidak Ada Asal-usulnya. Dan diantara tanda atau ciri kepalsuannya adalah sebagai berikut:
1) Hadits Palsu tersebut TIDAK ADA di dalam kitab-kitab hadits yang disusun para ulama Ahlus Sunnah Wal Jama’ah, seperti kitab Shohih Al-Bukhari, Shohih Muslim, Sunan Abu Daud, Sunan An-Nasai, Sunan At-Tirmidzi, Sunan Ibnu Majah, Musnad Imam Ahmad, Sunan Ad-Darimi, Sunan Ad-Daruquthni, Shohih Ibnu Hibban, Shohih Ibnu Khuzaimah, Sunan Al-Baihaqi, dsb. Bahkan di dalam kitab hadits-hadits Dho’if dan Palsu karya para ulama Sunnah pun hadits tersebut tidak ditemukan, sebagaimana dinyatakan oleh sebagian para ulama dan penuntut ilmu hadits.
2) Hadits Palsu ini disebutkan di dalam kitab-kitab hadits karya para tokoh (baca: pendeta) Syi’ah Rofidhoh dengan tanpa menyebutkan sanadnya. Dan juga disebutkan di dalam situs-situs Syi’ah di internet, diantaranya:
1. Kitab Mustadrok Al-Wasa-il karya An-Nuri Ath-Thobrosi Ar-Rofidhi V/355 hadits ke-72, cetakan ke-2, pustaka Alul Bait.
2. Manazilu Al-Akhiroti Wal Matholibu Al-Fakhirotu karya Abbas Al-Qummi Ar-rofidhi, cetakan Muassasah An-Nasyr Al-Islami.
3. http://www.al-shia.org/html/id/service/maqalat/003/11.html
3) Ditinjau dari lafazhnya, maka susunan kalimat hadits palsu tersebut tidak baik dan tidak fasih. Sehingga sangat mustahil hadits ini datang dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, karena beliau telah diberi Allah mukjizat jawami’ul kalim, yakni kemampuan berbicara dengan bahasa Arab yang paling fasih dengan kalimat yang singkat namun maknanya luas dan padat. Sementara di dalam hadits palsu ini terdapat kata Dzaakiroh (ذاكرة) yang artinya daya ingat, dan Dzakaa’ (ذكاء) yang artinya kecerdasan, yang mana kedua kata itu termasuk kata-kata modern yang sering diucapkan oleh orang-orang zaman sekarang. Sehingga dengan demikian dapat disimpulkan bahwa orang yang memalsukan hadits ini bukan orang yang hidup di zaman generasi salaf, tetapi ia hidup di zaman belakangan ini setelah berlalunya generasi as-salaf.
4) Di dalam hadits palsu ini disebutkan bahwa malaikat yang memiliki 1000 (seribu) tangan, dan pada setiap tangan terdapat 1000 (seribu) jari mampu menghitung jumlah tetesan air hujan, maka hadits ini menjadi BATIL karena bertentangan dengan firman Allah ta’ala:
وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لاَ تُحْصُوهَا
Artinya: “Dan jika kalian menghitung nikmat Allah, niscaya kalian tidak mampu untuk menghitungnya.” (QS. Ibrahim: 34).
Dan air hujan merupakan salah satu nikmat dari sekian banyak nikmat Allah yang dilimpahkan kepada hamba-hamba-nya. Maka bagaimana mungkin tetesan air hujan dapat dihitung jumlahnya malaikat atau makhluk lainnya?!
Demikian penjelasan tentang derajat hadits ini yang banyak tersebar di media internet atau melalui BBM, atau selainnya. Semoga Allah ta’ala melindungi kita semua dari bahaya mempercayai, mengamalkan dan menyebarluaskan hadits-hadits lemah dan palsu.
Alhamdulillah, dengan taufiq dan pertolongan-Nya, artikel ini telah selesai ditulis di Klaten, pada pagi hari Jumat, 17 januari 2014. Semoga bermanfaat bagi kita semua. Aamiin.
.-------๑๑•°♥°•๑๑-------
Jumat, 27 Desember 2013
Keutamaan Ulama Robbani Dan Bahaya Pemimpin Yang Bodoh
Keutamaan Ulama Robbani Dan Bahaya Pemimpin Yang BodohDitulis oleh : أُسْتَاذُ Muhammad Wasitho Abu Fawaz, Lc MA - حفظه الله تعالى
عَنْ عَبْدِ الله بن عَمْرِو بن العاصِ ” رضي الله عنهما ” قال : سَمِعْت رسول الله صلى الله عليه وسلَّم يقول :
إِنَّ اللَّهَ لَا يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنَ الْعِبَادِ وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالًا فَسُئِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا
(رواه البخاري ومسلم)
Dari Abdullah bin ‘Amr bin Al-’Ash radhiyallahu anhuma, ia berkata:
Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu (syar’i) dengan sekali cabut dari hati manusia. Akan tetapi Allah mencabut ilmu dengan cara mewafatkan para ‘ulama. Kalau Allah tidak lagi menyisakan seorang ‘ulama pun, maka manusia akan menjadikan pemimpin-pemimpin yang bodoh. Kemudian para pemimpin bodoh tersebut akan ditanya dan mereka pun berfatwa tanpa ilmu. Akhirnya mereka sesat dan menyesatkan. (Diriwayatkan oleh imam Al-Bukhari nomor hadits: 100, 7307, dan imam Muslim nomor hadits: 2673)
BEBERAPA PELAJARAN PENTING DAN FAEDAH ILMIYAH YANG DAPAT DIAMBIL DARI HADITS INI:
1. Hadits ini menunjukkan akan agungnya nikmat ilmu syar’i yang Allah anugerahkan kepada hamba-hamba-Nya yang Dia kehendaki.
2. Betapa tinggi dan agungnya kedudukan para ulama robbani yang senantiasa menyeru dan mengajarkan kepada umat manusia Kitabullah (AL-Quran Al-Karim) dan Sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam (hadits-hadits yang shohih) dengan pemahaman yang lurus dan benar.
Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu anhu berkata: “Wajib atas kalian untuk menuntut ilmu, sebelum ilmu tersebut dihilangkan. Hilangnya ilmu adalah dengan wafatnya para ‘ulama. Demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya, sungguh orang-orang yang terbunuh di jalan Allah sebagai syuhada, mereka sangat menginginkan agar Allah membangkitkan mereka dengan kedudukan seperti kedudukannya para ‘ulama, karena mereka melihat begitu besarnya kemuliaan para ‘ulama. Sungguh tidak ada seorang pun yang dilahirkan dalam keadaan sudah berilmu. Ilmu itu tidak lain didapat dengan cara belajar.” (Lihat Al-’Imu, karya Ibnul Qayyim, hal.94)
3. Wafatnya para ulama robbani merupakan musibah terbesar yang menimpa umat Islam. Dan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam adalah imam para ulama robbani.
Al-Imam Ayyub As-Sakhtiyani rahimahullah berkata :
“Sungguh ketika sampai kepadaku (berita) kematian seorang (ulama) dari Ahlus Sunnah, maka seakan-akan hilanglah satu anggota tubuhku.”
Diriwayatkan dari Asy-Sya’bi, dari Masruq dari Ibnu Mas’ud, bahwa beliau berkata : “Tidaklah datang suatu masa melainkan pasti lebih buruk daripada masa sebelumnya. Maksud saya bukanlah seorang pemimpin lebih baik daripada pemimpin lainnya, bukan pula suatu tahun lebih baik daripada tahun lainnya. Namun maksud saya adalah perginya para ‘ulama dan ahli fiqh, kemudian kalian tidak menemukan penggantinya. Lalu datanglah suatu kaum yang berfatwa atas dasar logika mereka.” (Lihat Fathul Bari, syarh hadits no. 7068)
Imam Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata : “Para ‘ulama Salaf mengatakan: “Kematian seorang ‘ulama (robbani) adalah cela dalam tubuh Islam. Tidak mungkin ditambal dengan apapun sepanjang zaman.” (Diriwayatkan oleh Ad-Darimi no.324)
Hilal bin Khabbab rahimahullah berkata: Saya bertanya kepada Sa’id bin Jubair : “Wahai Abu Abdillah, apakah tanda kehancuran manusia?” Beliau menjawab : “Apabila ‘ulama-’ulama mereka telah wafat.” (Diriwayatkan oleh Ad-Darimi no.251)
4. Hadits ini juga menunjukkan betapa besar ambisi orang-orang bodoh dan sesat untuk menjadi imam dan pemimpin bagi kaum muslimin.
5. Kaum muslimin senantiasa merasa butuh akan keberadaan para ulama robbani yang dapat menuntun mereka ke jalan kebaikan, kebenaran dan keselamatan, serta memperingatkan mereka dari setiap keburukan, kesesatan dan kebinasaan.
6. Betapa besarnya ambisi orang-orang bodoh lagi sesat untuk berpenampilan dan bertingkah seperti para ulama. Hal ini dikarenakan mereka mengetahui bahwa keberadaan para ulama robbani selalu dibutuhkan oleh manusia.
7. Betapa besarnya bahaya berbicara tentang agama tanpa ilmu. Hal ini dikarena mudhorot yang ditimbulkannya akan menimpa individu dan masyarakat muslim secara merata.
8. Betapa besarnya dosa orang yang berfatwa tanpa dasar ilmu syar’i yang kuat dan benar. Dimana Ia akan menanggung dosa sebanyak orang-orang yang tersesat akibat fatwanya.
Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam :
وَمَنْ دَعَا إِلَى ضَلَالَةٍ, كَانَ عَلَيْهِ مِنْ الْإِثْمِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ تَبِعَهُ, لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أوزارهم شَيْئًا
“Barangsiapa yang menyeru kepada kesesatan, maka ia akan menanggung dosanya dan dosa para pengikutnya tanpa mengurangi dosa mereka sedikit pun.” (HR. Muslim dari jalan Abu Hurairah radhiyallahu anhu)
9. Barangsiapa yang ingin terjun ke medan dakwah dan memperbaiki keadaan umat manusia, maka hendaknya Ia bersungguh-sungguh untuk membekali dirinya dengan ilmu syar’i yang bersumber dari Al-Qur'an dan As-Sunnah dengan manhaj (pemahaman) yang benar. Sebab, orang yang berdakwah kepada Allah dengan niat yang baik dan semangat yang tinggi namun tanpa bekal ilmu syar’i yang cukup, maka Ia akan lebih banyak merusak keadaan umat daripada memperbaikinya.
10. Besarnya dosa orang yang menghina dan mencaci maki para ulama robbani serta menjauhkan manusia Dari menimba ilmu kepada mereka.
11. Diantara sebab utama tersebarnya bid’ah-bid’ah di tengah masyarakat Muslim ialah Tidak Adanya ulama robbani, atau menjadikan manusia merasa tidak butuh kepada ilmu yang diajarkan Oleh para ulama robbani.
Demikianlah beberapa pelajaran penting dan faedah ilmiyah yang dapat kita ambil Dari hadits ini. Semoga menjadi ilmu yang bermanfaat bagi kita semua.
Madinah, 24 Desember 2013
♠̣̣̇̇♠̣̣̇̇♠̣̣̇̇♠̣̣̇̇♠̣̣̇̇♠̣̣̇̇♠̣̣̇̇♠̣̣̇̇♠̣̣̇̇♠̣̣̇̇♠̣̣̇̇♠̣̣̇̇♠̣̣̇̇♠̣̣̇̇♠̣̣̇̇♠̣̣̇̇♠̣̣̇̇♠̣̣̇̇♠̣̣̇̇♠̣̣̇̇
Sabtu, 21 Desember 2013
KEAGUNGAN SHOLAWAT KEPADA NABI BERDASARKAN HADITS-HADITS YANG SHOHIH
(*)KEAGUNGAN SHOLAWAT KEPADA NABI BERDASARKAN HADITS-HADITS YANG SHOHIH(*)
Bersholawat kepada Nabi Muhammad merupakan salah satu ibadah yang sangat agung. Ia termasuk dalam amalan-amalan ringan yang sangat besar pahala dan keutamaannya. Seorang muslim yang setia dan mencintai Nabi shallallahu alaihi wasallam dengan baik dan benar akan senantiasa memperbanyak sholawat dan salam kepada beliau sesuai dengan bacaan yang diajarkan dan dicontohkan oleh beliau.
Berikut ini kami akan sebutkan beberapa keutamaan bersholawat kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam:
1) Barangsiapa bersholawat kepada Nabi Muhammad satu kali, maka Allah akan bersholawat kepadanya sepuluh kali sholawat.
2) Bersholawat kepada Nabi satu kali akan menghapuskan 10 kesalahan dan meninggikan 10 derajat.
3) Barangsiapa bersholawat kepada Nabi sepuluh kali di pagi hari dan sepuluh kali di sore hari, maka ia berhak mendapatkan syafa'at Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam pada hari kiamat.
4) Bersholawat kepada Nabi Muhammad merupakan salah satu sebab terkabulnya doa.
5) Barangsiapa bersholawat kepada Nabi Muhammad, berarti ia telah melaksanakan perintah Allah ta'ala di dalam Al-Quran Al-Karim.
» Pertanyaan:
Bagaimanakah cara bersholawat kepada Nabi Muhammad yang benar sehingga kita memperoleh pahala dan keutamaan-keutamaan yang telah disebutkan di atas?
Ditulis oleh : أُسْتَاذُ Muhammad Wasitho Abu Fawaz, Lc MA - حفظه الله تعالى
-------๑๑•°♥°•๑๑-------
Bersholawat kepada Nabi Muhammad merupakan salah satu ibadah yang sangat agung. Ia termasuk dalam amalan-amalan ringan yang sangat besar pahala dan keutamaannya. Seorang muslim yang setia dan mencintai Nabi shallallahu alaihi wasallam dengan baik dan benar akan senantiasa memperbanyak sholawat dan salam kepada beliau sesuai dengan bacaan yang diajarkan dan dicontohkan oleh beliau.
Berikut ini kami akan sebutkan beberapa keutamaan bersholawat kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam:
1) Barangsiapa bersholawat kepada Nabi Muhammad satu kali, maka Allah akan bersholawat kepadanya sepuluh kali sholawat.
2) Bersholawat kepada Nabi satu kali akan menghapuskan 10 kesalahan dan meninggikan 10 derajat.
3) Barangsiapa bersholawat kepada Nabi sepuluh kali di pagi hari dan sepuluh kali di sore hari, maka ia berhak mendapatkan syafa'at Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam pada hari kiamat.
4) Bersholawat kepada Nabi Muhammad merupakan salah satu sebab terkabulnya doa.
5) Barangsiapa bersholawat kepada Nabi Muhammad, berarti ia telah melaksanakan perintah Allah ta'ala di dalam Al-Quran Al-Karim.
» Pertanyaan:
Bagaimanakah cara bersholawat kepada Nabi Muhammad yang benar sehingga kita memperoleh pahala dan keutamaan-keutamaan yang telah disebutkan di atas?
Ditulis oleh : أُسْتَاذُ Muhammad Wasitho Abu Fawaz, Lc MA - حفظه الله تعالى
-------๑๑•°♥°•๑๑-------
Rabu, 18 Desember 2013
BIARKANLAH ORANG-ORANG SYI'AH KEBINGUNGAN DALAM MENJAWAB PERTANYAAN-PERTANYAAN BERIKUT INI:
(*) BIARKANLAH ORANG-ORANG SYI'AH KEBINGUNGAN DALAM MENJAWAB PERTANYAAN-PERTANYAAN BERIKUT INI:
Pertanyaan-pertanyaan di bawah ini kami pilihkan n terjemahkan dr kitab As'ilatun Qoodat Syabaaba Asy-Syii'ati ilaa al-Haq, karya syaikh Sulaiman bin Sholih al-Khorosyi hafizhohullah.
(1) Orang-orang Syi'ah Imamiyyah Itsna 'Asyariyyah menuduh para SAHABAT Nabi shallallahu alaihi wasallam secara keji, dusta dan batiL bahwa mereka adalah orang-orang yang MURTAD dari agama Islam setelah wafatnya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.
* Syi'ah Imamiyah Itsna 'Asyariyyah ialah orang-orang Syi'ah yang meyakini adanya imam yg berjumlah 12 (dua belas) orang dr keturunan Fathimah putri Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Dan Syi'ah Imamiyah ini disebut jg Syi'ah Rofidhoh. Syi'ah inilah yg dianut oleh warga Iran dan tersebar di berbagai negara muslim sunni spt di negeri kita Indonesia Raya.
(*) PERTANYAANNYA:
Apakah para sahabat radhiyallahu 'anhum sebelum Nabi shallallahu alaihi wasallam wafat mereka berpemahaman dan beraliran Syi'ah Imamiyyah Itsna 'Asyariyyah? Lalu setelah Nabi shallallahu alaihi wasallam wafat mereka berubah menjadi Ahlus Sunnah?
Ataukah sebelum Nabi wafat, mereka itu berpemahaman n bermadzhab Ahlus Sunnah, lalu sesudah beliau wafat mereka berubah menjadi Syi'ah Imamiyyah Itsna 'Asyariyyah (Syi'ah Rofidhoh) ?
--- ## ---
(2) Orang-orang Syi'ah mengatakan, bahwa hukum menangisi (atau meratapi) kematian (atau terbunuhnya) Husain bin Ali bin Abi Tholib adalah Sunnah.
(*) PERTANYAANNYA:
Apakah hukum sunnah ini dibangun atas dasar dalil syar'i ataukah berdasarkan hawa nafsu belaka? Dan jika berdasarkan dalil syar'i, maka manakah dalilnya?
Lalu Pertanyaan berikutnya, mengapa tidak ada seorang imam pun dari imam-imam Ahlul Bait yang melakukannya (yakni menangisi kematian Al-Husain)? Padahal kalian mengklaim bahwa kalian adalah pengikut setia mereka.
(Monggo dijawab sebisane, pak Dhe ) :D
(3) Orang-orang Syi'ah berkeyakinan bahwa Ali bin Abu Tholib Lebih afdhol (utama) daripada putranya, Al-Husain. Jika kenyataannya demikian, maka,
(*) PERTANYAANNYA:
Kenapa kalian tidak menangisi Ali bin AbuTholib ketika mengenang kematiannya sebagaimana kalian menangisi kematian putranya, (yakni Al-Husain bin Ali bin Abi Tholib) ? Dan bukankah Nabi shallallahu alaihi wasallam adalah hamba Allah yang Lebih afdhol daripada keduanya (yakni Ali bin Abi Tholib n Husain)? Lalu, mengapa kalian tidak menangisi kematian Nabi shallallahu alaihi wasallam melebihi tangisan dan kesedihan kalian atas kematian cucu beliau, Al-Husain?
----------- ##### -----------
(4) Al-Masjidil Aqsho telah berhasil dibebaskan dan dikuasai oleh kaum muslimin di zaman pemerintahan Kholifah Umar bin Khoththob radiyallahu anhu, dan panglima perang Sunni Sholahuddin Al-Ayyubi rahimahullah.
(*) PERTANYAANNYA:
Apa saja keberhasilan dan jasa-jasa orang-orang Syi'ah (bagi Islam dan kaum muslimin) sepanjang sejarah Islam?
Apakah mereka telah mampu menaklukkan dan menguasai sejengkal tanah, serta mengalahkan, mengusir dan menumpas musuh-musuh Islam dan kaum muslimin?
» PR ini ditujukan secara khusus kpd orang-orang Syi'ah sj (bukan Ahlus Sunnah). Yg merasa Syi'ah monggo menjawabnya bareng-bareng. :D
(Bersambung dengan pertanyaan ke-5 dan seterusnya, إِنْ شَاءَ اللّهُ )
» BBG Majlis Hadits, chat room Bening Hati.
Ditulis oleh: أُسْتَاذُ Muhammad Wasitho Abu Fawaz, Lc MA - حفظه الله تعالى
♥♥♡♡♡♥♥♡♡♡♥♥♡♡♡♥♥♡♡♡♥♥
Pertanyaan-pertanyaan di bawah ini kami pilihkan n terjemahkan dr kitab As'ilatun Qoodat Syabaaba Asy-Syii'ati ilaa al-Haq, karya syaikh Sulaiman bin Sholih al-Khorosyi hafizhohullah.
(1) Orang-orang Syi'ah Imamiyyah Itsna 'Asyariyyah menuduh para SAHABAT Nabi shallallahu alaihi wasallam secara keji, dusta dan batiL bahwa mereka adalah orang-orang yang MURTAD dari agama Islam setelah wafatnya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.
* Syi'ah Imamiyah Itsna 'Asyariyyah ialah orang-orang Syi'ah yang meyakini adanya imam yg berjumlah 12 (dua belas) orang dr keturunan Fathimah putri Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Dan Syi'ah Imamiyah ini disebut jg Syi'ah Rofidhoh. Syi'ah inilah yg dianut oleh warga Iran dan tersebar di berbagai negara muslim sunni spt di negeri kita Indonesia Raya.
(*) PERTANYAANNYA:
Apakah para sahabat radhiyallahu 'anhum sebelum Nabi shallallahu alaihi wasallam wafat mereka berpemahaman dan beraliran Syi'ah Imamiyyah Itsna 'Asyariyyah? Lalu setelah Nabi shallallahu alaihi wasallam wafat mereka berubah menjadi Ahlus Sunnah?
Ataukah sebelum Nabi wafat, mereka itu berpemahaman n bermadzhab Ahlus Sunnah, lalu sesudah beliau wafat mereka berubah menjadi Syi'ah Imamiyyah Itsna 'Asyariyyah (Syi'ah Rofidhoh) ?
--- ## ---
(2) Orang-orang Syi'ah mengatakan, bahwa hukum menangisi (atau meratapi) kematian (atau terbunuhnya) Husain bin Ali bin Abi Tholib adalah Sunnah.
(*) PERTANYAANNYA:
Apakah hukum sunnah ini dibangun atas dasar dalil syar'i ataukah berdasarkan hawa nafsu belaka? Dan jika berdasarkan dalil syar'i, maka manakah dalilnya?
Lalu Pertanyaan berikutnya, mengapa tidak ada seorang imam pun dari imam-imam Ahlul Bait yang melakukannya (yakni menangisi kematian Al-Husain)? Padahal kalian mengklaim bahwa kalian adalah pengikut setia mereka.
(Monggo dijawab sebisane, pak Dhe ) :D
(3) Orang-orang Syi'ah berkeyakinan bahwa Ali bin Abu Tholib Lebih afdhol (utama) daripada putranya, Al-Husain. Jika kenyataannya demikian, maka,
(*) PERTANYAANNYA:
Kenapa kalian tidak menangisi Ali bin AbuTholib ketika mengenang kematiannya sebagaimana kalian menangisi kematian putranya, (yakni Al-Husain bin Ali bin Abi Tholib) ? Dan bukankah Nabi shallallahu alaihi wasallam adalah hamba Allah yang Lebih afdhol daripada keduanya (yakni Ali bin Abi Tholib n Husain)? Lalu, mengapa kalian tidak menangisi kematian Nabi shallallahu alaihi wasallam melebihi tangisan dan kesedihan kalian atas kematian cucu beliau, Al-Husain?
----------- ##### -----------
(4) Al-Masjidil Aqsho telah berhasil dibebaskan dan dikuasai oleh kaum muslimin di zaman pemerintahan Kholifah Umar bin Khoththob radiyallahu anhu, dan panglima perang Sunni Sholahuddin Al-Ayyubi rahimahullah.
(*) PERTANYAANNYA:
Apa saja keberhasilan dan jasa-jasa orang-orang Syi'ah (bagi Islam dan kaum muslimin) sepanjang sejarah Islam?
Apakah mereka telah mampu menaklukkan dan menguasai sejengkal tanah, serta mengalahkan, mengusir dan menumpas musuh-musuh Islam dan kaum muslimin?
» PR ini ditujukan secara khusus kpd orang-orang Syi'ah sj (bukan Ahlus Sunnah). Yg merasa Syi'ah monggo menjawabnya bareng-bareng. :D
(Bersambung dengan pertanyaan ke-5 dan seterusnya, إِنْ شَاءَ اللّهُ )
» BBG Majlis Hadits, chat room Bening Hati.
Ditulis oleh: أُسْتَاذُ Muhammad Wasitho Abu Fawaz, Lc MA - حفظه الله تعالى
♥♥♡♡♡♥♥♡♡♡♥♥♡♡♡♥♥♡♡♡♥♥
Jumat, 06 Desember 2013
10 SEBAB AGAR DICINTAI ALLAH
(*) 10 SEBAB AGAR DICINTAI ALLAH (*)
Ditulis oleh: أُسْتَاذُ Muhammad Wasitho Abu Fawaz, Lc MA - حفظه الله تعالى
» Imam Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah rahimahullah berkata:
” Sesungguhnya sebab-sebab yang dapat mendatangkan kecintaan dari ALLAH ada sepuluh (yaitu):
1. Membaca dan mentadabburi Al-Qur’an serta memahami makna-maknanya dan maksud yang terkandung di dalamnya.
2. Mendekatkan diri kepada ALLAH dengan menjalankan amalan-amalan yang sunnah sesudah amalan-amalan yang wajib.
3. Terus-menerus berdzikir kepada ALLAH dalam setiap kondisi, baik dengan lisan, hati, perbuatan maupun keadaan, karena kadar kecintaan
tergantung pada dzikirnya. (semakin cinta berarti semakin banyak dzikr/ingat kepada yang dicintai -pent).
4. Mengutamakan apa-apa yang ALLAH cintai daripada apa yang engkau cintai ketika hawa nafsu berkuasa.
5. Hati senantiasa menelaah serta memperhatikan nama-nama ALLAH dan sifat-sifat-NYA, dan mendalaminya di taman dan medan ilmu pengetahuan ini.
6. Menyaksikan berbagai kebaikan dan nikmat ALLAH yang lahir dan batin.
7. Merasa rendah dan tunduk hatinya di hadapan ALLAH, dan ini merupakan sebab yang sangat menakjubkan.
8. Menyendiri untuk beribadah pada sepertiga terakhir dari waktu malam dan membaca kitab-NYA (Al-Quran Al-Karim), lalu menutup (bacaan)nya dengan istighfar dan taubat.
9. Bermajelis dengan orang-orang yang mencintai ALLAH dengan jujur, mengambil buah yang baik dari perkataan mereka, dan engkau tidak berbicara kecuali tampak kuat adanya maslahat dalam berbicara, serta engkau tahu akan manfaat bagi dirimu dan orang lain.
10. Menjauhi setiap sebab yang menjadi penghalang antara hati dengan ALLAH.
Dan dari sepuluh sebab inilah, orang-orang yang mencintai (ALLAH) telah sampai pada kedudukan kecintaan (dari ALLAH yang sangat tinggi).
» (Lihat kitab Madarijus Salikin, karya Ibnul Qoyyim Al-Jauziyyah III/17-18).
Demikian Faedah ilmiyah yg dapat kami sampaikan pada malam Jumat yg mulia ini. Smg bermanfaat bagi kita semua. Wabillahi at-Taufiq. (Klaten, 5 Desember 2013).
» BBG Majlis Hadits, chat room Bening Hati.
•☆°• •°☆•**•☆°• •°☆•**•☆*•☆°• •°☆•
Ditulis oleh: أُسْتَاذُ Muhammad Wasitho Abu Fawaz, Lc MA - حفظه الله تعالى
» Imam Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah rahimahullah berkata:
” Sesungguhnya sebab-sebab yang dapat mendatangkan kecintaan dari ALLAH ada sepuluh (yaitu):
1. Membaca dan mentadabburi Al-Qur’an serta memahami makna-maknanya dan maksud yang terkandung di dalamnya.
2. Mendekatkan diri kepada ALLAH dengan menjalankan amalan-amalan yang sunnah sesudah amalan-amalan yang wajib.
3. Terus-menerus berdzikir kepada ALLAH dalam setiap kondisi, baik dengan lisan, hati, perbuatan maupun keadaan, karena kadar kecintaan
tergantung pada dzikirnya. (semakin cinta berarti semakin banyak dzikr/ingat kepada yang dicintai -pent).
4. Mengutamakan apa-apa yang ALLAH cintai daripada apa yang engkau cintai ketika hawa nafsu berkuasa.
5. Hati senantiasa menelaah serta memperhatikan nama-nama ALLAH dan sifat-sifat-NYA, dan mendalaminya di taman dan medan ilmu pengetahuan ini.
6. Menyaksikan berbagai kebaikan dan nikmat ALLAH yang lahir dan batin.
7. Merasa rendah dan tunduk hatinya di hadapan ALLAH, dan ini merupakan sebab yang sangat menakjubkan.
8. Menyendiri untuk beribadah pada sepertiga terakhir dari waktu malam dan membaca kitab-NYA (Al-Quran Al-Karim), lalu menutup (bacaan)nya dengan istighfar dan taubat.
9. Bermajelis dengan orang-orang yang mencintai ALLAH dengan jujur, mengambil buah yang baik dari perkataan mereka, dan engkau tidak berbicara kecuali tampak kuat adanya maslahat dalam berbicara, serta engkau tahu akan manfaat bagi dirimu dan orang lain.
10. Menjauhi setiap sebab yang menjadi penghalang antara hati dengan ALLAH.
Dan dari sepuluh sebab inilah, orang-orang yang mencintai (ALLAH) telah sampai pada kedudukan kecintaan (dari ALLAH yang sangat tinggi).
» (Lihat kitab Madarijus Salikin, karya Ibnul Qoyyim Al-Jauziyyah III/17-18).
Demikian Faedah ilmiyah yg dapat kami sampaikan pada malam Jumat yg mulia ini. Smg bermanfaat bagi kita semua. Wabillahi at-Taufiq. (Klaten, 5 Desember 2013).
» BBG Majlis Hadits, chat room Bening Hati.
•☆°• •°☆•**•☆°• •°☆•**•☆*•☆°• •°☆•
Jumat, 29 November 2013
HUKUM MENGUMANDANGKAN ADZAN DI TELINGA BAYI YANG BARU LAHIR
(*) HUKUM MENGUMANDANGKAN ADZAN DI TELINGA BAYI YANG BARU LAHIR
Tanya:
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
Ustadz, عَفْوًا, ada pertanyaan dari member Majlis Hadits Akhwat 22 tentang hukum Adzan di telinga bayi yg baru lahir, berkaitan dgn broadcast ustadz kemarin ttg ‘INGATLAH KETIKA ENGKAU MATI’ :
1. Ketika engkau dilahirkan, engkau diadzani, namun tanpa disholati.
Utk point nomer 1 tentang di adzani saat dilahirkan adakah haditsnya? Ustadz
شكرا ustadz. بارك الله فيك ..
Jawaban oleh: أُسْتَاذُ Muhammad Wasitho Abu Fawaz, Lc MA - حفظه الله تعالى
وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ
Ummu Salsabila yg smg dirahmati Allah,
Bismillah. Berkaitan dengan masalah adzan di telinga kanan bayi yg baru lahir, ada dalilnya dr hadits Nabi shallallahu alaihi wasallam. Akan tetapi para ulama hadits berselisih pendapat ttg derajatnya.
Ada diantara mereka yg menilai derajatnya Dho’if, spt syaikh Al-Albani, syaikh Ibnu Utsaimin, dll. Dan ada pula yg menilai derajatnya HASAN (Hasan Lighorihi), spt imam At-Tirmidzi, Ibnul Qoyyim Al-Jauziyyah, dll.
» Bagi siapa yg memandang haditsnya Dho’if, maka janganlah ia mengamalkannya.
» Dan bagi siapa yg menilai derajat haditsnya Hasan, karena mengikuti para ulama hadits yg meng-Hasan-kannya, maka ia boleh mengamalkannya.
Dan bagi yg mengumandangkan adzan pd telinga bayi yg baru lahir, maka ia tidak diingkari n dicela, sebagaimana fatwa sebagian ulama spt syaikh Bin Baz dan Komite Tetap utk Fatwa n Riset Ilmiyah di Arab Saudi. Wallahu a’lam bish-showab. Wabillahi at-Taufiq.
(*) Berikut ini kami sertakan Fatwa Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah berkaitan dengan Hukum Adzan di Telinga Bayi yg Baru Lahir.
(*) Pertanyaan:
Tentang adzan di telinga kanan bayi dan iqomah di telinga kiri bayi, apa hukumnya?
(*) Jawaban Syaikh Bin Baz rahimahullah:
هذا مشروع عند جمع من أهل العلم، وقد ورد فيه بعض الأحاديث، وفي سندها مقال، فإذا فعله المؤمن حسن؛ لأنه من باب السنن ومن باب التطوعات،
Hal tersebut dituntunkan menurut sejumlah ulama. Ada beberapa hadits mengenai hal ini namun ada pembicaraan mengenai kualitas sanadnya. Jika ada seorang mukmin yang melakukannya maka itu adalah suatu hal yang baik, karena amalan ini termasuk amalan yang dianjurkan.
والحديث في سنده عاصم بن عبيد الله بن عاصم بن عمر بن الخطاب وفيه ضعف، وله شواهد،
Hadits tentang masalah ini dalam sanadnya terdapat perawi yang bernama ‘Ashim bin ‘Ubaidillah bin ‘Ashim bin Umar bin Khattab dan beliau adalah perawi yang memiliki kelemahan namun terdapat sejumlah riwayat yang menguatkannya.
وقد فعل النبي صلى الله عليه وسلم في تسمية إبراهيم، ولم يحفظ عنه أنه أذن لما ولد له إبراهيم، سماه إبراهيم ولم يحفظ عنه أنه أذن في أذنه اليمنى وأقام في اليسرى، وهكذا الأولاد الذين يؤتى بهم إليه من الأنصار ليحنكهم ويسميهم لم أقف على أنه أذن في أذن واحد منهم وأقام،
Ketika Nabi member nama untuk anaknya Ibrahim tidak terdapat riwayat yang menunjukkan bahwa beradzan di telinga kanan Ibrahim dan mengumandangkan iqomah di telinga kirinya. Demikian pula bayi-bayi dari kalangan Anshor yang dibawa ke hadapan Nabi untuk ditahnik dan diberi nama, tidak kujumpai riwayat yang menunjukkan bahwa Nabi mengumandangkan adzan dan iqomah pada telinga bayi tersebut.
ولكن إذا فعل ذلك المؤمن للأحاديث التي أشرنا إليها فلا باس، لأنه يشد بعضها بعضاً، فالأمر في هذا واسع، إن فعله حسن لما جاء في الأحاديث التي يشد بعضها بعضاً، وإن تركه فلا بأس.
Akan tetapi jika ada yang melakukannya menimbang hadits-hadits yang telah kusebutkan, maka tidak mengapa karena riwayat-riwayat yang ada sebagiannya menguatkan sebagian yang lain [sehingga berstatus HASAN lighairihi, pent]. Ringkasnya ada kelonggaran dalam masalah ini. Jika ada yang mengamalkannya, maka itu baik, mengingat hadits-hadits dalam masalah ini sebagiannya menguatkan sebagian yang lain. Tidak melakukannya juga tidak mengapa”.
(*) SUMBER:
http://binbaz.org.sa/mat/9646
(Diterjemahkan oleh ustadz Aris Munandar, dengan Link berikut: http://ustadzaris.com/hukum-adzan-di-telinga-bayi).
» BBG Majlis Hadits, chat room Tanya Jawab.
♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥
Tanya:
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
Ustadz, عَفْوًا, ada pertanyaan dari member Majlis Hadits Akhwat 22 tentang hukum Adzan di telinga bayi yg baru lahir, berkaitan dgn broadcast ustadz kemarin ttg ‘INGATLAH KETIKA ENGKAU MATI’ :
1. Ketika engkau dilahirkan, engkau diadzani, namun tanpa disholati.
Utk point nomer 1 tentang di adzani saat dilahirkan adakah haditsnya? Ustadz
شكرا ustadz. بارك الله فيك ..
Jawaban oleh: أُسْتَاذُ Muhammad Wasitho Abu Fawaz, Lc MA - حفظه الله تعالى
وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ
Ummu Salsabila yg smg dirahmati Allah,
Bismillah. Berkaitan dengan masalah adzan di telinga kanan bayi yg baru lahir, ada dalilnya dr hadits Nabi shallallahu alaihi wasallam. Akan tetapi para ulama hadits berselisih pendapat ttg derajatnya.
Ada diantara mereka yg menilai derajatnya Dho’if, spt syaikh Al-Albani, syaikh Ibnu Utsaimin, dll. Dan ada pula yg menilai derajatnya HASAN (Hasan Lighorihi), spt imam At-Tirmidzi, Ibnul Qoyyim Al-Jauziyyah, dll.
» Bagi siapa yg memandang haditsnya Dho’if, maka janganlah ia mengamalkannya.
» Dan bagi siapa yg menilai derajat haditsnya Hasan, karena mengikuti para ulama hadits yg meng-Hasan-kannya, maka ia boleh mengamalkannya.
Dan bagi yg mengumandangkan adzan pd telinga bayi yg baru lahir, maka ia tidak diingkari n dicela, sebagaimana fatwa sebagian ulama spt syaikh Bin Baz dan Komite Tetap utk Fatwa n Riset Ilmiyah di Arab Saudi. Wallahu a’lam bish-showab. Wabillahi at-Taufiq.
(*) Berikut ini kami sertakan Fatwa Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah berkaitan dengan Hukum Adzan di Telinga Bayi yg Baru Lahir.
(*) Pertanyaan:
Tentang adzan di telinga kanan bayi dan iqomah di telinga kiri bayi, apa hukumnya?
(*) Jawaban Syaikh Bin Baz rahimahullah:
هذا مشروع عند جمع من أهل العلم، وقد ورد فيه بعض الأحاديث، وفي سندها مقال، فإذا فعله المؤمن حسن؛ لأنه من باب السنن ومن باب التطوعات،
Hal tersebut dituntunkan menurut sejumlah ulama. Ada beberapa hadits mengenai hal ini namun ada pembicaraan mengenai kualitas sanadnya. Jika ada seorang mukmin yang melakukannya maka itu adalah suatu hal yang baik, karena amalan ini termasuk amalan yang dianjurkan.
والحديث في سنده عاصم بن عبيد الله بن عاصم بن عمر بن الخطاب وفيه ضعف، وله شواهد،
Hadits tentang masalah ini dalam sanadnya terdapat perawi yang bernama ‘Ashim bin ‘Ubaidillah bin ‘Ashim bin Umar bin Khattab dan beliau adalah perawi yang memiliki kelemahan namun terdapat sejumlah riwayat yang menguatkannya.
وقد فعل النبي صلى الله عليه وسلم في تسمية إبراهيم، ولم يحفظ عنه أنه أذن لما ولد له إبراهيم، سماه إبراهيم ولم يحفظ عنه أنه أذن في أذنه اليمنى وأقام في اليسرى، وهكذا الأولاد الذين يؤتى بهم إليه من الأنصار ليحنكهم ويسميهم لم أقف على أنه أذن في أذن واحد منهم وأقام،
Ketika Nabi member nama untuk anaknya Ibrahim tidak terdapat riwayat yang menunjukkan bahwa beradzan di telinga kanan Ibrahim dan mengumandangkan iqomah di telinga kirinya. Demikian pula bayi-bayi dari kalangan Anshor yang dibawa ke hadapan Nabi untuk ditahnik dan diberi nama, tidak kujumpai riwayat yang menunjukkan bahwa Nabi mengumandangkan adzan dan iqomah pada telinga bayi tersebut.
ولكن إذا فعل ذلك المؤمن للأحاديث التي أشرنا إليها فلا باس، لأنه يشد بعضها بعضاً، فالأمر في هذا واسع، إن فعله حسن لما جاء في الأحاديث التي يشد بعضها بعضاً، وإن تركه فلا بأس.
Akan tetapi jika ada yang melakukannya menimbang hadits-hadits yang telah kusebutkan, maka tidak mengapa karena riwayat-riwayat yang ada sebagiannya menguatkan sebagian yang lain [sehingga berstatus HASAN lighairihi, pent]. Ringkasnya ada kelonggaran dalam masalah ini. Jika ada yang mengamalkannya, maka itu baik, mengingat hadits-hadits dalam masalah ini sebagiannya menguatkan sebagian yang lain. Tidak melakukannya juga tidak mengapa”.
(*) SUMBER:
http://binbaz.org.sa/mat/9646
(Diterjemahkan oleh ustadz Aris Munandar, dengan Link berikut: http://ustadzaris.com/hukum-adzan-di-telinga-bayi).
» BBG Majlis Hadits, chat room Tanya Jawab.
♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥
Senin, 25 November 2013
INGATLAH KETIKA ENGKAU MATI !
INGATLAH KETIKA ENGKAU MATI !
Diterjemahkan oleh: أُسْتَاذُ Muhammad Wasitho Abu Fawaz, Lc MA - حفظه الله تعالى
1. Ketika engkau dilahirkan, engkau diadzani, namun tanpa disholati.
Dan ketika engkau mati, engkau disholati (jenazahmu), namun tanpa adzan.
2. Ketika engkau dilahirkan (di dunia ini), engkau tidak tahu siapakah yg mengeluarkanmu dari dalam perut ibumu.
Demikian pula, ketika engkau mati, engkau tidak tahu siapakah yg akan memikul (jenazah)mu di atas pundak-pundak mereka.
3. Ketika engkau dilahirkan, engkau dimandikan dan dibersihkan.
Demikian pula, ketika engkau mati, engkau dimandikan dan dibersihkan.
4. Ketika engkau dilahirkan, kedua orang tuamu n keluargamu merasa bergembira dengan (kelahiran)mu.
Namun, ketika engkau mati, kedua orang tuamu dan keluargamu menangisi (kematian)mu.
5. Wahai anak cucu Adam, engkau diciptakan dari tanah.
Maka, Maha Suci Allah yang telah menjadikanmu dikubur di dlm tanah (pula) sesudah kematianmu.
6. Ketika engkau berada di dalam perut ibumu, engkau berada di tempat yg sangat sempit nan gelap gulita.
Dan ketika engkau mati, engkau berada di tempat yg sangat sempit nan gelap gulita pula (yakni di dlm liang kubur).
7. Ketika engkau dilahirkan, engkau ditutupi dengan kain (pakaian), agar orang-orang menutupi (tubuh n aurat)mu.
Dan ketika engkau mati, engkau ditutupi dengan kain kafan, agar mereka menutupi (tubuh n aurat)mu pula.
8. Ketika engkau dilahirkan dan telah menjadi dewasa, orang-orang bertanya kepadamu tentang ijazah (pendidikan)mu dan pengalaman/keahlianmu.
Namun, ketika engkau mati, engkau tidak akan ditanya selain tentang amalan sholihmu saja.
» Oleh karena itu, BEKAL APA yg telah engkau siapkan untuk kehidupan sesudah kematianmu?
(*) Diterjemahkan oleh Abu Fawaz Asy-Syirboony dari kitab Kafaa Bil-Mauti Waa’izhon, karya DR. Badr Abdul Hamid Humaisah, hal.29. Klaten, 25 November 2013.
» Artikel BB Group Majlis Hadits, chat room Faedah dan Mau’izhoh Hasanah.
♠̣̣̇̇♠̣̣̇̇♠̣̣̇̇♠̣̣̇̇♠̣̣̇̇♠̣̣̇̇ ♠̣̣̇̇♠̣̣̇̇♠̣̣̇̇♠̣̣̇̇♠̣̣̇̇♠̣̣̇̇ ♠̣̣̇̇♠̣̣̇̇♠̣̣̇̇♠̣̣̇̇♠̣̣̇̇♠̣̣̇̇ ♠̣̣̇̇♠̣̣̇̇
Diterjemahkan oleh: أُسْتَاذُ Muhammad Wasitho Abu Fawaz, Lc MA - حفظه الله تعالى
1. Ketika engkau dilahirkan, engkau diadzani, namun tanpa disholati.
Dan ketika engkau mati, engkau disholati (jenazahmu), namun tanpa adzan.
2. Ketika engkau dilahirkan (di dunia ini), engkau tidak tahu siapakah yg mengeluarkanmu dari dalam perut ibumu.
Demikian pula, ketika engkau mati, engkau tidak tahu siapakah yg akan memikul (jenazah)mu di atas pundak-pundak mereka.
3. Ketika engkau dilahirkan, engkau dimandikan dan dibersihkan.
Demikian pula, ketika engkau mati, engkau dimandikan dan dibersihkan.
4. Ketika engkau dilahirkan, kedua orang tuamu n keluargamu merasa bergembira dengan (kelahiran)mu.
Namun, ketika engkau mati, kedua orang tuamu dan keluargamu menangisi (kematian)mu.
5. Wahai anak cucu Adam, engkau diciptakan dari tanah.
Maka, Maha Suci Allah yang telah menjadikanmu dikubur di dlm tanah (pula) sesudah kematianmu.
6. Ketika engkau berada di dalam perut ibumu, engkau berada di tempat yg sangat sempit nan gelap gulita.
Dan ketika engkau mati, engkau berada di tempat yg sangat sempit nan gelap gulita pula (yakni di dlm liang kubur).
7. Ketika engkau dilahirkan, engkau ditutupi dengan kain (pakaian), agar orang-orang menutupi (tubuh n aurat)mu.
Dan ketika engkau mati, engkau ditutupi dengan kain kafan, agar mereka menutupi (tubuh n aurat)mu pula.
8. Ketika engkau dilahirkan dan telah menjadi dewasa, orang-orang bertanya kepadamu tentang ijazah (pendidikan)mu dan pengalaman/keahlianmu.
Namun, ketika engkau mati, engkau tidak akan ditanya selain tentang amalan sholihmu saja.
» Oleh karena itu, BEKAL APA yg telah engkau siapkan untuk kehidupan sesudah kematianmu?
(*) Diterjemahkan oleh Abu Fawaz Asy-Syirboony dari kitab Kafaa Bil-Mauti Waa’izhon, karya DR. Badr Abdul Hamid Humaisah, hal.29. Klaten, 25 November 2013.
» Artikel BB Group Majlis Hadits, chat room Faedah dan Mau’izhoh Hasanah.
♠̣̣̇̇♠̣̣̇̇♠̣̣̇̇♠̣̣̇̇♠̣̣̇̇♠̣̣̇̇
Sabtu, 23 November 2013
Pemutus Kelezatan
Pemutus Kelezatan
Ditulis oleh: أُسْتَاذُ Muhammad Wasitho Abu Fawaz, Lc MA - حفظه الله تعالى
Imam al-Qurthubi rahimahullah berkata, “Ad-Daqqaq berkata,
‘Siapa yang banyak mengingat mati, ia akan dimuliakan dengan tiga perkara : bersegera untuk bertaubat, hati merasa cukup, dan antusias dalam beribadah. Sebaliknya, siapa yang melupakan mati, ia akan dihukum dengan tiga perkara : menunda taubat, tidak ridho dan malas dalam beribadah.
Maka berpikirlah, wahai orang yang tertipu; Yang merasa tidak akan dijemput kematian, tidak merasakan sekaratnya, kepayahan, dan kepahitannya ! Cukuplah kematian sebagai pengetuk hati, membuat mata menangis, memupus kelezatan dan memupus angan-angan. Apakah engkau, wahai anak Adam, mau memikirkan dan membayangkan tibanya hari kematianmu dan perpindahan hidupmu dari tempatmu yang sekarang?”
[Lihat at-Tadzkîrah, hlm. 9]
♥♥♡♡♡♥♥♡♡♡♥♥♡♡♡♥♥♡♡♡♥♥
Ditulis oleh: أُسْتَاذُ Muhammad Wasitho Abu Fawaz, Lc MA - حفظه الله تعالى
Imam al-Qurthubi rahimahullah berkata, “Ad-Daqqaq berkata,
‘Siapa yang banyak mengingat mati, ia akan dimuliakan dengan tiga perkara : bersegera untuk bertaubat, hati merasa cukup, dan antusias dalam beribadah. Sebaliknya, siapa yang melupakan mati, ia akan dihukum dengan tiga perkara : menunda taubat, tidak ridho dan malas dalam beribadah.
Maka berpikirlah, wahai orang yang tertipu; Yang merasa tidak akan dijemput kematian, tidak merasakan sekaratnya, kepayahan, dan kepahitannya ! Cukuplah kematian sebagai pengetuk hati, membuat mata menangis, memupus kelezatan dan memupus angan-angan. Apakah engkau, wahai anak Adam, mau memikirkan dan membayangkan tibanya hari kematianmu dan perpindahan hidupmu dari tempatmu yang sekarang?”
[Lihat at-Tadzkîrah, hlm. 9]
♥♥♡♡♡♥♥♡♡♡♥♥♡♡♡♥♥♡♡♡♥♥
Selasa, 05 November 2013
Bulan al-Muharram Bukan Bulan Muharram
Bulan al-Muharram Bukan Bulan Muharram
Ditulis oleh: أُسْتَاذُ Fuad Hamzah Baraba', Lc - حفظه الله تعالى
Alhamdulillah kita berada δ¡ bulan mulia, bulan Чαπƍ dimuliakan Allah Ta’ala. Yaitu bulan al-Muharram. Dan hendaknya kita selalu berusaha untuk menggunakan waktu-waktunya pada hal-hal Чαπƍ bermanfaat baik bagi diri kita, keluarga, masyarakat dan agama.
Diantara kesalahan dan kekeliruan Чαπƍ menyebar pada kaum muslimin adalah penyebutan lafazh “Muharram” untuk nama awal bulan hijriah tanpa memakai “al”. Hal ini banyak sekali kita dapati baik pada tulisan makalah δ¡ majalah, buletin, internet (FB, Tweet, dll), ataupun tulisan δ¡ spanduk, pamflet dll. Padahal Чαπƍ benar adalah “al-Muharram”. Hal ini berdasarkan hadits Nabi صلى الله عليه و سلم Чαπƍ menyebutkan bulan tersebut dengan menggunakan “al” seperti hadits berikut:Nabi صلى الله عليه و سلم bersabda:
أفضل الصيام بعد شهر رمضان شهر الله الذي تدعونه المحرم، وأفضل الصلاة بعد الفريضة قيام الليل . رواه مسلم في صحيحه
“Puasa yang paling utama setelah puasa bulan ramadhan adalah puasa pada bulan Allah yang kalian sebut bulan al-Muharam, dan sholat yang paling utama setelah shalat fardhu adalah shalat malam.“ (HR.Muslim).
Dan orang-orang arab tidak menyebut bulan ini baik dalam ucapan-ucapan dan sya’ir-sya’ir mereka kecuali dengan menggunakan “al”. Padahal bulan-bulan lain tidak ada Чαπƍ menggunakan “al”. Sehingga penamaan bulan ini adalah sama’i (apa Чαπƍ kita dengar dari orang arab) bukan qiyasi (secara qiyas).Dan bulan al-Muharram adalah bulan Чαπƍ mulia, dimana Rasulullah صلى الله عليه و سلم menisbatkannya kepada Allah Ta’ala, yaitu bulan Allah. Hal ini menunjukkan akan kemuliaan dan keutamaan bulan tersebut.
Oleh karena itu hendaknya kita membiasakan diri untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan kita, termasuk dalam penyebutan bulan al-Muharram tanpa menggunakan “al”. Dan ini juga sekaligus sebagai ralat dari kesalahan-kesalahan ana Чαπƍ terdahulu dalam penyebutan al-Muharram tanpa penggunaan “al”.
Mari kita muliakan bulan ini dengan berlomba-lomba untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan kita Чαπƍ terdahulu.Mudah-mudahan Allah Ta’ala mengampuni dosa-dosa kita baik Чαπƍ disengaja ataupun tidak.
آمين يَا رَبَّ العَـــالَمِيْنَ
◦"̮◦◦"̮◦◦"̮◦◦"̮◦◦"̮◦◦"̮◦◦"̮◦◦" ̮◦◦"̮◦◦"̮◦
Ditulis oleh: أُسْتَاذُ Fuad Hamzah Baraba', Lc - حفظه الله تعالى
Alhamdulillah kita berada δ¡ bulan mulia, bulan Чαπƍ dimuliakan Allah Ta’ala. Yaitu bulan al-Muharram. Dan hendaknya kita selalu berusaha untuk menggunakan waktu-waktunya pada hal-hal Чαπƍ bermanfaat baik bagi diri kita, keluarga, masyarakat dan agama.
Diantara kesalahan dan kekeliruan Чαπƍ menyebar pada kaum muslimin adalah penyebutan lafazh “Muharram” untuk nama awal bulan hijriah tanpa memakai “al”. Hal ini banyak sekali kita dapati baik pada tulisan makalah δ¡ majalah, buletin, internet (FB, Tweet, dll), ataupun tulisan δ¡ spanduk, pamflet dll. Padahal Чαπƍ benar adalah “al-Muharram”. Hal ini berdasarkan hadits Nabi صلى الله عليه و سلم Чαπƍ menyebutkan bulan tersebut dengan menggunakan “al” seperti hadits berikut:Nabi صلى الله عليه و سلم bersabda:
أفضل الصيام بعد شهر رمضان شهر الله الذي تدعونه المحرم، وأفضل الصلاة بعد الفريضة قيام الليل . رواه مسلم في صحيحه
“Puasa yang paling utama setelah puasa bulan ramadhan adalah puasa pada bulan Allah yang kalian sebut bulan al-Muharam, dan sholat yang paling utama setelah shalat fardhu adalah shalat malam.“ (HR.Muslim).
Dan orang-orang arab tidak menyebut bulan ini baik dalam ucapan-ucapan dan sya’ir-sya’ir mereka kecuali dengan menggunakan “al”. Padahal bulan-bulan lain tidak ada Чαπƍ menggunakan “al”. Sehingga penamaan bulan ini adalah sama’i (apa Чαπƍ kita dengar dari orang arab) bukan qiyasi (secara qiyas).Dan bulan al-Muharram adalah bulan Чαπƍ mulia, dimana Rasulullah صلى الله عليه و سلم menisbatkannya kepada Allah Ta’ala, yaitu bulan Allah. Hal ini menunjukkan akan kemuliaan dan keutamaan bulan tersebut.
Oleh karena itu hendaknya kita membiasakan diri untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan kita, termasuk dalam penyebutan bulan al-Muharram tanpa menggunakan “al”. Dan ini juga sekaligus sebagai ralat dari kesalahan-kesalahan ana Чαπƍ terdahulu dalam penyebutan al-Muharram tanpa penggunaan “al”.
Mari kita muliakan bulan ini dengan berlomba-lomba untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan kita Чαπƍ terdahulu.Mudah-mudahan Allah Ta’ala mengampuni dosa-dosa kita baik Чαπƍ disengaja ataupun tidak.
آمين يَا رَبَّ العَـــالَمِيْنَ
◦"̮◦◦"̮◦◦"̮◦◦"̮◦◦"̮◦◦"̮◦◦"̮◦◦"
Senin, 28 Oktober 2013
BINGUNG, TUNAIKAN UMROH DULU ATAU HAJI DULU ?
BINGUNG, TUNAIKAN UMROH DULU ATAU HAJI DULU ?
» Tanya:
Ustadz ada yg bertanya seperti ini ke ana, ana takut jawab.
Assalamualaikum warahmatullah wabarakatuh. Bismillah.
Pertanyaannya: Jika kita memiliki rejeki utk menabung, manakah yg sebaiknya didahulukan, menabung haji atau umroh (dengan alasan mengingat waktu pelaksanaan haji bs bertahun2 baru terlaksana)? jazakillahu khoir.
(*) Jawab oleh : أُسْتَاذُ Muhammad Wasitho Abu Fawaz, Lc MA - حفظه الله تعالى
وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ
Bismillah. Jika keadaan calon jama’ah haji di Indonesia seperti skrg, dimana seseorang yg tlh mempunyai kemampuan utk berangkat ke tanah suci Mekkah Al-Mukarromah, namun ia belum bisa berangkat secara langsung utk menunaikan ibadah haji kecuali setelah bbrp tahun yg cukup lama, karena sangat banyaknya orang yg mendaftarkan diri utk pergi haji, sementara quota jama’ah haji terbatas, maka menurut pandangan kami, hendaknya ia melaksanakan ibadah UMROH terlebih dahulu.
Hal ini dikarenakan hukum menunaikan Umroh adalah WAJIB bagi orang yg telah mampu dan belum pernah menunaikannya sama sekali di dlm hidupnya. Dan ini merupakan pendapat yg rojih (nampak kuat n benar) dari sejumlah sahabat Nabi n ulama sunnah, seperti Ibnu Abbas, Ibnu Umar, Jabir bin Abdullah radhiyallahu anhum, imam Asy-Syafi’i, imam Ahmad bin Hanbal, imam Al-Bukhari, syaikh Bin Baz, syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahumullah, dan komite tetap utk urusan fatwa n riset ilmiyah di Saudi Arabia.
(*) Berikut ini kami akan sebutkan beberapa dalil syar’i dan perkataan para ulama sunnah yg menunjukkan wajibnya Umroh:
عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ : قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ عَلَى النِّسَاءِ جِهَادٌ ؟ قَالَ: نَعَمْ ، عَلَيْهِنَّ جِهَادٌ لا قِتَالَ فِيهِ الْحَجُّ وَالْعُمْرَةُ . رواه ابن ماجه
1. Dari Aisyah radhiyallahu anha, ia berkata: Aku pernah bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah para wanita WAJIB berjihad?” Beliau jawab: “Iya, para wanita WAJIB berjihad namun tanpa peperangan di dalamnya, yaitu Haji dan Umroh.” (HR. Ibnu Majah no.2901. Hadits ini dinyatakan SHOHIH oleh imam An-Nawawi di dlm kitab Al-Majmu’ IV/7, dan syaikh Al-Albani di dlm Shohih Ibnu Majah).
2. Hadits yg diriwayatkan dari Umar bin Khoththob radhiyallahu anhu tentang malaikat Jibril alaihissalaam yg bertanya kpd Nabi shallallahu tentang hakekat Islam, Iman dan Ihsan, serta tanda-tanda hari Kiamat.
Di dlm riwayat Ibnu Khuzaimah dan Ad-Daruquthni, Nabi shallallahu alaihi wasallam memberikan jawaban ttg Islam dengan lafazh berikut:
الإسلام أن تشهد أن لا إله إلا الله وأن محمدا رسول الله ، وتقيم الصلاة ، وتؤتي الزكاة ، وتحج البيت وتعتمر ، وتغتسل من الجنابة ، وتتم الوضوء ، وتصوم رمضان
“Islam ialah engkau bersaksi bahwa tiada sesembahan yg haq kecuali Allah, dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Engkau mendirikan sholat, menunaikan Zakat, menunaikan Haji ke Baitullah (alharom) dan UMROH, mandi karena junub, menyempurnakan wudhu, dan berpuasa di bulan Romadhon.”. (Ad-Daruquthni berkata; ‘Hadits ini sanadnya Shohih).
3. Imam Al-Bukhari rahimahullah berkata di dlm kitab Shohihnya: “Bab Wajibnya Umroh dan Keutamaannya”. Dan Ibnu Umar radhiyallahu anhuma berkata: “Tiada seorang pun (dr kaum muslimin yg mampu, pent) melainkan WAJIB atasnya menunaikan Haji dan Umroh.”
4. Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah berkata: “Pendapat yg benar bahwa hukum UMROH itu WAJIB seperti Haji, hanya satu kali saja sepanjang umur.” (Lihat Majmu’ Fatawa Ibni Baaz XVI/355).
5. Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata: “Para ulama berselisih pendapat tentang hukum Umroh, apakah Wajib atau Sunnah? Dan pendapat yg nampak (rojih) bahwa hukum UMROH itu WAJIB.” (Lihat Asy-Syarhu Al-Mumti’ VII/9).
6. Komite Tetap untuk Urusan Fatwa dan Riset Ilmiyah berkata: “Pendapat yg benar dari dua pendapat para ulama, bahwa UMROH itu WAJIB. Hal ini berdasarkan firman Allah Ta’ala:
وَأَتِمُّوا الْحَجَّ وَالْعُمْرَةَ لِلَّهِ
Artinya: “Dan sempurnakan Haji dan Umroh karena Allah.” (QS. Al-Baqarah 166) dan berdasarkan hadits-hadits tentang wajibnya Umroh.” (Lihat Fatawa Lajnah Daimah XI/317).
Demikian jawaban yg dapat kami sampaikan. Smg mudah dipahami n menjadi ilmu yg bermanfaat. Wallahu a’lam bish-showab. Wabillahi at-Taufiq. (Klaten, 26 Oktober 2013)
✽.•°•.☆.•°•✽.•°•☆.•°•✽
Langganan:
Postingan (Atom)










