Sabtu, 25 Januari 2014

Prinsip-Prinsip Dasar Ruqyah

Prinsip-Prinsip Dasar Ruqyah.

Ditulis oleh: أُسْتَاذُ Abu Asma Kholid Syamhudi, Lc - حفظه الله





    Apa manfaat banyak harta jika senantiasa dalam kondisi sakit lahir maupun batin?
    Sempurnanya kebaikan agama seseorang terletak pada sempurnanya kesehatan badannya, dan kebutuhan kita terhadap kesehatan badan lebih besar daripada kebutuhan kita terhadap makanan dan minuman.
    Maksiat menyebabkan kebinasaan dan mempercepat anggota badan menuju kematian, sedangkan ketaatan mencegah bala’, penyakit, dan kematian yang buruk.

Mencari kesehatan merupakan tuntutan syar’i dan kehidupan. Diriwayatkan At-Tirmidzi dengan sanad shahih dari Amr bin Malik, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنْ أَصْبَحَ مُعَافًى فِي بَدَنِهِ آمِنًا فِي سِرْبِهِ عِنْدَهُ قُوتُ يَوْمِهِ فَكَأَنَّمَا حَيَزَتْ لَهُ الدُّنْيَا بِحَذَافِيْرِهَا

“Barangsiapa pada pagi hari sehat badannya, aman jiwanya, memiliki makanan pokok pada hari itu, seakan telah terkumpul padanya segala (kenikmatan) dunia.”  (HR. at-tirmidzi dan dihasankan al-Albani dalam Shahih at-Targhib wa at-Tarhib  no. 833).

Hal tersebut karena sempurnanya kebaikan agama terletak pada sempurnanya kesehatan badan. Barangsiapa badannya sehat maka akan benar ibadahnya. Ia melaksanakan ketaatan kepada Rabbnya dalam kondisi sempurna sesuai perintah Allah Ta;ala dalam kitab-Nya dan yang melalui lisan Rasul-Nya. Dalam hadits shahih dinyatakan:

الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ، خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ، وَفِي كُلٍّ خَيْرٌ

“Mu’min yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mu’min yamg lemah, dan pada masing-masing ada kebaikan”.

Apa manfaat banyak harta jika badannya senantiasa dalam kondisi sakit lahir maupun batin? Apakah orang sakit dapat menikmati tidur atau merasakan lezatnya berbagai makanan dan minuman padahal sudah rusak lidah dan alat perasanya?

Oleh karena itu Nabi Dawud ‘alaihissalam berkata: “Kesehatan adalah kekuatan tersembunyi, (sakit) kesedihan sesaat saja bisa menyebabkan kelemahan setahun”. Ada yang mengatakan: ‘Kesehatan adalah nikmat yang dilupakan’. Sebagaimana perkataan sebagian salaf, “Berapa banyak nikmat Allah pada setiap tetesan keringat orang”. Dahulu mereka mengatakan alangkah indahnya apa yang mereka ucapkan: “Kesehatan adalah mahkota (yang disematkan) pada kepala orang-orang yang sehat, tidak mengetahuinya kecuali orang-orang yang sakit.”.

Kesehatan termasuk permulaan nikmat di antara nikmat-nikmat Allah Ta’ala yang akan ditanya tentangnya seorang hamba pada hari kiamat, dikatakan kepadanya: “Bukankah Aku telah menyehatkan badanmu dan Aku segarkan dengan air yang dingin?”.

Wajib bagi seorang hamba -yang telah dianugerahi kesehatan- untuk menggunakannya dalam ketaatan kepada Allah Ta’ala dan menggunakan kesehatannya dalam ibadah dan jihad di jalan-Nya serta tidak memforsirnya untuk kemaksiatan dan dosa. Barangsiapa yang dijaga Allah anggota badannya dan diberi kenikmatan pendengaran, penglihatan dan kekuatan dalam jangka waktu lama maka sungguh ia telah diberi kenikmatan yang besar. Hal ini ditunjukan oleh Perkataan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

اِحْفَظِ اللهَ يَحْفَظْكَ

“Jagalah Allah niscaya Allah akan menjagamu”.

Kemaksiatan menyebabkan kebinasaan, mempercepat anggota badan menuju kematiaan karena digunakan tidak sesuai dengan tujuan diciptakannya yaitu untuk bersyukur dan menetapi syariat yang padanya terdapat kelanggengan dan keselamatan anggota badan. Sedangkan ketaatan mencegah bala’, penyakit dan kematian yang buruk. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

دَاوَوْا مَرْضَاكُمْ بِالصَّدَقَةِ

“Obatilah orang yang sakit di antara kalian dengan shadaqah”.  (HR Abu asy-Syaikh dalam ats-Tsawaab dan dihasankan al-Albani dalam Shahil al-Jaami’ no. 3385). Dalam hadits lain:

صَنَائِعُ الْمَعْرُوْفِ تَقِيْ مَصَارِعَ السُّوْءِ

“Budi pekerti luhur menolak (dari mendatangi) tempat-tempat yang buruk”. (HR al-Hakim dalam al Mustadrak dan dishahihkan al-Albani dalam Silsilah Shahihah no 3795)

Memohon kesehatan (al-‘Afiyat) dari Allah Ta’ala merupakan do’a yang lengkap yang hendaknya seorang mu’min bersemangat berdoa memohonkannya. Dari Al-Abbas bin Abdil Muththalib, ia berkata:

يَا رَسُولَ اللهِ عَلِّمْنِي شَيْئًا أَسْأَلُهُ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ، قَالَ: سَلِ اللَّهَ العَافِيَةَ، فَمَكَثْتُ أَيَّامًا ثُمَّ جِئْتُ فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ عَلِّمْنِي شَيْئًا أَسْأَلُهُ اللَّهَ، فَقَالَ لِي: يَا عَبَّاسُ يَا عَمَّ رَسُولِ اللهِ، سَلِ اللَّهَ العَافِيَةَ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ.

Aku berkata, Wahai Rasulullah, ajari aku sesuatu yang aku akan memintanya kepada Allah. Beliau bersabda, ‘Mintalah kepada Allah kesehatan”. Kemudian aku menanti beberapa hari, kemudian aku mendatanginya dan berkata, Wahai Rasulullah, ajari aku sesuatau yang aku akan memintanya kepada Allah. Rasulullah bersabda kepadaku:”Wahai Abbas, paman Rasulullah. Mintalah kepada Allah kesehatan  di dunia dan akhirat”    (HR Ahmad dan at-Tirmidzi dan dishahihkan al-Albani dalam shahih sunan at-tirmidzi no. 3514).

Kesehatan di dunia membantu terwujudnya kesempurnaan kebaikan agama (seseorang). Karena kesempurnaan kebaikan agama (seseorang) adalah sehatnya badan dan selamatnya agama. Dengan keduanya seorang hamba akan memperoleh keberhasilan dan akan diberikan padanya dunia dan akhiratnya sekaligus.

Tidak selayaknya seorang hamba meminta dirinya ditimpa sakit dan siksa. Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu belau berkata:

أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، عَادَ رَجُلًا مِنَ الْمُسْلِمِينَ قَدْ خَفَتَ فَصَارَ مِثْلَ الْفَرْخِ، فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «هَلْ كُنْتَ تَدْعُو بِشَيْءٍ أَوْ تَسْأَلُهُ إِيَّاهُ؟» قَالَ: نَعَمْ، كُنْتُ أَقُولُ: اللَّهُمَّ مَا كُنْتَ مُعَاقِبِي بِهِ فِي الْآخِرَةِ، فَعَجِّلْهُ لِي فِي الدُّنْيَا، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: " سُبْحَانَ اللهِ لَا تُطِيقُهُ – أَوْ لَا تَسْتَطِيعُهُ – أَفَلَا قُلْتَ: اللهُمَّ آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ "

Sesungguhnya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam menjenguk seseorang yang bersusah payah sekuat tenaga sehingga seperti orang yang kepayahan. Maka Rasulullah bertanya kepadanya:”Engkau berdo’a apa? Bukankah engkau memohon kesehatan? Laki-laki itu berkata: Dulu aku berdo’a, Ya Allah, apa yang engkau akan menyiksa aku dengannya maka segerakanlah siksa itu bagiku di dunia. Nabi bersabda:”Maha suci Allah, sungguh engkau tidak akan kuat menerimanya-atau tidak mampu menerimanya-Mengapa engkau tidak mengatakan, Ya Allah berilah kami kebaikan di dunia, kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka. (HR Muslim).

Dari Mu’adz bin Rufa’ah, ia berkata, Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu naik mimbar kemudian menangis. Kemudian berkata: Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam naik mimbar  pada tahun pertama lalu beliau menangis, kemudian bersabda, “Mintalah kepada Allah ampunan dan kesehatan. Sungguh seseorang tidak diberi lebih baik setelah kayakinan (keimanan) daripada keselamatan.”

Jika kita telah mendapat keselamatan maka wajib bagi kita untuk menjaganya sebagai bentuk ketaatan kepada Allah Ta’ala dan pendekatkan diri kepada-Nya, karena kebutuhan kita terhadapnya lebih besar dari kebutuhan kita terhadap makanan dan minuman. Dari sinilah datang syari’at Allah Ta’ala memerintahkan kita agar sederhana dalam makan, minum, dan jima’, dan menjaga dari menyiksa diri, menjaga kesehatan, dan mengambil sebab yang Allah Ta’ala menjadikannya sebagai sarana kesembuhan, mencari obat dan kesembuhan dengan menyandarkan diri kepada Allah Ta’ala dan berkeyakinan bahwa Dialah satu-satunya penyembuh.

Sesungguhnya keikhlasan menjalankan agama hanya untuk Allah ‘Azza wa Jalla semata dan bertawakkal kepada-Nya merupakan sebab terbesar untuk menolak penguasaan ruh-ruh rendah lagi kotor dan menolak penyakit mematikan. Kita dapat meringkas manhaj Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam menjaga keselamatan dan mengusahakan agar senantiasa dalam kondisi sehat  jasmaniah dan ruhaniyah secara materi maupun maknawi sebagai berikut:

    Ikhlas menjalankan agama hanya untuk Allah ‘Azza wa Jalla merupakan sebab penjagaan hamba dari tipu daya setan  dan fitnah kehidupan dunia. Dan benteng bagi hamba dari penguasaan setan manusia maupun setan jin.
    Sabar menghadapi cobaan. Kelapangan datang setelah kesempitan dan kemudahan datang setelah kesulitan. Allah Ta’ala berfirman :

فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا (5) إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا (6)

Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. (QS Alam Nasyrah : 5-6)

Tidak mungkin satu kesulitan mengalahkan dua kemudahan.

    Mengharap pahala dari ujian Allah Ta’ala dapat membantu untuk bersabar atasnya.
    Apa yang di sisi Allah Ta’ala tidak akan diraih kecuali dengan taat kepada-Nya. Barangsiapa menjaga perintah-perintah Allah Ta’ala,  niscaya Allah menjaga badannya dan keselamatannya di dunia dan akhirat.
    Hendaknya seorang hamba melakukan amalan yang membuat Allah ‘Azza wa Jalla mengenalnya di kala hidup lapang sebelum ditimpa kesempitan. Barangsiapa yang beramal ketaatan di kala hidup lapang maka Allah akan mengingatnya ketika ia dalam kesempitan. Allah Ta’ala berfirman:

فَلَوْلَا أَنَّهُ كَانَ مِنَ الْمُسَبِّحِينَ (143) لَلَبِثَ فِي بَطْنِهِ إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ (144)

Maka kalau sekiranya dia tidak termasuk orang-orang yang banyak mengingat Allah, niscaya ia akan tetap tinggal di perut ikan itu sampai hari berbangkit. {QS. Ash-Shaaffat: 143-144}

    Berbuat baik kepada makhluk, shadaqah kepada orang-orang faqir dan miskin termasuk sebab menolak bala’.
    Hendaknya orang yang sakit menyerahkan urusannya kepada Allah ‘Azza wa Jalla dan mengambil sebab kesembuhan untuk mengobati sakitnya sebelum mengadukannya kepada manusia.
    Ruqyah dibacakan kepada yang sakit dan ia tidak minta agar dirinya diruqyah sebagai bentuk tawakkal kepada Allah Ta’ala dan penyandaran diri kepada-Nya berdasarkan hadits Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma dalam mensifati tujuh puluh ribu orang yang masuk surga tanpa hisab dan adzab:

هُمُ الَّذِينَ لاَ يَسْتَرْقُوْنَ وَلا يَكْتَوُوْنَ وَلاَ يَتَطَيَّرُونَ وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ

“Mereka tidak minta diruqyah, tidak tathayyur (menganggap sial dengan adanya hewan tertentu), tidak minta dikay (ditempel lukanya dengan besi panas), dan merekapun bertawakkal hanya kepada Rabb mereka.”

    Hendaknya bagi orang sakit menggantungkan hatinya kepada Allah Ta’ala, pasrah kepada-Nya ketika kesulitan, tidak kepada seorangpun selain-Nya. Allah berfirman :

أَمَّنْ يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ

Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan {QS. An-Naml: 62}

    Satu dirham untuk pencegahan lebih baik daripada sejuta dirham untuk pengobatan. Maka harus ada usaha pencegahan dan sikap waspada secara materi maupun maknawi dari setiap yang menyakiti badan maupun ruh.
    Keampuhan senjata tergantung pemakainya. Kekuatan senjata saja tidak cukup jika pemakainya seorang yang lumpuh atau lemah. Demikianlah ruqyah syar’iyah menjadi mujarab dan memberi pengaruh jika keluar dari hati dan lisan yang jujur beriman dengannya (ayat-ayat ruqyah), yang senantiasa melaksanakan perintah-perintah Allah Ta’ala yang terdapat dalam kitab-Nya dan yang melalui lisan rasul-Nya.
    Keseluruhan Al-Qur’an merupakan obat. Tetapi apa yang telah tetap dalilnya secara khusus bahwa pada ayat-ayat (tertentu) dari Al-Qur’an merupakan obat lebih diutamakan dari selainnya meskipun seluruh (ayat-ayat) Al-Qur’an adalah obat. Tidak mengapa (ruqyah) dengan do’a-do’a dan dzikir-dzikir yang tidak mengandung penyimpangan, larangan, atau syirik. Berdasarkan hadits: “Tunjukkan ruqyah kalian kepadaku! Tidak mengapa ruqyah selama tidak berupa syirik”.
    Tidak diperbolehkan meminta bantuan jin untuk mengeluarkan jin (lain) dan menghilangkan sihir -sekalipun jin yang dimintai bantuan adalah jin muslim- karena hal demikian belum pernah dilakukan Rasulullah shallallahu ‘alahi wasallam dan bukan perbuatan kaum salaf. Hal itu merupakan pembuka pintu kesyirikan yang besar dan para setan telah menjerat kebanyakan para peruqyah dan menggelincirkan mereka (pada hal ini). Menutup pintu ini lebih utama dan mencukupkan dengan ruqyah syar’iyah saja karena padanya ada keselamatan dan keberhasilan. Allah berfirman,

وَأَنَّهُ كَانَ رِجَالٌ مِنَ الْإِنْسِ يَعُوذُونَ بِرِجَالٍ مِنَ الْجِنِّ فَزَادُوهُمْ رَهَقًا

Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan. {QS. Al-Jin : 6}.

Yaitu jin menambah kesewenang-wenangan, kesombongan dan pengusaan atas manusia. Seorang yang mentauhidkan Allah ‘Azza wa Jalla tidak meminta pertolongan kecuali kepada Allah saja sebagaimana tidak menyembah kecuali hanya kepada Allah. Dia beribadah kepada Allah Ta’ala tujuh belas kali (dalam sehari) pada shalat shalat wajib dengan membaca firman Allah Ta’ala :

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

 Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan. {QS. Al-Fatihah: 5}

Ibnu Qoyyim berkata, “Sesungguhnya kebaikan hati itu hendaknya ia mengenal tuhannya, perbuatan-perbuatan-Nya, dan ajaran-ajaran-Nya. Memperuntukkan seluruh tenaga pikiran untuk mendapat ridha dan cinta-Nya, menjauhi larangan-larangan dan kemurkaan-Nya. Sekali-kali tidak ada kesehatan dan kehidupan hati kecuali dengan hal tersebut. Tidak ada jalan untuk memperolehnya kecuali dengan melewati jalan para Rasul, tidak benar prasangka bahwa kesehatan hati bisa didapat tanpa mengikuti mereka, maka salah orang yang menyangka demikian.”

Semoga Allah Ta’ala menjaga kita dan seluruh kaum muslimin dari segala penyakit dan melimpahkan kepada kita keselamatan di dunia dan akhirat.

(Sumber : Makalah Ushul ar-Ruqyah wa Dhawabithuha asy-Syar’iyah yang dimuat di Majalah Ummati, Kuwait edisi 53 bulan Shafar 1430 atau Februari 2009 halaman 18-19).


♥♥♡♡♡♥♥♡♡♡♥♥♡♡♡♥♥♡♡♡♥♥

Tidak ada komentar:

Posting Komentar