Jumat, 02 Mei 2014

MANUSIA SEMPURNA

MANUSIA SEMPURNA
..͡▹ Penulis: أُسْتَاذُ Rochmad Supriyadi, Lc حفظه الله تعال


Kesempurnaan manusia berdasarkan dua pijakan, mengetahui Al-Hak dari yg Bathil, dan Mengedepankan Al-Hak dg Amal dan menyeru kpd nya. Dan derajat manusia di sisi Allah سبحانه وتعالى baik d dunia dan akhirat terpaku pd dua perkara diatas.

Dg ini bisa dipilah manusia dg beberapa jenis ;

- Manusia yg mengenal Al-Hak dan mengamalkan serta mendakwahkan. Maka ini jenis yg paling muliya di sisi Allah dari seluruh makhluk yg ada.

- Manusia yg tdk memiliki bashirah agama dan tdk bersemangat utk dirinya dan utk orang lain. Maka ini seburuk2 makhluk, mereka tertawan syaithon bahkan menjadi pengikut dan tentara nya.

- Manusia yg memiliki Bashiroh ilmu dan hidayah,akan tetapi ia lemah tdk berdaya. Maka ini gambaran seorang mukmin yg lemah, sedang mukmin yg kuwat lebih dicinta Allah.

- Manusia yg memiliki kekuatan dan semanggat, akan tetapi ia lemah pemahaman agamanya.

Dari semua yg diatas tdk pantas utk menjadi pemimpin Agama dan tdk layak melainkan jenis pertama , yg mana Allah berfirman ,
" Dan kami jadikan diantara mereka para pemimpin yg senantiasa membawa petunjuk hidayah di jalan kami , tatkala mereka sabar dan mereka senantiasa yakin thd Ayat kami ". As-Sajjadah 24.

- mausuah fikh islamy 1/487 -

✽¸.••.¸✽¸••.¸✽¸••.¸✽¸.••.¸✽

Peringatan isra' mi'raj

Peringatan isra' mi'raj

Cobalah periksa..
Lalu teliti..
Apakah benar isra' mi'raj terjadi di bulan rajab..
Ibnu Rajab rahimahullah berkata:
Telah diriwayatkan bahwa telah terjadi di bulan rajab..
Kejadian kejadian besar..
Namun semua itu tidak shahih.. (Lathaiful ma'arif hal. 168)..
Imam Abu Syaamah rahimahullah berkata:
"Sebagian tukang cerita menyebutkan..
Bahwa isra mi'raj terjadi di bulan rajab..
Semua itu menurut ahli jarh watta'dil adalah kedustaan..
(Al Ba'its hal 171)..

Cobalah periksa..
Lalu teliti..
Adakah Rasulullah dan para shahabat merayakan malam isra mi'raj..
Adakah imam yang empat memperingatinya..
Siapakah yang lebih tahu tentang kebaikan?
Bila itu baik, tentu mereka telah lebih dahulu melakukannya..
Ibnul Hajj berkata, "Diantara bid'ah yang mereka ada-adakan..
Peringatan malam dua puluh tujuh rajab..
Yang dianggap malam isra mi'raj..
(Al Madkhal 1/199)..

Tidak memperingati bukan berarti tidak menghormati..
Tapi membuat syari'at yang tidak pernah di izinkan oleh Allah adalah tercela..
Karena Robbuna berfirman:
أم لهم شركاء شرعوا لهم من الدين ما لم يأذن به الله
"Apakah mereka mempunyai sekutu-sekutu (bagi Allah) yang membuat syari'at untuk mereka dari agama sesuatu yang tidak diizinkan oleh Allah?"

..͡▹ Ditulis oleh: أُسْتَاذُ Abu Yahya Badrusalam, Lc حفظه الله تعال


✽¸.••.¸✽¸••.¸✽¸••.¸✽¸.••.¸✽

SABAR

Penantian yang terasa panjang mungkin terasa membosankan. Hati tidak bisa menahan jika mau menunggu lama. Ada yang pingin cepat meraih harta, malah tempuh dengan jalan berutang riba, mencuri dan cara haram lainnya. Ada yang ingin merasakan nikmat syahwat, namun tidak mau sabar menanti menikah malah menempuh zina atau perselingkuhan yang tidak halal. Padahal jika kita mau BERSABAR tentu tetap sama akan meraih yang halal. Ketahuilah bahwa sabar adalah karunia terbesar. Dalam hadits Abu Sa'id Al Khudri, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, "Karunia yang terbaik yang Allah berikan pada seseorang adalah sikap SABAR." (HR. Bukhari dan Muslim). Dalam hadits diriwayatkan oleh Abu Nu'aim dan Al Baihaqi dalam Syu'abul Iman disebutkan bahwa sabar adalah separuh iman. Umar bin Khottob juga berkata, "Kami mendapatkan kebahagiaan dalam hidup kami dengan BERSABAR." (HR. Bukhari)---

Sore hari di kota Jogja menjelang Maghrib, 1 Rajab 1435 H.
Penulis: أُسْتَاذُ Muhammad Abduh Tuasikal, ST MSc حفظه الله تعال

(Rumaysho.Com)


✽¸.••.¸✽¸••.¸✽¸••.¸✽¸.••.¸✽

Cinta Ditolak Karena Miskin

Cinta Ditolak Karena Miskin

Ada seorang janda yang bernama Fatimah binti Qais. Janda ini bukan janda biasa. Meskipun janda yang ia masih diincar oleh tiga pria, yaitu Mua’wiyah, Abu Jahm dan Usamah bin Zaid. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyarankan supaya Fatimah memilih Usamah bin Zaid, meski ia seorang yang berkulit hitam namun punya keutamaan yang banyak, daripada memilih Mu’awiyah yang miskin walau mungkin lebih cakep dibanding Usamah.

Jadi yang cintanya ditolak akhwat karena miskin, jangan berkecil hati, jangan menangis, jangan bersedih. Masih banyak pilihan wanita lain yang mau menerima.
—

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menyarankan pada Fatimah binti Qais radhiyallahu ‘anha untuk menikah dengan Usamah, dibanding dengan dua laki-laki yang telah melamarnya yaitu Mu’awiyah dan Abu Jahm. Beliau berkata pada Fatimah,

أَمَّا أَبُو جَهْمٍ فَلاَ يَضَعُ عَصَاهُ عَنْ عَاتَقِهِ وَأَمَّا مُعَاوِيَةُ فَصُعْلُوكٌ لاَ مَالَ لَهُ انْكِحِى أُسَامَةَ بْنَ زَيْدٍ ».فَكَرِهْتُهُ ثُمَّ قَالَ « انْكِحِى أُسَامَةَ ». فَنَكَحْتُهُ فَجَعَلَ اللَّهُ فِيهِ خَيْرًا وَاغْتَبَطْتُ بِهِ.

“Abu Jahm itu biasa memukul istri. Sedangkan Mu’awiyah itu miskin (tidak punya banyak harta). Nikahlah saja dengan Usamah bin Zaid.” Fatimah berkata, “Aku awalnya enggan.” Namun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap mengatakan, “Nikahlah dengan Usamah.” Akhirnya, aku memilih menikah dengan Usamah, lantas Allah mengaruniakan dengan pernikahan tersebut kebaikan. Aku pun berbahagia dengan pernikahan tersebut. (HR. Muslim no. 1480).

Dalam riwayat Muslim, disebutkan,

سَمِعْتُ فَاطِمَةَ بِنْتَ قَيْسٍ تَقُولُ إِنَّ زَوْجَهَا طَلَّقَهَا ثَلاَثًا فَلَمْ يَجْعَلْ لَهَا رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- سُكْنَى وَلاَ نَفَقَةً قَالَتْ قَالَ لِى رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « إِذَا حَلَلْتِ فَآذِنِينِى ».

فَآذَنْتُهُ فَخَطَبَهَا مُعَاوِيَةُ وَأَبُو جَهْمٍ وَأُسَامَةُ بْنُ زَيْدٍ. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « أَمَّا مُعَاوِيَةُ فَرَجُلٌ تَرِبٌ لاَ مَالَ لَهُ وَأَمَّا أَبُو جَهْمٍ فَرَجُلٌ ضَرَّابٌ لِلنِّسَاءِ وَلَكِنْ أُسَامَةُ بْنُ زَيْدٍ ». فَقَالَتْ بِيَدِهَا هَكَذَا أُسَامَةُ أُسَامَةُ فَقَالَ لَهَا رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « طَاعَةُ اللَّهِ وَطَاعَةُ رَسُولِهِ خَيْرٌ لَكِ ». قَالَتْ فَتَزَوَّجْتُهُ فَاغْتَبَطْتُ.

“Suami Fatimah binti Qais dahulu telah mentalaknya tiga kali. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menjadikan bagi Fatimah tempat tinggal dan tidak mendapatkan nafkah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas berkata pada Fatimah, “Jika engkau telah halal untuk dinikahi (setelah melewati masa ‘iddah), sampaikanlah kabar tersebut padaku.”

Fatimah pun memberitahu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (ketika telah selesai ‘iddahnya), bahwasanya ia telah dikhitbah (dilamar) oleh Mu’awiyah dan Abu Jahm, juga oleh Usamah bin Zaid. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Adapun Mu’awiyah itu miskin, tidak punya harta. Sedangkan Abu Jahm biasa memukul istrinya. Nikahlah saja dengan Usamah bin Zaid.” Lantas Fatimah berisyarat dengan tangannya sambil berkata, “Hah … Usamah, Usamah.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda, “Taat Allah dan Rasul-Nya itu baik untukmu.” Fatimah berkata, “Aku pun memilih menikah dengan Usamah, akhirnya aku merasakan kebahagiaan.” (HR. Muslim no. 1480).

Beberapa faedah dari hadits di atas:

1- Boleh menyebutkan kejelekan orang lain (mengghibah) ketika dimintai nasehat. Ini bukan termasuk ghibah yang diharamkan.

2- Sifat Abu Jahm biasa memukul istri, diibaratkan dengan membawa tongkat di pundaknya ketika tidur, makan, dan aktivitas lainnya.

3- Mu’awiyah bin Abi Sufyan bin Harb itulah yang dimaksud dalam hadits di atas. Ia termasuk sahabat yang utama, masih lebih tampan dari Usamah, namun sayangnya ia miskin.

4- Usamah bin Zaid adalah pria yang memiliki agama yang bagus, punya keutamaan, dan akhlak yang mulia. Awalnya Fatimah menolak menikah dengan Usamah karena ia itu bekas budak. Begitu pula Usamah itu hitam.

5- Menjalankan pilihan Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- adalah sangat tepat dan akan menuai kebaikan. Dalam hadits disebutkan, “Taat Allah dan Rasul-Nya itu baik untukmu.” Hal ini bukan saja berlaku dalam hal mengikuti saran Rasul shallallahu ‘alaihi wa dalam jodoh, namun manut atau mengikuti perintah beliau dalam perintah lainnya maka akan menuai kebaikan.

6- Sekufu dalam nasab (keturunan) tidaklah dianggap karena dalam hadits ini Fatimah diperintahkan oleh Rasul untuk memilih Usamah yang menjadi bekas budak.

7- Warna kulit yang gelap tidak selalu menandakan orang tersebut jelek.

8- Menikah dengan yang berparas tidak tampan atau tidak cantik belum tentu menandakan tidak berbahagia dalam nikah. Lihatlah apa yang terjadi setelah Fatimah memilih untuk menikah dengan Usamah. Ia begitu bahagia.

9- Keutamaan Fatimah binti Qais sampai disukai oleh 3 pria padahal ia seorang janda.

10- Boleh menolak lamaran seorang pria karena miskinnya. Seorang laki-laki yang ditolak seperti itu seharusnya tidak merasa kecil hati, masih banyak wanita lainnya yang mau menerima keadaannya.

Semoga faedah di atas bermanfaat.



Referensi:

Al Minhaj Syarh Shahih Muslim bin Al Hajjaj, Yahya bin Syarf An Nawawi, terbitan Dar Ibnu Hazm, cetakan pertama, tahun 1433 H, 10: 91-92.

Minhatul ‘Allam fii Syarh Bulughil Marom, Syaikh ‘Abdullah Al Fauzan, terbitan Dar Ibnul Jauzi, cetakan ketiga, tahun 1432 H, 7: 282-283.

—

Disusun di Pesantren Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 30 Jumadats Tsaniyyah 1435 H

Penulis: أُسْتَاذُ Muhammad Abduh Tuasikal, ST MSc حفظه الله تعال

Artikel RemajaIslam.Com


✽¸.••.¸✽¸••.¸✽¸••.¸✽¸.••.¸✽

PRAHARA SENYUMAN....

PRAHARA SENYUMAN....
Oleh: أُسْتَاذُ Firanda Andirja, MA, حفظه الله تعالى


- "Jangan pernah meremehkan kebaikan apapun meskipun hanya senyum tatkala bertemu saudaramu" al-hadits...
Bisa jadi senyumanmu yang tulus dan ikhlas karena Allah adalah sebab diampuninya dosamu...sebagaimana sang wanita pezina yang tulus memberi minum kepada seekor anjing, atau sang lelaki yang mengilangkan gangguan ranting dahan yang ada di tengah jalan...lalu mereka diampuni...
Atau senyumanmu ternyata memperberat timbangan kebaikanmu di akhirat sehingga selamatlah engkau dari siksaan yang sangat pedih...
jika senyumanmu karena Allah maka merupakan sedekah, memasukan kebahagiaan dalam hati saudara kita, ia akan merasa dihargai..., merasa hatinya dekat denganmu...
- tapi jika senyum dengan sinis karena mengejek atau merendahkan, maka ini menunjukan kesombongan..., dan kesombongan tempatnya hanya cocok di neraka
- hanya saja senyum kepada wanita yang lajang..., senyum yang tidak pada tempatnya sungguh berbahaya...menjatuhkan hati sang wanita...dan membuat sang wanita besar kepala dan muncul prasangka-prasangka...
- demikian sebaliknya senyuman wanita yg tdk pada tempatnya pada seorang lelaki...
- tebarkankah senyum..., senyum merupakan kerjaan yang ringan akan tetapi berat pada sebagian orang... terutama orang yang merasa tinggi untuk senyum kpd orang yang dia rendahkan, atau tdk ada keuntungan dunia yg dia raih dari senyumannya..., ternyata senyumannya telah ia "tarif-kan"....
- tebarlah pesona...namun pada tempatnya...raihlah pahala dan bukan malah meraih dosa

✽¸.••.¸✽¸••.¸✽¸••.¸✽¸.••.¸✽

Jangan Pernah Malu Beristighfar

Apabila sudah malu minta ampun kpd Allah, itulah yang dimaui syaithan.
-----------------------

Ustadz Firanda Andirja

"Jangan Pernah Malu Beristighfar"

Dikatakan kepada Hasan Al-Bashri rahimahullah


ألا يستحيي أحدُنا من ربه يستغفِرُ من ذنوبه، ثم يعود، ثم يستغفر، ثم يعود

"Apakah salah seorang dari kita tidak malu kepada Allah, ia beristighfar atas dosa-dosanya lalu ia kembali lagi berdosa lalu istighfar lagi, lalu berdosa lagi?"
Maka Hasan Al-Bashri berkata :

ودَّ الشيطانُ لو ظَفِرَ منكم بهذه، فلا تملُّوا من الاستغفار.

"Syaitan berangan-angan kalau bisa menjatuhkan kalian kepada perasaan malu seperti ini, maka janganlah kalian bosan untuk terus beristighfar"
(Jamiul Uluum wal Hikam 2/485


✽¸.••.¸✽¸••.¸✽¸••.¸✽¸.••.¸✽

Introspeksi Diri…

Introspeksi Diri…
Oleh: أُسْتَاذُ Firanda Andirja, MA, حفظه الله تعالى

Sekedar Renungan…

Sungguh aneh seseorang yang tatkala terkena musibah, dirampas hartanya… atau terusir dari kampungnya… atau hilangnya kenikmatan yang selama ini dibanggakannya…

Lalu masih belum juga instropeksi diri atas kesalahan masa silam…

Firman Allah

وَمَا أَصَابَكُم مِّن مُّصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَن كَثِيرٍ

“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).”

Seakan-akan ayat ini tidak mencakup dirinya…

Seakan-akan justru musibah tersebut malah membuktikan imannya yang tinggi ?!!

Sungguh tatkala ia terkena musibah masih saja tersirat nuansa ujub dari dirinya,

Musibah hendaknya disambut dengan istighfar dan instropeksi diri, bukan dengan bangga dan keras kepala, masih terus bangga dengan sikapnya selama ini…

Yang hobi menjatuhkan saudara-saudaranya atau mencari-cari kesalahan saudaranya…atau memaksakan sesuatu yang bukan kesalahan sebagai suatu kesalahan, bahkan kebenaran yang ada pada suadaranya ditutup-tutupi dan digambarkan sebagai kesesatan ??

Hasad dimunculkannya dengan baju “nasehat”, dengki ditampakan dengan gaun “bernahi mungkar”

Jika ia tidak sadar dengan teguran Allah di dunia haruskah ia baru sadar jika baru ditegur di akhirat ???

(Nasehat buat penulis dan para pembaca)

Kamis, 2 Rajab 1435/1 Mei 2014 M

⌣̊✽̈⌣̊✽̈⌣̊✽̈⌣̊