Minggu, 02 November 2014
Lukisan bersertifikat
Sekedar informasi & berbagi buat yang minat terhadap lukisan silahkan hubungi Ayumi di +6281325491513
Jumat, 08 Agustus 2014
KATAKAN إِنْ شَاءَ اللّهُ
KATAKAN إِنْ شَاءَ اللّهُ
Allah سبحانه وتعالى berfirman dalam surat Al-Kahfi ayat 23-24 yang artinya, "Dan jangan sekali-kali engkau mengatakan terhadap sesuatu", Aku pasti melakukan itu besok pagi", kecuali (dengan mengatakan) إِنْ شَاءَ اللّهُ ( jika Allah menghendaki )".
Berkata Al-Allamah As-Syinkithy dalam Adwa'ul Bayan, "Ayat muliya ini Allah سبحانه وتعالى melarang Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم untuk mengatakan "Aku akan melakukan sesuatu esok hari", kecuali jika digantungkan dengan ucapan إِنْ شَاءَ اللّهُ , yang mana tiada sesuatu yang terjadi sekecil apapun di alam semesta ini kecuali atas kehendak Allah سبحانه وتعالى , oleh karenanya dilarang mengatakan akan melakukan sesuatu dengan pasti esok hari.
Kalimat "esok hari / besok pagi" adalah ungkapan umum dan global untuk masa yang akan datang, sebagaimana dikatakan dalam lantunan sya'ir; "Dan aku mengetahui apa yang aku ilmui hari ini dan kemarin hari sebelumnya - Akan tetapi terhadap apa yang ada di esok hari Aku tidak mengetahuinya".
Sebab turunnya Ayat mulia ini, bahwasanya orang yahudi berkata kepada orang-orang kafir kuraisy", Bertanyalah kepada Muhammad tentang ruh, tentang Dzul Kurnain, dan tentang Ashabul Kahfi".
Maka ditanyakan hal itu kepada Nabi dan dijawab, "Aku akan berikan jawaban besok". Tanpa mengatakan إِنْ شَاءَ اللّهُ. Maka beberapa hari wahyu tidak turun kepada Nabi صلى الله عليه وسلم hingga dikatakan 15 hari. Maka keterlambatan wahyu ini menjadikan Nabi صلى الله عليه وسلم bersedih, kemudian turunlah teguran ayat ini sekaligus memberikan jawaban tiga pertanyaan diatas.
Teguran seperti ini juga Allah سبحانه وتعالى lakukan terhadap Nabi Sulaiman tatkala ia berkata, "Sungguh Aku akan keliling dalam malam ini terhadap isrti-istriku yang berjumlah 70
dalam riwayat lain 90, dalam riwayat lain 100 dan niscaya akan melahirkan setiap darinya Anak Laki-laki yang akan berperang di jalan Allah. Dan ia tidak mengatakan kalimat إِنْ شَاءَ اللّهُ .
Maka ia pun keliling ke seluruh istrinya akan tetapi tidak seorangpun darinya terlahir, kecuali hanya satu dari istrinya yang hanya berbentuk separuh manusia (tidak utuh berbentuk manusia).
Maka Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda,
"Demi jiwaku yang ada di tanganNya, jika ia mengatakan kalimat إِنْ شَاءَ اللّهُ , niscaya terpenuhi keinginannya". Dalam riwayat lain, "Niscaya masing-masing lahir anak lelaki semuanya berjuang di jalan Allah".
- Adwa'ul Bayan 540 -
Ditulis oleh Ustadz Rochmad Supriyadi, Lc حفظه الله تعالى .
♥♥♥♥♥♥
Allah سبحانه وتعالى berfirman dalam surat Al-Kahfi ayat 23-24 yang artinya, "Dan jangan sekali-kali engkau mengatakan terhadap sesuatu", Aku pasti melakukan itu besok pagi", kecuali (dengan mengatakan) إِنْ شَاءَ اللّهُ ( jika Allah menghendaki )".
Berkata Al-Allamah As-Syinkithy dalam Adwa'ul Bayan, "Ayat muliya ini Allah سبحانه وتعالى melarang Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم untuk mengatakan "Aku akan melakukan sesuatu esok hari", kecuali jika digantungkan dengan ucapan إِنْ شَاءَ اللّهُ , yang mana tiada sesuatu yang terjadi sekecil apapun di alam semesta ini kecuali atas kehendak Allah سبحانه وتعالى , oleh karenanya dilarang mengatakan akan melakukan sesuatu dengan pasti esok hari.
Kalimat "esok hari / besok pagi" adalah ungkapan umum dan global untuk masa yang akan datang, sebagaimana dikatakan dalam lantunan sya'ir; "Dan aku mengetahui apa yang aku ilmui hari ini dan kemarin hari sebelumnya - Akan tetapi terhadap apa yang ada di esok hari Aku tidak mengetahuinya".
Sebab turunnya Ayat mulia ini, bahwasanya orang yahudi berkata kepada orang-orang kafir kuraisy", Bertanyalah kepada Muhammad tentang ruh, tentang Dzul Kurnain, dan tentang Ashabul Kahfi".
Maka ditanyakan hal itu kepada Nabi dan dijawab, "Aku akan berikan jawaban besok". Tanpa mengatakan إِنْ شَاءَ اللّهُ. Maka beberapa hari wahyu tidak turun kepada Nabi صلى الله عليه وسلم hingga dikatakan 15 hari. Maka keterlambatan wahyu ini menjadikan Nabi صلى الله عليه وسلم bersedih, kemudian turunlah teguran ayat ini sekaligus memberikan jawaban tiga pertanyaan diatas.
Teguran seperti ini juga Allah سبحانه وتعالى lakukan terhadap Nabi Sulaiman tatkala ia berkata, "Sungguh Aku akan keliling dalam malam ini terhadap isrti-istriku yang berjumlah 70
dalam riwayat lain 90, dalam riwayat lain 100 dan niscaya akan melahirkan setiap darinya Anak Laki-laki yang akan berperang di jalan Allah. Dan ia tidak mengatakan kalimat إِنْ شَاءَ اللّهُ .
Maka ia pun keliling ke seluruh istrinya akan tetapi tidak seorangpun darinya terlahir, kecuali hanya satu dari istrinya yang hanya berbentuk separuh manusia (tidak utuh berbentuk manusia).
Maka Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda,
"Demi jiwaku yang ada di tanganNya, jika ia mengatakan kalimat إِنْ شَاءَ اللّهُ , niscaya terpenuhi keinginannya". Dalam riwayat lain, "Niscaya masing-masing lahir anak lelaki semuanya berjuang di jalan Allah".
- Adwa'ul Bayan 540 -
Ditulis oleh Ustadz Rochmad Supriyadi, Lc حفظه الله تعالى .
♥♥♥♥♥♥
Jangan melesetkan kata ISIS
(*)"Jangan melesetkan kata ISIS "
Entah gurauan atau kesengajaan orang yg melesetkan istilah ISIS dgn candaan
atau gurauan .
Ingatlah ISIS itu berbahaya bagi saudara-saudara kita jdi hendaknya jgn melintir makna itu dgn sebuah Candaan ringan seolah tak ada dampak besar .
Perhatikan himbauan berikut :
Semoga Allah menambahkan semangat dan berkah ilmu dan amal para ikwah
semua .
Tidak pantas rasanya kita membicarakan fitnah ISIS dgn candaan .
Ingat ISIS tlah memakan korban byk kaum muslimin .
Oleh ustdz Muhammad Haekal Awla Lc ,
Ana Harap teman-teman jangan mengkaburkan singkatan ISIS dgn makna yg lain .
Istilah ISIS bukan untuk yang lain tapi khusus kelompok penjahat itu .
Jangan sampe kita tertuduh seorang ISIS gara2 kita punya istilah sendiri yg tdk di
pahami oleh masyarakat umum .
Oleh ustdz Abu Sa'ad ( Relawan Suria )
Jangan bercanda atau menyerupakan dgn istilah mereka ( ISIS ) dengan :
- Istri Shalihah Idaman Suami
- indahnya Salafi Indahnya sunnah
- Ikatan Suami ingin Satu ( lagi )
- Ilmu sedikit ingin syurga
Atau kata" lain yang di jadikan sbg candaan .
Dari Bbm أُسْتَاذُ Muhammad Wasitho Abu Fawaz, Lc MA حفظه الله تعال
«------๑๑•°♥°•๑๑------»
Entah gurauan atau kesengajaan orang yg melesetkan istilah ISIS dgn candaan
atau gurauan .
Ingatlah ISIS itu berbahaya bagi saudara-saudara kita jdi hendaknya jgn melintir makna itu dgn sebuah Candaan ringan seolah tak ada dampak besar .
Perhatikan himbauan berikut :
Semoga Allah menambahkan semangat dan berkah ilmu dan amal para ikwah
semua .
Tidak pantas rasanya kita membicarakan fitnah ISIS dgn candaan .
Ingat ISIS tlah memakan korban byk kaum muslimin .
Oleh ustdz Muhammad Haekal Awla Lc ,
Ana Harap teman-teman jangan mengkaburkan singkatan ISIS dgn makna yg lain .
Istilah ISIS bukan untuk yang lain tapi khusus kelompok penjahat itu .
Jangan sampe kita tertuduh seorang ISIS gara2 kita punya istilah sendiri yg tdk di
pahami oleh masyarakat umum .
Oleh ustdz Abu Sa'ad ( Relawan Suria )
Jangan bercanda atau menyerupakan dgn istilah mereka ( ISIS ) dengan :
- Istri Shalihah Idaman Suami
- indahnya Salafi Indahnya sunnah
- Ikatan Suami ingin Satu ( lagi )
- Ilmu sedikit ingin syurga
Atau kata" lain yang di jadikan sbg candaan .
Dari Bbm أُسْتَاذُ Muhammad Wasitho Abu Fawaz, Lc MA حفظه الله تعال
«------๑๑•°♥°•๑๑------»
Senin, 23 Juni 2014
Meneladani Kepemimpinan Umar Bin Khathab radhiyallahu 'anhu
" Meneladani Kepemimpinan Umar Bin Khathab radhiyallahu 'anhu "Syaikh Ali Hasan Al-Halabi
23 Juni 2014 pukul 0:40
Bismillah...
sedikit oleh2 dari istiqlal..
Mohon koreksi jika ada kesalahan dalam penulisan..
catatan di lantai 2 ditengah riuh celotehan anak2 dan canda ria serta tingkah polah anak2 yg begitu menggemaskan dan suara ust firanda yang terdengar agak rendah..
===================================================== ======
Masjid istiqlal
Ahad, 24 sya'ban 1435H / 22 juni'14
16.00 s/d 20.00 WIB
" Meneladani Kepemimpinan Umar Bin Khathab radhiyallahu 'anhu "
Syaikh Ali Hasan Al-Halabi
============================== =============================
Diawali dengan nasihat bahwa pertanggungjawaban dan tugas kepemimpinan adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Jangan bergembira ketika mendapatkan jabatan kepemimpinan di dunia, karena sesungguhnya pertanggungjawabannya begitu besar dihadapan Allaah.
Kepemimpinan teragung (terbaik) adalah kepemimpinan pada masa Rasulullaah, seluruhnya adalah kesempurnaan di atas kesempurnaan, keindahan di atas keindahan.
Bahkan ketika Rasulullaah meninggal, beliau meninggalkan hal yang dapat mengarahkan umat kepada perkara yang bisa memberikan kejayaan Islam. Jika berpegang kepada keduanya maka akan menyelamatkan umat di dunia dan akhirat yaitu Al-qur'an dan Hadits.
Dan Rasulullaah pun berpesan agar kita mengikuti sunnahnya dan sunnah khulafaur rasyidin.
Sebagaimana dalam haditsnya :
Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Aku telah tinggalkan kepada kalian dua perkara. Kalian tidak akan sesat selama berpegang kepada keduanya, (yaitu) Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya”(HR. Al Hakim, derajat : shahih).
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Barangsiapa yang berumur panjang di antara kalian, kelak dia akan melihat perselisihan yang banyak. Maka hendaknya kalian tetap berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah Khulafa-ur Rasyidin yang mendapat petunjuk. Berpegang teguhlah dengannya. Gigitlah dengan gigi geraham kalian. Berhati-hatilah kalian dengan perkara-perkara yang baru dalam agama, karena setiap ajaran yang baru dalam agama Islam adalah termasuk perbuatan bid’ah, dan setiap bid’ah adalah kesesatan, dan setiap kesesatan tempatnya di neraka”
(HR. An Nasa’i, derajat : hasan shahih).
Termasuk diantaranya mengikuti kepemimpinan khalifah abu bakar ash-shiddiq dan umar bin khathab radhiyallahu 'anhuma.
Karena kemuliaan abu bakar dan umar maka kita menjadikan keteladanan pada kepemimpinan abu bakar dan umar.
Namun, kemudian secara khusus syaikh memberikan point2 penting keteladanan pada kepemimpinan pada masa kepemimpinan umar bin khathab radhiyallahu 'anhu, diantara point2 tersebut adalah :
=> umar bin khathab mempunyai kemuliaan atau keutamaan setelah abu bakar, sebagaimana dalam hadits berikut :
Al-Imaam At-Tirmidziy rahimahullah berkata :
حَدَّثَنَا سَلَمَةُ بْنُ شَبِيبٍ، حَدَّثَنَا الْمُقْرِئُ، عَنْ حَيْوَةَ بْنِ شُرَيْحٍ، عَنْ بَكْرِ بْنِ عَمْرٍو، عَنْ مِشْرَحِ بْنِ هَاعَانَ، عَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ: " لَوْ كَانَ بَعْدِي نَبِيٌّ لَكَانَ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ "
Telah menceritakan kepada kami Salamah bin Syabiib :
Telah menceritakan kepada kami Al-Muqri’, dari Haiwah bin Syuraih, dari Bakr bin ‘Amru, dari Misyrah bin Haa’aan, dari ‘Uqbah bin ‘Aamir, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam : “Seandainya ada nabi setelahku, niscaya ia adalah ‘Umar bin Al-Khaththaab”
[As-Sunan, no. 3686].
=> Kepemimpinan umar dibangun di atas nilai-nilai agama, oleh karenanya ia mendapat julukan amirul mu'minin (pemimpin orang2 yang beriman)
=> Allaah mempersiapkan umar (orang yang cerdas dan ber'ilmu) sebagai pemimpin yang mempunyai kedudukan yang tinggi di kalangan rakyatnya. Karena pada masa itu umat Islam masih dalam kondisi jahiliyyah, tidak bisa baca tulis.
=> Pada masa awal Islam, dimana shahabat rasulullaah yg masih sedikit, da'wah ataupun perkumpulan yang dilakukan pun diam2 karena khawatir akan ancaman orang kafir, ditengah kondisi tersebut umar justru berani untuk masuk islam secara terang2an. Dari hal tersebut dapat dilihat bahwa umar adalah sosok yang penuh dengan keberanian.
Kepemimpinan butuh sikap keberanian dan ketegasan, bukan kenekatan ataupun kengawuran.
=> Kepemimpinan adalah suatu bentuk peningkatan kejayaan rakyat (umat) bukan mementingkan kejayaan pribadi atau perorangan, ataupun kepentingan kelompok. Demikianlah kepemimpinan umar, kepemimpinannya berpengaruh pada masyarakat. Kepemimpinannya membuka pintu2 kebaikan dunia dan akhirat.
=> kepemimpinan umar adalah kepemimpinan yang memiliki 'ilmu dan penuh keta'atan kepada Allaah. Kepemimpinan baik yang kecil maupun besar hendaklah memiliki 'ilmu dari kitabullaah, jangan hanya faham 'ilmu dunia.
=> Umar memiliki kemampuan untuk mengambil sikap yang tepat melalui tanda2 yang ada disekitarnya. Hal ini tentu dibutuhkan bagi pemimpin agar tidak mudah didekati oleh penipu ataupun para pengkhianat.
=> Memiliki semangat untuk bersikap adil pada kepemimpinannya.
Beliau menegakkan agama pada diri dan keluarganya baru kepada masyarakat. Sesuai firman Allaah :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا ( التحريم: 6)
"Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan
keluargamu dari api neraka ."
Hal lain yang berkaitan dengan amanah dan keadilan adalah umar bin khathab tidak mengambil harta negara untuk kehidupan pribadinya, namun ia bekerja, dengan berdagang. Hal ini dimaksudkan untuk menjauhkan diri dari harta-harta yang haram.
=> umar bin khathab adalah orang yang faham akan kebenaran, bersikap tegas di atas kebenaran namun jika ia salah maka akan mengakui kesalahannya dan kembali kepada kebenaran.
Sebagaimana hadits rasulullaah :
Dari sahabat Anas bin Malik , bahwa Rasulullah bersabda:
كُلُّ بَنِي آدَمَ خَطَّاءٌ وَ خَيْرُ الْخَطَّائِيْنَ التَّوَّابُونَ
“Setiap anak Adam (manusia) pasti sering berbuat kesalahan “Dan sebaik-baik orang yang berbuat kesalahan adalah yang mau bertaubat.” (H.R. Ibnu Majah no. 4251 dan lainnya)
=> umar bin khathab adalah orang yang mudah bergaul, dekat dengan shahabat2nya, bukan orang yang sombong dan angkuh serta tidak jauh dari masyarakat.
=> sebelum menjadi khalifah, masa kepemimpinan rasulullaah, umar bin khathab diberi kepercayaan untuk mengurus harta kaum muslimin ( harta2 sedekah), dimana pekerjaan ini dapat dengan mudahnya mengambil harta yang bukan haknya. Jika umar tidak memiliki kemuliaan, maka ia tidak akan diberikan kepercayaan ini oleh rasulullaah. Umar bin khathab tidak menggunakan jabatan untuk kemaslahatan pribadi.
=> kepemimpinan umar bin khathab yang begitu menjaga keamanan negara, stabilitas negara lebih utama.
=> beliau senantiasa berfikir tentang kemaslahatan umat (rakyat)
=> umar bin khathab mengajarkan kepada pasukan tentang adab-adab peperangan, larangan untuk menjauh dan tdk membunuh orangtua, anak-anak, wanita, tidak merusak tanaman, dan adab lainnya. Mengajarkan menjadi pasukan yang amanah, tidak berkhianat.
Wallahua'lam..
Demikian sedikit catatan singkat tabligh akbar hari ini..
Semoga memberikan manfaat
============================== =============================
Selanjutnya ba'da isya, angin mulai sepoi2 di balik lubang2 angin lantai 2 masjid istiqlal dan mulai banyak keributan dan hilir mudik orang, yang menghilangkan fokus (setelah mencoba dikumpulkan lagi, namun tdk juga kumpul lagi) dan membuyarkan sedikit semangat untuk melanjutkan catatan, dan akhirnya benar2 menutup catatan.
⌣̊┈»̶·̵̭̌✽����✽·̵̭̌«̶┈⌣̊
Sumber: FB Windry Ummu Mujahid
23 Juni 2014 pukul 0:40
Bismillah...
sedikit oleh2 dari istiqlal..
Mohon koreksi jika ada kesalahan dalam penulisan..
catatan di lantai 2 ditengah riuh celotehan anak2 dan canda ria serta tingkah polah anak2 yg begitu menggemaskan dan suara ust firanda yang terdengar agak rendah..
=====================================================
Masjid istiqlal
Ahad, 24 sya'ban 1435H / 22 juni'14
16.00 s/d 20.00 WIB
" Meneladani Kepemimpinan Umar Bin Khathab radhiyallahu 'anhu "
Syaikh Ali Hasan Al-Halabi
==============================
Diawali dengan nasihat bahwa pertanggungjawaban dan tugas kepemimpinan adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Jangan bergembira ketika mendapatkan jabatan kepemimpinan di dunia, karena sesungguhnya pertanggungjawabannya begitu besar dihadapan Allaah.
Kepemimpinan teragung (terbaik) adalah kepemimpinan pada masa Rasulullaah, seluruhnya adalah kesempurnaan di atas kesempurnaan, keindahan di atas keindahan.
Bahkan ketika Rasulullaah meninggal, beliau meninggalkan hal yang dapat mengarahkan umat kepada perkara yang bisa memberikan kejayaan Islam. Jika berpegang kepada keduanya maka akan menyelamatkan umat di dunia dan akhirat yaitu Al-qur'an dan Hadits.
Dan Rasulullaah pun berpesan agar kita mengikuti sunnahnya dan sunnah khulafaur rasyidin.
Sebagaimana dalam haditsnya :
Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Aku telah tinggalkan kepada kalian dua perkara. Kalian tidak akan sesat selama berpegang kepada keduanya, (yaitu) Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya”(HR. Al Hakim, derajat : shahih).
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Barangsiapa yang berumur panjang di antara kalian, kelak dia akan melihat perselisihan yang banyak. Maka hendaknya kalian tetap berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah Khulafa-ur Rasyidin yang mendapat petunjuk. Berpegang teguhlah dengannya. Gigitlah dengan gigi geraham kalian. Berhati-hatilah kalian dengan perkara-perkara yang baru dalam agama, karena setiap ajaran yang baru dalam agama Islam adalah termasuk perbuatan bid’ah, dan setiap bid’ah adalah kesesatan, dan setiap kesesatan tempatnya di neraka”
(HR. An Nasa’i, derajat : hasan shahih).
Termasuk diantaranya mengikuti kepemimpinan khalifah abu bakar ash-shiddiq dan umar bin khathab radhiyallahu 'anhuma.
Karena kemuliaan abu bakar dan umar maka kita menjadikan keteladanan pada kepemimpinan abu bakar dan umar.
Namun, kemudian secara khusus syaikh memberikan point2 penting keteladanan pada kepemimpinan pada masa kepemimpinan umar bin khathab radhiyallahu 'anhu, diantara point2 tersebut adalah :
=> umar bin khathab mempunyai kemuliaan atau keutamaan setelah abu bakar, sebagaimana dalam hadits berikut :
Al-Imaam At-Tirmidziy rahimahullah berkata :
حَدَّثَنَا سَلَمَةُ بْنُ شَبِيبٍ، حَدَّثَنَا الْمُقْرِئُ، عَنْ حَيْوَةَ بْنِ شُرَيْحٍ، عَنْ بَكْرِ بْنِ عَمْرٍو، عَنْ مِشْرَحِ بْنِ هَاعَانَ، عَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ: " لَوْ كَانَ بَعْدِي نَبِيٌّ لَكَانَ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ "
Telah menceritakan kepada kami Salamah bin Syabiib :
Telah menceritakan kepada kami Al-Muqri’, dari Haiwah bin Syuraih, dari Bakr bin ‘Amru, dari Misyrah bin Haa’aan, dari ‘Uqbah bin ‘Aamir, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam : “Seandainya ada nabi setelahku, niscaya ia adalah ‘Umar bin Al-Khaththaab”
[As-Sunan, no. 3686].
=> Kepemimpinan umar dibangun di atas nilai-nilai agama, oleh karenanya ia mendapat julukan amirul mu'minin (pemimpin orang2 yang beriman)
=> Allaah mempersiapkan umar (orang yang cerdas dan ber'ilmu) sebagai pemimpin yang mempunyai kedudukan yang tinggi di kalangan rakyatnya. Karena pada masa itu umat Islam masih dalam kondisi jahiliyyah, tidak bisa baca tulis.
=> Pada masa awal Islam, dimana shahabat rasulullaah yg masih sedikit, da'wah ataupun perkumpulan yang dilakukan pun diam2 karena khawatir akan ancaman orang kafir, ditengah kondisi tersebut umar justru berani untuk masuk islam secara terang2an. Dari hal tersebut dapat dilihat bahwa umar adalah sosok yang penuh dengan keberanian.
Kepemimpinan butuh sikap keberanian dan ketegasan, bukan kenekatan ataupun kengawuran.
=> Kepemimpinan adalah suatu bentuk peningkatan kejayaan rakyat (umat) bukan mementingkan kejayaan pribadi atau perorangan, ataupun kepentingan kelompok. Demikianlah kepemimpinan umar, kepemimpinannya berpengaruh pada masyarakat. Kepemimpinannya membuka pintu2 kebaikan dunia dan akhirat.
=> kepemimpinan umar adalah kepemimpinan yang memiliki 'ilmu dan penuh keta'atan kepada Allaah. Kepemimpinan baik yang kecil maupun besar hendaklah memiliki 'ilmu dari kitabullaah, jangan hanya faham 'ilmu dunia.
=> Umar memiliki kemampuan untuk mengambil sikap yang tepat melalui tanda2 yang ada disekitarnya. Hal ini tentu dibutuhkan bagi pemimpin agar tidak mudah didekati oleh penipu ataupun para pengkhianat.
=> Memiliki semangat untuk bersikap adil pada kepemimpinannya.
Beliau menegakkan agama pada diri dan keluarganya baru kepada masyarakat. Sesuai firman Allaah :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا ( التحريم: 6)
"Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan
keluargamu dari api neraka ."
Hal lain yang berkaitan dengan amanah dan keadilan adalah umar bin khathab tidak mengambil harta negara untuk kehidupan pribadinya, namun ia bekerja, dengan berdagang. Hal ini dimaksudkan untuk menjauhkan diri dari harta-harta yang haram.
=> umar bin khathab adalah orang yang faham akan kebenaran, bersikap tegas di atas kebenaran namun jika ia salah maka akan mengakui kesalahannya dan kembali kepada kebenaran.
Sebagaimana hadits rasulullaah :
Dari sahabat Anas bin Malik , bahwa Rasulullah bersabda:
كُلُّ بَنِي آدَمَ خَطَّاءٌ وَ خَيْرُ الْخَطَّائِيْنَ التَّوَّابُونَ
“Setiap anak Adam (manusia) pasti sering berbuat kesalahan “Dan sebaik-baik orang yang berbuat kesalahan adalah yang mau bertaubat.” (H.R. Ibnu Majah no. 4251 dan lainnya)
=> umar bin khathab adalah orang yang mudah bergaul, dekat dengan shahabat2nya, bukan orang yang sombong dan angkuh serta tidak jauh dari masyarakat.
=> sebelum menjadi khalifah, masa kepemimpinan rasulullaah, umar bin khathab diberi kepercayaan untuk mengurus harta kaum muslimin ( harta2 sedekah), dimana pekerjaan ini dapat dengan mudahnya mengambil harta yang bukan haknya. Jika umar tidak memiliki kemuliaan, maka ia tidak akan diberikan kepercayaan ini oleh rasulullaah. Umar bin khathab tidak menggunakan jabatan untuk kemaslahatan pribadi.
=> kepemimpinan umar bin khathab yang begitu menjaga keamanan negara, stabilitas negara lebih utama.
=> beliau senantiasa berfikir tentang kemaslahatan umat (rakyat)
=> umar bin khathab mengajarkan kepada pasukan tentang adab-adab peperangan, larangan untuk menjauh dan tdk membunuh orangtua, anak-anak, wanita, tidak merusak tanaman, dan adab lainnya. Mengajarkan menjadi pasukan yang amanah, tidak berkhianat.
Wallahua'lam..
Demikian sedikit catatan singkat tabligh akbar hari ini..
Semoga memberikan manfaat
==============================
Selanjutnya ba'da isya, angin mulai sepoi2 di balik lubang2 angin lantai 2 masjid istiqlal dan mulai banyak keributan dan hilir mudik orang, yang menghilangkan fokus (setelah mencoba dikumpulkan lagi, namun tdk juga kumpul lagi) dan membuyarkan sedikit semangat untuk melanjutkan catatan, dan akhirnya benar2 menutup catatan.
⌣̊┈»̶·̵̭̌✽����✽·̵̭̌«̶┈⌣̊
Sumber: FB Windry Ummu Mujahid
Siapkan Harta sebelum Ramadhan
:::Siapkan Harta sebelum Ramadhan:::
Sebelum memasuki bulan Ramadhan, kita persiapkan harta kita.
Untuk apa?
Untuk beli makanan buka puasa?
Tidak.
Untuk bikin kue lebaran?
Tidak.
Tapi untuk memperbanyak amalan shodaqah.
Dalam sebuah hadits, dari Ibnu 'Abbas radhiallâhu'anhu:
Rasulullah orang yang paling dermawan dan lebih dermawan di bulan Ramadhan.
(Al Hadits)
Mari kita berlomba lomba untuk shodaqah.
Tarhib Ramadhan
Ditulis oleh: أُسْتَاذُ Abu Yahya Badrusalam, Lc حفظه الله تعال
✽¸.•
•.¸✽¸•
•.¸✽¸•
•.¸✽¸.•
•.¸✽
Sebelum memasuki bulan Ramadhan, kita persiapkan harta kita.
Untuk apa?
Untuk beli makanan buka puasa?
Tidak.
Untuk bikin kue lebaran?
Tidak.
Tapi untuk memperbanyak amalan shodaqah.
Dalam sebuah hadits, dari Ibnu 'Abbas radhiallâhu'anhu:
Rasulullah orang yang paling dermawan dan lebih dermawan di bulan Ramadhan.
(Al Hadits)
Mari kita berlomba lomba untuk shodaqah.
Ditulis oleh: أُسْتَاذُ Abu Yahya Badrusalam, Lc حفظه الله تعال
✽¸.•
KEUTAMAAN MELAKUKAN KEBAIKAN SEKECIL APAPUN
KEUTAMAAN MELAKUKAN KEBAIKAN SEKECIL APAPUN
عَنْ أَبِي ذَرٍّ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ لِيَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” لَا تَحْقِرَنَّ مِنْ الْمَعْرُوفِ شَيْئًا وَلَوْ أَنْ تَلْقَى أَخَاكَ بِوَجْهٍ طَلْقٍ “.( رواه مسلم)
Dari Abi Dzar radhiyallahu anhu, ia berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Janganlah kamu meremehkan kebaikan sekecil apapun, sekalipun engkau bertemu saudaramu dengan wajah yang berseri.”
(HR. Muslim no. 6637).
(*) BEBERAPA PELAJARAN PENTING DAN FAEDAH ILMIYAH YANG DAPAT DIAMBIL DARI HADITS INI:
∙̣̇∙̣̇∙̣̇∙̣̣̣̇̇̇∙̣̣̇̇∙̣̇∙ Oleh: أُسْتَاذُ Muhammad Wasitho Abu Fawaz, Lc MA حفظه الله تعال
BEBERAPA PELAJARAN PENTING DAN FAEDAH ILMIYAH YANG DAPAT DIAMBIL DARI HADITS:
1. Dilarang meremehkan kebaikan sekecil apapun meskipun dianggap remeh oleh sebagian orang.
Diantara kebaikan yang dianggap kecil ialah:
» Mengirim sms/email dukungan untuk keberlangsungan dakwah sunnah di TV, Radio dan semisalnya kepada pihak yang berwenang.
» Mengambilkan atau menuangkan air minum untuk orang lain.
» Menshare/menyebar luaskan ilmu atau info kajian Islam dengan pemahaman yang benar kepada orang lain.
» Bersedekah dengan sepotong roti atau sebiji kurma, dan selainnya.
Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:
(Ittaquu An-Naaro Wa Lau Bi Syiqqi At-Tamroti)
Artinya: “Lindungilah diri kalian dari api Neraka meskipun dengan (bersedekah) separuh biji kurma.”
2. Anjuran bersikap lemah lembut dan berwajah ceria ketika berjumpa dengan saudara seislam dan seiman.
3. Anjuran untuk melakukan hal-hal yang dapat menguatkan ikatan persaudaraan Islam, dan wajib menjauhi segala sebab perpecahan dan permusuhan sekecil apapun.
4. Tersenyum dan Berwajah ceria kepada saudara sesama muslim merupakan amal kebaikan yamg mendatangkan pahala sebagaimana pahala bersedekah.
Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam:
(Tabassumuka Fii Wajhi Akhiika Shodaqotun)
Artinya: “Senyummu di hadapan saudaramu sesama muslim adalah (bernilai) sedekah bagimu.”
(HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Hibban. Dan dinyatakan SHOHIH oleh syaikh Al-Albani rahimahullah).
(*) Catatan:
Meskipun senyum dan bermuka manis kepada saudara sesama muslim merupakan amal kebaikan yang berpahala, hanya saja kita wajib menjaga diri kita dari senyum dan tebar pesona kepada lawan jenis yang bukan mahrom, karena sangat dikhawatirkan dapat menimbulkan fitnah dan penyakit di dalam hati, sehingga dengan demikian statusnya berubah dari amal kebaikan yang berpahala menjadi perbuatan buruk yang mendatangkan dosa dan murka Allah ta’ala.
Demikian beberapa pelajaran penting n faedah ilmiyah yang dapat kami sebutkan. Semoga menjadi ilmu yang bermanfaat bagi kita semua.
Wallahu a’lam bish-shawwab.
Wabillahi at-Taufiq
⌣̊┈»̶·̵̭̌✽����✽·̵̭̌«̶┈⌣̊
عَنْ أَبِي ذَرٍّ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ لِيَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” لَا تَحْقِرَنَّ مِنْ الْمَعْرُوفِ شَيْئًا وَلَوْ أَنْ تَلْقَى أَخَاكَ بِوَجْهٍ طَلْقٍ “.( رواه مسلم)
Dari Abi Dzar radhiyallahu anhu, ia berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Janganlah kamu meremehkan kebaikan sekecil apapun, sekalipun engkau bertemu saudaramu dengan wajah yang berseri.”
(HR. Muslim no. 6637).
(*) BEBERAPA PELAJARAN PENTING DAN FAEDAH ILMIYAH YANG DAPAT DIAMBIL DARI HADITS INI:
∙̣̇∙̣̇∙̣̇∙̣̣̣̇̇̇∙̣̣̇̇∙̣̇∙ Oleh: أُسْتَاذُ Muhammad Wasitho Abu Fawaz, Lc MA حفظه الله تعال
BEBERAPA PELAJARAN PENTING DAN FAEDAH ILMIYAH YANG DAPAT DIAMBIL DARI HADITS:
1. Dilarang meremehkan kebaikan sekecil apapun meskipun dianggap remeh oleh sebagian orang.
Diantara kebaikan yang dianggap kecil ialah:
» Mengirim sms/email dukungan untuk keberlangsungan dakwah sunnah di TV, Radio dan semisalnya kepada pihak yang berwenang.
» Mengambilkan atau menuangkan air minum untuk orang lain.
» Menshare/menyebar luaskan ilmu atau info kajian Islam dengan pemahaman yang benar kepada orang lain.
» Bersedekah dengan sepotong roti atau sebiji kurma, dan selainnya.
Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:
(Ittaquu An-Naaro Wa Lau Bi Syiqqi At-Tamroti)
Artinya: “Lindungilah diri kalian dari api Neraka meskipun dengan (bersedekah) separuh biji kurma.”
2. Anjuran bersikap lemah lembut dan berwajah ceria ketika berjumpa dengan saudara seislam dan seiman.
3. Anjuran untuk melakukan hal-hal yang dapat menguatkan ikatan persaudaraan Islam, dan wajib menjauhi segala sebab perpecahan dan permusuhan sekecil apapun.
4. Tersenyum dan Berwajah ceria kepada saudara sesama muslim merupakan amal kebaikan yamg mendatangkan pahala sebagaimana pahala bersedekah.
Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam:
(Tabassumuka Fii Wajhi Akhiika Shodaqotun)
Artinya: “Senyummu di hadapan saudaramu sesama muslim adalah (bernilai) sedekah bagimu.”
(HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Hibban. Dan dinyatakan SHOHIH oleh syaikh Al-Albani rahimahullah).
(*) Catatan:
Meskipun senyum dan bermuka manis kepada saudara sesama muslim merupakan amal kebaikan yang berpahala, hanya saja kita wajib menjaga diri kita dari senyum dan tebar pesona kepada lawan jenis yang bukan mahrom, karena sangat dikhawatirkan dapat menimbulkan fitnah dan penyakit di dalam hati, sehingga dengan demikian statusnya berubah dari amal kebaikan yang berpahala menjadi perbuatan buruk yang mendatangkan dosa dan murka Allah ta’ala.
Demikian beberapa pelajaran penting n faedah ilmiyah yang dapat kami sebutkan. Semoga menjadi ilmu yang bermanfaat bagi kita semua.
Wallahu a’lam bish-shawwab.
Wabillahi at-Taufiq
⌣̊┈»̶·̵̭̌✽����✽·̵̭̌«̶┈⌣̊
LENTERAKU MULAI REDUP
Tema "LENTERAKU MULAI REDUP"
Pemateri: أُسْتَاذُ Dr.Syafiq Riza Basalamah MA hafizhahullah
Sabtu, 23 Sya'ban 1435H / 21 Juni 2014 @Masjid Ar-Rahmat, Jl. Anggrek Cendrawasih, Slipi, Jakarta Barat:
Bismillah.
Alhamdulillahilladzi bini'matihi tatimushshalihat.
Syaikh al albani rahimahullah:
Perjalanan kita jauuh, tidak penting sampai dimana jarak yang ditempuh, Yang utama kita masih di jalur-Nya.
Jalan ke surga itu terjal dan menanjak. Maka perlu kesungguhan,istiqamah dan waspada disetiap langkah dengan memohon pertolongan kepada Allah azza wa jalla.
Kita perlu cahaya dari Allah ta'ala untuk menentukan jalan yang benar dan lurus. dengan menuntut ilmu syar'i terus menerus.
Bila ada masalah besar, angin besar yang menerjang, maka cahaya/lentera iman kita akan meredup hingga kadang mati.
Maka perlu ada kesiapan korek api tuk menyalakan lagi cahaya yang padam tersebut.
Ibarat lain lentera adalah baterei hape yang perlu di charge ulang setiap mendekati low bat. jangan sampai batre hape tersebut sekarat,tidak bisa di charge lagi. Allahul musta'an.
Musuh-musuh Allah selalu berusaha menghalangi kita menuju surga dengan langkah mulus. Namun mereka selalu mematikan lentera yang menunjuki jalan ke surga dengan berbagai cara dan menyeret kita secara perlahan agar mengikuti agama mereka.
Islam adalah cahaya Allah azza wa jalla.
Iman diibaratkan pakaian yang bisa usang bila dipakai terus menerus .Maka perlu diperbaharui.
Juga iman diibaratkan rembulan. Disaat purnamapun akan gelap bila tertutup mendung tebal.
Demikianlah iman bertambah dengan amal shalih dan berkurang dengan perbuatan dosa.
Hidup didunia tak lepas dari ujian. Bergilir, setelah bahagia,datang masa berduka, airmata berubah jadi tawa, susah senang bergantian tiap episode yang terjalani.
Tanda-tanda Lentera mulai redup:
1. Terjerumus kepada kemaksiatan / berbuat dosa.
2. Merasakan kerasnya hati
3. Ibadahnya tidak sempurna / tidak khusyu'
4. Malas yang menjadi-jadi
5. Hati menjadi sempit / cepat marah
6. Tidak terpengaruh dengan ancaman-ancaman Allah ta'ala
7. Lalai dari dzikrullah.
8. Ketika ditimpa musibah, mereka bingung,panik,tidak bersabar,
9. Bakhil, kikir untuk berbagi.
10.Hubud dunya/cinta dunia.
11.Tidak perduli urusan umat islam
Faktor penyebab iman lemah:
1. Jauh dari lingkungan pendukung keimanan
2. Putus dari menuntut ilmu syar'i
3. Berada ditengah-tengah pelaku kemaksiatan.
4. Panjang angan-angan
5. Banyak makan minum dan bergaul.
Cara menghidupkan lentera yang meredup:
1. Tadabbur al qur'an
2. Menghidupkan dalam hati mengagungkan Allah ta'ala
3. Sering hadir ke majelis ilmu
4. Ziarah kubur
5. Bervariasi dalam beribadah/menambah amalan-amalan sunnah
6. Takut su'ul hatimah
7. Berdzikir yang banyak
8. Loyalitas pada umat islam dan berlepas diri dari orang kuffar
9. Tawaddu' , jangan sombong
10. Muhasabah / menghisab diri
11. Berkunjung ke orang-orang shalih..minimal dapat nasehat dan ilmu Beliau.
12. Berkunjung ke rumah sakit. akan menambah rasa syukur kpd Allah azza wa jalla
13.Refreshing.
14.Berdoa kepada Allah azza wa jalla
Agama itu mudah, jiwa itu butuh refreshing, hiburlah dengan hal yang mubah asal tidak berlebihan.
Mu’adz bin Jabal berkata :
"Wajib atas kalian untuk menuntut ilmu,
sesungguhnya mempelajari ilmu (dengan ikhlash) karena Allah merupakan kasyyah ,
mengkajinya merupakan ibadah,
mengingatnya merupakan tasbih,
dan membahasnya merupakan jihad“
[Ibnul-Qayyim - Miftah Daaris-Sa’adah 1/131-132; Maktabah Al-Misykah]
Wallahu ta'ala a'lam.
Semoga bermanfaat.
٭ ♌ ♧ ٭ ♌ ♧ ٭ ♌ ♧ ٭ ♌ ♧ ٭̣̣̣̣̣̣̣̣̣̣̣̣̣̣̣̣̣̣̣̣̣̣̣̣̣̣̣̣̣̣̣̣̣̣̣̣̣̣̣̣̇̇̇̇̇̇̇̇̇̇̇̇̇̇̇̇̇̇̇̇̇̇̇̇̇̇̇̇̇̇̇̇̇̇̇̇̇̇̇̇
Pemateri: أُسْتَاذُ Dr.Syafiq Riza Basalamah MA hafizhahullah
Sabtu, 23 Sya'ban 1435H / 21 Juni 2014 @Masjid Ar-Rahmat, Jl. Anggrek Cendrawasih, Slipi, Jakarta Barat:
Bismillah.
Alhamdulillahilladzi bini'matihi tatimushshalihat.
Syaikh al albani rahimahullah:
Perjalanan kita jauuh, tidak penting sampai dimana jarak yang ditempuh, Yang utama kita masih di jalur-Nya.
Jalan ke surga itu terjal dan menanjak. Maka perlu kesungguhan,istiqamah dan waspada disetiap langkah dengan memohon pertolongan kepada Allah azza wa jalla.
Kita perlu cahaya dari Allah ta'ala untuk menentukan jalan yang benar dan lurus. dengan menuntut ilmu syar'i terus menerus.
Bila ada masalah besar, angin besar yang menerjang, maka cahaya/lentera iman kita akan meredup hingga kadang mati.
Maka perlu ada kesiapan korek api tuk menyalakan lagi cahaya yang padam tersebut.
Ibarat lain lentera adalah baterei hape yang perlu di charge ulang setiap mendekati low bat. jangan sampai batre hape tersebut sekarat,tidak bisa di charge lagi. Allahul musta'an.
Musuh-musuh Allah selalu berusaha menghalangi kita menuju surga dengan langkah mulus. Namun mereka selalu mematikan lentera yang menunjuki jalan ke surga dengan berbagai cara dan menyeret kita secara perlahan agar mengikuti agama mereka.
Islam adalah cahaya Allah azza wa jalla.
Iman diibaratkan pakaian yang bisa usang bila dipakai terus menerus .Maka perlu diperbaharui.
Juga iman diibaratkan rembulan. Disaat purnamapun akan gelap bila tertutup mendung tebal.
Demikianlah iman bertambah dengan amal shalih dan berkurang dengan perbuatan dosa.
Hidup didunia tak lepas dari ujian. Bergilir, setelah bahagia,datang masa berduka, airmata berubah jadi tawa, susah senang bergantian tiap episode yang terjalani.
Tanda-tanda Lentera mulai redup:
1. Terjerumus kepada kemaksiatan / berbuat dosa.
2. Merasakan kerasnya hati
3. Ibadahnya tidak sempurna / tidak khusyu'
4. Malas yang menjadi-jadi
5. Hati menjadi sempit / cepat marah
6. Tidak terpengaruh dengan ancaman-ancaman Allah ta'ala
7. Lalai dari dzikrullah.
8. Ketika ditimpa musibah, mereka bingung,panik,tidak bersabar,
9. Bakhil, kikir untuk berbagi.
10.Hubud dunya/cinta dunia.
11.Tidak perduli urusan umat islam
Faktor penyebab iman lemah:
1. Jauh dari lingkungan pendukung keimanan
2. Putus dari menuntut ilmu syar'i
3. Berada ditengah-tengah pelaku kemaksiatan.
4. Panjang angan-angan
5. Banyak makan minum dan bergaul.
Cara menghidupkan lentera yang meredup:
1. Tadabbur al qur'an
2. Menghidupkan dalam hati mengagungkan Allah ta'ala
3. Sering hadir ke majelis ilmu
4. Ziarah kubur
5. Bervariasi dalam beribadah/menambah amalan-amalan sunnah
6. Takut su'ul hatimah
7. Berdzikir yang banyak
8. Loyalitas pada umat islam dan berlepas diri dari orang kuffar
9. Tawaddu' , jangan sombong
10. Muhasabah / menghisab diri
11. Berkunjung ke orang-orang shalih..minimal dapat nasehat dan ilmu Beliau.
12. Berkunjung ke rumah sakit. akan menambah rasa syukur kpd Allah azza wa jalla
13.Refreshing.
14.Berdoa kepada Allah azza wa jalla
Agama itu mudah, jiwa itu butuh refreshing, hiburlah dengan hal yang mubah asal tidak berlebihan.
Mu’adz bin Jabal berkata :
"Wajib atas kalian untuk menuntut ilmu,
sesungguhnya mempelajari ilmu (dengan ikhlash) karena Allah merupakan kasyyah ,
mengkajinya merupakan ibadah,
mengingatnya merupakan tasbih,
dan membahasnya merupakan jihad“
[Ibnul-Qayyim - Miftah Daaris-Sa’adah 1/131-132; Maktabah Al-Misykah]
Wallahu ta'ala a'lam.
Semoga bermanfaat.
٭ ♌ ♧ ٭ ♌ ♧ ٭ ♌ ♧ ٭ ♌ ♧ ٭̣̣̣̣̣̣̣̣̣̣̣̣̣̣̣̣̣̣̣̣̣̣̣̣̣̣̣̣̣̣̣̣̣̣̣̣̣̣̣̣̇̇̇̇̇̇̇̇̇̇̇̇̇̇̇̇̇̇̇̇̇̇̇̇̇̇̇̇̇̇̇̇̇̇̇̇̇̇̇̇
Langganan:
Postingan (Atom)



