Senin, 23 Juni 2014

Meneladani Kepemimpinan Umar Bin Khathab radhiyallahu 'anhu

" Meneladani Kepemimpinan Umar Bin Khathab radhiyallahu 'anhu "Syaikh Ali Hasan Al-Halabi
23 Juni 2014 pukul 0:40


Bismillah...

sedikit oleh2 dari istiqlal..

Mohon koreksi jika ada kesalahan dalam penulisan..
catatan di lantai 2 ditengah riuh celotehan anak2 dan canda ria serta tingkah polah anak2 yg begitu menggemaskan dan suara ust firanda yang terdengar agak rendah..
===========================================================

Masjid istiqlal

Ahad, 24 sya'ban 1435H / 22 juni'14

16.00 s/d 20.00 WIB

" Meneladani Kepemimpinan Umar Bin Khathab radhiyallahu 'anhu "
Syaikh Ali Hasan Al-Halabi

===========================================================

Diawali dengan nasihat bahwa pertanggungjawaban dan tugas kepemimpinan adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Jangan bergembira ketika mendapatkan jabatan kepemimpinan di dunia, karena sesungguhnya pertanggungjawabannya begitu besar dihadapan Allaah.

Kepemimpinan teragung (terbaik) adalah kepemimpinan pada masa Rasulullaah, seluruhnya adalah kesempurnaan di atas kesempurnaan, keindahan di atas keindahan.

Bahkan ketika Rasulullaah meninggal, beliau meninggalkan hal yang dapat mengarahkan umat kepada perkara yang bisa memberikan kejayaan Islam. Jika berpegang kepada keduanya maka akan menyelamatkan umat di dunia dan akhirat yaitu Al-qur'an dan Hadits.

Dan Rasulullaah pun berpesan agar kita mengikuti sunnahnya dan sunnah khulafaur rasyidin.

Sebagaimana dalam haditsnya :

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Aku telah tinggalkan kepada kalian dua perkara. Kalian tidak akan sesat selama berpegang kepada keduanya, (yaitu) Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya”(HR. Al Hakim, derajat : shahih).

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Barangsiapa yang berumur panjang di antara kalian, kelak dia akan melihat perselisihan yang banyak. Maka hendaknya kalian tetap berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah Khulafa-ur Rasyidin yang mendapat petunjuk. Berpegang teguhlah dengannya. Gigitlah dengan gigi geraham kalian. Berhati-hatilah kalian dengan perkara-perkara yang baru dalam agama, karena setiap ajaran yang baru dalam agama Islam adalah termasuk perbuatan bid’ah, dan setiap bid’ah adalah kesesatan, dan setiap kesesatan tempatnya di neraka”

(HR. An Nasa’i, derajat : hasan shahih).

Termasuk diantaranya mengikuti kepemimpinan khalifah abu bakar ash-shiddiq dan umar bin khathab radhiyallahu 'anhuma.

Karena kemuliaan abu bakar dan umar maka kita menjadikan keteladanan pada kepemimpinan abu bakar dan umar.

Namun, kemudian secara khusus syaikh memberikan point2 penting keteladanan pada kepemimpinan pada masa kepemimpinan umar bin khathab radhiyallahu 'anhu, diantara point2 tersebut adalah :

=> umar bin khathab mempunyai kemuliaan atau keutamaan setelah abu bakar, sebagaimana dalam hadits berikut :

Al-Imaam At-Tirmidziy rahimahullah berkata :

حَدَّثَنَا سَلَمَةُ بْنُ شَبِيبٍ، حَدَّثَنَا الْمُقْرِئُ، عَنْ حَيْوَةَ بْنِ شُرَيْحٍ، عَنْ بَكْرِ بْنِ عَمْرٍو، عَنْ مِشْرَحِ بْنِ هَاعَانَ، عَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ: " لَوْ كَانَ بَعْدِي نَبِيٌّ لَكَانَ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ "

Telah menceritakan kepada kami Salamah bin Syabiib :
Telah menceritakan kepada kami Al-Muqri’, dari Haiwah bin Syuraih, dari Bakr bin ‘Amru, dari Misyrah bin Haa’aan, dari ‘Uqbah bin ‘Aamir, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam : “Seandainya ada nabi setelahku, niscaya ia adalah ‘Umar bin Al-Khaththaab”

[As-Sunan, no. 3686].

=> Kepemimpinan umar dibangun di atas nilai-nilai agama, oleh karenanya ia mendapat julukan amirul mu'minin (pemimpin orang2 yang beriman)

=> Allaah mempersiapkan umar (orang yang cerdas dan ber'ilmu) sebagai pemimpin yang mempunyai kedudukan yang tinggi di kalangan rakyatnya. Karena pada masa itu umat Islam masih dalam kondisi jahiliyyah, tidak bisa baca tulis.

=> Pada masa awal Islam, dimana shahabat rasulullaah yg masih sedikit, da'wah ataupun perkumpulan yang dilakukan pun diam2 karena khawatir akan ancaman orang kafir, ditengah kondisi tersebut umar justru berani untuk masuk islam secara terang2an. Dari hal tersebut dapat dilihat bahwa umar adalah sosok yang penuh dengan keberanian.

Kepemimpinan butuh sikap keberanian dan ketegasan, bukan kenekatan ataupun kengawuran.

=> Kepemimpinan adalah suatu bentuk peningkatan kejayaan rakyat (umat) bukan mementingkan kejayaan pribadi atau perorangan, ataupun kepentingan kelompok. Demikianlah kepemimpinan umar, kepemimpinannya berpengaruh pada masyarakat. Kepemimpinannya membuka pintu2 kebaikan dunia dan akhirat.

=> kepemimpinan umar adalah kepemimpinan yang memiliki 'ilmu dan penuh keta'atan kepada Allaah. Kepemimpinan baik yang kecil maupun besar hendaklah memiliki 'ilmu dari kitabullaah, jangan hanya faham 'ilmu dunia.

=> Umar memiliki kemampuan untuk mengambil sikap yang tepat melalui tanda2 yang ada disekitarnya. Hal ini tentu dibutuhkan bagi pemimpin agar tidak mudah didekati oleh penipu ataupun para pengkhianat.

=> Memiliki semangat untuk bersikap adil pada kepemimpinannya.
Beliau menegakkan agama pada diri dan keluarganya baru kepada masyarakat. Sesuai firman Allaah :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا ( التحريم: 6)

"Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan
keluargamu dari api neraka ."

Hal lain yang berkaitan dengan amanah dan keadilan adalah umar bin khathab tidak mengambil harta negara untuk kehidupan pribadinya, namun ia bekerja, dengan berdagang. Hal ini dimaksudkan untuk menjauhkan diri dari harta-harta yang haram.

=> umar bin khathab adalah orang yang faham akan kebenaran, bersikap tegas di atas kebenaran namun jika ia salah maka akan mengakui kesalahannya dan kembali kepada kebenaran.
Sebagaimana hadits rasulullaah :
Dari sahabat Anas bin Malik , bahwa Rasulullah bersabda:

كُلُّ بَنِي آدَمَ خَطَّاءٌ وَ خَيْرُ الْخَطَّائِيْنَ التَّوَّابُونَ

“Setiap anak Adam (manusia) pasti sering berbuat kesalahan “Dan sebaik-baik orang yang berbuat kesalahan adalah yang mau bertaubat.” (H.R. Ibnu Majah no. 4251 dan lainnya)

=> umar bin khathab adalah orang yang mudah bergaul, dekat dengan shahabat2nya, bukan orang yang sombong dan angkuh serta tidak jauh dari masyarakat.

=> sebelum menjadi khalifah, masa kepemimpinan rasulullaah, umar bin khathab diberi kepercayaan untuk mengurus harta kaum muslimin ( harta2 sedekah), dimana pekerjaan ini dapat dengan mudahnya mengambil harta yang bukan haknya. Jika umar tidak memiliki kemuliaan, maka ia tidak akan diberikan kepercayaan ini oleh rasulullaah. Umar bin khathab tidak menggunakan jabatan untuk kemaslahatan pribadi.

=> kepemimpinan umar bin khathab yang begitu menjaga keamanan negara, stabilitas negara lebih utama.

=> beliau senantiasa berfikir tentang kemaslahatan umat (rakyat)

=> umar bin khathab mengajarkan kepada pasukan tentang adab-adab peperangan, larangan untuk menjauh dan tdk membunuh orangtua, anak-anak, wanita, tidak merusak tanaman, dan adab lainnya. Mengajarkan menjadi pasukan yang amanah, tidak berkhianat.

Wallahua'lam..
Demikian sedikit catatan singkat tabligh akbar hari ini..

Semoga memberikan manfaat
===========================================================

Selanjutnya ba'da isya, angin mulai sepoi2 di balik lubang2 angin lantai 2 masjid istiqlal dan mulai banyak keributan dan hilir mudik orang, yang menghilangkan fokus (setelah mencoba dikumpulkan lagi, namun tdk juga kumpul lagi) dan membuyarkan sedikit semangat untuk melanjutkan catatan, dan akhirnya benar2 menutup catatan.

⌣̊┈»̶·̵̭̌✽����✽·̵̭̌«̶┈⌣̊
Sumber: FB Windry Ummu Mujahid

Tidak ada komentar:

Posting Komentar